Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 80 (Season 2)


__ADS_3

"Sa-Sarah? Mas Angga?"


"Apa kabar Nyonya Jasmin," panggil Sarah pelan dan Angga hanya menyunggingkan senyum hangat.


"Bagaimana bisa kalian ... bersama?" tanya Jasmin terkejut mendapati dua orang dikenalnya.


"Kalau begitu kita pergi dulu, jaga diri Mbak baik-baik." Alina pun melangkahkan kaki dari hadapan Jasmin yang terus mengikuti ke mana mereka pergi tanpa mendapatkan jawaban dari kedua orang tersebut.


Sampai sosok mereka menghilang, Jasmin kembali menitikan air mata lagi. "Ya Allah," gumamnya.


Senja kembali hadir memperlihatkan keindahannya. Cakrawala membentang menyemburkan warna jingga dan orange sebagai penghias.


Para penikmatnya begitu senang melengkungkan bulan sabit yang hadir sebelum gelap menerpa. Ketenangan serta kedamaian hadir membentuk harapan baru dan meninggalkan luka menganga di belakang.


Kepedihan menghilang saat keputusan terbaik sudah didapatkan. Perpisahan bisa menjadi awal kebahagiaan di balik kepedihan menerjang.


Gelenyar asa menari indah bersama raksi baru yang kian melebur. Sayup-sayup hati berbisik lirih jika "Tidak ada air mata yang keluar percuma, kepedihan hanya sebatas memberikan pelajaran serta kesabaran untuk menjemput kebahagiaan."


Allah tidak pernah salah memberikan ujian serta cobaan pada setiap hamba. Karena hal itu bukti jika Allah sudah menyiapkan yang terbaik.


Sepanjang perjalanan kembali ke ibu kota, Alina tidak henti-hentinya memandangi langit sore. Tidak ada yang berbicara hanya mesin mobil menjadi musik pengiring kebersamaan mereka.


Sesekali baik Angga dan Sarah yang tengah duduk di jok depan menatapnya lewat kaca spion di atas. Mereka memberikan kesempatan pada Alina untuk merenungkan apa yang baru saja terjadi.


Kejadian tak terduga tersebut bagaikan pukulan telak yang menyadarkannya pada kenyataan. Alina semakin siap dan yakin untuk berpisah dengan suami yang tidak mencintainya.


"Apa kalian mendengar ucapanku tadi?" tanya Alina memulai pembicaraan.


Sarah dan Angga mengangguk ragu sambil bergumam "hm" sebagai jawaban.

__ADS_1


"Aku harap kalian tidak mengasihaniku atas apa yang menerpa."


Kedua orang itu diam beberapa saat sampai Sarah menyambar ucapannya. "Tidak! Justru aku bangga sama Teteh. Karena sudah bertahan sampai sejauh ini. Teteh wanita yang hebat dan ibu luar biasa. Apa pun keputusan Teteh itu pasti yang terbaik."


"Aku setuju, kamu juga berhak untuk bahagia meskipun tanpa dia. Karena ketenangan batin yang utama, cinta ... aku yakin Allah sudah menyiapkan yang terbaik untukmu," lanjut Angga.


Alina hanya mengulas senyum menikmati pemandangan yang terhampar. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun lagi dan mengaamiinkan apa yang mereka katakan.


Itulah ingatan yang sudah ia lalui satu minggu yang lalu. Sekarang Alina sudah meyakinkan diri dan memantapkan hati untuk kembali pergi.


Tujuannya hanya satu, yaitu membahagiakan Raihan. Ia tidak peduli mengenai perasaannya sendiri, karena baginya kebaikan sang putra yang utama.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih seharian, Alina tiba di sebuah tempat yang belum pernah terjamah olehnya. Ia membawa Raihan menuju sebuah pantai yang memberikan pesona bahari menentramkan jiwa.


Kaki polosnya menapaki pasir putih yang begitu lembut dan sesekali angin menyambut kedatangan keduanya.


Ibu dan anak itu pun saling bergandengan tangan menyaksikan deburan ombak saling bersahutan. Aroma laut begitu menyengat mengantarkan pada kehidupan baru seorang Alina.


Raihan mendongak melihat senyum manis muncul di wajah ayu sang ibu. "Em, Raihan setuju. Raihan hanya ingin melihat Mamah terus tersenyum seperti sekarang." Alina termangu dan terus mengeratkan genggaman tangannya dengan sang putra.


Hangatnya raja siang yang mulai pulang ke peraduan memeluk keberadaan mereka di pantai dengan erat. Semburan warna orange bersama biru laut begitu memanjakan mata. Seketika ketenangan menyapanya kuat dan menegaskan jika sendiri bukan berarti sepi.


