Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 121 (Season 2)


__ADS_3

Jalinan kasih antara ibu dan anak akan terus terajut sampai kapan pun itu. Deru kegelisahan membuncah saat mendengar buah hati yang dilahirkan sepenuh jiwa raga mengalami kecelakaan.


Bagaikan separuh nyawa menghilang, seperti itulah yang tengah Alina rasakan. Ia menepi di bangku taman belakang rumah sakit menengadah ke atas melihat langit begitu cerah.


Di balik keindahannya mengantarkan kepiluan ke dalam diri. Air mata mengalir tak tertahankan, ia menangis sendirian menyesali kebodohannya.


"Andai saja aku tidak melepaskan pelukannya dan mendudukan Raihan di sofa, mungkin kejadian ini tidak pernah terjadi. Ya Allah baru saja hamba merasakan kebahagiaan, kenapa harus seperti ini?"


"Astaghfirullah, Alina kamu jangan pernah menyalahkan takdir apa pun dari Allah. Astaghfirullah hal adizm ... Astaghfirullah hal adizm ... Astaghfirullah hal adizm." Ia terus beristighfar kemudian merunduk dan menekan dadanya yang terasa ditusuk-tusuk.


"Apa yang aku lakukan? Aku sudah gagal menjadi ibu dan membuat Raihan kecelakaan. Bisa-bisanya aku berpelukan di depan anak itu dan menjadi seperti ini. Apa yang sudah aku lakukan? Alina kamu benar-benar tidak pantas menjadi seorang ibu." Alina terus menyalahkan diri sendiri atas peristiwa yang menimpa sang putra.


Ia menangis dan terus menangis tidak peduli jika orang-orang yang hilir mudik di taman itu memandanginya. Rasa sesak dalam dada begitu kuat layaknya ada tangan tak kasat mata meremas hatinya.


Itu lebih sakit daripada melihat suaminya berselingkuh dan bahkan sampai menikah kembali. Itu lebih perih saat tahu jika sang suami masih belum sepenuhnya melupakan masa lalu. itu lebih pedih saat menyadari jika Azam tidak pernah mencintainya.


Sangat sakit dan sakit sekali, perasaannya sebagai ibu hancur berantakan kala mengetahui kondisi anak yang sudah dilahirkannya. Satu yang ia tahu jika keadaan mereka sudah berbeda, ia harus membagi waktu antara anak dan suami barunya.


Ia pun banyak merenung atas apa yang sudah menimpanya sekarang.


"Apa aku batalkan saja pernikahan yang baru sehari ini? Aku baru saja mencoba untuk membuka hati lagi dan sudah menerima mas Zaidan sebagai suami. Namun, kenapa semuanya menjadi kacau? Ya Allah ada apa lagi ini?"


"Hamba percaya semua akan ada balasannya," racau Alina di taman itu.


...***...


Jam terus berputar, hari semakin larut dan malam pun menjelang. Setelah menghabiskan waktu di taman belakang rumah sakit, Alina memutuskan untuk berdiam diri di mushola terdekat. Ia melaksanakan kewajibannya dan berdo'a pada Allah meminta kesembuhan untuk Raihan.


Di rasa keadaannya sudah agak membaik, ia pun mencoba kembali lagi ke ruangan sang buah hati. Langkah kaki terasa begitu berat saat mencapai lorong lantai tiga.


Hening menyapa hanya beberapa perawat hilir mudik dan menyapanya sekilas. Netra cokelat bening Alina berhenti di bangku kosong yang beberapa jam lalu di isi oleh beberapa orang kenalannya. Namun, sekarang di sana tidak ada siapa pun.

__ADS_1


Alina pun bergegas mendekati pintu bernama angkasa. Kaca kecil yang menghubungkan luar dan dalam memperlihatkan keadaan sang buah hati.


Pintu terbuka perlahan Alina pun masuk dan seketika membekap mulut menganganya rapat saat melihat kondisi Raihan. Anak yang baru berusia delapan tahun tersebut masih menyembunyikan manik di balik kelopaknya.


Kepala bundar itu dikelilingi perban putih menutupi luka. Selang infus menancap di pegelangan tangan kecilnya menambah perih di hati sang ibu.


Luka lebam serta beberapa lecet di sekejur tubuh semakin mematahkan perasaan Alina. Ia berjalan ringkih mendekat dan tidak kuasa membendung air mata.


Ia lalu duduk di kursi sebelah ranjang dan menatap lekat kondisi buah hatinya.


"Sayang," panggilnya lirih.


Jari jemari lentik itu terulur mengenggam hangat tangan kecil Raihan. Terasa dingin Alina rasakan membuatnya terus menyalurkan kehangatan.


