
Awan kelabu masih menjadi penghias di langit sana. Raja siang enggan keluar dan bersebunyi di balik mendung. Tepat hari ini, Yasmin keluar dari ruamh sakit. sedari subuh tadi Azam sudah pergi ke rumah sakit tanpa sepatah kata pun terlontar.
Alina hanya maklum mungkin suaminya senang dengan kondisi sang istri pertama berangsur membaik.
Ketakutan tidak bisa terelakan, bayangan saat Azam memperlakukannya tidak baik seketika menghampiri. Alina mematung di meja makan dengan pandangan kosong. Hari-hari kemarin seperti baru saja terjadi sekejap mata. Kesenangan itu hinggap menutupi luka hatinya hanya sesaat. Dan sekarang apa akan terulang? Pikirnya.
"Mbak Alina?"
Tepukan ringan mendarat di pundaknya membuyarkan lamunan. Alina terlonjak dan seketika memandang ke arah samping.
"Sarah," panggilnya melihat wanita itu tengah menatap heran.
Dengan kikuk Alina menata bahan makanan yang belum sempat tersentuh. Wanita pengasuh bayinya itu pun menautkan kedua alis, bingung. Ia tidak mengerti dengan sikap sang majikan. Ia pikir hubungan Alina dan Azam sudah baik-baik saja.
Ia pun senang melihat keakraban yang selalu mereka layangkan. Wanita berumur 21 tahun tersebut berharap kelak rumah tangganya seperti sang majikan.
"Kenapa Mbak Alina melamun? Apa ada yang tidak beres?"
Rasa penasaran tidak bisa ditahan lagi. Sarah dengan keingintahuannya memandang lekat Alina menunggu jawaban.
Sejenak Alina melaum dan kemudian lengkungan bulan sabit muncul saat kepala berhijan itu kembali menoleh padanya. "Tidak ada, Mbak hanya memikirkan hari ini mau masak apa."
"Benarkah?"
Wanita yang lebih muda tiga tahun darinya masih belum puas dengan jawaban Alina. Sarah merasa ada sesuatu yang disembunyikan majikannya ini. Namun, anggukan Alina membuat ia sadar jika dirinya tidak boleh terlalu jauh dalam ikut campur urusan orang lain.
"Kamu bisa bantu Mbak memasak? Aqeela sedang tidurkan?" tanyanya mengalihkan perhatian.
Sarah mengangguk singkat mengiyakan.
__ADS_1
Di saat mereka bersiap-siap untuk mulai mengolah makanan mentah tersebut kedatangan Azam seketika membuat keduanya terpaku. Alina tidak sengaja menjatuhkan telur dalam genggamannya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi Sarah dengan cepat melemparkan sebungkus daging serta sayuran ke atas meja dengan kedua mata terbelalak sempurna.
"Mba-mbak Tu-tuan A-zam. Tuan Azam, Mbak," teriaknya heboh.
Sarah sampai menunjuk Tuannya sendiri yang baru saja melinatas di depan mereka. Seketika Azam menghentikan langkah dan memandangi kedua wanita tersebut.
"Sarah, apa yang kamu hebohkan?" suara berat Azam menginstrupsi.
"Tuan!! Apa yang Tuan lakukan? Tuan berselingkuh terang-terangan di depan Mbak Alina?!! Kenapa Tuan membawa wanita lain masuk ke dalam rumah?!! Da-dan lagi sampai menggendongnya seperti pengantin begitu," cerocos Sarah membuat Alina sadar dari keterkejutannya.
Alina, Azam dan Yasmin seketika memandanginya tidak percaya. Alina melebarkan kedua mata seraya menganga. Melihat ekspresi yang dilayangkan kedua tuannya, Sarah kebingungan seraya menatap mereka bergantian. Seharusnya Alina beraksi melihat suaminya seperti itu, bukan? Itulah yang saat ini dipikirkannya.
Merasa memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan, Alina pun menepuk pundak Sarah membuatnya menoleh.
Alina menghela napas singat lalu berkata, "kami belum mengatakan ini padamu. Sebenarnya Mbak adalah istri kedua. Wanita yang berada dalam gendongan Mas Azam itu istri pertamanya, Mbak Yasmin."
"Apa?!"
"Assalamu'alaikum, saya Yasmin istri pertama Mas Azam. Kita baru pertama kali bertemu, karena kemarin-kemarin saya berada di rumah sakit." lanjutnya seraya menampilkan senyum ramah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Alina.
"Wa-wa'alaikumsalam, o-ohh," lanjut Sarah gugup.
Ia pun mengangguk samar tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sarah masih syok mendengar penuturan Alina barusan.
