
Setiap hari Alina selalu mengawasi Zanna tanpa sepengetahuannya. Setiap kali sang pianis tengah melakukan terapi, hal itu tidak luput dari pantauan.
Terkadang Alina akan datang ke rumah sakit seraya membawa Zenia dan Raihan. Ia tidak bisa meninggalkan buah hatinya sendirian bersama asisten rumah tangga.
Seperti hari ini, setelah menjemput Raihan di sekolah Alina kembali memutuskan untuk menjenguk Zanna.
Ia yang tengah menggendong Zenia dan menggandeng Raihan pun menatap Zanna sedang melakukan terapi jalan lagi.
Senyum mengembang di wajah cantiknya kala menyaksikan semangat juang di sana. Ruangan berbentuk segi panjang itu menyajikan peralatan medis dengan lengkap.
Zanna terus berusaha melangkahkan kaki untuk bisa seperti sedia kala. Seraya bertumpu pada besi panjang di kedua sisi, ia terus berupaya sekuat tenaga. Dari arah luar,, Alina merekam semua kerja kerasnya.
Namun, tidak lama setelah itu Zanna ambruk dan seketika menghempaskan tangan dua perawat yang hendak membantu.
"Pergi kalian dari sini. PERGI!" Ia berteriak lantang dan bergema di sana.
Alina yang menyaksikan itu pun seketika membawa Raihan dan Zenia pergi. Ia tidak mau buah hatinya mendengar suara kepedihan yang terjadi.
Tidak lama berselang ia tiba di ruangan Angga. Kebetulan hari ini pria yang sudah dianggap sebagai kakak sendiri itu sedang tugas siang.
Sarah pun tengah datang berkunjung dan terkejut mendapati Alina bersama kedua buah hatinya. Ia beranjak dari duduk lalu mengambil Zenia dalam gendongan.
"Apa yang terjadi?" tanya Angga kemudian.
"Aku membawa mereka melihat Zanna, tetapi dia berteriak saat terjatuh dari terapinya. Aku tidak ingin Raihan dan Zenia mendengar nada kesakitannya," gumam Alina berharap Raihan tidak mendengar.
Namun, bocah sembilan tahun itu kelewat peka. Ia tahu apa yang tengah ibunya sampaikan.
"Tidak apa-apa, Mah. Raihan mengerti apa yang terjadi tadi," balas Raihan.
Alina menunduk ke bawah menyaksikan sepasang manik hitam memandanginya lekat, "Sayang, kamu benar-benar anak yang luar biasa." Di puji seperti itu Raihan mengembangkan senyum manis.
"Beruntung kamu ada di sini, aku titip mereka dulu yah," kata Alina lagi seraya memandangi pasangan tersebut. "Sayang, bisakah kamu menjaga putri kecil kita di sini bersama Paman Angga dan Tante Sarah?" Alina kembali fokus kepada putra pertamanya.
"Tentu, Mamah harus menyelesaikan apa yang harus diselesaikan," jawab Raihan pengertian.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang." Alina pun membubuhkan kecupan mendalam di dahi kedua buah hatinya.
"Aku titip mereka dulu, yah." Tanpa mendengar jawaban kedua orang dewasa di sana, secepat kilat Alina keluar ruangan.
"Dasar, mamahmu itu selalu saja melakukan semuanya sendiri. Dia-"
"Itu karena mamah superwomen. Mamah tidak bisa melihat orang lain terluka, Paman." Raihan yang tengah duduk di ranjang pun menatap lekat sang dokter.
Angga mengembangkan senyum melihat fotocopyan sahabatnya, Azam. "Iya, kamu benar. Mamah orang baik, dia tidak bisa melihat orang kesusahan. Meskipun orang itu sudah menyakitinya."
"Itu benar, mamah terlalu baik. Iya kan, Sayang?" lanjut Sarah lalu menghujami wajah gembul Zenia. Bayi empat bulan itu pun tergelak senang, Raihan dan Angga pun ikut tertawa.
...***...
Menepi untuk mengenyahkan kenangan menyakitkan tengah dilakukan. Udara cukup dingin siang ini, awan mendung datang menyembunyikan cahaya matahari.
Gelap sedikit mendominasi, sesekali angin berhembus menemai seorang pasien yang tengah duduk di kursi roda.
Pandangannya menyendu seiring waktu berjalan. Sudah empas belas hari sejak ia sadar dari koma, selama itu pula tidak ada sanak keluarga yang datang.
Kedua kakinya lumpuh dan tidak ada sedikitpun kemajuan atas terapi yang dilakukan. Zanna terus menangis saat menerima nasibnya yang sekarang.
