Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 196 (Season 3)


__ADS_3

Rumit menjadi kata kunci dalam perjalanan kisah seorang Alina. Ia terus ditimpa dan ditimpa ujian dalam rumah tangga.


Cinta tidak cukup membuat pernikahannya berjalan mulus, butuh kepercayaan serta kekuatan ekstra guna menghadai berbagai cobaan yang mendera.


Tepat di usia pernikahan ke tiga, ia harus dihadapkan pada persoalan lain. Bahkan mungkin kali ini lebih parah dari kemarin.


Sosok orang ketiga hadir kembali mengantarkan pada kemelut yang sudah siap ia jalani. Alina sempat terpuruk dan terjatuh atas kejutan yang diberikannya.


"Aku sudah kalah." Sempat mengendap dalam diri.


Namun, ia berusaha berpikir jernih dan terus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kurang lebih seharian penuh ia bersama Sarah serta Angga berkutat dengan dunianya sendiri.


Tepat di jam sembilan malam, Alina mendengar suara pintu rumah dibuka lebar. Ia yang tengah berdiri di ruang depan menoleh ke sebelah kiri.


Alina menyaksikan sang suami pulang dengan napas tersengal-sengal. Tatapan mereka saling mengunci satu sama lain menyelami apa yang terjadi.


Seolah waktu berhenti berputar keduanya tidak saling mengucap kata. Hanya sorot mata penuh penyesalan serta kesakitan tercurah darinya.


Zaidan melemparkan koper ke sembarang arah dan bergegas berlari mendekati sang istri. Kedua tangannya menangkup pipi Alina hangat menyalurkan kerinduan.


Deru napas keduanya saling beradu mengalirkan sebuah perasaan menggebu. Alina tidak menolak ataupun merespon apa yang dilakukan suaminya.


Ia mendongak menatap ke dalam iris kelam Zaidan. ia menunggu dan terus menunggu kata apa yang pertama kali diucapkan sang pasangan hidup.


"Aku tidak tidur dengan Zanna. Aku sudah mencari mu ke mana-mana, kenapa kamu kembali ke rumah ini tanpa memberitahu?"


Zaidan kelimpungan saat pulang tadi tidak mendapat istrinya di apartemen. Ia hanya melihat pigura pernikahan mereka bersandar di lemari televisi dalam keadaan kacanya sudah pecah.


Firasatnya mengatakan sudah terjadi sesuatu pada Alina. Ia terus mencari dan mencari sampai intusinya langsung kepikiran dengan rumah yang beberapa tahun lalu dibelinya.


Penjelasan tercetus sudah, Alina mengembangkan senyum membuat Zaidan menautkan kedua alis heran. Ia terus menyelami manik di hadapannya yang penuh dengan misteri.


"Sa-Sayang," panggilnya takut-takut. "Apa kamu tidak percaya padaku? Aku sama sekali tidak pernah tidur dengan Zanna. Kalau kamu tidak percaya aku sudah melakukan visum dan hasilnya-" Zaidan melepaskan tangkupannya dan merogoh saku dalam jas.

__ADS_1


Ia mengeluarkan selembar kertas lalu disodorkan pada Alina. Sang istri pun menunduk melihat ke dalam genggamannya.


Sedetik kemudian ia mengambil kemudian membuka lipatan kertas. Kelerengnya bergulir ke kanan dan ke kiri membaca kata demi kata tertuang di sana.


Hasil menunjukkan jika Zaidan sama sekali tidak pernah berhubungan dengan Zanna. Alina menghela napas lega dan kembali menutup hasil visum suaminya.


"Setelah sadar pagi tadi ... aku langsung melakukan pemeriksaan dan, hasilnya seperti yang kamu lihat sekarang. Sayang, kamu tidak apa-apa? Aku sangat khawatir terjadi sesuatu makannya setelah melakukan visum aku langsung pulang."


"Aku tidak mungkin mengkhianatimu, Sayang. Karena kamu adalah satu-satunya duniaku, sosok istri yang tidak akan aku sia-siakan. Kamu selamanya di hatiku, Alina ... tidak ada orang lain. Tidak pernah terbersit sedikitpun untuk menyakitimu."


"Because, I love you."


Kata-kata hanya penuh makna sampai ke hati terdalam. Alina masih mengembangkan senyum seraya terus menatap kertas di genggaman.


Hening datang, Zaidan takut Alina akan berpikir macam-macam setelah apa yang terjadi. Ia juga mendengar jika istrinya sudah dikirimi foto oleh Zanna dari Calvin.


