Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 152 (Season 3)


__ADS_3

Suka cita tidak selamanya berada dalam genggaman. Kapan pun waktu menginginkannya maka akan berganti dengan duka cita.


Namun, di balik itu semua terdapat kebaikan yang tidak pernah terduga. Keberadaannya seperti sebuah misteri dan menjadi kejutan bagi masa mendatang.


Zaidan membawa istrinya ke kediaman sang ibu. Bangunan yang tidak kalah megahnya dari keluarga Zulfan pun membuat Alina kembali takjub.


Ia tidak menyangka jika keluara dari sang ibu mertua sama berada di kalangan atas. Suasana di sana begitu berbeda, ia disambut dengan sangat ramah dan keberadaannya benar-benar dihargai.


Meskipun baru pertama kali menginjakan kaki di sana kekeluargaan mereka membuat perasaan Alina hangat. Ia senang bisa diterima dan diperlakukan dengan baik oleh keluarga dari pihak ibu sang suami.


Selesai menikmati makan malam bersama, kini di ruang baca yang terletak di ujung, ketiga orang itu duduk bersama.


Aroma buku baru maupun bekas menguar mengantarkan imajinasi yang berkeliaran. Ia tahu dari mana datangnya hobi membaca sang suami.


"Ibu dan anak sama saja. Mereka suka sekali membaca buku. MasyaAllah banyak sekali bukunya," benak Alina terpesona melihat ruangan tersebut layaknya perpustakaan.


Jendela besar mengelilingi memperlihatkan keadaan di luar yang ditumbuhi beberapa tanaman. Langit malam begitu cantik dengan cahaya bulan menerangi serta bintang bertaburan menambah keindahan.


Alina tersenyum simpul menyaksikan betapa nyamannya berada di sana. Selain cocok untuk membaca ruangan itu pun tepat sebagai tempat mendinginkan kepala.


"Jadi, kakekmu benar-benar sudah mengambil alih aset yang kamu punya?" tanya Moana meletakan dua gelas teh hangat untuk putra dan menantunya.


Alina yang sedari tadi fokus ke arah luar menarik kesadaran lalu memandangi keduanya bergantian. Zaidan mengangguk singkat dan menyesap teh miliknya.


"Aku minta maaf ... kehadiranku semuanya jadi kacau. Andai saja aku tidak hadir di dalam kehidupanmu, Mas. Aku-"


"Ya Allah Alina, apa yang kamu katakan, Sayang?" Moana mencela lalu bangkit dari duduk beralih ke sebalah sang menantu.


"Kenapa kamu berkata seperti itu, hm?" tanyanya hangat.


Bibir ranum Alina melengkung perlahan dan kembali memudar memandangi air keruh di atas meja.


"Aku hanya merasa menjadi penyebab semua kekacauan ini, Mah," ungkapnya.


Moana memandangi Zaidan yang juga tengah menatapnya lekat. Wanita berkuncir kuda itu mengganggam hangat tangan menantu kecilnya.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu Alina, semua ini terjadi sebab sudah menjadi takdir. Mamah yakin kamu lebih tahu hal itu."


"Kedatanganmu ke dalam hidup kami bagaikan angan di musim panas. Kamu tahu artinya?" Alina menggeleng tidak mengerti.


"Itu artinya kedatanganmu memberikan kesejukan yang kami harapkan. Kamu sudah membuat Zaidan lebih baik lagi, juga menyadarkan Mamah untuk lebih mengenal Allah lebih baik. Mamah juga sadar jika selama ini sudah terlalu jauh dari Tuhan."


"Melihatmu untuk pertama kali waktu itu membuat Mamah malu, sebab kamu mampu menjadi seorang msulimah yang baik. Dengan mengenakan hijab sesuai perintah-Nya. Maka dari itu Alina, mulai sekarang bisakah kamu ... bisakah kamu membantu Mamah untuk berhijab?"


Mendengar penturan panjang lebar dari Moana membuat Alina tercengang. Tidak hanya ia, Zaidan pun tak menyangka atas apa yang disampaikan ibunya.


Ia memandangi Moana lekat dengan kedua mata melebar sempurna. Binar kebahagiaan kian melingkupi mendapati niat baik sang ibu mertua.


"Benarkah itu, Mah?"


Tanpa cela Moana mengangguk yakin, Alina tersenyum haru seraya menggenggam tangannya erat.


