Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 47


__ADS_3

Satu detik yang terlewat memberikan kenangan baru, besok menjadi misteri yang belum tentu kedatangannya. Harapan semu kian melambung tinggi berharap ada kebaikan setelah hilangnya kepedihan. Bunga yang semula layu masih memiliki harapan untuk kembali berkembang, tanaman yang sudah mati mendapatkan kehidupan kedua jika benih baru di taman kembali.


Seperti dalam surah Al-Insyirah ayat 5-6 yang artinya : "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." Lalu Allah menegaskan kembali diayat 6-nya yang artinya : "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."


Di dalam kedua ayat tersebut Allah ingin menyampaikan jika di balik sesuatu yang menyakitkan maka terdapat kebahagiaan di dalamnya. Sedih-senang, tertawa-menangis, bahagia-terluka, hal tersebut selalu berdampingan dalam kehidupan. Maka yakini ketika mendapatkan musibah yang begitu sakitnya, percaya Allah pasti akan memberikan kebahagiaan setelahnya. Kehidupan akan terus berputar sebagaimana Allah sudah menghendaki. Maka jangan menghakimi, karena keadaan setiap hamba tidak sama satu sama lain.


Dalam buaian mimpi indah, Alina bertemu dengan kedua orang tua yang selama ini sudah sangat dirindukannya. Senyum mengembang di wajah damai mereka pun mengantarkan ketenangan dan pelukan hangat saling mengantarkan keberadaan masing-masing. Aroma yang sudah lama menghilang kini memenuhi indera penciumannya lagi, keristal bening pun berjatuhan seiring angin berhembus menemani kebersamaan keluarga tersebut.


"Mah, Pah, kenapa aku ada di sini? Alhamdulillah, aku bisa bertemu kalian lagi, aku ingin selamanya dengan Mamah dan Papah lagi," ucap Alina semakin mengeratkan dekapan di tubuh orang tuanya.


Tidak lama kemudian pelukan itu pun terlepas membuat manik bening Alina menatap keduanya bergantian. Senyum mengembang di wajah sang ibu mengantarkan kehangatan yang sudah lama menghilang. Genggaman tangan sang ayah pun memberikan kekuatan yang bertahun-tahun kandas menyisakan kesendirian.


"Alina, Sayang. Waktumu belum tiba, Nak, kembalilah masih ada yang menunggumu."


Alina menautkan kedua alis tidak mengerti, "apa maksud Mamah? Alina tidak mengerti."


"Sayang, ini hanya sementara, kembalilah jika waktunya sudah tiba suatu saat kita akan bertemu lagi."


Perkataan sang ayah bersamaan dengan kedua sosok itu menghilang dalam pandangan. Alina bangkit berusaha menjangkau mereka, tetapi yang ia dapatkan hanyalah kekosongan. Ia pun berdiam diri di tengah padang bunga yang terhampar luas sepanjang mata memandang. Perkataan ayah dan ibunya pun berputar membuat ia sadar.


...***...

__ADS_1


Perlahan kelopak mata yang semula tertutup rapat kini kembali terbuka, manik bulat sebening embun menampakan dirinya lagi. Hal pertama tertangkap pandangan langit-langit ruangan asing, bola matanya bergulir melihat alat-alat medis di sebelah. Rasa ngilu di pergelangan tangan sebelah kiri dan sekujur tubuh pun menyadarkan ia akan kejadian yang sudah lalu.


"Bayiku," pekiknya lalu meraba perut yang sudah kembali rata. "Bayiku, ke mana perginya bayiku?"


Perkataan yang terus terlontar pun membuat gaduh ruang inap menyadarkan seseorang yang sedari tadi terus terjaga. Dokter tampan berjas putih itu berjalan mendekat, senyum mengembang kala netra keduanya saling beradu. Kelegaan nampak jelas dengan air muka haru hadir mengantarkan kebahagiaan.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, Al," ucapnya.


"Angga? Ba-bayiku di mana? Aku mau melihat dia."


Alina berusaha bangkit meskipun keadaan tubuhnya tidak mendukung. Otot-ototnya terasa kaku membuat ia kembali berbaring. Manik kecoklatannya terus memandangi Angga meminta penjelasan dan pengharapan. Sebagai seorang ibu baru, Alina sangat khwatir kala sang buah hati tidak berada dalam pandangan.


"Tenang Alina, bayimu baik-baik saja. Dia sangat tampan, mirip sekali denganmu dan Azam, sekarang diaada di ruang bayi. Nanti kamu bisa bertemu dengannya," jelas Angga memberikan ketenangan.


