Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 186 (Season 3)


__ADS_3

Di setiap hembusan napas hanya ada nama sang pujaan yang terendus. Meyakinkan diri untuk membuka hati lagi merupakan keputusan bijak.


Rasa sakit tidak selalu mengundang air mata, masa akan menggantinya dengan senyum kebahagiaan. Begitulah roda kehidupan bekerja, ada saatnya serta ada waktunya bagaimana kisah berganti.


Cerita kelam hanya menjadi masa lalu mendatangkan pembelajaran. Tidak ada yang perlu disesali, sebab Allah mendatangkan sesuatu pasti ada alasannya.


Rengekan bayi berusia satu bulan di kediaman keluarga kecil Zaidan mengusik tidur panjang sang ibu. Alina membuka mata dan mendapati lengan kekar memeluknya dari belakang.


Perlahan, ia melepaskan tangan sang suami lalu beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan menuju box bayi yang terdapat putri kecilnya tengah menangis.


"Sayang, kamu haus yah?" ucapnya lirih lalu menggendong Zenia ke dalam pelukan.


Alina berjalan ke arah sofa tunggal dekat jendela kamar. Pemandangan ibu kota seketika terhampar jelas, bagaimana gedung-gedung tinggi terlihat indah dengan lampu-lampu menyala di dalamnya.


Setelah Alina melahirkan serta tinggal beberapa hari di mansion Arfa, Zaidan memutuskan untuk membeli sebuah apartemen di tengah ibu kota. Hal itu dilakukan agar perusahaan tempatnya bekerja dekat dengan tempat tinggal mereka, untuk memudahkan sang kepala keluarga pulang pergi.


Zaidan tidak bisa meninggalkan Alina bersama kedua buah hatinya begitu lama. Semua orang yang mengetahui alasannya pun hanya bisa mengangguk mengerti. Pria bucin itu sangat mencintai istrinya, dan mereka ikut bahagia.


"Pelan-pelan, Sayang. Ayah tidak akan mengambilnya darimu," kata Alina berbisik pelan pada Zenia. Ia tersenyum cerah merasa geli dengan ucapannya sendiri.


Bola mata bening nan bulat itu pun memandanginya lekat. Alina tersenyum, mengusap puncak kepala Zenia dengan surai tipis.


"Apa yang barusan kamu katakan, Sayang?"


Degup jantung bertalu kencang saat tiba-tiba saja suara serak nan dalam menyapa indera pendengaran. Alina menoleh pelan ke belakang mendapati sang suami tengah tersenyum lembut.


"Sa-Sayang? Kamu bangun?" tanyanya gugup.


"Aku bangun, karena kamu tidak ada di sampingku," keluhnya seperti anak kecil. Alina hanya mengembangkan kedua sudut bibir seraya menggeleng pelan. Ia kembali pada sang putri yang masih melihatnya dalam diam.


"Kenapa tidak menyusuinya di ranjang saja?" tanya Zaidan kembali.


"Aku ingin melihat pemandangan," balas Alina tanpa mengalihkan perhatian.


Merasa diabaikan, Zaidan menyeringai lebar lalu tanpa aba-aba langsung menggendong Alina. Sang istri pun terpekik kaget dan memeluk Zenia erat.

__ADS_1


"A-apa yang kamu lakukan Mas? Bagaimana kalau aku menjatuhkan Zenia?" tuturnya terkejut.


"Maaf Sayang, tapi aku tidak bisa jauh darimu."


Sungguh alasan yang sangat konyol, pikir Alina. Ia hanya pasrah saat Zaidan membawanya kembali ke tempat tidur.


Dengan hati-hati Zaidan mendudukkan istri beserta putri kecilnya di sana. Alina menarik napas lalu menghembuskannya perlahan dan bersandar ke kepala ranjang.


Ia terus diam membuat suaminya tidak enak, Zaidan menggenggam tangan kanan Alina erat.


"Aku minta maaf, Sayang. Aku hanya ... em, aku benar-benar minta maaf," ucap Zaidan merasa bersalah atas tindakannya tadi.


Alina mengangkat kepalanya menyaksikan sang suami menunduk. Ia tidak bisa menahan tawa, senang sudah mengerjainya balik.


Seketika itu juga Zaidan sadar dan mendongak lagi. Kedua matanya melebar menyaksikan Alina menahan tawa hingga membuat tubuhnya bergetar.


"Sayang, kamu mengerjai ku, yah?"


Alina masih berusaha menahan tawa lalu berkata. "Ma-maaf habisnya Mas membuatku terkejut tadi."


