
Siluet sembilu kembali menari indah bersama kenangan menyakitkan kian menerpa. Ujian demi ujian akan selalu datang sebagaimana napas masih berhembus. Namun, takdir dan rencana Allah lebih dari indah dan disetiap peristiwa yang terjadi akan ada kebaikan di dalamnya.
Gelenyar pedih terus membayangi kala masa lalu hadir sebagai penghias jalannya kehidupan. Batu kerikil yang kerap kali datang menandakan jika cerita ini akan tetap ada, meskipun sudah berganti dengan yang baru.
Begitu pula dengan cinta, sebuah perasaan suci yang diberikan Allah pada setiap hamba. Ia datang dan hadir di waktu yang tidak terduga, kehadirannya membawa kebaikan ataupun kebalikannya. Perasaan tidak menentu tersebut akan mendatangkan dua hal berbeda tergantung bagaimana menyikapinya.
Rasa sayang pun turut tumbuh ketika seseorang yang dicintai tengah terluka. Rasa ingin melindungi tercetus dalam sanubari membentuk ketidakberdayaan.
Itulah yang tengah dirasakan Zaidan. Pria berusia tiga puluh tujuh tahun tersebut begitu terpukul melihat wanita yang dicintainya tergeletak tidak berdaya.
Emosi menguasi sampai keubun-ubun melihat sang pelaku. Namun, di saat ia hendak mendekatinya seorang pria datang.
Azam yang masih berada di sekitar gedung persidangan pun terkejut saat mendengar suara tidak asing. Firasatnya mengatakan jika ada sesuatu tidak beres terjadi. Ia turun lagi dari mobil dan menelusuri area sekitar.
Sampai ia disambut dengan pemadangan memilukan mata, di mana Alina mendapatkan pukulan dari batu yang dilayangkan Yasmin.
"Apa yang kamu lakukan?" geramnya seraya mencengkram pergelangan Yasmin kuat.
Sorot matanya berkilat marah dengan amarah semakin menguasai. "AKU BILANG APA YANG KAMU LAKUKAN?" Azam berteriak mengejutkan orang-orang di sana.
Yasmin menyeringai dan menghempaskan tangannya kasar. "Seperti yang kamu lihat," ujarnya tanpa mengelak.
"Mulai saat ini aku ceraikan kamu!" tegas Azam.
Jasmin yang berdiri di dekat Yasmin melebarkan mata tidak percaya. Ia menggeleng beberapa kali seraya menggenggam tangan Azam hangat. Sang empunya pun terkejut saat menyadari ada wanita lain di sana.
"Jasmin?"
"Aku mohon jangan ceraikan Yasmin. Dia-"
"Jangan pernah memohon belas kasih seseorang untukku, jika itu memang maunya aku terima. Aku-"
"Ayo kita pergi!" Azam memotong ucapan Yasmin cepat sambil menarik Jasmin menjauhinya.
__ADS_1
Begitu pula dengan Zaidan yang sudah membopong Alina hendak membawanya ke rumah sakit. Ia juga menghubungi seseorang untuk segera menangkap Yasmin dan mengusutnya sedalam-dalamnya.
Wanita berhijab hitam itu sudah tidak sadarkan diri membuat sang putra terkejut bukan main. Ia menangis histeris melihat ibunya di bopong oleh Zaidan dan masuk kembali ke dalam mobil.
"MAMAH, APA YANG TERJADI PADA MAMAH?" Raihan mencoba meraih Alina yang duduk di jok belakang.
Dimas yang berada di bangku pengemudi pun menahannya kuat. Air mata sudah tidak tertahankan dan mengalir begitu deras.
"Mamah, baik-baik saja, Sayang. Mamah hanya sedang tidur," ucap Zaidan menenagkan.
Raihan tidak percaya dan menggelengkan kepala berkali-kali. Ia terus merentangkan kedua tangan ingin memeluk sang ibu.
Zara yang duduk di sebalah Zaidan pun merasa iba dan langsung menggendongnya setelah memberikan Naura pada Sarah serta Angga di jok paling belakang.
"Mamah." Raihan langsung memeluk tubuh lemah sang ibu seraya memanggil-manggilnya.
Dimas pun langsung menginjak gas dan bergegas ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan Zaidan melihat ibu serta anak itu bergantian. Ada perasaan sakit nan sesak kala menyaksikan air mata mengalir di wajah polos Raihan.
