
Jam menunjukan pukul setengah 4 dini hari, kelopak mata yang tertutup kini mencoba terbuka lagi. Azam bangun dari tidur dan menemukan dirinya di tempat berbeda. Ia lalu berbalik dan mendepati istri keduanya tengah terlelap tidur. Bola matanya melebar sempurna kala melihat bekas kejadian semalam menempel lekat di tubuh polos Alina.
Seketika ia langsung bangkit dari berbaringnya mencoba meredam debaran jantung yang terus berpacu cepat. Irisnya bergulir melihat pakaian mereka berserakan di lantai kamar. Napasnya tiba-tiba saja naik turun tidak percaya dengan apa yang sudah ia lakukan.
"A-apa aku melakukannya dengan Alina semalam? Arrghh, apa yang aku lakukan?" Azam menjambak rambutnya frustasi. "Aku pikir Yasmin- arrgh, aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Sangking takutnya kehilangan Yasmin aku sampai menganggap Alina dia? Ya Allah apa yang sudah aku lakukan?"
Setelah mengoceh tidak jelas ia lalu meninggalkan kamar Alina begitu saja.
...***...
Remuk redam, hancur, berantakan, sakit, melekat dalam diri seorang Alina. Baru saja ia membuka mata cairan bening itu langsung meluncur tanpa bisa dicegah. Bak berjalan di atas pecahan kaca luka yang ia terima semakin menganga dan terbuka lebar. Awan kelabu menempati relung hatinya paling dalam, mengakibatkan badai air mata tak berkesudahan.
Seperti mengiris buah lemon di atas luka cairannya menimbulkan kepedihan yang luar biasa. Bukan manis yang ia dapatkan melainkan pahitnya empedu. Racun monoksida menyebar keseluruh sel dalam tubuhnya memberikan efek sakit yang luar biasa. Bunga yang semalam telah mekar layu seketika. Harapan yang ia tinggalkan di atas awan dengan pelangi sebagai penghias nyatanya dihempaskan ke jurang paling dalam.
Ia terlalu berharap mengabaikan kenyataan yang ada.
"I-ini sakit sekali Ya Allah. Aku lu-pa ji-ka mas Azam ti-dak akan pernah melihat-ku sebagai se-orang istri. Aku tidak akan pernah bisa menggeser posisi mbak Yasmin di hatinya. Apa sesakit ini untuk mencintai suami sendiri? Ya Allah apa aku bisa bertahan?"
Di kamar itu hanya ada isak tangis memilukan dari seorang Alina. Kenyataan yang ia pikir bukan mimpi, nyatanya hanya memberikan ilusi sesaat. Keindahan itu semu hanya membayang dalam imajinasi. Ia pikir Azam sudah sepenuhnya menerimanya sebagai seorang istri, tapi ternyata salah besar. Angan tidak seindah sebuah harapan.
Cinta yang menyakitkan itu apa bisa membuatnya bertahan? Apa masih ada kesempatan untuknya dilihat sebagai seorang Alina dan bukan Yasmin?
Sekuat tenaga Alina mencengram selimut yang membungkus tubuh polosnya kuat. Ia menyalurkan kepedihan dalam dada berharap bisa mendapatkan kelegaan.
Jam sudah menunjukan pukul setengah 8 pagi. Hari ahad yang biasanya dimanfaatkan untuk menikmati waktu bersama kini hanya menyisakan Azam sendirian di meja makan. Sarah yang baru selesai memandikan Aqeela terkejut melihat tuannya seorang di sana.
__ADS_1
"Tuan? Apa mbak Alina belum bangun? Mau saya buatkan sarapan?" tawarnya lembut.
Azam yang tengah memandangi meja kosong itu tersentak dan langsung membalas tatapan pengasuh bayinya tersebut. Senyum yang membingkai wajah wanita itu membuatnya mengalihkan pandangan.
"Tidak usah, kamu fokus saja pada Aqeela."
"Ahh baiklah kalau begitu, jika Tuan butuh sesuatu saya ada di belakang."
Azam hanya menganggukan kepala sebagai jawaban dan Sarah pun pergi meninggalkannya.
