Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 129 (Season 2)


__ADS_3

Peristiwa mengerikan itu terjadi tidak pernah luput dari ingatan. Dusta, kebohongan, pengkhianatan, serta kemunafikaan akan selalu melekat dalam memori. Masa lalu tidak bisa begitu saja dihapuskan, sebab kejadian demi kejadian telah memberikan hikmahnya sendiri.


Alam selalu menyuguhkan pesona bahari yang tidak bisa dibandingkan oleh apa pun. Begitu pula dengan kebahagiaan selepas perginya hujan air mata.


Kelam menjadi satu titik yang pernah dihabiskan selama bertahun-tahun. Pernikahan yang terjadi begitu cepat nyatanya harus kandas kala kebenaran itu terbongkar.


Sakit memang sakit, tapi apalah daya semua sudah terjadi dan terlewati. Memang ketika ingin mendapatkan sebuah kebahagiaan harus melalui perjalanan yang teramat panjang.


Jalan yang penuh lika-liku nan terjal mengantarkan pada satu pemberhentian disebut KEBAHAGIAAN. Air mata hanya sebatas peneman kala rasa sakit itu datang menghampiri. Namun, setelahnya akan ada senyum kesenangan.


Itulah yang sudah dilewati seorang Alina Inayah. Wanita yang kini genap berusia tiga puluh tiga tahun telah mengecap asam, manis, dan pahit sebuah kehidupan.


Kisah yang didapatinya menjadikan ia sabar dan tawakal pada Sang Pencipta. Ia yakin Allah selalu mengawasinya dan tidak akan membiarkannya larut dalam kesedihan.


Pernikahan yang berakhir begitu tragis meninggalkan sejuta kenangan menyakitkan. Kebohongan demi kebohongan yang dilayangkan mantan suami masih membekas dan tidak mungkin bisa dihapuskan begitu saja.


Butuh waktu seumur hidup untuk bisa merelakan itu semua. Sama layaknya kaca yang telah hancur berantakan, tidak akan pernah bisa kembali utuh seperti semula. Akan ada retakan meskipun disatukan kembali.


Namun, di balik pernikahan yang teramat kejam ia jalani selama delapan tahun lamanya, Alina mendapatkan sebuah pembelajaran berharga. Jika ia harus menghargai dan menghormati perasaannya sendiri.


Cinta juga tidak mudah untuk dilepaskan begitu saja, tetapi merelakan jauh lebih baik daripada harus terkurung dalam lingkup linangan air mata.


Perpisahan bukan akhir dari segalanya, tetapi awal untuk membuka lembaran baru. Akan ia catat mengenai kisah barunya dengan warna-warni kebahagiaan.


Keberuntungan nyatanya masih berpihak pada diri Alina. Takdir mempertemukan ia dengan seseorang yang begitu mencintai dan menyayangi dirinya.


Tidak hanya itu ia juga beruntung mendapatkan ibu dan ayah mertua yang sangat baik. Ia yang merindukan sosok kedua orang tua telah mendapatkan dari mertuanya.


Mereka memperlakukan Alina seperti anaknya sendiri. Rasa bahagia itu semakin memuncak pada saat keberadaan buah hatinya, yaitu Raihan Zabran diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga sang suami baru.


Akhirnya ia bisa mengecap bagaimana manis layaknya madu kehidupan pernikahan yang didasari akan cinta sejati.

__ADS_1


Senyum mengembang kala rasa sakit sudah berganti dengan kelegaan. Kata pedih yang sarat akan luka menganga dalam hati, perlahan tertutup jua.


...***...


Satu minggu setelah Raihan keluar dari rumah sakit, Zaidan memboyong istri dan anak sambungnya ke luar negeri. Mereka menghabiskan waktu selama kurang lebih satu minggu lamanya untuk berlibur.


Wahana permainan terbesar di negara tersebut menjadi tujuan utama kedatangan mereka setelah tiba di sana. Gelak tawa mengiringi kebersamaan keluarga kecil itu saat menikmati waktu bersama.


"Ayah, ayo cepat kita naik wahana itu." Raihan menunjuk permainan roller coaster yang membuat sang ibu membelalakan mata lebar.


"Sayang, kamu tidak bisa menaiki permainan itu," kata Alina mendongak melihat sang buah hati yang tengah digendong di pundak suaminya.


"Kenapa?" tanyanya bingung.


"Permainan itu hanya untuk orang dewasa, Sayang. Bagaimana kalau kita bertiga naik itu saja?" Alina pun menunjuk pada komedi putar tidak jauh dari keberadaannya, Zaidan dan Raihan pun mengikuti arah tunjuknya.


