
Di balik awan cerah yang datang pagi ini, Alina dan Zaidan menyaksikan sepasang insan di ruangan itu sedang mengungkapkan perasaan masing-masing.
Sedari tadi pasangan suami istri tersebut menguping apa yang dikatakan Calvin dan Zanna. Niat untuk mengunjunginya lagi membuat mereka harus tertahan di luar ruangan.
Keduanya tidak menyangka jika di sana ada Calvin yang tengah mengajak Zanna berbicara. Namun, Alina dan Zaidan tidak menyangka sang sepupu sudah jatuh cinta pada seorang wanita yang dulu pernah dijebaknya.
"Lebih baik kita memberikan mereka waktu berdua saja," bisik Zaidan merangkul bahu istrinya hangat.
Alina mengangguk lalu mengikuti ke mana sang suami membawanya pergi. Seraya menyunggingkan senyum manis, ia berbisik dalam benak, "Semoga ini langkah awal bagi kalian untuk bersama."
Zanna masih tidak percaya ucapan Calvin barusan. Baginya perkataan tersebut mengandung kasihan tidak lebih dan tidak kurang.
"Apa kamu berkata seperti itu karena kasihan padaku? Aku-"
"Tentu saja tidak. Untuk apa aku datang ke sini jika untuk main-main? Terlebih setelah kamu kecelakaan ... sebenarnya selama ini aku berusaha menjenguk. Namun, aku takut kamu tidak mau menerima kedatanganku."
"Setelah mendengar kondisimu dari Alina, aku semakin khawatir dan memberanikan diri. Sampai di sinilah aku sekarang ... duduk menghadap mu dan mengutarakan isi hati. Aku tidak pernah main-main dalam hal perasaan."
"Kamu mau percaya atau tidak, tetapi inilah kebenarannya. Aku ... sudah jatuh hati padamu, Zanna," kata Calvin jujur.
Zanna mengangkat pandangannya lagi, wajah penuh air mata itu menoleh mencari kebenaran di balik sorot mata pria keturunan Zulfan tersebut.
Zanna tidak menemukan kebohongan ataupun dusta di baliknya. Ia melihat hanya ada ketulusan dan kejujuran di sana.
"Aku bukan wanita baik-baik, hidupku penuh dengan catatan hitam nan kelam. Apa yang kamu harapkan dari wanita lumpuh sepertiku? " ujar Zanna menahan sesak dalam dada.
Calvin tersenyum lembut, lalu berkata. "Tidak ada alasan bagi seseorang untuk jatuh cinta. Selain ingin menyempurnakan separuh agama."
"Aku juga bukan manusia yang tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Terlalu banyak kekhilafan yang aku buat selama ini, tetapi ... aku mendengar nasehat Alina jika Allah maha pengasih dan maha pemurah. Pintu maaf Allah terbuka lebar bagi setiap hamba-Nya yang ingin bertaubat."
__ADS_1
"Zanna ... aku tidak ingin memendam perasaan ini terlalu lama. Aku takut hal itu bisa menjerumuskan ku pada hubungan yang terlarang lagi. Aku, serius ingin mengkhitbah mu." Tegas, jelas nan lugas.
Niat baik itu tersampaikan pada sosok yang selama ini ia kagumi dalam diam. Meskipun keduanya tidak pernah saling berinteraksi setelah kejadian tersebut, tetapi cinta dan perasaan bisa datang pada siapa saja serta kapan saja.
Allah sang pemilik hati telah mengantarkan keduanya untuk saling bertemu dan memberikan hidayah-Nya.
"Kenapa kamu memberiku harapan semanis ini? Aku semakin merasa bersalah kepada kalian semua." Zanna menangis lagi dan menangkupkan wajah di kedua telapak tangan.
"Masih belum terlambat untuk memperbaiki diri. Jujur, saat ini aku ingin sekali memelukmu, tetapi ... aku sadar kita bukan mahrom."
Zanna kembali terpaku dan terdiam beberapa saat. Kata-kata yang Calvin layangkan masih berdengung dalam pendengaran.
Ia merasa benar-benar dicintai dan diinginkan oleh seseorang yang selama ini tidak pernah dirinya dapatkan.
"Alina, dia benar-benar wanita yang luar biasa. Karena ada perannya di kehidupan Calvin dia bisa berubah seperti ini. Juga ... aku sadar atas apa yang sudah aku lakukan selama ini berkat ucapannya dia," benaknya.