Ia tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut dan membuat istrinya terus kesakitan. Meskipun belum ada kepastian bagaimana kerja sama itu terjadi, Zaidan memutuskan untuk pulang secepatnya tanpa mempedulikan hal lain lagi.


Ia juga tidak tahu bagaimana nasib Dimas sekarang. Dari semalam pria itu seolah menghilang tanpa kabar. Seperti apa keadaannya sekarang, Zaidan tidak tahu dan entah di mana keberadaannya.


Beberapa detik berlalu, di tengah kehampaan serta kebimbangan, Alina mengangkat kepala dan memandanginya dalam.


Zaidan gelisah, Alina masih enggan membuka suara. Ia takut istrinya sangat terluka, walaupun fakta mengatakan dirinya tidak berhubungan bersama Zanna.


"Aku-" Satu kata lolos dari bibir tipis sang istri. Dengan penuh semangat Zaidan menganggukkan kepala beberapa kali.


Mulut ranum itu kembali mengucapkan kata-kata yang membuat ia tidak percaya. Kedua hazelnut nya melebar seketika.


Degup jantung berdentum tak karuan mengalirkan desiran ke seluruh tubuh. Zaidan tidak menduga mendapatkan jawaban jauh dari khayalan.


...***...


Fajar menyingsing, sang raja siang menampakan diri mengalirkan cahaya menyilaukan. Matahari terbit menjadi lukisan Allah yang mendatangkan kebahagiaan.

__ADS_1


Di balik semangatnya yang mendera, Alina tengah menikmati segelas kopi hangat sembari membaca majalah.


Ia berada di ruang depan seorang diri seolah sedang menunggu seseorang. Lembar demi lembar ia buka menampilkan deretan barang-barang branded dengan harga fantastis.


Di tengah keseriusan menyelami dunianya sendiri, ia menyeringai saat mendengar suara langkah heels bergema.


Tanpa mengindahkan pandangannya, ia terus menunggu hingga sosok itu berada tepat di sebelah. Alina menyesap kopi singkat dan mengembalikannya pada tatakan.


Suara berdenting bergema, sorot mata serius memandang lurus ke depan memperlihatkan ketegasan serta keyakinan.


"Akhirnya kamu datang juga, Zanna."


Zanna tertegun, lalu mengangkat sebelah sudut bibirnya. Ia melipat tangan di depan dada menyadari jika kehadirannya sudah diketahui.


"Apa kamu sedang menungguku?" tanyanya.


Alina menoleh menampilkan senyum berjuta makna. "Jika aku katakan ... aku tidak menunggumu itu sebuah kebohongan. Iya, aku sedang menunggumu."


Zanna menyaksikan ketegasan itu berubah menjadi tatapan tajam. Bak mata elang yang memangsa incarannya mendatangkan ketakutan.


Ia berusaha mempertahankan keangkuhannya dengan mendengus kasar. "Kenapa? Apa kamu mau mengucapkan selamat padaku?" tanya Zanna lagi percaya diri.


Alina mengulas senyum simpul dan sepenuhnya menghadap sang pianis. "Seperti katamu, aku memang akan mengucapkan selamat padamu."


"Oh bagus, kamu sudah menyerah dan mengikhlaskan mas Zaidan untukku kan? Kamu tidak perlu repot-repot berterima kasih. Aku datang ke sini hanya ingin mengucapkan jika sebentar lagi ... aku dan mas Zaidan akan menikah."


"Sampai waktunya tiba, kamu siap-siap saja untuk pergi dari hidupnya," kata Zanna terus mengoceh dengan penuh keyakinan.


Kepala berhijab Alina mengangguk beberapa kali. Zanna merasakan sebuah firasat tidak beres sekarang. Ia tahu jika wanita di hadapannya bukanlah sosok yang bisa dipermainkan begitu mudah.


Namun, ia akan melakukan berbagai cara agar bisa bersama pria dicintainya. Tidak peduli bagaimana pun ia akan melakukannya, meskipun harus dengan cara licik sekalipun.


Sedetik kemudian Alina mencondongkan tubuh ke depan mencapai sesuatu tepat di hadapannya. Setelah itu ia memperlihatkan beberapa foto yang diacungkan bak kipas tepat di depan mata kepala Zanna.

__ADS_1


Wanita itu melebarkan pandangan tidak percaya sekaligus tidak menduga jika apa yang dilihatnya saat ini adalah kenyataan.


...Bersambung......


__ADS_2