Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 144 (Season 3)


__ADS_3

Asha membentang mengalirkan keinginan baru untuk mencapai kebaikan. Gapailah mimpi setinggi langit dan lupakanlah kepedihan membayang.


Tidak ada salahnya mengharapkan sesuatu selepas perginya hujan badai. Karena di balik itu pelangi akan muncul memberikan kebahagiaan lain.


Di tengah sarapan, Alina tiba-tiba saja mengalami morning sicknees. Buru-buru ia bangkit dari duduk bergegas menuju kamar mandi.


Di sana ia memuntahkan kembali apa yang baru saja dimakannya. Tidak lama berselang Zaidan datang menyusul memberikan pijatan pelan di tengkuk sang istri.


Perlahan-lahan ia merasa nyaman dan mulai membersihkan sudut bibir. Zaidan membantu Alina untuk berdiri tegak dengan merangkul pinggangnya erat.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zaidan khawatir sambil ikut membersihkan bibir Alina.


Wanita berhijab itu menggeleng pelan dan bersandar nyaman di dada bidang suaminya.


"Bisa antar aku ke kamar, Mas?" pinta Alina kemudian.


Tanpa mengatakan apa pun Zaidan langsung menggendong sang istri di depan membawanya ke kamar tamu milik Azam.


Saat keduanya melewati ruang makan, keempat orang lain yang masih berada di sana mendekat cepat. Mereka menatap cemas pada Alina yang membenamkan wajah di ceruk leher sang suami.


"Ayah, Mamah kenapa?" tanya Raihan takut sesuatu terjadi pada sang ibu.


Meskipun ia sudah tahu jika Alina tengah mengandung, tetapi anak berusia delapan tahun tersebut tidak mengerti apa saja yang harus dilalui seorang ibu hamil.


"Sayang, kamu sama Ayah dulu, yah." Azam langsung menggendongnya membiarkan Zaidan melewati mereka.


Di tenagh gendongan ayah kandungnya, Raihan berontak minta diturunkan. Namun, Azam tidak mengizinkan dan membawa sang putra ke taman belakang.


"Mamah, mamah Alina kenapa?" tanya Aqeela saat mereka hanya berdua di sana.


Jasmin menunduk lalu menggandeng tangan putrinya erat. "Mamah Alina baik-baik saja, hanya keluarga kita akan bertambah, Sayang."


Aqeela mendongak mencari kebenaran di manik sang ibu. "Apa maksud Mamah?" tanyanya kembali.


Jasmin tersenyum hangat kemudian menjawil ujung hidung gadisnya pelan. "Nanti kamu tahu, kita hanya harus menunggu waktu yang tepat."


Aqeela mengangguk mengerti dan melihat ayah beserta adik tidak seibunya tengah bermain bersama. Di usianya yang mau menginjak sepuluh tahun, ia sedikit mengerti mengenai kondisi keluarganya. Dalam diam ia tersenyum senang menyaksikan keakraban ayah dan anak tersebut.


...***...

__ADS_1


Alina sudah duduk berselonjor kaki seraya bersandar di kepala ranjang. Ia menatap suaminya dengan sayu yang tengah memberikan tatapan khawatir, cemas, dan takut.


Senyum lemah pun hadir menangkup hangat wajah tampan sang pasangan. Ibu jarinya mengelus pelan pipi putih itu dengan sayang.


"Jangan khawatir ... aku baik-baik saja, Mas. Apa yang terjadi kemarin kenapa wajahmu luka seperti ini?" kata Alina menenangkan dan sarat akan kekhawatiran kala menyaksikan goresan di pipi Zaidan.


"Hanya ... masalah kecil. Kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Juga bagaimana aku tidak khawatir? Kamu muntah-muntah terus, tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan dari kemarin," balas Zaidan semakin pelan.


Ia menunduk menyembunyikan air mukanya. "Aku hanya tidak ingin kamu sakit, Sayang. Aku tidak bisa melihatmu kesakitan, apalagi ... kejadian kemarin-"


"Mas selalu membuatku kesakitan setiap malam, tapi aku tetap baik-baik saja." Alina mencoba menggodanya.


Hal tersebut berhasil mengangkat kepala Zaidan kembali. Pria berstatus sebagai suami itu menatap tidak percaya mendengar penuturan wanita tercintanya.


"Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu?" Zaidan nampak malu dengan rona merah menyebur di pipi sampai ke telinga.


Alina terkekeh pelan lalu menggenggam hangat kedua tangan sang suami. "Apa yang nanti akan aku sampaikan, apa Mas mau menerimanya?"


Mendengar penuturan barusan, manik jelaga Zaidan melebar sempurna. Jantungnya berdegup kencang dengan pikiran sudah berkelana ke mana-mana.