Alina tiba di taman, napasnya tersengal-sengal dengan dada naik turun. Bibir ranumnya mengeluarkan hawa panas seraya menetralisir rasa sesak dan memandangi wanita itu tengah duduk diam beberapa meter di depan.
Ia sudah mencari Zanna ke mana-mana. Ia takut sang pianis melakukan hal tidak diinginkan lagi, seperti satu minggu yang lalu.
Di mana Zanna hampir menerjunkan dirinya sendiri dari atap rumah sakit. Beruntung waktu itu Alina datang tepat waktu dan mencegahnya dari hal tidak diinginkan.
Hal tersebut terjadi, sebab Zanna mengetahui jika di luar sana ia sudah benar-benar tidak punya muka lagi. Banyak sekali orang yang menganggapnya sebagai wanita tidak benar, perebut suami orang, dan bisa tidur dengan siapa saja jika menginginkan sesuatu.
Pianis muda berbakat dengan kecantikan serta keanggunannya itu pun hilang seketika. Mereka mencaci, memaki, dan terus melayangkan hinaan tidak terelakan. Bahkan kelurga Zyva pun harus terkena imbasnya.
Ia melihat pemberitaan tersebut dari siaran televisi. Ia terkejut kala mendapati tayangan dirinya sendiri yang sudah sejauh itu. Seketika mentalnya terguncang membuat hatinya terluka parah.
Zanna terus menyalahkan diri sendiri atas perbuatan yang sudah diperbuatnya selama ini. "Aku kotor ... aku sangat kotor." Itulah kata-kata yang ia ucapkan waktu itu. Alina mencoba menangkan bersama dua orang perawat yang datang ke atap.
__ADS_1
Sejak saat itu pengawasan terhadap Zanna diperketat. Pihak rumah sakit tidak ingin mengambil resiko atas kejadian yang tidak diharapkan bisa saja terulang.
Alina menghela napas lalu berjalan mendekat. "Tidak baik terus berada di luar," katanya seraya menyampirkan mantel di bahu Zanna.
"Mau apa lagi kamu datang ke sini?" Zanna masih saja ketus kepadanya.
Dengan sabar Alina memahami situasi yang sedang sang pianis hadapi. Tidak mudah berada di posisi paling terpuruk, terlebih terdapat kepelikkan yang sangat rumit di dalamnya.
Hanya air mata sebagai pelarian saat bibir tidak bisa mengutarakan.
"Aku hanya ingin menjenguk mu lagi," balas Alina.
Hening menyapa, mereka melihat objek yang sama. Pemandangan di depan sangat menentramkan jiwa. Di mana pegunungan masih terlihat jelas dengan awan kelabu di atasnya.
"Kamu pasti senangkan melihatku lumpuh seperti ini? Kamu pasti bahagia aku sudah mendapatkan ganjarannya. Kamu-"
"Bohong jika aku tidak pernah membenci dan kesal padamu, atas semua yang sudah kamu lakukan. Namun, aku sadar memendam kebencian serta dendam tidak baik untuk diriku sendiri."
"Aku hanya sedang berusaha bukan untuk dirimu, tetapi untuk diriku sendiri. Ujian yang kadang kali menimpa kita sekarang, itu terkadang sebagai teguran. Allah ingin kamu kembali."
"Meskipun tidak ada orang tua, keluarga yang menemani-" Alina menoleh ke samping menyaksikan Zanna terdiam.
"Tetapi, Allah tetap ada bersama kita. Dia senantiasa hadir dan menemani, jadi ... jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya."
"Karena kamu tahu ... Allah yang memberi kesembuhan itu. Mungkin saat ini kakimu sedang tidak bisa digerakkan, itu bisa saja sebagai teguran ... karena mungin, kakimu tidak dilangkahkan pada tempat-tempat yang baik," tutur Alina panjang lebar.
"Kamu harus ingat jika "Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Q.S. Ali 'Imran:173). Maka yakinlah apa pun yang terjadi Allah akan melindungi serta menolong kita."
Tanpa di duga kristal bening berjatuhan membasahi baju pasien. Zanna menangis tersedu-sedu seraya meremas kedua tangan. Kata-kata Alina tadi bagaikan mengandung magic yang mengalirkan air mata tak berkesudahan.
Melihat kondisi Zanna yang seperti itu, Alina berjalan ke depan lalu berjongkok di hadapannya. Ia memeluk sang pianis erat dan mengusap punggungnya pelan.
"Kenapa dia masih baik padaku? Bahkan aku hampir membuat rumah tangganya retak. Ya Allah, ampunilah hamba," benaknya dalam diam.
Di kejauhan sepasang mata elang menyaksikan interaksi keduanya. Bibir menawan itu melengkung sempurna, bangga terhadap apa yang dilakukan sang istri.
__ADS_1
...Bersambung......