Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 132 (Season 3)


__ADS_3

Ketiganya masih berpelukan erat menyambut hari dengan perasaan riang gembira. Aroma yang menguar dari kedua orang tuanya seketika membuat Raihan nyaman.


Ia memejamkan manik bulatnya lagi sambil mendengarkan irama jantung ayah dan ibunya. Sesekali Alina mengusap puncak kepala sang buah hati kala perasaan lega itu menyapa.


"Sayang, apa kamu tidak akan sekolah? Lihat ini sudah jam berapa? Ayo, kalian siap-siap," ujar satu-satunya wanita di keluarga tersebut.


"Bisakah sebentar lagi saja seperti ini? Raihan ingin memeluk Ayah dan Mamah," pintanya.


Alina menoleh pada Zaidan yang mengiyakan. "Baiklah kalau begitu lima menit lagi."


Tanpa mengatakan apa pun Raihan mengangguk dan semakin mengeratkan pelukan. Zaidan memberikan ciuman hangat di pucuk sang putra, sayang.


Alina tersenyum senang melihatnya dan bersyukur hubungan ayah serta anak sambung itu berjalan baik. Terlepas dari kejadian satu bulan lalu, Raihan sepenuhnya bisa menerima Zaidan sebagai ayah keduanya.


"Sudah lima menit, lepaskan ... Mamah harus menyiapkan sarapan dan bekal untuk kalian." Alina pun melepaskan diri dari rangkulan kedua orang tercintanya.


Zaidan dan Raihan saling pandang lalu melepaskan pelukan tersebut. Seolah saling mengerti mereka pun mencium kedua pipi Alina.


Sang empunya terperangah lalu memandangi suami dan anaknya lekat. "Kalian ini," ucapnya. Ia pun memberikan kecupan hangat di dahi masing-masing.


Setelah itu Alina bergegas menuju kompor dan melanjutkan acara memasaknya yang sempat tertunda. Zaidan dan Raihan pun langsung bersiap-siap untuk pergi sekolah serta bekerja.


Beberapa saat kemudian sarapan pun sudah tersaji di meja makan. Kedua anggota keluarganya kembali mendekat dengan penampilan berbeda.


"Anak Mamah tampan sekali." Alina menghujani wajah putihnya dengan ciuman.


"Mamah, Raihan bukan anak kecil lagi," keluh sang putra yang baru saja duduk di meja makan.


Alina terkekeh dan mengusap puncak kepalanya lagi. "Bagi Mamah kamu adalah bayi yang paling menggemaskan." Raihan mempautkan bibirnya lucu.


"Sayang." Panggil suaminya.


Atensi Alina seketika beralih pada Zaidan yang tengah menenteng dasi berwarna merah bata. Ia mengangguk dan mendekatinya yang berdiri tidak jauh dari meja makan.


Di tengah kesibukan sang istri memasangkan dasi ke kerah kemejanya, Zaidan terus memandangi wajah putih Alina. Sang empunya yang terus fokus pada kegiatannya pun tidak menyadari jika sedari tadi diperhatikan.


"Semakin hari ... kamu semakin cantik saja, Sayang," pujinya.

__ADS_1


"Gombal," balas Alina singkat.


"Aku tidak pernah menggombal pada siapa pun. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai," ungkapnya lagi.


Alina mendengus pelan dan mendelik suaminya singkat. "Apa selama ini Mas tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun? Bohong kalau Mas mengatakan tidak, aku tidak mempercayainya.


"Em, coba aku ingat-ingat dulu." Zaidan meletakan ibu jari dan jari telunjuk di bawah dagu. Bola matanya menerawang ke atas memikirkan perkataan Alina barusan.


"Aku memang pernah jatuh cinta."


"Em, sudah aku duga. Tidak mungkin seseorang tidak pernah jatuh cinta."


"Iya, bahkan aku sangat mencintainya. Sangat mencintainya!" Zaidan menekankan kalimat terakhirnya.


Alina mendongak menatap ke dalam manik cokelat yang tengah memancarkan kehangat. "Oh, jadi Mas masih mencintainya? Kenapa Mas menikah denganku jika masih mencintai wanita itu."


Zaidan tergelak melihat wajah galak sang istrinya. "Kamu cemburu, Sayang?"


"Siapa juga yang cemburu," dustanya.


Kepala rumah tangga itu semakin tertawa ringan mengabikan kekesalan dalam hati Alina.


"Menyebalkan sekali." Alina menghentakan sebelah kaki sambil menarik dasi yang sudah melingkar di leher jenjang itu.


