Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 171 (Season 3)


__ADS_3

Hari kedua liburan, mereka menghabiskan waktu berada di kapal pesiar. Semua orang terlihat gembira menikmati fasilitas yang ada di sana.


Nuansa romantis membuat para pasangan sangat dimanjakan. Tidak memikirkan kepelikkan ataupun kesedihan yang pernah terjadi, mereka asyik dengan dunianya sekarang.


Setelah bersama Zaidan, Alina berkumpul bersama Zara dan Sarah. Ketiga wanita itu saling berbincang-bincang seputar kehidupan rumah tangga masing-masing.


Alina dan Zara yang tengah berbadan dua pun, mendo'akan Sarah untuk cepat memiliki momongan. Tidak pernah terpikirkan dalam diri, ia bisa berjumpa orang-orang baik yang kini menjadi keluarganya.


Alina bersyukur selepas badai menerjang, dan selepas perseteruannya dengan Zara, mereka bisa dekat dan membangun persaudaraan.


Di tengah keseruan sang istri bercengkrama dengan kedua keluarganya, Zaidan berjalan ke atas kapal hendak menemui Calvin.


Di sana, sang adik sepupu tengah duduk di kursi pantai dengan selonjoran kaki. Di tangannya terdapat segelas jus jeruk sebagai peneman.


Zaidan tersenyum singkat dan berjalan mendekat lalu duduk tepat di sebelah Calvin. Adik sepupunya itu pun mengangkat kepala kemudian melepaskan kacamata hitam yang membingkai wajah tampannya.


"Oh, Kakak sepupu? Sedang apa di sini? Bukankah seharusnya kamu bersama Alina? Kalian sedang melakukan bulan madu lagi, kan?" cerocosnya tanpa jeda.


Zaidan terpaku tidak menyangka jika adik sepupu yang baru diketahuinya sangat senang bicara. Ia pun membaringkan diri di kursi panjang itu melihat langit begitu cerah.


"Aku tidak menyangka ternyata kamu banyak bicara, tapi ... kenapa kamu belum memanggilku Mas? Panggil aku Mas ... aku lebih tua darimu," celotehnya seraya meletakan kepala di lipatan kedua tangan.


Calvin terkekeh pelan lalu menyimpan gelas di atas meja kecil di tengah-tengah mereka. "Aku belum terbiasa."


"Maka mulai dari sekarang, biasakanlah. Kita akan hidup bersama sebagai keluarga."


Kata-kata Zaidan barusan membuat Calvin terperangah. Ia melebarkan manik cokelat beningnya dan tersenyum simpul.


"Senang ada orang lain mengatakan aku keluarganya. Selama ini ... aku hanya hidup bersama ibu. Setelah ayah meninggal, aku yang menjadi tulang punggung keluarga. Ibu selalu menyuruhku untuk kembali pada keluarga Zulfan."

__ADS_1


"Namun ... aku tidak mau dan tidak akan sudi menginjakan kaki di sana lagi. Perlakuan tetua Zulfan membuatku menutup mata untuk tidak berurusan dengannya lagi. Aku-"


"Tidak usah memikirkan kakek, tetua Zulfan memang keras kepala orangnya. Kakek selalu menjunjung tinggi harkat, martabatnya, juga tidak pernah melihat lagi ke belakang. Baginya masa lalu hanya angin lalu yang tidak usah diingat lagi. Selama ini ... aku dituntut untuk menjadi apa yang kakek inginkan. Sampai aku jauh dari agama, jangankan mengaji, sholat saja aku lupakan."


"Tuntunan serta tuntutan yang berikannya membangun karakterku seperti itu. Meskipun kami dilimpahi harta yang begitu banyak, tetapi ... satu yang membuat kami sangat buruk, yaitu jauh dari Allah. Sampai, aku bertemu Alina dan menyadarkanku jika agama lebih penting dari apa pun."


"Sampai Allah menyatukan kami. Itulah kenapa aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Karena darinya aku bisa mengenal Allah jauh lebih baik lagi. Jadi, meskipun keluarga melupakanmu, masih ada orang-orang yang peduli padamu."


"Aku senang jika pada akhirnya ... aku mempunyai sepupu sepertimu. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini," celoteh Zaidan panjang lebar.


Calvin terpaku, lidahnya kelu, semua kata-kata yang ingin dilontarkan tercekat di tenggorokan. Ia bangun dari berbaring menoleh ke sebelah kanan menyaksikan sang kakak sepupu menatap ke depan.


