Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 245 (Season 3 EPILOG)


__ADS_3

Cinta sejati kadang kala hadir dalam sebuah perjuangan tidak mudah. Air mata harus mengalir terlebih dahulu untuk siap menghadapi kebahagiaan.


Luka lara tercetus memberikan pembelajaran berharga yang tidak pernah hadir di waktu lain.


Inilah kisah tentang seorang wanita pejuang untuk mendapatkan kebahagiaan serta cinta sesungguhnya.


Alina Inayah, sosok pejuang tangguh yang berperan ganda sebagai ibu dan istri. Di pernikahan pertamanya ia mendapatkan kekecewaan yang berujung kekeluargaan.


Ia bersyukur Allah memberikan ujian tersebut, sebab balasannya sungguh luar biasa. Ia mendapatkan pengganti Azam yang sangat baik.


Zaidan Zulfan, sosok yang tidak pernah ia ketahui kini telah bersanding dengannya. Pria itu sangat menghargai serta menerimanya setulus hati.


Mereka hidup bersama dan dikaruniai seorang putri yang sangat cantik bernama Zenia Husna Zulfan. Bersama kedua buah hatinya, Alina maupun Zaidan sudah merasa sangat lengkap.


Cinta terus bermuara serta menari indah di dalam kehidupan keduanya. Sudah tidak ada lagi air mata kesedihan maupun orang ketiga.


Mereka hidup rukun bersama orang-orang yang hadir dalam kehidupan. Kejadian kemarin benar-benar membuat Alina mengucap rasa syukur.


"Air mata hanya sebatas pelampiasan di kala bibir tidak bisa berbicara. Ia hadir sebagai peneman di saat luka itu datang. Terima kasih ya Allah atas tahun-tahun terakhir yang Kau berikan. Di dalamnya terdapat sebuah pelajaran jika hidup tidak selalu tentang kesedihan dan air mata, tetapi juga tentang kebahagiaan selepas perginya kekecewaan."


"Pembelajaran dalam hidup ini telah mendewasakan ku, di mana ... aku harus kuat dan siap menghadapi setiap permasalahan. Serta libatkan Allah di dalamnya, baik di saat senang maupun sedih. Karena Allah lah yang menghadirkan dua keadaan tersebut."


"Terima kasih ya Allah atas segala karunia terindah yang Kau berikan. MasyaAllah, sekarang aku bisa melihat semua orang yang dulu terlibat dalam kehidupan bisa bersama menjadi satu keluarga," monolog Alina dalam diam memandangi orang-orang tepat di depan matanya.


Di sana ada sang mantan suami, Azam, Jasmin, Angga, Sarah, Zara, Dimas, Zanna, dan Calvin. Orang-orang yang terlibat permasalahan di masa lalu itu pun kini bisa bersama-sama menjalin silaturahmi.


"Apa yang kamu pikirkan?"


Sang suami datang memeluknya dari belakang. Alina menoleh sekilas dan kembali menyaksikan mereka.


"Aku senang pada akhirnya kita bisa menjadi keluarga," kata Alina kemudian.


"Itu karena ... kamu hebat sudah mempersatukan kita. Kamu tahu ... sejak pertama kali kita bertemu aku sangat terpesona dengan ketangguhan serta keyakinanmu untuk mempertahankan Azam. Namun, aku sadar ... waktu itu aku tidak bisa memilikimu."


"Seiring berjalannya waktu, aku pun bisa mendapatkan mu. Aku benar-benar beruntung bisa bersanding denganmu, Sayang," ungkap Zaidan membuat Alina melengkungkan kedua sudut bibir lebar.


"Terima kasih, aku juga sangat beruntung memilikimu." Alina kembali menoleh membuat pandangan mereka saling bertubrukan.


Tanpa sadar keduanya pun saling mendekat, di saat penyatuan itu hendak terjadi suara orang-orang di depan menginterupsi.

__ADS_1


"Hei, jangan malah bermesraan di sana, ayo main sini." Sarah mencela membuat pasangan itu saling menjauh.


Keduanya membalas tatapan mereka bergiliran. Zaidan pun menggenggam hangat tangan sang istri mengajaknya mendekat.


Tidak lama setelah itu semua orang nampak menikmati kebersamaan. Canda dan tawa bergema di ruangan mengantarkan pada angan jika kebahagiaan tengah tercipta.


...***...


Malam menjelang, kini hanya ada waktu histori bagi pasangan suami istri tersebut. Di temani aromatherapy keduanya tengah memandang langit yang sama.


Bintang berkelap-kelip di atas sana, bulan menemani keindahannya dengan cahaya menenangkan. Tidak henti-hentinya bibir menawan itu melengkung sempurna di wajah masing-masing.


Dua gelas teh hangat yang mereka genggam pun melengkapi kebersamaan.


