Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 90 (Season 2)


__ADS_3

Kabut menyelimuti kawasan jarang penduduk di sudut desa asing tidak terjamah oleh siapa pun. Mobil mewah muncul dan berhenti tepat di depan satu-satunya bangunan di sana. Sang pengendara keluar bergegas masuk ke dalam menemui seseorang.


"Jasmin." Panggilnya sambil membanting pintu.


Jasmin yang tengah berbaring pun terkejut dan langsung beranjak mendapati saudara kembarnya datang.


"Yasmin? Apa yang kamu lakukan?" tanya Jasmin melihat kedua matanya berkilat marah.


"Kamu bertemu Azam, kan?" Ia memberikan senyum sinis dan melipat tangan di depan dada lalu berjalan-jalan di sekitar berankar Jasmin. "Tapi aku pikir sekarang tidak masalah. Karena suami tercintaimu sedang terpuruk dan tersiksa."


Jasmin melebarkan pandangan tidak percaya. "A-apa maksudmu?"


Yasmin menghentikan langkah kemudian menoleh padanya lagi. "Kamu tahu, Alina sudah pergi dari kehidupannya dan Azam tersiksa karenanya. Ah, tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."


"Itu pasti perbuatanmu. Kenapa kamu tega mengusik rumah tangga orang lain? Hentikan perbuatanmu ini." Jasmin memandanginya dengan manik berkaca-kaca.


Yasmin mendengus pelan lalu tertawa singkat. "Apa katamu? Rumah tangga orang lain? Dengar yah kembaranku yang sangat disayangi ayah dan ibu ... itu rumah tanggamu juga. Jadi aku berhak ikut campur di dalamnya. Karena kamu yang sudah merusak keinginan terbesarku."


Jasmin menggelengkan kepala beberapa kali. "Tidak ... kamu salah. Ayah dan ibu juga sangat menyayangimu, tetapi caranya saja yang salah. Bukankah kamu juga mencintai Mas Azam? Kenapa kamu tega merusak kebahagiaannya? Aku minta maaf, karena sudah menikah dengannya."


Yasmin semakin tertawa keras mendengar penuturan Jasmin. Ia mencengkram ujung tempat tidur seraya memandanginya serius.


"Aku memang mencintainya, tapi itu dulu. Sekarang ... aku ingin melihat kalian semua menderita. Kamu menikah dengannya dan bahkan sampai mempunyai anak. Aku tidak membiarkan kalian begitu saja, terutama kamu!" Ia menunjuk tepat ke wajah Jasmin. "Kenapa kamu harus menjadi saudara kembarku dan penyakitan pula. Aku tidak terima ini, karena akulah korbannya."


"Sadar Yasmin, kamu sudah menentang takdir Allah. Semua ini sudah menjadi rencana-Nya. Aku yakin Allah sedang merencakan yang terbaik untukmu."


"Dan yang terbaik untukku adalah melihat kalian merasakan apa yang aku rasa." Yasmin pergi dari sana dan kembali membanting pintu.


"Astaghfirullah hal adzim, aku tidak bisa diam terus seperti ini. Aku tidak mau melihat Alina menjadi sasarannya lagi." Jasmin menyibakan selimut dan menurunkan kedua kaki dari ranjang. Buru-buru ia keluar dari sana sebelum Yasmin mengaktifkan kembali keamanannya.

__ADS_1


"Tunggu! Bagaimana bisa Alina datang ke sini dan meretas sistem keamananku? Bahkan dari rekaman CCTV tidak ada satu orang pun yang datang. Apa jangan-jangan dia punya orang yang ahli dari bidang itu? Tapi siapa? Aku yakin Azam datang ke sini karena informasi yang sudah dia dapatkan. Sembilan tahun lalu pertama kali aku bertemu dengannya ... aku pikir dia wanita yang mudah, tetapi ternyata ... aku harus waspada," monolog Yasmin dalam diam seraya berjalan di lorong.


...***...


Azam masih belum bisa berkonsentrasi bekerja dan terus merenungi kesalahan. Tatapannya pun kembali dan kembali pada sosok wanita berhijab hitam dalam foto.


Tangan tegapnya terulur, menggenggam figura tersebut. Ibu jarinya mengusap pelan wajah manis Alina yang sudah menghilang tanpa kabar.


"Aku merindukanmu ... bisakah aku mengatakan itu padamu? Bolehkah aku mempunyai perasaan ini? Aku sangat menyesal ... benar-benar menyesal. Aku minta maaf," celotehnya, embun merembes membentuk air mata yang siap mengalir kapan saja.