Ia tahu seberapa besar anak itu menyayangi ibunya. Sebagai seorang anak ia juga mengerti takutnya kehilangan sosok ibu.
Diam-diam Zara memperhatian interaksi mereka, bibir ranumnya melengkung melihat kesungguhan seorang Zaidan.
"Semoga dia sosok yang akan membuatmu bahagia, Alina," gumamnya.
Sarah dan Angga yang berada di belakang pun memikirkan hal sama. Mereka ingin Alina bahagia bersama seseorang yang begitu mencintai dan menyayanginya.
...***...
Alina pun sudah berada di ruang UGD, semua orang menunggu di luar dengan perasaan was-was. Sedari tadi Raihan membungkam mulutnya rapat dalam pangkuan Zaidan.
Ia terus memeluk tubuh tegap sang pengusaha tampan itu seraya menyembunyikan wajah takutnya di dada bidang Zaidan. Jari jemari tegasnya mengusap punggung Raihan perlahan untuk membuatnya tenang.
Semua orang yang melihat itu benar-benar menyadari jika Zaidan begitu tulus menyayangi Raihan dan Alina, tidak peduli apa pun.
__ADS_1
Tidak lama berselang sosok tidak diharapkan pun datang. Angga yang pertama kali melihat siluetnya langsung menatapnya serius.
"Azam? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya langsung.
Azam yang tiba bersama Jasmin menatapnya sekilas dan menatap satu persatu orang-orang di sana. Sampai pandangannya pun berhenti pada sosok sang anak yang tengah meringkuk di pangkuan rekan kerjanya.
"Raihan." Ia berjalan mendekat dan hendak mengambil alih.
Namun, sebelum itu terjadi Raihan pun lebih dulu menyahut. "Untuk apa Ayah datang ke sini? Ayah tidak menyayangi kami, jadi buat apa Ayah datang?"
Pertanyaan yang dilontarkan Raihan seketika membuat semua orang terkejut, termasuk Azam sendiri. Seolah ada belati tak kasat mata mengoyak serta merobek hatinya begitu kuat.
"A-Ayah ingin menemanimu dan mamah," jelasnya.
Mendengar perkataan tersebut Raihan menegakan tubuh lalu mendongak menatap ke dalam manik cokelat sang ayah.
"Tidak usah. Karena dari awal Ayah tidak ada untukku ataupun mamah. Ayah selalu membuat Mamah menangis, jadi ... kembalilah, kasihan kakak Aqeela sendirian. Aku yang akan melindungi, Mamah," jelas Raihan kemudian menoleh pada Zaidan.
"Paman, bisakah menggendongku menemui mamah?" pintanya dengan serius.
Zaidan tersenyum lembut dan mengusap kepalanya sayang. "Tentu bisa. Paman akan menggendongmu ke manapun." Ia pun langsung beranjak dari duduk dan membuat Raihan mengalungkan kedua tangan ke leher jenjangnya dan memeluknya erat.
Azam diam membisu melihat putranya lebih dekat kepada orang lain. "Tunggu! Anda tidak usah ikut campur dalam urusan ini. Mereka keluargaku sebaiknya Anda-"
Zaidan menoleh dan seketika mencengkram tangan Azam yang hendak menggapai Raihan lagi.
"Lebih baik Anda kembali. Karena keluarga yang Anda sebutkan sekarang akan menjadi keluarga saya. Anda tidak bisa mendekati mereka lagi. Karena saya akan berdiri di garda paling depan untuk mereka," tegas dan jelas kata demi kata terlontar dari mulut menawan Zaidan membuat Azam terperangah.
Ia tidak menyangka dan menduga jika rekan kerjanya memiliki minat kepada Alina. Ia pun sedikit tersentak ke belakang kala Zaidan menghempaskan tangannya kasar.
"Kembalilah, ada keluarga yang harus Anda urus juga. Lepaskan mereka dan biarkan Alina mendapatkan kebahagiaannya sendiri," lanjut Zaidan sebelum menghilang di balik pintu.
Azam terus diam bak bongkahan es melihat dan mendengar apa yang dikatakan Zaidan serta kelakuan putranya. Sakit memang sakit, tetapi ia tidak bisa mengelak atas perbuatan yang sudah lakukan. Penyesalan sudah tidak ada guna, sebab waktu tidak bisa diputar kembali.
__ADS_1
...Bersambung.......