
Dokumen dilempar ke sembarang tempat menimbulkan suara berdentum. Keadaan di perusahaan Zulfan begitu kacau setelah pemimpinnya diganti kembali oleh sang tetua.
Dawas menggeram marah melihat kurva penglihatan semakin merosot turun. Dari rapat yang baru saja diselenggarakan, perusahaan mendapatkan kerugian. Banyak para investor yang memutuskan kerjasama hingga tidak ada keuntungan didapatkan.
"Apa yang kalian kerjakan selama ini? Kenapa banyak klien yang mencabut pesanan dari kita? Apa kalian tidak becus bekerja, HAH?" bentak Dawas bangkit dari duduk lalu berkacak pinggang.
Dua orang pria di hadapannya menunduk seperti anak kucing yang dimarahi sang induk. Mereka tidak berani mengangkat kepala menyaksikan amukan tetua.
"Ma-maafkan kami Tuan Besar. Se-setelah Tuan Zaidan dilengserkan banyak klien juga investor yang menarik diri. Me-mereka tidak bisa bekerja sama lagi dengan perusahaan kita. Karena ... karena-"
"KARENA APA?" Amuk Dawas mengejutkan keduanya.
"Karena mereka sudah tidak percaya pada kami lagi. Mereka tidak puas dengan ra-rancangan yang Anda buat. Mereka-"
Meja digebrak kuat, Dawas tidak percaya mendengar pengakuan dua karyawannya. Kurang lebih sudah tujuh bulan lamanya ia menjabat kembali sebagai pemimpin perusahaan.
Selama itu pula tidak ada sedikitpun keuntungan yang didapatkan dan malah sebaliknya, pendapatan mereka semakin berkurang. Dawas terus berusaha menstabilkan kembali keadaan perusahaan dengan membuat rancangan sofa baru.
Namun, kegagalan menjadikan kerugian besar bagi perusahaan. Dawas bahkan menggunakan material-material terbaik sebagai penarik klien, tetapi tidak banyak sofa yang terjual.
Hingga dua bulan terakhir penjualan semakin berkurang hingga mengakibatkan kerugian. Dawas kelimpungan lalu mengadakan rapat yang juga pada akhirnya membuat beberapa investor menarik diri. Mereka tidak mau bekerja sama dengannya lagi saat menyadari perusahaan itu akan gulung tikar.
Di tengah kepelikan terjadi di ruangannya, pintu terbuka menampilkan sosok yang sudah dua bulan ini tidak pernah terlihat lagi.
Dawas melebarkan mata sayunya kala mendapati sang cucu memandanginya tegas. Zaidan nampak berbeda dari terakhir kali ia lihat pada saat peristiwa Zanna waktu itu.
Zaidan bahkan terlihat lebih bugar dan semakin berjaya. Dawas berpikir setelah mencabut kedudukannya sebagai pemimpin perusahaan, sang cucu akan kelimpungan dan susah mendapatkan pekerjaan.
__ADS_1
Namun, Dawas menyadari jika pengaruh ibunya, Moana membuat Zaidan tidak kehilangan apa pun. Tetua itu pun mengusir dua karyawannya dan hanya menyisakan Zaidan, Dimas, dan juga Calvin.
"Ada apa kalian datang ke sini?" tanya Dawas dingin.
Zaidan tersenyum simpul lalu berjalan mendekat ke arah meja kerja sang kakek. "Aku tidak sengaja mendengar ucapan Kakek tadi. Apa perusahaan sedang kacau?" tanyanya.
"Itu bukan urusanmu," tegas Dawas.
"Baiklah, aku hanya ingin memberitahu Kakek satu hal. Aku tidak bermaksud menggurui ataupun menceramahi Kakek, hanya saja ... aku pikir ini sesuatu yang harus diberitahukan." Zaidan menatap iba pada kakeknya.
Dawas memandangi mereka bertiga bergantian hingga memfokuskan diri pada sang cucu tertua. "Apa yang ingin kamu katakan?"
"Bertaubatlah, Kek. Rezeki tidak datang dengan sendirinya, tetapi Allah yang maha pemberi. Allah Maha Razzaq yang mendatangkan rezeki pada siapa saja. Mungkin kekacauan ini terjadi, sebab kita tidak pernah bersyukur atas apa yang Allah beri."
"Kita terlalu angkuh dan sombong bisa melakukannya sendiri tanpa meminta pada Allah. Namun, semua itu salah, Kek. Allah yang memberikan semua fasilitas, harta, maupun kesenangan ini."