Namun, kegiatannya harus terusik dengan ketukan di pintu. Buru-buru Azam menggosok kedua mata dan mengembalikan figura foto di atas meja.


"Masuk!" titahnya.


Tidak lama berselang seorang pria berjas abu menyembul lalu mengangguk pelan. "Maaf Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda."


Ia mengerenyit pelan memandanginya. "Zara belum kembali? Ke mana dia pergi? kenapa dia mengambil cuti lama sekali?"


"Persilakan dia masuk," titahnya lalu membereskan beberapa dokumen.


Beberapa saat kemudian seorang pria berkacamata menggunakan jas abu muda dengan gradasi garis-garis pun hadir. Ia berdiri tepat di depan Azam dan memandangi pemilik perusahaan serius.


"Maaf mengganggu waktu Anda, saya Dimas Zulfan pengacara Alina yang akan mengurus perceraian kalian."


Penjelasan tersebut seketika menarik perhatian, Azam mendongakan kepala memandangi satu sosok yang sudah tidak asing lagi dalam pandagan. Perlahan ia beranjak dari duduk seraya melebarkan mata tidak percaya.


"A-apa yang kamu katakan barusan? Pengacara Alina yang akan mengurus perceraian kami? Apa kamu bercanda? Hei, bukankah kamu sekertaris Tuan Zaidan?" celoteh Azam terkejut.


Dimas mengeluarkan dua kartu nama dan memperlihatkannya. "Saya sekertaris Tuan Zaidan dan saya juga seorang pengacara," tuturnya.

__ADS_1


Azam mendengus singkat melihat ke sekitaran. Ia lalu menjambak puncak kepalanya pelan dan kembali memandangi Dimas yang masih memperlihatkan muka datarnya.


"Apa yang kalian permainkan sekarang? Kenapa pengacara keluarga Zulfan mau membantu Alina mengurusi perceraian kami?" tanya Azam lagi.


Dimas merogoh tas kerjanya dan mengelaurkan selembar surat yang dilipat rapih. "Tiga hari lagi sidang kalian akan digelar. Saya harap Anda bisa datang, agar proses perceraian kalian bisa cepat terselesaikan." Ia pun menganggukan kepala singkat dan mulai melangkahkan kaki.


Azam mematung, pikirannya gamang kala melihat surat tergeletak di atas mejanya. Ia pun bergegas keluar mencari sosok Dimas.


"Tunggu!" ucapnya menghentikan.


Namun, Dimas tidak menggubris ucapannya hingga Azam pun mencengkram pergelangan tangan sang pengacara.


Dimas berhenti dan bersitatap langsung dengan sang pengusaha tersebut.


"Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyanya cuek.


"Di-di mana Alina berada? Kenapa dia menyuruhmu datang ke sini? Apa maksud semua ini?" cerca Azam, napasnya naik turun bersama gejolak emosi mengendap dalam dada.


"Saya tidak bisa mengatakannya. Saya harus menjaga privasi klien. Jika ingin tahu kebenarannya saya harap Anda bisa datang ke persidangan tiga hari lagi. Saya permisi," ujar Dimas lalu membenarkan letak kacamatanya dan melangkahkan kaki lagi.


Azam terdiam untuk kesekian kalinya. Ia tidak menduga dan menyangka jika hari ini akan datang juga. Alina benar-benar sudah yakin dengan keputusannya untuk berpisah. Ia mencengkram dada sebelah kiri sambil menunduk dalam.


"Kenapa? Kenapa Alina? Kenapa di sini sakit sekali? Apa sudah tidak ada kesempatan untukku lagi?" gumamnya terus menerus.


Dari arah beberapa meter dari keberadaannya, sepasang mata melihat dan mendengar apa yang baru saja diucapkan di sana.


"Jadi, dia akan muncul tiga hari lagi? Aku harus membuat persidangan mereka tidak berjalan lancar. Tenang saja, permainan ini masih belum selesai," lirihnya memandangi punggung tegap itu yang semakin ringkih.


Awan putih hadir sepanjang mata memandang tidak membiarkan sang raja siang hadir. Udara dingin seketika menyapu membawa kegelisahan dalam dada.

__ADS_1


Perbuatan yang dilakukan di masa lalu memberi dampak pada kehidupannya sekarang. Azam sadar diri jika apa yang sudah diperbuatnya benar-benar menyakiti hati sang istri. Keegoisan telah melantarkan sosok yang tulus mencintainya. Ia sudah kehilangan itu dan tidak bisa memutar kembali waktu.


__ADS_2