
Anak adalah anugrah, harta tak ternilai yang sudah Allah titipkan pada setiap wanita. Calon ibu yang diberi kepercayaan oleh Allah mengantarkan kebahagiaan tak terkira. Keharuan dan air mata suka cita tumpah ruah dalam satu waktu.
Tidak ada yang tahu rencana Allah, setiap kedatangannya begitu mengejutkan dan mendebarkan. Seperti sebuah sihir, apapun yang dihendaki-Nya pasti akan terjadi. Entah itu dalam hitungan detik maupun bertahun-tahun lamanya. Namun, percayalah hal tersebut sudah pasti yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Allah Maha Tahu apa yang terbaik.
Seperti yang dirasakan Alina. Setelah mengetahui jika dirinya tengah mengandung benih Azam, ada perasaan menyesakan dalam dada. Bukan tidak menerima ketentuan dari Yang Di Atas, tapi posisinya sekarang begitu membingungkan.
Namun, di sisi lain ia sangat bahagia mendapatkan seorang buah hati. Ia juga mendapatkan pengakuan dari sang suami. Tetapi, di sisi lain ia juga takut menyakiti Yasmin meskipun pernikahan mereka atas kehendaknya.
Sepanjang perjalanan pulang, Alina terus menatap ke arah luar. Sesekali Azam memperhatikannya dan mengerti tentang keadaan yang mereka alami sekarang. Apa yang ia rasakan, apa sama seperti yang dirasakannya terhadap Yasmin? Azam masih bertanya-tanya dalam benak.
"Ya Allah, apa aku benar-benar sudah mencintai Alina? Aku sungguh bahagia saat mengetahuinya hamil, terima kasih ya Allah," benaknya.
Tidak lama kemudian mereka kembali ke rumah. Yasmin yang tengah menggendong Aqeela di pekarangan melebarkan senyum menatap kedatangan keduanya. Alina terbelalak melihat ekspresi di wajah pucat itu. Ia pun terdiam di samping mobil.
"Yasmin, apa yang sedang kamu lakukan? Ini sudah sore dan udaranya cukup dingin, ayo kembali ke dalam."
Tanpa sedikit pun memperhatikannya, Azam yang baru keluar dari mobil langsung berlari mendekati sang istri pertama. Rangkulan di bahunya dan langkah mereka yang seirama membuat Alina mematung. Tangan rampingnya terangkat lalu mengelus pelan perut ratanya.
"Mamah akan bertahan untukmu, Sayang. Tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan Mamah selain kehadiranmu."
Alina berusaha tegar untuk sang buah hati yang kini tengah berkembang dalam dirinya. Sedetik kemudian ia pun mengikuti langkah mereka.
Sarah menoleh ke belakang mendapati Alina tengah berjalan. Dengan cepat ia mendekat dan membantu menopang tubuh lemahnya. Alina hanya menyunggingkan senyum simpul mengerti makna dari sorot mata di sana.
Ia seketika menatap pada keluarga kecil yang tengah duduk bersama di sofa lembut ruang keluarga. Ada denyutan tidak nyaman dalam dada kala melihat senyum mengembang di wajah mereka.
__ADS_1
"Ahh mungkin karena hormon kehamilan, aku menjadi lebih sensitif seperti ini? Sudahlah Alina, itu hal biasa bukan? Lebih baik aku ke kamar saja," benaknya lagi.
Baru saja ia hendak melangkahkan kaki, suara Yasmin menghentikan. Alina kembali menoleh ke arah samping melihat mereka menatapnya langsung. Diperhatikan seperti itu membuat Alina tidak nyaman.
"Iya Mbak ada apa?" tanyanya berusaha terlihat biasa.
"Mbak sudah mendengar semuanya dari Mas Azam. Alhamdulillah selamat yah Al, kamu sedang mengandungkan?"
Pertanyaan yang tidak ingin didengar meluncur cepat dari balik bibir pucat Yasmin. Alina menegang di tempat seraya menatap mereka bergantian.
"A-alhamdulillah, te-terima kasih Mbak," gugupnya. "Kalau begitu bisakah aku istirahat di kamar?" lanjut Alina.
"Tentu, istirahatlah."
Setelah mendapatkan persetujuan Alina langsung melarikan diri. Azam yang melihat gerak-geriknya kembali mengerti dan beranjak dari sana. Yasmin hanya menyunggingkan senyum lalu bermain dengan sang buah hati ditemani Sarah.