"Aku tidak pernah takut kehilangan harta setelah Kakek melengserkanku dari perusahaan. Karena Allah menggantinya jauh lebih baik. Kakek sadar? Kita sudah jatuh terlalu jauh dari Allah, maka kembalilah, Kek," tutur Zaidan lembut.
"Aku belajar itu semua dari Alina. Dia ... yang menyadarkanku. Karena itu aku tidak bisa meninggalkannya, meskipun Kakek yang meminta," lanjut Zaidan.
Dawas semakin teringat pada sosok Alina. Meskipun ia terang-terangan membencinya, tetapi istri dari cucunya itu tetap bertahan.
Alina tidaklah sama dengan Calia, istri yang dulu pernah berkorban meninggalkannya. Alina lebih memilih untuk berkorban serta berjuang bersama Zaidan untuk menghadapi apa yang menghadang hubungan mereka.
"Saya tidak pernah membuat cucu Anda membangkang kepada kakeknya sendiri. Bukankah Anda yang membuatnya seperti ini? Kenapa Anda bisa menyalahkan orang lain? Menderita atau tidak itu biar kami yang merasakan."
"Anda pasti berpikir jika cinta yang kami miliki ini naif dan sangat bodoh, tetapi Anda tahu? Jika cinta juga harus diperjuangkan. Harta tanpa cinta hanya sengsara yang didapatkan, tetapi cinta tanpa harta juga dusta. Karena kita juga butuh makan untuk bertahan, tetapi satu yang tidak Anda ketahui jika ... rezeki itu tidak datang dari tangan manusia, melainkan Allah semata."
__ADS_1
"Hari ini Anda mengambil semua yang Mas Zaidan miliki, tetapi Anda lupa jika Allah Maha Kaya yang mampu memberikan lebih dari ini ... dan bisa saja Dia juga mengambil apa yang Anda miliki. Selamat tinggal, semoga Anda selalu sehat dan dalam lindungan Allah."
"Benarkan apa yang saya katakan tadi? Tidak lama Allah memberikan rezekinya dari pintu yang lain."
Apa yang Alina ucapkan waktu kembai berputar bak kaset rusak. Tayangan itu begitu jelas teringat dalam ingatan. Dawas diam tanpa kata mengunci bibirnya rapat, semua kejadian yang menimpa membuatnya sadar, jika diri sudah jauh dari Sang Pemilik Kehidupan.
"Wanita itu? Apa dia sudah mempengaruhi Zaidan sampai seperti ini? Aku belum pernah mendengarnya berbicara tentang agama. Kata-kata yang wanita itu ucapkan ... aku mengingatnya dengan jelas," benaknya berkecimpung dalam diam.
Masih dalam kebimbangan, Zaidan berjalan mendekat lalu menjulurkan selembar surat. Dawas mengangkat pandangan melihat sorot mata tegas di hadapannya.
"Aku juga ingin menyampaikan ini. Kakek bisa melihatnya?" pinta Zaidan.
Tanpa mengatakan sepatah kata, Dawas membawa lalu membuka lipatan kertas tersebut. Bola mata cokelat kelamnya membaca kata demi kata tertuang di sana.
Sampai pada angka 99,99% cocok membuat jantungnya berdentum keras. Tangan yang tengah menggenggam surat pemberitahuan tersebut pun bergetar hebat.
Dawas tidak menyangka melihat nama dirinya sendiri dengan Calvin di sana yang menunjukan kecocokan satu sama lain.
Sang tetua mengangkat kepala lagi menyaksikan senyum mengembang di wajah tampan cucunya. Zaidan mengangguk pelan seraya berujar, "Itu adalah hasil tes DNA antara Kakek dan Calvin. Kalian ... cocok, Calvin adalah keturunan Zulfan. Cucumu juga, Kek."
Dawas melangkahkan kaki ke belakang seraya menggelengkan kepala beberapa kali. Pikirannya tiba-tiba berkecambuk menyadarkan pada masa lalu.
Bayangan Calia semakin membuatnya menegang di tempat. Dawas tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah mereka berpisah hingga keberadaan Calvin menggetarkan pertahanan.
Dawas pun lalu beralih pada Calvin yang juga tengah memandanginya. Pria muda di hadapannya itu adalah cucu laki-laki kedua yang dirinya miliki.
Kenyataan dan mimpi bertolak belakang, Dawas masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Hingga kegelapan pun datang membuatnya jatuh pingsan.
__ADS_1
"KAKEK!" teriak mereka bertiga.
...Bersambung......