
Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam, bagaikan tidak ada panterangan apa pun wanita yang tengah berbadan dua tersebut kini mengadakan pertemuan.
Di sudut ibu kota, tepatnya di daerah selatan di dalam bangunan sederhana bercat putih bersih, keempat orang tengah duduk melingkar bersama.
Di tengah-tengah mereka terdapat meja bulat berukuran sedang, di atasnya terdapat tiga layar komputer yang disusun sedikit melengkung. Tidak luput alat-alat yang digunakan untuk menyadap lengkap tersaji di sana.
Saat pertama kali datang, Zaidan terperangah serta terkejut menyaksikan ruangan itu seperti lab. Keadaan hening serta dingin dari AC menyadarkan jika itu merupakan tempat bernaungnya seseorang yang disebut agen.
Ia semakin bertambah terkejut kala orang yang ingin ditemui istrinya adalah Sarah dan Angga. Kedua orang itu menyambutnya hangat lalu melakukan apa yang biasa mereka lakukan tanpa mengindahkan keheranan Zaidan.
Begitu pula dengan Alina, tanpa ragu ia duduk begitu saja menghadap keduanya. Setelah saling berhadapan mereka langsung melancarkan aksi.
"Seperti yang sudah aku dapatkan tadi sore, putri kedua dari keluarga Zyva merupakan seorang pianis terkenal di negara kita. Bahkan namanya sudah terkenal di beberapa negara, ini profil yang bisa aku cari tahu selama beberapa jam." Sarah menjulurkan dokumen ke hadapan lawan bicaranya.
Alina menerima dan langsung membacanya dalam diam. Lembar demi lebar ia buka dan memperhatikannya dengan seksama. Di sana terdapat beberapa fakta juga prestasi yang sudah didapatkan Zanna Zyva selama ini.
"Dia pernah mendapatkan penghargaan di musik awards sebagai pianis terpopuler?" tanya Alina tanpa mengalihkan pandangan.
Sarah mengangguk tanpa ragu kemudian menggulirkan bola matanya dari layar laptop. "Itu benar, tiga tahun lalu dia memenangkan penghargaan tersebut. Musik awards merupakan sebuah penghargaan bergengsi, di mana hanya orang-orang terpilihlah yang bisa memenangkan penghargaan di sana."
"Em, masyaAllah, ternyata dia orang yang sangat hebat. Di sini juga tertulis jika dia pernah tampil di acara besar kenegaraan. Bukan main, dia wanita yang menarik," kata Alina lagi.
"Tapi, meskipun begitu tetap saja dia mempunyai cacat," balas Sarah mengundang atensi Alina.
Ia meletakan dokumen tadi ke atas meja lalu mencondongkan tubuh ke depan menyaksikan tayangan video dalam laptop.
__ADS_1
"Rekaman ini diambil sekitar satu tahun lalu, di mana Zanna Zvya kedapatan tengah berpesta pora bersama teman-teman sosialitannya. Mereka memeriahkan kemenangan Zanna setelah mendapatkan kontrak bersama agensi terkenal. Di dalam pesta tersebut dipenuhi dengan orang-orang berstatus tinggi, terdiri dari selebritis, pengusaha, sesama pianis, juga-" ucapan Sarah terhenti.
Alina mendongak menyaksikan wanita lebih muda darinya itu pun memandang ke arah Zaidan. Ia pun mengikutinya membuat sang suami menatap mereka bergantian.
Ia tidak tahu menahu apa yang tengah mereka bicarakan di sana. Sedari tadi ia hanya mengikuti ke mana Alina pergi. Zaidan tidak mungkin membiarkan istrinya yang tengah mengandung berkeliaran seorang diri, terlebih pada malam hari.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan? Kenapa Sarah dan Angga bisa ada di sini? Bukankah kamu seharusnya ada di rumah sakit?" Zaidan mengalihkan pandangan pada Angga yang tepat duduk di depannya.
"Shift kerjaku sudah habis, sekarang aku sedang melakukan pekerjaan sampingan," balas Angga acuh tak acuh dan melanjutkan pekerjaannya. Jari-jemari itu menari di atas keyboard menimbulkan suara nyaring.
Seketika Zaidan memerhatikan dua wanita itu lagi menuntut jawaban. Namun, lagi-lagi keberadaannya seolah diabaikan, Alina dan Sarah kembali pada tujuan awal.