"Aku yakin bisa membahagiakan Raihan, meskipun sekarang harus berperan ganda sebagai ... ibu dan ayah," benaknya yakin.


...***...


Di tempat berbeda, Azam masih mematung tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Tepat di depan mata kepalanya, ia menyaksikan sosok wanita yang kembali sangat mirip dengan sang mendiang istri.


Dengan langkah tertatih ia masuk ke dalam meyakinkan diri jika semua itu bukanlah illusi. Wanita yang sedang duduk di tempat tidurnya pun tidak kalah terkejut.

__ADS_1


Ia langsung menutup buku yang menemaninya. Manik bulannya pun melebar sempurna dan seketika mendongak kala pria yang sangat dikenalnya berdiri tepat di sebelah.


"Si-siapa kamu sebenarnya?" cicit Azam teredam.


Jasmin melihat sorot mata kerinduan menyapanya lekat. Ia membuang muka sekilas dan kembali memandani lawan bicaranya.


"Aku ... Jasmin Zakkiyah."


Seketika itu juga Azam mengerutkan kening dalam. Kertas yang masih berada dalam genggaman ia mengepalnya kuat menjadi bulatan tak beraturan. Di dalam sana tertuang dua kata membentuk nama seseorang, yakni "Jasmin Zakkiyah." Itulah pesan terakhir yang Alina berikan.


Azam kembali termangu mencari ujung bola kusut tentang kejutan yang tengah menerpa. Ia mengusap wajah pelan dan memijit pelipisnya pelan.


"Apa lagi ini? Sebenarnya ada apa?" ujarnya lirih dan mendudukan diri di kursi sebelah Jasmin. "Alina memberikanku alamat ini dan menyebutkan namamu di dalamnya." Azam menjulurkan kertas kusut itu ke hadapan sang lawan bicara dan menunduk dalam. Jasmin terdiam dan terus melihat ke telapak tangan pria yang menjabat sebagai suaminya.


"Alina ... benar-benar mencintaimu. Satu minggu yang lalu kami bertemu untuk pertama kalinya lagi setelah tujuh tahun berlalu. Dia masih sama seperti dulu, baik hati, dan mau berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Aku malu sudah menyakiti dan menyeretnya sejauh ini. Aku ... sosok istri yang hidup dalam bayang-bayang orang lain. Aku minta maaf, sudah membohongimu selama ini, Mas Azam," tutur Jasmin membuat Azam mendongak melihat ke dalam manik wanita di depannya.


Tidak ada kebohongan maupun kepalsuan di dalamnya. Tatapan itu merupakan tatapan yang ia rindukan selama tujuh tahun ini. Hatinya sakit melihat jika ada orang lain yang mengetahui masa lalunya. Ia masih belum paham mengenai situasi yang terjadi.


"Apa yang sedang kalian lakukan padaku? Kenapa kamu berkata seperti itu seolah-olah tahu kehidupanku dan Alina?" ujar Azam menyembunyikan air mata.


Jasmin mengepal kedua tangan kuat dan teringat akan Yasmin. Ia tidak percaya jika sang kakak sudah memberikan luka tidak hanya kepada Alina, tetapi pria yang dicintainya.


"Karena ... karena aku istrimu, Mas Azam. Aku Yasmin Zakkiyah ... bukan tetapi aku Jasmin Zakkiyah. Wanita yang Mas cintai bukan aku, melainkan Yasmin."


Azam lagi-lagi mengangkat kepalanya dengan kedua alis saling berpautan. Ia masih tidak mengerti akan situasi yang terjadi. Jalan pikirannya buntu saat medapati wanita yang mengaku sebagai istrinya ini.


Mengerti akan keadaan suaminya, Jasmin menceritakan semuanya pada Azam. Sang pengusaha itu pun tidak henti-hentinya mengalirkan air mata kala tahu kebenaran yang tengah menimpanya selama bertahun-tahun.


"Aku minta maaf sudah menipumu sebagai sosok yang lain. Aku bukan Yasmin yang Mas cintai. Aku Jasmin, orang yang tidak pernah Mas ketahui. Alina benar-benar mencintaimu dengan tulus, Mas," tuturnya lagi.

__ADS_1


Azam terus menunduk dalam dengan air mata berlinang tanpa henti. Bak dihujami batu berton-ton beratnya ia tertimpa sebuah fakta mencengangka. Jika orang yang dinikahinya bukanlah wanita yang ia temui sembilan tahun lalu.


__ADS_2