"Itu pasti menyenangkan, kita bertiga bisa menaikinya bersama," kata Zaidan menambahkan.


Mereka pun bergegas menuju komedi putar dan memesan tiket. Tidak lama setelah itu ketiganya pun menaiki wahana tersebut.


Gelak tawa kembali terdengar renyah bersama orang lain yang turut menjadi backround kebersamaan. Binar kebahagiaan memancar kuat dari sorot mata ketiganya. Jalinan kasih terus terbentuk merajut asa bersama guna menjemput masa depan yang cerah.


Alina menatap keduanya dalam diam, lengkungan bulan sabit bertengger nyaman di wajah cantiknya. Ia tidak menyangka jika setelah sekian tahun memendam rasa sendirian, kini terbalas jua.


Meskipun bukan dengan seseorang yang sudah lama menempati hatinya, tetapi Alina sangat bahagia. Jika pada akhirnya ia juga bisa menemukan belahan jiwa yang sesungguhnya.


"Cintailah orang yang benar-benar mencintaimu, sebelum semuanya terlambat. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Seseorang bisa saja berubah dan meninggalkan rasa sakit itu di belakang."


"Penyesalan akan hadir di saat orang itu pergi tanpa menyisakan sebuah kesempatan lagi. Takdir tidak selamanya berpihak pada kita, kadang kala Allah menghadirkan orang lain ke dalam kehidupan untuk membasuh luka lama."


"Ia hadir membawa kebahagiaan lain dan melupakan kenangan menyakitkan. Terima kasih ya Allah, Engaku sudah mempertemukan hamba dengan Mas Zaidan. Terima kasih Mas, sudah menarikku dari kelamnya rasa sakit. Terima kasih atas cinta yang kamu berikan untuk kami," monolog Alina panjang lebar seraya terus memperhatikan suami dan anaknya yang tengah tertawa bersama di depannya.

__ADS_1


Perasaan itu semakin hangat dan hangat. Rasa sakit yang terus mengendap perlahan menguap bersama angin menerbangkannya ke angkasa lepas.


Ia menengadah melihat langit sore menyuguhkan kembali lukisan cantiknya. Senja hadir dengan cahaya sang raja siang yang perlahan menghilang.


Semburat orange dan jingga menjadi ciri khasnya menemani setiap penikmat senja. Keindahan serta kecantikan itu membuat Alina masih betah menyunggingkan senyum kebahagiaan.


"Mamah." Panggilan dari dua orang tercintanya pun menginstrupsi.


Alina kembali menatap ke depan melihat suami dan anaknya tengah merentangkan sebelah tangan dengan saling menggenggam satu sama lain.


"Mamah ... I LOVE YOU. YOU ARE THE BEST FOR ME."


Alina tidak kuasa membendung air mata dan menangis haru. Tidak peduli orang lain melihatnya aneh, ia terus menebar senyum kebahagiaan.


Bersamaan dengan komedi putar yang berhenti bergerak, Alina turun dari permaian dan berjalan ke arah dua orang di depannya.


Seketika angin menerbangkan hijab hitam panjangnya meninggalkan kesan jika ia tengah bahagia sekarang. Sedetik kemudian mereka saling berpelukan dan tertawa bersama.


"Mamah sangat menyayangi dan mencintai kalian," balas Alina lalu membubuhkan kecupan hangat di dahi keduanya.


Di bawah langit senja keluarga harmonis tengah terbentuk. Sudah tidak ada lagi air mata kesedihan, luka menganga di dasar hati paling dalam telah terajut. Kepedihan menguap dan digantikan kegembiaraan.


Kehangatan yang terpancar dari mereka membuat orang-orang sekitar ikut menyunggingkan senyum. Meskipun mereka tidak tahu apa yang terjadi, tetapi harmony keluarga kecil itu pun menebarkan raksi kehangatan.


Satu kata yang mewakili betapa indahnya mereka bertiga yaitu, BAHAGIA.


"Akan aku jaga amanah-Mu dengan sebaik-baiknya. Terima kasih ya Allah."


...THE END SEASON 2...


^^^*Lanjut ke season 3 yah, sampai jumpa 🙏🏻😊😆❤️❤️^^^

__ADS_1


...Terima kasih banyak yang sudah mengikut cerita ini sampai selesai dan terima kasih sudah meninggalkan jejak 🙏🏻😊🙏🏻😊😆❤️❤️...


__ADS_2