Setelah perkenalan singkat Azam segera membawa Yasmin menuju lantai dua. Dalam diam Alina memperhatikan mereka yang sesaat kemudian menghilang dalam pandangan. Tidak bisa dipungkiri rasa cemburu hinggap dalam dirinya. Ia berusaha tersenyum kembali memperlihatkan jika Azam sudah berubah terhadapnya.
Alina kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Suara berisik orang disebelahnya menarik perhatian Sarah. Netranya memandangi wanita itu dalam diam, ada perasaan yang tiba-tiba saja menyentuh sanubarinya.
__ADS_1
Sarah tidak tahu bagaimana kronologi rumah tangga tuannya ini, tapi yang ia tahu Alina dan Azam sudah memperlihatkan hubungan rumah tangga sesungguhnya. Awal ia bekerja hari itu ia melihat ada indikasi keruwetan dalam pernikahan mereka. Sarah berpikir itu hanya terjadi akibat pertengkaran biasa saja, tapi apa yang ia pikirkan tidak seperti itu. Bahkan lebih parah dari bayangan. Jika ternyata Azam memiliki dua istri.
"Apa awalnya Mbak Alina ini tidak dicintai oleh tuan Azam? Dan terpaksa menikahinya? Apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga ini membuatku penasaran. Dan juga entah kenapa aku merasa........... kasihan pada Mbak Alina. Tunggu!! Bukankah istri kedua selalu dipandang tidak baik di masyarakat? Apa yang sudah Mbak Alina alami? Dan juga kenapa Tuan Azam menempatkan istri pertamanya di lantai atas dan Mbak Alina di lantai bawah? Hmm, aku tidak mengerti. Lihat, bahkan beliau masih bisa tersenyum ramah seperti itu," monolog Sarah sambil memperhatikan Alina dalam diam.
"Sarah, bisa kamu mencuci beras? Mbak lagi memotong sayuran, mohon bantuannya yah," perintah Alina membuatnya sadar.
"Baik Mbak." Ia pun langsung melakukan apa yang dikatan Alina.
...***...
Di lantai dua, Azam tengah membantu Yasmin berbaring di tempat tidur. Setelahnya ia pun duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur mengusap puncak kepala sang istri, Yasmin menoleh dan menampilkan senyum lemah.
Waktu terus berputar menemani kebersamaan. Azam senang bisa melihat wanita tercintanya kembali pulang ke rumah. Kejadian kemarin membuatnya sempat putus asa dan kehilangan arah. Baginya, Yasmin sudah menjadi separuh napasnya yang berharga.
"Aku senang kamu sudah bisa kembali pulang." Ucap Azam dan membubuhkan kecupan hangat di dahi Yasmin.
Mereka saling pandang menyelami keindahan manik masing-masing. Perasaan dalam dada memancar jelas lewat sorot mata keduanya. Kerinduan selama mereka terpisah bergejolak dalam perasaan. Perlahan wajah pasangan suami istri tersebut saling mendekat dan terjadi penyatuan.
Hal tersebut terus terulang beberapa kali sampai mereka kehabisan pasokan oksigen baru mengakhiri kegiatannya. Dahi yang saling bertemu membuat lengkungan senyuman menawan di wajah keduanya. Rasa rindu yang sempat tertahan akhirnya bisa tersalurkan.
"Aku mencintaimu, Sayang," kata cinta kembali terucap. Azam menangkup pipi sang istri hangat dan Yasmin pun menggenggam tangan suaminya erat.
"Aku juga sangat mencintaimu."
Kata-kata cinta yang sarat akan makna berdengung dalam ruangan tersebut. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sepasang manik yang tengah memperhatikannya. Alina, istri kedua itu hendak memanggil keduanya untuk makan bersama. Namun, pemandangan yang tidak ingin ia saksikan malah terlihat jelas.
Air mata mengalir tak tertahankan. Ia sadar bagaimana pun juga suaminya masih mencintai istri pertamanya, Yasmin. Ia menutup mulutnya kuat dan membalikan badan tidak sanggup melihat kemesraan mereka.
Dadanya terasa sesak seperti terkoyak belati tak kasat mata. Kesakitan itu harus kembali membuatnya tidak tahu harus bagaimana.
__ADS_1
"Me-mereka berci- hah~ bukankah wajar? Mas Azam dan mbak Yasmin masih suami istri. Ternyata melihatnya secara langsung terasa sakit sekali. Terlebih mas Azam sudah memperlakukanku dengan baik. Aku harus tetap sadar karena dari awal kami memang diharuskan berbagai suami. Kamu kuat Alina, kamu bisa."
Setelah meyakinkan dirinya, Alina menghapus jejak cairan bening di pipinya dan melangkah pergi membairkan mereka menikmati waktunya sendiri.