Alina dan Zaidan yang tengah berjalan di lorong beberapa langkah dari ruangan Zanna, harus terhenti saat tidak jauh dari keberadaannya sepasang suami istri tengah berjalan mendekat. Kedua paruh baya yang belum menyadari keberadaan mereka pun terus menguatkan satu sama lain.
Sampai ucapan Zaidan mengejutkan dan membuat mereka saling pandang. Mentari dan Daffa tidak percaya bertemu dengan keduanya lagi di sana.
"Mamah, Papah kalian datang?" tanya Zaidan senang.
Pasangan suami istri itu pun saling pandang dan kembali menatap padanya. "Iya," jawab mereka kompak.
"Alhamdulillah, syukurlah saya senang mendengarnya. Semoga dengan kedatangan Tuan dan Nyonya, Zanna bisa cepat sembuh," kata Alina antusias.
Mentari dan Daffa pun ikut merasakan bagaimana leganya Alina serta Zaidan melihat kedatangannya. Sejak malam kemarin, mereka jadi memikirkan nasib sang putri.
"Terima kasih sudah menyadarkan kami. Karena bagaimanapun juga Zanna tetap putri kandung kami. Seburuk dan sebanyak apa pun kesalahannya, mungkin di dalamnya ada peran kita sebagai orang tua. Kami menyadari jika selama ini kurang memberikan perhatian, sampai membuat ia jatuh ke dalam lingkaran hitam," tutur Mentari menyesal.
__ADS_1
Alina berjalan beberapa langkah ke depan lalu menggenggam hangat tangan wanita itu. "Tidak usah menyalahkan diri sendiri, Nyonya. Semua yang terjadi pasti memberikan pembelajaran untuk kita semua. Saya juga seorang ibu yang menginginkan serba terbaik untuk kedua buah hati saya. Namun, saya juga tidak bisa memaksa mereka melakukan apa kehendak saya sendiri. Karena saya percaya apa pun yang diinginkannya mereka bisa melakukannya dengan baik. Saya juga percaya apa yang sudah Zanna lakukan ... pasti ada pembelajaran berharga untuknya. Tugas kita sebagai orang tua mendukung sepenuhnya."
"Ah, saya mohon maaf tidak bermaksud untuk menasehati. Saya-"
Belum sempat Alina menyelesaikan ucapannya, Mentari tiba-tiba saja langsung memeluknya erat. Ia terkejut dan merasakan jika tubuh wanita paruh baya itu sedikit bergetar.
"Terima kasih ... terima kasih sudah mengingatkan kami," bisiknya lembut.
Alina mengulas senyum hangat dan membalas pelukannya. "Sama-sama, saya melakukan ini untuk kebaikan Zanna." Mentari mengangguk beberapa kali di balik punggungnya.
Setelah itu mereka berempat pun berjalan menuju ruangan Zanna. Mentari dan Daffa meminta keduanya untuk menemani. Tanpa menolak Zaidan dan Alina pun menyetujui.
Sampai keempat orang itu tiba di depan ruang inap Zanna. Alina dan Zaidan melihat Calvin masih ada di sana. Mentari serta Daffa pun menyadari jika ada seseorang di dalam.
"Sepertinya mereka sudah selesai bicara, apa kita masuk sekarang?" tanya Zaidan yang diangguki orang tua Zanna.
Ia lalu menggeser pintu ruangan yang seketika menarik atensi dua orang di dalamnya. Seketika Zanna terbelalak, terkejut mendapati kedua orang tuanya datang.
Degup jantung bertalu kencang, semua kata-kata yang ingin dilontarkan tercekat di tenggorokan. Air mata kembali mengalir kala memandangi ayah dan ibunya tengah menatap ia dalam.
"Ma-Mamah, A-ayah?" panggilnya terbata-bata.
Mentari dan Daffa terus memandangi buah hatinya lekat. Ada perasaan bersalah yang terus menerus menamparnya kuat.
Sebagai orang tua, mereka terpukul menyaksikan putri semata wayangnya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Rasa bersalah pun semakin timbul mengalirkan air mata dari netra sayu Mentari.
Zanna semakin terperangah menyaksikan itu semua. Dalam diam Alina memandangi mereka dan tersenyum lembut.
...Bersambung......
__ADS_1