Ia menatap langit-langit kamar dengan lampu tidur sebagai penerang. Di tengah kehangatan yang tercipta, ia tersenyum lega mendapatkan kebahagiaan terus datang menerjang.


Tidak lama kemudian ia merasakan puncak kepalanya dielus lembut. Kelopak matanya perlahan tertutup menyembunyikan iris di baliknya.


"Aku minta maaf sudah menertawakan mu." Suara halus menyambut membuat Zaidan membuka mata.


Pandangan mereka pun bertemu, mengunci satu sama lain mengutarakan perasaan terdalam lewat sorot mata.


"Em, tidak apa-apa. Aku juga minta maaf sudah membuatmu terkejut," balas Zaidan.


Tangan kekarnya terulur menangkup hangat pipi sebelah Alina. Sang empunya menutup mata menikmati belaian ibu jari sang suami.


"Kamu adalah wanita yang hebat, Sayang," ungkap Zaidan memuji.


Kedua mata Alina terbuka lagi, menyaksikan lengkungan bulan sabit sempurna di bawahnya. "Tidak ... semua ini sudah menjadi kewajibanku sebagai ibu dan istri."

__ADS_1


Zaidan menggeleng beberapa kali. "Tidak, tapi kamu benar-benar hebat. Kamu wanita yang sangat istimewa, Sayang. Aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan mu."


"Apa Mas tidak lupa, aku pernah menikah dan gagal sebelumnya. Aku yang beruntung bisa bersanding denganmu. Wanita sepertiku-"


"Shut, jangan merendahkan dirimu sendiri, Sayang. Di mataku kamu sangat istimewa, terlepas kamu sudah menikah atau tidak ... aku tidak peduli. Karena aku mencintaimu apa adanya dirimu. Bukan karena ada apanya," tutur Zaidan lagi.


Alina tidak bisa berkata-kata, setiap kali suaminya mengungkapkan perasaan ia selalu terbawa suasana. Zaidan terus saja memperlakukannya bak ratu yang harus dijaga sepenuh jiwa.


Keberuntungan itu terkadang membuat Alina merasa tidak percaya diri. Ia takut sudah mengecewakan Zaidan akan statusnya waktu itu.


Di tengah kelimpungan yang dirasakan, tiba-tiba saja Alina dikejutkan dengan tindakan sang suami. Zaidan mengecup bibirnya dalam membuat ia terbelalak lebar.


"Jangan berpikir macam-macam. Aku tahu apa yang kamu pikirkan, jangan seperti itu, Sayang. Aku ... tidak ingin melihatmu sedih ataupun menangis. Aku merasa gagal jika mendapatimu begitu," ucap Zaidan mengembangkan senyum tulus.


Ia menangkup kedua pipi hangat sang istri hingga mereka kembali saling pandang. "Kamu sudah tahu bagaimana hidupku selama ini ... aku belum pernah jatuh cinta pada seorang wanita sampai seperti ini. Karena itulah kamu istimewa, Sayang. Kamu pemilik hatiku sesungguhnya."


Alina terperangah melihat kesungguhan serta kejujuran sang suami. Bibir ranumnya pun melengkung sempurna menimpali perkataan Zaidan.


"Terima kasih." Hanya itu yang bisa Alina katakan.


Zaidan lagi-lagi tersenyum dan menarik pelan kepala istrinya untuk diberi ciuman mendalam. "Aku sangat mencintaimu," katanya lagi.


Alina mengangguk mengerti. "Em, aku juga mencintaimu."


Kata-kata cinta masih terus bergelora, pernikahan mereka yang hendak menginjak tiga tahun selalu diberikan kebahagiaan.


Meskipun terdapat ujian di dalamnya, tetapi Alina dan Zaidan menganggapnya sebagai bumbu rumah tangga. Mereka sadar cobaan, ujian, masalah, akan selalu datang sebagaimana napas masih berhembus.


Keduanya juga meyakini jika di balik itu semua Allah ingin memberikan kebaikan lagi dan lagi. Hidup bersama dan saling percaya satu sama lain sudah cukup menjadi pondasi hubungan mereka.


Alina yang sempat gagal pun tidak ingin mengulangi kesalahan itu untuk kedua kali. Peran ganda yang dilakoninya saat ini merupakan anugerah tidak ternilai.


Ada suami, anak, orang tua, keluarga besar, dan teman-teman yang telah dianggap saudara pun, sudah sangat cukup baginya.


Alina merasa lengkap hanya dengan mereka saja. Hubungannya dengan mantan suami juga sudah sangat baik hingga mereka seperti keluarga besar.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2