Tidak lama berselang Alina datang dengan tertatih. Azam termangu melihat cara berjalannya, hal tersebut membuat ia kembali teringat kejadian semalam. Samar-samar dengan napsu dan emosi yang bercampur ia sudah melampiaskannya pada Alina.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun wanita itu melaksanakan tugasnya sebagai istri. Ia menyiapkan sarapan dalam diam membuat sang suami terus memperhatikannya. Azam menyadari ada hal yang berbeda dari istri keduanya ini.
"Bisa kamu temani aku makan?"
Masih dengan diamnya, Alina duduk begitu saja di hadapan sang suami. Kepala berhijabnya menunduk dalam menatap lantai marmer sebagai pengalih perhatian.
"Kamu juga harus makan." Azam pun menyodorkan sepiring nasi beserta lauk pauk buatan Alina ke hadapannya.
Sontak hal tersebut membuat Alina tersentak dan mendongak menatap kedua mata orang di hadapannya. Senyum terpendar di wajah tampan Azam membuat degup jantung Alina berdetak cepat. Kedua tangan yang berada di pangkuan meremat kuat dengan napas naik turun. Alina berusaha menahan kekesalan yang teramat kuat dalam dada.
Hening melanda, keduanya tidak ada yang berbicara sepatah kata pun. Alina sama sekali tidak menyentuh makanannya mengundang tanda tanya besar bagi pria itu.
Azam pun pada akhirnya mengakhiri sarapannya dan kembali fokus pada sang istri.
__ADS_1
"Aku minta maaf."
Kata maaf menorehkan luka semakin dalam di hati Alina membuatnya menegang di tempat. Kedua netra bulannya terbuka lebar teringat kembali kejadian tadi malam. Terutama, saat nama istri pertamalah yang disebut oleh suaminya.
"Semalam-" Azam tidak langsung mengatakannya dan memberikan jeda sejenak melihat reaksi Alina.
Jauh dari bayangan istri keduanya seperti boneka hidup. Wajah pucat pasi, tatapan kosong ke depan dengan mulut sedikit terbuka.
"Apa semalam kita melakukannya? Aku minta maaf karena sudah memaksamu begitu saja."
Kata maaf dan memaksa terus terngiang dalam pendengaran. Degup jantungnya terus berpacu kencang memberikan rasa sakit yang tak berkesudahan. Tanpa ia sadari air mata jatuh tak tertahankan. Azam melebarkan pandangan melihat hal tersebut. Ini pertama kalinya ia melihat Alina menangis tepat di depan kedua mata kepalanya sendiri.
"A-lina," panggilnya ragu.
Alina menggeleng-gelengkan kepala dan langsung beranjak dari duduk. Dengan kuat ia menggebrak meja makan membuat Azam sangat terkejut.
"Maaf katamu? Memaksaku untuk melakukan itu? Hanya maaf? Terus siapa yang berada dalam pikiranmu saat melakukannya, hah?"
Azam mengerutkan dahi mendengar perkataan Alina. "Aku tidak masalah jika kamu mau melakukan hubungan itu denganku. Karena kita sudah sah menjadi sepasang suami istri, tapi aku ha-nya ingin nama Alina yang kamu panggil dan bukan mbak Yasmin. Aku mencintaimu, Mas sangat mencintaimu. Apa tidak ada sedikit saja kamu menganggapku sebagai istri? Aku sakit, apa Mas tahu?"
Dengan linangan air mata Alina melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Azam. Pria itu mematung mendengar semua pengakuan istri keduanya. Sedetik kemudian ia menjambak rambutnya frustasi. Ia mengingat kejadian semalam, tapi yang ada dalam pikirannya hanyala Yasmin bukan Alina.
"Apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak bermaksud seperti itu. Ya Allah aku sudah berbuat kesalahan. Karena ketakutan akan kehilangan Yasmin aku menjadi tidak sadar jika orang yang sudah kusetubuhi adalah Alina. Emosi yang menguasaiku membuat hubungan kami jadi hancur seperti ini," racaunya begitu saja.
Ada rasa sakit yang ia rasakan saat melihat cairan bening itu mengalir di kedua pipi istri keduanya. Alina yang ia ketahui sebagai sosok wanita yang kuat, mandiri dan murah senyum memperlihatkan kelemahannya.
__ADS_1