"Perjalanan hidup memang tidak ada yang tahu, Allah sebaik-baiknya pemberi skenario terhebat." Zaidan memulai pembicaraan.


Alina menoleh menyaksikan sepasang jelaga itu yang juga tengah menatapnya lekat.


"Ibarat pepatah menyelam sambil minum air, aku memperoleh luka sambil mendapatkan kebahagiaan. Hadirmu benar-benar membuatku merasa bahagia luar biasa." Alina mengulurkan tangan menangkup sebelah pipi sang suami.


Zaidan meletakkan minuman miliknya dan Alina di atas meja. Ia lalu menggenggam kedua jari jemari sang istri seraya membubuhkan ciuman mendalam di punggung tangannya.


Alina mengalungkan kedua tangan di leher jenjangnya sembari memeluk tubuh kekar itu erat. Ia menghirup aroma yang menguar dari bathrobe.


"Aku sangat mencintaimu," aku Alina jujur.


"Em, aku juga sangat mencintaimu," balas Zaidan sembari melingkarkan tangan di pinggang ramping sang istri.


Mereka saling mendekap satu sama lain mengalirkan kehangatan tubuh masing-masing.


Tidak lama setelah itu, Zaidan menggendong istrinya membuat pandangan mereka saling bertemu. Ia lalu membawanya masuk ke dalam kamar dan membaringkan sang pujaan di tempat tidur.


Wajah pria itu semakin dekat dan dekat hingga tidak lama berselang penyatuan pun terjadi. Kepala mereka terus bergerak mengikuti alur permainan.


Gairah pun menguasai, keduanya terlena akan kenikmatan yang hanya bisa di dapatkan oleh pasangan menikah.


Mereka kembali melakukannya, saling membutuhkan kehangatan tubuh satu sama lain. Suara kesyahduan bergema di ruangan, di temani dentingan jam, musik merdu itu pun mengalun indah.


Genggaman jari jemari saling menguat seiring berjalannya pergerakan yang terus di berikan. Napas keduanya beradu dan menjadi satu.

__ADS_1


Beberapa jam berselang, Zaidan mengungkung Alina yang tengah mengatur napas di bawahnya. Wajah merona itu membuatnya semakin terpesona.


"I love you," bisiknya mengusap pelipis sang pujaan.


Alina tersenyum lembut, mengangkat tangan menangkup rahang tegas suami sahnya.


"I love you too more and more," balasnya tulus.


Mereka pun tergelak bersama menikmati indahnya kebersamaan.


...***...


Pagi menjelang, keluarga kecil Zaidan tengah berkumpul bersama di salah satu ruangan. Hari libur mereka manfaatkan untuk lebih dekat dengan keluarga.


Raihan dan Zenia menambah semarak suasana, kedua orang tuanya pun ikut membersamai menyaksikan buah hati menentramkan jiwa.


Obrolan-obrolan ringan menyapa memberikan kedamaian pada kehidupan.


"Peran ganda ... aku beruntung bisa menjadi seorang ibu dan istri di waktu bersamaan. Peran ganda yang aku rasakan dulu kini berbalik memberikan kebahagiaan tiada tara. Jika dulu aku aku harus berperan sebagai istri kedua sekaligus perawat untuk istri pertamanya dan juga membesarkan buah hati mereka, kini aku bisa mendapatkan peran itu sesungguhnya.


"Peran ganda yang aku miliki sekarang telah mengantarkan pada kebahagiaan. Keluarga yang aku dambakan dari dulu sekarang sudah kudapatkan. Mamah, apa mamah bisa melihatku di atas sana? Sekarang aku mendapatkan keluargaku sendiri," monolognya dalam diam jatuh pada lamunan.


"Mamah."


Suara ketiga orang di hadapannya seketika mengejutkan. Alina mendongak mendapati suami dan kedua buah hati tengah mengulurkan setangkai bunga.


"Aku sayang, Mamah," ucap mereka bertiga membuat perasaan Alina semakin dan semakin berbunga-bunga.


Ia pun menerima hadiah dari mereka dan membubuhkan kecupan hangat di masing-masing dahi.


"Terima kasih, Mamah juga sangat menyayangi kalian," balas Alina.


Ketiganya pun langsung menerjang tubuh ramping itu lalu saling mendekap dan tergelak bersama layaknya berada di dimensi lain, yang hanya ada mereka saja.


Allah sudah menghadirkan kebahagiaan selepas perginya hujan air mata. Ujian kadang kala hadir sebagai penguat dan pertanda akan datangnya kebaikan.


Bermandikan cahaya mentari yang masuk ke jendela besar ruangan, keluarga kecil mereka saling melempar senyum cerah.


"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (Q.S : 152)

__ADS_1


...THE END....


__ADS_2