"Wush, kamu jangan berbicara seperti itu. Alhamdulillah, kamu bisa melewati masa kritis, kata Dokter Zahira kamu mengalami pendarahan dan hampir tidak bisa terselamatkan, tetapi ... " Angga menjeda ucapannya memberikan rasa penasaran.


Alina menatapnya penuh pengharapan dan berusaha untuk kembali bangkit. Kali ini ia bisa melaluinya dan duduk di atas ranjang. Tatapannya masih terfokus pada Angga yang belum membuka suaranya lagi, "tetapi apa? Ke-kenapa kamu tidak mengatakan apa pun lagi? Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Da-dan berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Alina beruntun.


Angga menarik napas dan menghembuskannya perlahan, melihat hal itu membuat perasaan Alina semakin tidak nyaman. Ia yakin selama dirinya tidak sadarkan diri sudah ada peristiwa tak mengenakan terjadi. Intuisinya pun mengatakan untuk mengetahui lebih dalam.


"Mas Angga," panggilnya.

__ADS_1


"Kamu tidak sadarkan diri selama tiga hari, setelah kamu melahirkan Azam mendonorkan darahnya untuk menyelamatkanmu. Da-dan setelah itu ke-ke ... " ucapan Angga terus tercekat.


Rasanya bagaikan ada empedu mengalir ke dalam tenggorokan menyebarkan kepahitan tiada tara. Alina kembali mengerutkan dahi lebarnya tidak sabar mendengar kata selanjutnya. Namun, ia mendapati air mata mengalir di wajah tampan itu. Seketika jantungnya pun berdegup kencang menggetarkan ketakutan dalam diri. Perkataan Angga barusan mengejutkannya, Alina tidak menyangka jika Azam sudah menyelamatkan hidupnya


"A-apa yang terjadi? Kenapa Mas Angga menangis? Da-dan di mana mas Azam? Apa dia sedang berada di rumah sakit menemani mbak Yasmin?" tanya Alina beruntun dan sedikit mencondongkan badannya ke depan.


Mendengar pertanyaan terakhir Angga memalingkan muka tidak sanggup bertatapan dengannya. Kesakitan kembali datang kala perkataan yang Alina katakan tidak sama seperti kenyataan. Angga pun berusaha menenangkan diri dan menatap Alina lagi, ia pun menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Setelah melahirkan ia mengalami pendarahan hebat, dokter Zahira yang menanganinya berusaha untuk mencari stok darah yang tidak ada di ruamh sakit. Golongan darah Erina yang terbilang cukup langka pun membuat para tenaga medis ketar ketir. Begitu pula dengan Azam yang ketakutan kala melihat kedua manik sang istri menutup.


"Alina mengalami pendarahan, kita harus cepat mendapatkan stok darah O- dan di rumah sakit tidak ada darah tersebut. Seseorang dengan golongan darah O- terbilang langka, apa Anda punya kenalan yang memiliki golongan tersebut?" tanya dokter Zahira cemas. "Karena pasien harus segera mendapatkan transfusi darah," lanjut dokter kandungan tersebut.


Azam termangu, tidak percaya jika golongan darah Alina sama sepertinya. Takdir sepertinya sudah menyuratkan mereka untuk bersama. "Golongan darah O-?" Dokter Zahira kembali mengangguk, "Ka-kalau begitu ambil darah saya, Dok. Golongan darah saya sama dengan Alina. Saya mohon selamatkan dia."


Dokter Zahira melebarkan pandangannya, "Kalau begitu ayo kita harus cepat." Mereka pun bergegas menuju ruangan.


Setelah melakukan prosedur untuk memberikan darahnya pada sang istri, Azam duduk terdiam di depan ruang operasi. Dalam keadaan lemas ia pun diharuskan untuk kembali ke rumah sakit dan menemui Yasmin kala selang beberapa menit Angga menghubunginya. Namun, sayang seribu sayang keadaan istri pertama melemah hingga pada akhirnya azal menjemput. Panah terus menerus tepat mengenai sasaran dari dua arah sekaligus.


Seketika air mata mengalir tak tertahankan, Alina tidak menyangka jika Yasmin sudah pergi selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi. Rasa bersalah dan juga kehilangan pun hinggap dalam diri, ia menangis dalam diam. Jika di hari bayinya terlahir ke dunia maka waktu itu Yasmin meninggalkan dunia.


"Innalillahi wa'innalillahi raji'un Ya Allah, mbak Yasmin," gumam Alina.

__ADS_1


Angga pun kembali menitikan air mata menyaksikan betapa terpukulnya istri kedua sang sahabat. Ia mengerti bagaimana perasaan Alina sekarang, tidak mudah menerima kenyataan pahit yang datang begitu cepat. Alina tidak percaya saat kembali membuka mata maka orang terbaik dalam hidupnya berpulang ke rahmatullah.


__ADS_2