Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 24


__ADS_3

Di dalam ruangan itu hanya ada sorot mata serius nan tegas yang saling bersahutan. Air mata berlomba-lomba keluar dari balik kelopaknya. Sekuat tenaga Alina mengepalkan kedua tangan berusaha tidak terbawa suasana. Namun, rasa sakit terus mendesak ia untuk meluapkan kepedihan.


"Apa ada sedikit saja waktu Mas untukku akhir-akhir ini? Apa Mas masih mengingatku dan anak ini? Sudah satu bulan berlalu Mas tidak pernah pulang dan terus berada di rumah sakit. Apa aku dan anak ini tidak penting untuk Mas sekarang?"


Azam pun melakukan hal yang sama, jari jemarinya mengepal kuat sampai kukunya memutih. Ia membalas tatapan sang istri kedua tak kalah sengit.


"Apa yang kamu bicarakan? Jangan menambah beban padaku, Alina. Selama ini aku sudah berusaha keras untuk kebaikan kalian!!" ucapnya membela diri.


"Untuk kebaikan kalian?" Alina menjeda ucapannya seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali, kemudian kembali mendongak menatap tajam ke dalam manik kecoklatan suaminya. "Tidak untukku, Mas. Semua yang Mas lakukan hanya untuk mbak Yasmin. Aku lelah, Mas. Lelah."


Setelah mengatakan itu Alina berbalik hendak pergi meninggalkannya. Namun, baru saja kedua kakinya melangkah tangan kanannya dicengkram kuat oleh Azam.


"Bicara apa kamu? Katakan yang jelas jangan membuat pikiranku lelah. Apa kamu tahu seberapa parah penyakit Yasmin sekarang? Apa kamu tahu bagaimana perasaan takut kehilangan? Apa kamu tahu sakitnya berharap pada kenyataan? Jangan menambah bebanku lagi, Alina!!"


Suara Azam yang menggebu seketika memberikan berkali-kali lipat rasa sakit dalam dada Alina. Dengan sekali sentakan cengkaraman tangan Azam terlepas. Alina membalikan badannya dengan mata memerah.


"Aku sakit, apa Mas tahu?!"


Kini giliran Alina yang sedikit meninggikan nada bicaranya. Ia sudah tidak kuat menahan rasa sakit setiap kali mendengar kata-kata yang menjelaskan jika Azam sangat mencintai Yasmin. Ia juga punya hati dan perasaan yang ingin didengarkan. Namun, semuanya sia-sia. Ia tidak berbeda jauh dari angin lalu. Keberadaannya hanya sebatas peneman tanpa menetap.


Sudah jelas jika yang kedua tidak akan selalu menjadi yang utama. Yang kedua meskipun jalannya baik akan selalu dicap tidak baik. Begitulah presepsi orang-orang terhadap dirinya. Alina sudah muak dan tidak bisa berada dalam posisi seperti itu terus.

__ADS_1


Peran ganda tidak semudah yang ia pikirkan.


"Aku pendarahan-" Alina menghentikan ucapannya sebentar kala air mata turun dengan sendirinya. Dadanya terasa sesak saat mengucapkan dua kata tersebut. Ia melihat rekasi Azam yang melebarkan kedua matanya. "Aku hampir kehilangan bayiku. Aku membutuhkan suami untuk menamani kehamilan ini. Aku sangat mengerti dengan perasaan Mas sekarang mengenai kehilangan. Tapi aku tidak boleh lari dari kenyataan ini jika aku memang yang kedua. Aku hanya bisa menahan perih di saat aku benar-benar membutuhkanmu. Aku sadar hanya ada aku untuk anak ini."


Alina berusaha menenangkan diri dan menghapus jejak cairan bening yang terus mengalir tanpa henti. Suaranya bergetar dan sekuat tenaga tidak terlihat lemah di depan suaminya.


"Aku minta maaf jika selama ini hanya menambah bebas Mas saja. Bisakah Mas sedikit saja menghargai perasaanku? Tapi sepertinya sia-sia. Aku selalu berdo'a supaya kalian selalu bahagia. Aku berharap mbak Yasmin bisa sembuh agar kalian bertiga bisa bersama. Hanya 4 bulan lagi, aku akan mencoba bertahan. Setelah melahirkan aku akan mengajukan perpisahan. Terima kasih banyak atas waktu yang sudah Mas luangkan untukku. Aku sangat menghargainya."