"MasyaAllah, insyaAllah jika niat Mamah baik, Allah akan melancarkan semuanya. InsyaAllah aku akan membantu Mamah," kata Alina tulus.


"Terima kasih, Mamah sadar atas semua yang terjadi dalam kehidupan ini. Mamah terlalu terlena dan terbuai akan nikmat sementara. Mamah ingin lebih dekat pada sang pencipta," ujarnya kembali.


"MasyaAllah, aku senang mendengarnya. Semoga Mamah bisa secepatnya berhijab," timpal Zaidan.


Atensi Moana pun beralih pada sang anak. Senyum mengembang di bibir merah meronanya menyaksikan kelegaan di balik manik Zaidan.


"Karena Mamah sudah berniat untuk berhijab, ada hadiah yang harus kami sampaikan," kata Zaidan lagi merangkul istrinya sayang.


Pasangan suami istri itu pun saling pandang dan tersenyum lebar. Moana menautkan alis tidak mengerti lalu memandangi keduanya bergantian.


"Apa yang ingin kalian sampaikan?" tanyanya penasaran.


"Alina ... Alina sedang mengandung dan usia kehamilannya memasuki dua bulan," ungkap Zaidan.


Manik bulan Moana melebar sempurna dengan bibir membulat. Perlahan bola mata itu memandangi sang menantu dengan tatapan tidak percaya.


Melihat hal tersebut Alina mengangguk beberapa kali memberikan keyakinan pada ibu mertuanya. Sedetik kemudian Moana memeluk tubuh istri dari putranya erat.

__ADS_1


"Benarkah? Alhamdulillah, terima kasih, Sayang. Kamu adalah anugerah bagi keluarga kami. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan pada kami," ungkap Moana.


"Sama-sama, Mah. Terima kasih juga sudah menerimaku."


Zaidan yang menyaksikan ibu serta istrinya saling mendekap hanya bisa tersenyum senang. Pada akhirnya kebahagiaan mereka bertambah.


Kepelikan yang terjadi hanya sebagai bumbu guna mendapatkan kebahagiaan lain. Ia tidak takut kehilangan harta, jabatan, atau dunia yang ia takutkan adalah kehilangan iman serta Alina.


Keberadaan wanita itu sangat berarti dalam hidupnya yang tidak bisa untuk ia lepaskan begitu saja. Sekuat tenaga Zaidan akan mempertahankannya hingga jannah-Nya.


...***...


Dawas tengah mengadakan pertemuan bersama Zanna. Kedua orang itu duduk berhadap-hadapan guna mengatur strategi. Ada niat terselubung dalam benak mereka untuk memisahkan pasangan suami istri tersebut.


Setelah apa yang terjadi, Dawas meminta Zanna untuk bertemu dengannya. Secepat kilat wanita itu pun langsung memenuhi undangan.


Di dalam restoran mewah mereka tengah menikmati makan malam bersama dengan pembahasan yang masih sama.


"Kakek tidak mengerti bagaimana jalan pikirannya. Wanita itu sudah mencuci otak Zaidan untuk membangkang kakeknya sendiri. Bahkan sekarang ibunya juga mengikuti dan tidak mau menuruti apa kata Kakek," keluhnya lalu menyesap minuman di depan.


Zanna mengulas senyum simpul menyaksikan raut wajah kesal di sana.


"Kakek tenang saja, aku punya cara untuk memisahkan mereka," ucap Zanna yakin.


"Apa itu?" Dawas penasaran dan kembali bersemangat.


Zanna pun menjulurkan benda pintar ke arah pria tua di hadapannya. Layar yang memperlihatkan satu foto itu pun membuat Dawas mengerutkan kening.


Kepala bersurai rapihnya mendongak menatap ke dalam manik wanita muda di sana menutut penjelasan.


"Ini bisa menjadi salah satu cara untuk memecah belah pernikahan mereka. Kakek tahu, sebelum menikah Zaidan orangnya seperti apa?"


"Ah, sepertinya Kakek mengerti apa yang hendak kamu rencanakan. Kakek setuju memang dengan cara seperti itu rumah tangga manapun akan hancur berantakan. Kita tunggu saja kehancuran mereka dan sampai saat itu tiba, kamu bisa mengambil alih Zaidan," tuturnya.


Seolah mendapatkan lampu hijau Zanna mengangguk sambil mengangkat sebelah bibirnya tegas. Ia menyeringai berpikir jika rencananya akan berhasil.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2