
Setelah kepergian suami dan buah hatinya, kini di rumah megah itu hanya ada Alina serta beberapa pelayan. Ia yang tidak betah jika terus diam saja membantu mereka untuk sekedar membereskan ruangan kerja Zaidan.
Ruangan berbentuk kotak itu terdapat satu rak berukuran sedang yang berisi buku-buku dan dokumen penting. Ada juga lemari kaca yang di dalamnya terdapat beberapa piala dan piagam penghargaan.
Alina terperangah kala melihat semua itu adalah milik suaminya.
"Wah, aku tidak menyangka jika mas Zaidan adalah atlet renang. Pantas saja dia memiliki tubuh tinggi dan punggung yang kekar." Entah pikirannya ke mana Alina merasa wajahnya memerah.
"Kenapa panas sekali, apa ac di ruangan ini tidak menyala?" ucapnya sambil mengipas-ngipas wajahnya menggunakan kedua tangan.
"Oh, aku harus segera menyelesaikan ini," lanjutnya lalu kembali menyambar kemoceng yang tergeletak di atas meja.
Tidak lama berselang pintu ruangan pun terbuka, seorang wanita berusia dua puluhan menyembul masuk. Alina yang masih sibuk dengan kegiatannya pun menoleh sekilas.
"Embun? Ada apa?" tanyanya.
Embun, wanita itu tersenyum hangat pada sang nyonya.
"Kenapa Nyonya beres-beres? Inikan sudah menjadi tugas kami?" tanya Embun heran.
Alina menghentikan kegiatannya dan memandangi Embun sambil mengembangkan senyum.
"Aku tidak nyaman jika harus diam terus, lagipula tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan. Yah sudah lebih baik membersihkan tempat ini saja."
"Tapikan Nyonya, Anda tuan rumah di sini."
"Aku bukan tuan rumah ataupun nyonya ... aku hanya istri dari pemilik rumah ini saja. Jangan bersikap formal seperti itu, aku merasa berkuasa saja." Alina terkekeh geli mendengar apa yang dikatakannya.
Embun mengulas senyum senang bisa bekerja dengan seorang tuan rendah hati seperti Alina.
"Kalau begitu, Embun bantu Nyonya membereskan ruangan ini yah?" pintanya.
"Em, boleh."
Akhirnya mereka berdua pun membereskan ruang kerja Zaidan bersama-sama. Alina berjalan ke belakang lemari dan menemukan sebuah pintu asing di sana.
Dahi lebar itu mengerut dalam seraya terus memandangi pintu di hadapannya. "Ini pintu ke mana? Apa mas Zaidan mempunyai rahasia?" gumamnya.
"Coba aku buka dulu," lanjut Alina, tangannya terulur menggenggam knop pintu lalu memutarnya perlahan.
"Loh, tidak bisa dibuka? Pasti ada kuncinya di suatu tempat." Alina kembali ke depan dan melihat Embun masih membersihakn tumpukan buku di dekat rak.
__ADS_1
Tanpa mengindahkan keberadaannya, Alina membuka laci meja kerja sang suami. Ia terus membuka keempat laci tersebut dan menemukan sebuah kotak berbentuk bulat berwarna merah muda.
"Mas Zaidan memang unik," gumamnya sambil membuka penutup kotak.
Suara nyaring terdengar membuat tutup itu terbuka dan memperlihatkan isi di dalamnya. Ada sebuah kunci dengan ujung berbentuk hati yang begitu menarik perhatian Alina.
"Aku yakin pasti ini kuncinya."
Alina pun mengambilnya dan bergegas kembali ke belakang lemari. Ia memasukan kunci penemuannya dan memutarnya sekali. Bunyi klik menandakan jika pintu berhasil di buka, ia lalu melebarkannya dan terlihat ruangan yang gelap gulita.
"Kenapa gelap sekali?" bisiknya pada keheningan.
Langkah kaki membawa ia masuk ke dalam dan meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Tidak lama berselang ia berhasil menemukannya dan seketika ruangan terang benderang.
Alina semakin penasaran dan menutup pintu kemudian mengeksplor ruangan tersebut. Terdapat banyak rak-rak yang memperlihatkan deretan buku yang tersusun rapih.
Wanita berhijab hitam itu tersenyum hangat mengetahui jika suaminya begitu menggilai buku.
"Mas Zaidan pasti senang membaca buku. Aku tidak tahu hobinya sangat estetis sekali," gumamnya seraya terus berjalan sampai ke ujung.