Kata demi kata yang terlontar dari mulut Alina membuat Azam beku bak bongkahan es. Ucapannya terus terngiang dalam pendengaran mengantarkan sosoknya yang semakin menghilang. Air mata yang jatuh membasahi kedua pipi pucatnya teringat dalam bayangan.


Angin menyapu dan menyadarkan Azam jika kini di hadapannya hanyalah kekosongan. Wanita kedua yang ia nikahi sudah pergi beberapa saat lalu. Azam masih mematung mencerna apa yang baru saja didengarnya.


"Tuan."


Panggilan seseorang membuatnya terperanjat. Azam menoleh ke samping kanan melihat Sarah berjalan mendekat. Wajah serius itu menggambarkan jika ada hal sangat penting yang ingin diucapkannya.


"Selama satu bulan mbak Alina menahan diri untuk tidak menghubungi Tuan. Saat masa ngidamnya datang mbak Alina selalu berusaha memenuhinya sendiri yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami. Pikiran, kelelahan dan juga emosi mengantarkan stres untuk ibu hamil. Dokter mengatakan jika keadaan seperti itu terjadi lagi maka akan membahayakan. Bukan untuk sang jabang bayi, tapi juga bagi ibunya. Mbak Alina sangat mencintai Tuan Azam, apapun yang terjadi selama ini beliau selalu menahannya. Tidakah Tuan Azam memikirkannya? A, saya minta maaf jika ikut campur. Saya hanya ingin menyampaikannya saja, kalau begitu saya permisi."


Sarah pun berlalu dari hadapannya. Azam semakin terpuruk sekarang. Masalah demi masalah terus datang menimpa. Ia mendudukan diri di sofa tunggal merenungkan kesalahan apa yang sudah diperbuatnya.


Ia menggelam dan menjambak rambutnya frustasi.

__ADS_1


...***...


Alam selalu memberikan ketenagan bagi siapa saja yang menikmati sentuhan lembut dari angin yang menerpa. Sapuannya mampu memberikan kekuatan spiritual seolah mengantarkan kata-kata penuh perjuangan dan kesabaran. Seperti, "jangan menangis semua yang terjadi sudah menjadi ketentuan yang Di Atas. Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya terpuruk. Ujian akan selalu datang untuk mendapatkan kebaikan. Bersabarlah dan serahkan semuanya pada Allah Azza Wa Jalla."


Lengkungan bulan sabit hadir menemani kepiluan dalam dada yang masih mengalir deras. Kepala berhijab hitam itu mendongak menatap langit yang masih menurunkan hujan. Alina berdiri di balkon lantai satu menikmati pemandangan yang terhampar di depannya.


Kedua tangan mengepal erat teralis pagar pembatas. Tidak ada yang bisa menggamabarkan perasaannya kali ini selain siluet rona merah di kedua pipi. Entah itu kebahagiaan atau perasaan lega semuanya menjadi satu.


"Mamah akan terus bertahan untukmu, Sayang. Mamah selalu menunggu kehadiranmu ke dunia ini." Gumamnya seraya mengelus pelan perut membuncitnya.


Kehamilan pertamanya sudah lima bulan berlalu, sejak saat itu tidak ada yang membuat Alina bahagia selain sang buah hati. Setiap pergerakannya mengantarkan keharuan tak bertepi. Kesakitan yang baru saja ia terima seolah terkikis dengan adanya malaikat kecil dalam diri.


Ia berusaha untuk tidak memikrikan apapun yang membuatnya terpuruk.


Alina menunduk melihat benjolan sedang mencuat dalam tubuhnya. Kedua tangan yang bertengger di sana melindungi sang jantung hati dengan baik.


"Mamah akan berjuang untuk kebaikan kita. Tumbuh dengan baik di dalam sini, Sayang. Mamah sangat menyayangimu," bisiknya lagi.


Kata penuh ketegasan dan keyakinan terhembus dan terbawa angin. Mereka menerbangkannya ke angkasa lepas dan membiarkannya mengudara. Angan dan pengharapan akan selalu ada jika kita percaya pada Sang Pemilik Kehidupan.


Allah akan selalu ada dan memperhatikan apa yang terjadi pada setiap hamba-Nya. Jika waktunya sudah tiba maka kebaikan akan datang menggantikan kesedihan.

__ADS_1


__ADS_2