"Zaidan Zulfan pun ada di sana, dia pergi bersama pengawalnya, Dimas. Mereka berdua memenuhi undangan Zanna untuk ikut memeriahkan pesta. Acara tersebut berlangsung semalam, di sana banyak minuman beralkohol serta beberapa sajian untuk melengkapi pesta."
"Mereka berpesta pora dengan mengundang seorang DJ berasal dari negara Z yang semakin memeriahkan keberhasilan Zanna. Di sana tidak ada satu orang pun yang sadar atas apa kemungkinan bisa terjadi. Lalu, apa Teteh memikirkan hal sama denganku?" tanya Sarah memandang serius lawan bicaranya.
Seketika perhatian mereka beralih padanya lagi, untuk kedua kalinya Zaidan terkejut. Ia menggelengkan kepala beberapa kali mencegah pemikiran kedua wanita itu.
"A-apa yang kalian pikirkan tentangku? Aku sama sekali tidak tahu menahu," katanya membela diri.
Alina pun menekan tombol play memperlihatkan video yang sempat ditontonnya tadi. "Apa Mas ingat tentang pesta ini?" tanyanya kemudian.
Zaidan sepenuhnya memfokuskan diri pada tayangan tersebut. Kepala bersurai hitam legam itu mengangguk lagi saat menyaksikan dirinya berada di sana.
"Iya aku ingat acara ini, saat itu- eh tunggu, kenapa kamu punya rekaman video ini?" Zaidan menarik kesadaran sembari melihat Sarah.
__ADS_1
Wanita berhijab itu tersenyum lebar penuh makna yang semakin mengundang rasa penasaran.
"Sarah adalah mantan agen yang pernah bekerja untuk orang-orang besar. Jadi, apa sekarang Mas sadar apa yang aku lakukan?" tanya Alina hangat.
Zaidan menoleh menyaksikan sang istri tengah mengulas senyum manis. Seketika perasaan tidak enak membuatnya sedikit ketakutan.
Baru kali ini ia melihat senyum penuh arti serta makna misterius dari istrinya. Zaidan baru mengetahui mengenai hal tersebut dalam diri Alina.
"Ja-jadi maksud kamu ... saat ini kalian sedang mencari tahu siapa itu Zanna Zyva?" tanya Zaidan gugup.
"Tidak hanya itu aku juga ingin tahu kebenaran video yang sudah dia perlihatkan padaku. Aku tidak bisa menerimanya begitu saja, apa Mas tahu? Saat masih bersama mas Azam aku juga melakukan hal yang sama sampai kebenaran itu terungkap. Hingga pada akhirnya kita berpisah." Raut muka Alina berubah menjadi dingin.
Zaidan semakin ketakutan dan tidak bisa jika harus kehilangan Alina. Ia menggenggam kuat tangan sang istri erat menyalurkan keresahan.
"Mas tenang saja, jika tidak terjadi apa-apa aku tidak akan menuntut apa pun. Aku percaya padamu," kata Alina menenangkan.
Zaidan bisa bernapas lega dan semakin mencengkram tangan pujaannya. "Aku sama sekali tidak pernah berbuat macam-macam." Alina hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi bagaimana bisa kalian mendapatkan rekaman di pesta Zanna? Acara itu sangat tertutup bahkan CCTV pun dimatikan," ungkap Zaidan penasaran.
"Tidak ada yang tidak mungkin jika masih ada jalan maka kebenaran pun bisa terungkap. Di dalam pesta itu terdapat salah satu temanku yang datang. Dia sengaja hadir untuk mencari tahu kebenaran mengenai salah satu rekan Zanna. Dia merupakan orang penting yang sangat senang menyelundupkan barang-barang terlarang. Temanku merupakan seseorang yang disewa oleh pihak keamanan guna mencari bukti untuk menangkapnya."
"Kami masih berhubungan sampai sekarang, dan yah tidak sulit mendapatkan rekaman pesta kalian," jelas Sarah membuat Zaidan tercengang.
"Kalian benar-benar orang-orang yang tidak bisa ditebak. Mulai saat ini aku harus berhati-hati," ujar Zaidan mengundang gelak tawa.
__ADS_1
...Bersambung......