"Ini terlihat seperti perpustakaan rahasia," lanjutnya tersenyum senang.
Raksi yang menuar dari buku-buku tua seketika membawanya ke dunia berbeda. Ia merasa berada di alam lain yang terus membawa dirinya masuk ke dalam.
"Wah MasyaAllah, mas Zaidan menggemaskan sekali saat masih bayi." Ia sibuk sendiri melihat-lihat foto lama milik suaminya.
Alina berdiam diri di sana sampai waktu menunjukan waktu makan siang. Ia terlalu terlena dan asyik bersama dunianya sendiri.
"Ya Allah aku harus segera menyiapkan makan siang untuk Raihan." Ia bergegas pergi dari sana dan mengembalikan album foto di tempatnya semula.
Sampai ia tidak menyadari jika ada selembar foto yang terjatuh dan tergeletak begitu saja.
...***...
Jam sudah menunjukan pukul setengah satu siang, selesai melaksanakan kewajibannya Alina menunggu kepulangan sang buah hati.
Ia terus berdiam diri di pekarangan dengan mendongak ke gerbang melihat mobil jemputan anaknya. Beberapa saat kemudian orang yang ditunggu-tunggu pun pulang.
"Mamah." Suara nyaring menginstrupsi.
Alina merentangkan kedua tangan dan bersimpuh di tempatnya. "Sayang."
__ADS_1
Raihan seketika menerjang tubuh sang ibu dan memeluknya erat. "Assalamu'alaikum Raihan sudah pulang."
"Wa'alaikumsalam, selamat datang di rumah, Sayang."
Kata rumah yang diucapkan mengandung makna begitu berarti. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang tiba-tiba saja menyeruak ingin dikeluarkan.
Rumah yang mereka tempati sekarang adalah sebenar-benarnya tempat berpulang. Sebuah bangunan yang bisa menghabiskan waktu bersama dengan keluarga.
Di dalamnya terdapat kehangatan serta keharmonisan yang dulu hanya terbalut oleh dusta. Bayangan masa lalu itu ia hempaskan dan kembali pada kenyataan.
"Apa kamu sudah salat?" tanya Alina sambil melepaskan pelukan buah hatinya.
Raihan mengangguk semangat memandangi bola mata mendamikan sang ibu. "Sudah, tadi sebelum pulang kita di sekolah salat dzuhur berjama'ah."
"MasyaAllah, Alhamdulillah. Kalau begitu sekarang kita masuk lalu Raihan ganti baju, cuci tangan, dan setelah itu kita makan siang bersama."
"Yeee, apa Mamah memasak daging ayam?" kata Raihan seraya bergandengan tangan dengan ibunya masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Raihan selalu tahu apa yang Mamah pikirkan," balasnya menyengir lebar.
Alina mencubit hidung bangir Raihan gemas. "Anak Mamah memang yang paling luar biasa."
Pemandangan tersebut memperlihatkan betapa bahagia kehidupan ibu dan anak itu sekarang. Sudah tidak ada lagi kebohongan ataupun kepelikan menyertai.
Tidak lama berselang Raihan dan Alina sudah duduk di meja makan. Tidak hanya mereka berdua saja di sana, Alina pun mengajak serta asisten rumah tangga untuk makan bersama.
"Nyonya, sepertinya kita lebih baik makan di belakang saja," ucap Embun yang diangguki keempat rekannya yang lain.
"Eh, kalian tidak boleh menolak ajakanku. Kita di sini keluarga jadi harus makan bersama-sama, iyakan, Sayang?" Alina menoleh pada Raihan yang duduk di hadapannya.
"Benar kata Mamah, lebih enak kita makan bersama-sama. Tante semua tidak usah sungkan, Raihan dan Mamah senang bisa makan bareng seperti ini," timpal Raihan mengundang senyum senang dari kelima asisten rumah tangga tersebut.
"Terima kasih, Nyonya dan Tuan Muda memang sangat baik," balas salah satu dari mereka.
"Ah, tidak usah seperti itu, ayo kita makan," balas Alina merendah, "Sayang, bisa pimpin kami do'anya?" tanyanya pada sang anak.
Raihan mengangguk dan langsung menengadahkan kedua tangan diikuti yang lain. Setelah melantunkan do'a makan mereka pun menikmati hidangan bersama-sama.
Kehangatan semakin kentara kala celotehan demi celotehan dari tuan rumah beserta pelayan itu pun saling bersahutan. Sesekali gelak tawa terdengar menambah tali persaudaraan mereka.
__ADS_1
...Bersambung... ...