Otomatis Zaidan tertarik ke depan membuat pandangan mereka saling mengunci. Sebelah sudut bibir menawan itu melengkung membuat Alina menelan saliva kuat.


"Kamu benar-benar cemburu, Sayang. Apa kamu cemburu pada dirimu sendiri?"


Pertanyaan yang baru saja meluncur menautkan kedua alis Alina. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya.


"Apa yang Mas katakan? Aku tidak mengerti."


"Aku akan mengatakan jika ... aku sudah jatuh cinta pada wanita yang saat ini berada di depanku. Dia wanita yang hebat, ibu yang terbaik, dan juga .... istri yang luar biasa. Bagaimana bisa aku melupakannya begitu saja? Butuh perjuangan yang tidak mudah untuk mendapatkan hatinya."


"Karena itu aku sangat mencintainya," ungkap Zaidan lagi dan lagi.


Untuk kesekian kalinya Alina merasakan jantungnya berdegup kencang. Wajah putih itu merah padam mendengar lagi pernyataan cinta.

__ADS_1


Alina mencubit pelan pinggang sang suami membuatnya mengeluh. "Aw, sakit Sayang."


"Mau sampai kapan Ayah dan Mamah seperti itu? Ayo sarapan Raihan sudah lapar." Dari arah samping suara sang buah hati kembali menginstrupsi.


Kegiatan dua orang dewasa itu pun seketika terhenti. Alina tersadar dan bergegas melayani anak dan suaminya.


Raihan yang sedari tadi menopang dagu menyaksikan drama langsung tepat di depan mata kepalanya sendiri melebarkan senyum. Maniknya terus mengikuti pergerakan sang ayah, sampai pria itu duduk di meja paling ujung di sebelahnya.


"Apa Ayah benar-benar mencintai Mamah?" Pertanyaan itu membuat keduanya terkejut.


Zaidan memandangi sang anak sambung dan mengusap rambutnya pelan.


"Tentu, apa yang membuat Raihan berkata seperti itu?" tanyanya balik.


"Kalau seperti itu Raihan lega bisa mempercayakan Mamah pada Ayah. Raihan tidak ingin melihat Mamah menangis lagi. Bahagiakan Mamah yah, Ayah," celotehnya riang.


Zaidan menjawil hidung bangir Raihan pelan. "Ayah tidak hanya membahagiakan Mamah, tapi ... Ayah juga akan membuatmu bahagia. Terima kasih sudah menerima Ayah, sebagai orang tuamu."


"Em." Raihan mengangguk semangat. "Karena jika Mamah bahagia Raihan pun ikut senang. Raihan minta maaf, karena waktu itu sempat berpikiran yang tidak-tidak pada Ayah."


Zaidan mengangguk pelan dan terus memandanginya dalam. "Tidak apa-apa, Sayang. Ayah mengerti."


Raihan tersenyum lebar merasakan kasih sayang sang ayah sambung. Menyaksikan hal itu membuat perasaan Alina menghangat.


Keharmonisan keluarga yang dulu ia idam-idamkan terwujud dengan kehadiran Zaidan. Ia bisa merasakan ketulusan dan kehangatan yang tidak pernah didapatkan dari Azam.


"Terima kasih ya Allah, sekarang hamba bisa mendapatkan keutuhan keluarga sesungguhnya. Jagalah pernikahan kami ya Rabb, hamba sangat mencintainya. Terima kasih sudah menghadirkan dia di kehidupan kami," monolognya sambil memandangi ayah dan anak tepat di depannya.


"Mamah ayo sarapan, kenapa Mamah melamun?" Sang anak kembali mengejutkan.


"Ah, maaf." Dengan kikuk Alina menyiapkan nasi dan lauk ke atas piring untuk keduanya.


Tidak lama kemudian mereka menikmati sarapan bersama. Celotehan demi celotehan ringan semakin menambah kehangatan.


Gelak tawa mengiringi membentuk simfoni sebuah keluarga yang utuh. Butuh waktu lama bagi Alina mendapatkan itu semua. Namun, sekarang ia tidak mempedulikan lagi masa lalu, sebab darinya ia menemukan kebahagiaan.


Tidak ada yang perlu di sesali, apa yang sudah terjadi memberikan pembelajaran tersendiri di dalamnya. Sudah menjadi hukum alam jika apa yang dilepaskan akan menemukan hal baik.

__ADS_1


Kini air mata berganti kesenangan, kepedihan menguap seiring kegembiraan menyertai. Tidak ada yang paling ia syukuri selain bisa bersama orang yang mencintainya dengan tulus.


...Bersambung......


__ADS_2