Sorot mata hangat nan tulus tercetus di sana. Ia juga menyadari jika ada penyesalan yang tersembunyi apik. Calvin tidak tahu apa yang sudah dilewati Zaidan selama ini. Namun, yang jelas ia melihat beban teramat kuat melingkupinya.


"Pasti sangat berat menjadi dirimu, Mas," ucapnya.


Zaidan terperangah lalu menoleh pada Calvin yang tengah memandanginya. "Tidak seberat apa yang kamu lewati." Mereka pun tertawa bersama merasa konyol membicarakan masa lalu yang sudah terjadi.


"Aku ingin ... mulai saat ini kamu bekerja sama denganku. Dari awal kamu sudah menjadi bagian dalam keluargaku, untuk itu ... maukah kamu bekerja di perusahaan kami?" ucap Zaidan begitu saja.


Calvin terkejut, tidak menyangka mendapatkan tawaran begitu menggiurkan. Ia terpaku dengan pikiran gamang. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena selama ini ia hanya bekerja sebagai buruh bangunan, ataupun pekerjaan sampingan lainnya.


Bekerja di sebuah perusahaan sangat jauh dalam jangkauan. Meskipun pada kenyataannya ada darah keluarga Zulfan mengalir dalam tubuh, tetapi Calvin tidak pernah percaya diri untuk menjadi bagian di dalam sana.


"A-apa Mas tidak bercanda? Aku tidak bisa bekerja di perusahaan manapun. Aku ... tidak pantas untuk-"


"Pantas atau tidak, bukan kamu yang menentukan, tetapi kita bisa membuktikannya di lapangan. Aku tidak mau keluargaku hidup serba kekurangan, sedangkan ... aku bisa memberikan segalanya. Untuk itu jangan pernah menolak tawaranku."


"Kita adalah keluarga, sudah sepatutnya saling membantu. Aku-"

__ADS_1


Kini giliran ucapan Zaidan yang terputus. Kedua irisnya melebar sempurna saat Calvin melemparkan diri memeluknya begitu erat.


Ia merasakan tubuh sedikit kekarnya bergetar dan juga baju sebelah kirinya basah oleh air mata. Zaidan tersenyum simpul dan membalas pelukan itu. Liquid bening pun meluncur tak tertahankan mengalirkan kebahagiaan.


Baik Zaidan dan Calvin merupakan keluarga yang dipisahkan sebuah rahasia. Mereka tidak tahu satu sama lain dan kini dipersatukan oleh waktu.


"Terima kasih, Mas," ucap Calvin, Zaidan hanya mengangguk sebagai jawaban.


...***...


Kakak beradik sepupu itu pun menikmati waktu bersama di balkon. Mereka bersandar nyaman di besi pembatas melihat pemandangan laut memanjakan mata. Suara debur ombak menjadi peneman dengan kelegaan kian datang menerjang.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mas?" kata Calvin mengadu.


Zaidan yang tidak mengerti pun menoleh ke samping melihat air muka bersalah. "Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Aku ... merasa sangat bersalah sudah berhubungan sebelum adanya akad. Wanita itu ... Zanna, apa dia baik-baik saja?" keluhnya menundukkan kepala dalam.


"Kamu tidak usah khawatir, Allah maha pemaaf. Minta maaflah pada-Nya, juga ... maaf sudah melibatkan mu dalam permasalahan kami." Tiba-tiba saja suara yang mereka kenal menyapa.


Keduanya menoleh ke belakang mendapati Alina tengah tersenyum lembut. Dengan cepat Zaidan mendekat lalu merangkulnya hangat.


"Mbak? Bisakah aku menjadi lebih baik?" tutur Calvin lagi.


"MasyaAllah, masih banyak kesempatan ... bertaubatlah, Allah maha penerima taubat hamba-Nya yang benar-benar tulus memperbaiki diri," balas Alina, "Aku juga minta maaf telah membuatmu jatuh terlalu jauh."


Calvin menggelengkan kepala beberapa kali. "Tidak Mbak, justru aku senang bisa membantu kalian dan membuat wanita itu malu, tapi-" Ia menjeda kalimatnya.


Zaidan yang mengerti pun berjalan mendekat padanya lagi lalu menepuk pundaknya pelan. "Berubah lah, semua akan baik-baik saja." Calvin mengangguk singkat.

__ADS_1


Alina mengembangkan senyum menyaksikan kebersamaan mereka. Ia berharap dan terus berharap keluarganya tidak ada yang mengusik lagi.


...Bersambung......


__ADS_2