"Mas." Panggil Alina sedikit kencang mendapati prianya melamun.


"Apa Mas mau menerimanya?" tanya Alina meninggikan suaranya beberapa oktaf.


"A-ah, iya tentu saja, Sayang. Mas akan menerima apa pun yang terjadi pada dirimu. Tenang saja Mas akan selalu ada di sampingmu apa pun yang terjadi," katanya meyakinkan.


Kini giliran Alina heran mendengar penuturan suaminya. Ia berpikir jika Zaidan mempunyai praduga buruk. Bibir pucat itu pun melengkung sedikit sambil terus memerhatikan sang lawan bicara.


"Ada surat pemberitahuan dari dokter kemarin, itu ada di tasku," jelas Alina kemudian.


Buru-buru Zaidan menyambar tas selempang Alina yang tergeletak di atas nakas. Ia membuka penutupnya dan mendapati selembar keras di sana.


Dengan denyut jantung yang masih bertalu kencang, Zaidan mengambil lalu membukanya pelan. Bola mata cokelat beningnya bergulir membaca satu persatu huruf yang tertuang.


Sampai ia pun langsung menatap pujaan hatinya lekat menuntut penjelasan. Alina tidak kuasa menahan senyum melihat raut wajah Zaidan.


"Iya, sudah tiga minggu," kata Alina menjelaskan.


Tanpa aba-aba Zaidan menubrukan tubuh tegapnya memeluk Alina erat. Ia tidak bisa membendung kebahagiaan saat mendapatkan kabar jika istrinya tengah mengandung.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak memberitahuku langsung? Kenapa kamu tidak memintaku untuk menemanimu memeriksanya? Kenapa kamu pergi begitu saja? Kenapa-"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Alina mendorong dada bidang Zaidan lalu langsung menyambar benda kenyal milik sang suami.


Zaidan terkejut, tidak menyangka jika Alina berubah agresif. Hal tersebut sangat menguntungkan baginya, ia pun menutup kedua mata menikmati permainan mereka.


Pasangan suami itu terbuai akan segala kenikmatan yang terajut. Tidak lama berselang Zaidan melepaskan dan menyatukan kening mereka.


"Terima kasih, karena sudah memberikan kebahagiaan tidak ternilai untukku. Aku ... sangat mencintaimu. Aku rela kehilangan dunia, sebab dunia baruku adalah kamu, Sayang."


"Gombal, Mas bisa saja membuatku senang." Alina memukul pelan bahu suaminya.


Zaidan mengulas senyum kemudian membubuhkan kecupan hangat nan mendalam di dahi lebar Alina. Ia lalu menariknya hingga sang istri duduk di pangkuan.


Secara naluri Alina mengalungkan kedua tangan di leher jenjang Zaidan. Mereka saling pandang menyaksikan keindahan bola mata masing-masing.


"Terima kasih juga sudah memberikanku harta tak ternilai," ujarnya.


Zaidan mengangguk pelan, tangan kanannya terangkat membelai pelan perut rata Alina. Sang empunya mengulas senyum manis dan menghirup dalam aroma yang menguar dari surai lembut suaminya.


"Assalamu'alaikum, anak Ayah. Jangan membuat Mamah kesusahan yah. Ayah kasihan kalau harus melihat Mamah muntah-muntah," kata Zaidan mencoba berinteraksi dengan buah hatinya.


"Dia masih terlalu kecil, Sayang. Muntah-muntah di trimester pertama itu memang wajar, juga-" Alina menjeda ucapannya.


Zaidan mendongak seraya masih membelai pelan perut Alina. "Juga apa, Sayang?"


Alina semakin melengkungkan bulan sabit sempurna, kepala berhijabnya mendekat dan berbisik tepat di telinga Zaidan.


Seketika ia terbelalak mendengar penuturan tersebut. "A-apa kita tidak bisa berhubungan? Kamu dapat informasi itu dari mana?" tanyanya terkejut.


Alina tertawa pelan lalu menangkup kedua pipi di hadapannya. "Itu benar, Sayang. Dokter yang mengatakannya padaku. Jika kamu tidak percaya besok kita bisa bertanya langsung."


Zaidan menghela napas pelan seraya mencebikan bibirnya, lucu. Tanpa mengatakan sepatah kata lagi Alina kembali menyambarnya pelan.


Kecupan secepat kilat itu semakin membuat Zaidan membola. "Aku tidak bisa jika kamu terus menggodaku seperti ini."


Zaidan membaringkan istrinya pelan lalu mengukungnya. Mereka pun tertawa menikmati kebahagiaan yang terus berdatangan. Meskipun di belakang sana ada badai yang hendak menerpa, jika dilalui bersama-sama akan terasa lebih ringan.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2