"Sayang bangun, Nak. Ini Mamah, Sayang. Mamah minta maaf sudah membuat Raihan seperti ini. Mamah tidak bisa kehilangan kamu, Sayang. Mamah benar-benar minta maaf," ucapnya dengan suara serak dan parau.


Alina pun mendaratkan dahi lebarnya di punggung tangan sang jagoan. Ia menangis kembali dan terisak pelan.


"Mamah?" Suara serak menyapa.


Raihan menolehkan kepala melihat sang ibu yang menyembunyikan wajah. Mendengar panggilan tersebut Alina pun terdiam kaku dan secepat kilat mendongak.


Tubuh gemetarnya condong ke depan dengan tangan kiri mengusap puncak kepala Raihan. "Sayang, kamu sudah sadar?"


Raihan hanya mengedipkan mata sebagai tanda menjawab pertanyaan sang ibu. Alina pun langsung memanggil dokter dan tidak lama berselang pria berjas putih itu tiba di sana.


Dengan harap-harap cemas Alina menunggu sampai pemeriksaan selesai. Ia memeluk dirinya sendiri mencoba tenang dengan segala kegelisahan.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanyanya langsung setelah dokter memeriksa Raihan dan mereka pun berbicara di luar ruangan.


"Putra Anda mengalami gegar otak, ada pendarahan di dalam kepalanya, juga tulang sebelah kanannya retak. Kita masih harus memeriksanya lebih jauh agar tidak ada luka dalam lagi di tubuhnya. Saya harap Anda bisa menjaga putra Anda sebaik-baiknya. Karena saya melihat anak ibu mengalami trauma pasca perpisahan."

__ADS_1


"Beberapa jam lalu sebelum kami mengambil tindakan, anak ibu sempat berteriak histeris dan banyak menangis. Apakah selama ini dia di hadapkan pada kejadian-kejadian yang membuatnya trauma?" tanya dokter bername tag Ghadi Akbar tersebut.


Alina mematung, sekujur tubuh menegang mendengar perkataan sang dokter. Ia tidak bisa menjawab apa pun, karena terlalu banyak kejadian yang datang ke dalam kehidupannya.


"Beberapa bulan ke belakang saya dan suami berpisah. Kami bercerai karena begitu banyak kejadian yang menimpa keluarga kami."


"Apa Raihan ada di sana saat kalian bertengkar atau bersitegang?" tanya Dokter Ghadi lagi.


Dokter spesialis anak itu pun sempat belajar mengenai psikologi. Ia tahu seperti apa gerak-gerik seseorang yang mengalami trauma, depresi, dan lain sebagainya.


Alina menggeleng beberapa kali. "Saya berpikir jika Raihan tidak tahu kami bersitegang. Namun, baru-baru ini saya tahu jika dia mengamati apa yang terjadi pada ayah dan ibunya."


"Apa Anda sekarang sudah memiliki seseorang lagi di hidup Anda?" tanyanya untuk kesekian kali.


Alina mengangguk mengiyakan, "Kemarin saya menikah kembali."


"Apa suami baru Anda orang baik?"


"Dia sangat baik dan penuh perhatian pada anak saya," jelas Alina.


"Mungkin kondisi tersebut mempengaruhi pikiran anak kecilnya. Ia yang terbiasa hidup bersama orang tua kandung harus dihadapkan pada kondisi yang berbeda. Di usianya yang masih memikirkan bermain dan bermain, dituntut untuk mengerti keadaan ayah dan ibunya."


"Guncangan tersebut bisa saja mengganggu keadaan mental sang anak, apalagi jika kondisi anak tidak bisa langsung menerima, maka ... psikis anak bisa saja terganggu. Perceraian orang tua memang banyak berdampak terutama pada anak, Anda maupun mantan suami harus bekerja sama mengembalikan mental anak kalian."


"Karena bagaimanapun juga kasih sayang orang tua kandung lebih dibutuhkan untuk buah hati. Saran saya Anda harus berbicara dengan ayahnya juga mengenai kondisi pasien. Jika Anda sudah memutuskan yang terbaik maka itu akan memberikan pengaruh juga pada kondisi putra kalian."


"Kalau begitu saya permisi. Jika ada apa-apa segera hubungi saya." Setelah berkata panjang lebar sang dokter pergi menyisakan kehampaan.


Alina duduk di kursi tunggu dengan tatapan mengarah ke bawah. Kata-kata Dokter Ghani terus berputar dalam pendengaran. Sampai kapan pun juga hubungannya dengan Azam akan tetap melekat, terutama ada anak di tengah-tengah mereka.


...Bersambung... ...

__ADS_1


__ADS_2