Air mata menjadi teman setia dikala perasaan tidak menentu datang menerjang. Awan mendung kembali datang dengan setia, menghantarkan bulir demi bulir liquid bening mengalir di kedua pipi. Alina duduk di sofa samping tempat tidur menumpahkan sesak dalam dada. Entah kenapa kenapa tangisan itu tidak bisa ditahan.
Tumpah ruah membasahi hijab lebarnya begitu saja.
Tidak lama berselang pintu kamar terbuka, sang suami menyembul masuk dan berjalan mendekat. Alina yang tengah menyembunyikan wajah berair di kedua tangannya menyadari kedatangan seseorang. Namun, ia enggan memperlihatkan keadaannya seperti sekarang.
"Sayang, apa yang kamu tangisi hmmm?"
Nada bicara yang lembut menyapu indera pendengaran. Alina menggelengkan kepala masih berada dalam posisinya. Azam tersenyum lalu menggendong sang istri membuat Alina terkejut seketika. Ia menatap langsung pada Azam.
__ADS_1
Pria itu membawa istrinya ke dalam dekapan hangat dan menuju tempat tidur. Berada dalam pangkuan sang suami mengantarkan rona merah menjalar di pipi Alina.
"A-apa yang Mas lakukan? Turunkan aku," titahnya menahan malu.
"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu mengatakan yang sebenarnya. Sayang, kamu jangan khawatir, Yasmin mengerti dengan keadaan kita. Awalnya aku takut menyakiti Yasmin jika kita berada dalam posisi seperti ini, tapi apa kamu tahu?" Alina menggeleng singkat, "seiring berjalannya waktu keadaan pasti berubah. Sama seperti pohon, meskipun menguggurkan banyak daun maka tunas baru akan tumbuh. Maka waktu akan memberikan jawaban, jika aku nyaman berada di sampingmu. Apa aku sudah jatuh cinta padamu?"
Sorot mata tegas nan sayu menatap tepat ke arah bola mata kecoklatan sang istri. Alina terdiam kaku kala untaian kata yang diberikan suaminya begitu mendamaikan. Ia yang awalnya takut jika menyakiti Yasmin dengan kehamilannya mendapatkan kepercayaan.
Kedua tangannya terulur mengalung tepat di leher jenjang Azam. Aroma maskulin bercampur mint menyeruak memenuhi penciumannya. Harum tubuh sang suami membuat ia nyaman dan mengeratkan pelukan.
"Terima kasih, Mas. Karena sudah mau menerimaku sebagai istri keduamu. Aku berpikir jika selamanya akan terjebak dalam janji tidak mendasar itu. Memiliki peran ganda sebagai istri dan ibu diawal pernikahan nyatanya memberikan kebahagiaan. Aku sangat mencintaimu, Mas."
Kata cinta kembali bergelora dan terucap dari bibir ranum Alina. Lengkungan bulan sabit di wajah tampan Azam semakin bertambah lebar. Ia pun membalas pelukan Alina dan mendaratkan dagu lancipnya di bahu sang istri.
"Kamu benar-benar pelupa, yah."
Alina memekik kaget kala mendengar perkataan itu. Azam terkekeh dan memberikan belaian lembut di punggung wanitanya membuat Alina merasa nyaman.
"Aku pernah bilang di antara kita tidak ada kata terima kasih. Apapun yang aku lakukan semata-mata untuk kebaikan kita. Ditambah sekarang kamu sedang mengandung, aku akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik bagi kalian."
Azam mengendurkan pelukannya dan menangkup pipi Alina memberikan kecupan hangat di dahi, kedua mata, hidung, pipi dan berakhir di tempat yang diinginkannya.
Momen romantis tersebut tidak luput dari perhatian sang istri pertama, Yasmin. Sejak Azam meninggalkannya, selang 5 menit kemudian Yasmin pun menyusul. Ia tidak menyangka disuguhkan pemandangan menggetarkan jiwa. Jika ditelaah, keadaannya sama seperti Alina beberapa hari kebelakang.
Senyum hadir di wajah cantiknya. Entah itu menggambarkan kelegaan atau hal lain, hanya ia dan Allah saja yang tahu. Namun, yang jelas denyutan dalam dada tidak bisa disembunyikan. Setegar apapun Yasmin ikhlas sang suami bersama wanita lain, tetap saja ada perasaan sesak. Tetapi, ia yakin jika Alina mampu menggantikan posisinya dalam hidup Azam.
__ADS_1
"Aku harus sabar, karena inilah yang aku inginkan. Jika waktunya tiba, aku pasti bisa meninggalkan mas Azam dengan tenang," benaknya kemudian meninggalkan mereka yang tengah menikmati waktu bersama.