Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 71 (Season 2)


__ADS_3

Bagaikan menapak tanpa alas, kenyataan menampar keras jika memang benar besok mempunyai misteri tersendiri.


Keheningan menyapa menemani pertemuan mereka untuk kesekian kali. Begitu banyak kejutan yang melanda sampai membuatnya tidak bisa berkata.


Dokumen serta rekaman video sudah menjadi bukti kuat jika ada sesuatu yang terjadi. Alina masih terkejut atas fakta mencengangkan.


Dirinya sungguh tidak menduga kejadian tersebut nyata dalam bayangan. Mulut ranumnya masih terbuka dengan manik jelaga terbelalak lebar.


"Ja-jadi?" cicitnya pelan.


Angga mengangguk pelan, sorot mata serius menatapnya lekat. "Apa yang kamu pikirkan, kemungkinan besar memang seperti itu."


"Ta-tapi bagaimana bisa? Ini sudah tujuh tahun berlalu, apa yang sebenarnya tejadi?" tanya Alina masih penasaran.


"Kemarin, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan salah satu perawat di rumah sakit. Dia membahas mengenai pasien meninggal tujuh tahun lalu, entah kenapa aku terbayang mendiang Yasmin. Dari sana aku mulai mencari tahu jika ternyata ... ada sesuatu hal yang janggal. Kedua dokumen itu sudah mejadi bukti konkret atas rasa penasaran itu," ungkap Angga kemudian.


"Dua dokumen tersebut atas nama Yasmin Zakiyyah, tetapi dna mereka tidaklah sama. Aku mulai mencari tahu, dan benar saja, ciri-ciri fisik, golongan darah, sampai riwayat penyakit keduanya berawal sungguh sangat berbeda."


"Aku tidak tahu siapa dia, tetapi aku menduga ada dalang di balik ini semua," lanjutnya panjang lebar.


"Jadi, maksud Mas ada orang yang menyuruh dokter dan perawat itu untuk memindahkan mbak Yasmin tujuh tahun lalu?" Angga mengangguk menjawab Alina.


"CCTV di rumah sakit dimatikan oleh pihak yang bersangkutan. Siapa lagi jika bukan orang dalam yang memiliki pengaruh besar? Beruntung aku bisa meretas sistem keamanan mereka dan menemukan jika ada satu CCTV yang lupa mereka matikan. CCTV itu tidak terdeteksi dan bisa aku baca," lanjut Sarah kemudian.


Alina semakin kagum mengenai bakat mantan baby sisternya tersebut. Tanpa diduga keberadaan wanita itu sangat menguntungkan bagi keadaannya sekarang.


Ia tidak bisa pergi begitu saja tanpa menuntaskan segala hal yang mengganggu keluarganya. Ia tidak bisa membiarkan mereka berlaku seenaknya tanpa memberikan peringatan. Jika apa yang dilakukan wanita itu sangat salah.

__ADS_1


"Aku tidak tahu motif dan niat dia itu apa, tapi ... aku yakin tujuan dia sebenarnya adalah mas Azam," ucap Alina.


"Teteh, benar. Karena aku menemukan satu bukti lagi yang menguatkan kedatangannya ke sini." Sarah mengeluarkan selembar foto.


Alina langsung mengambil dan melihatnya. "Ini, kan?"


"Foto itu diambli sembilan tahun lalu, rekanku berhasil mencopynya dan mengulanginya menjadi baru. Apa Teteh merasa familiar dengan tempatnya?" tanya Sarah.


Alina yang masih memperhatikan foto itu pun mengangguk singat.


"I-ini panti tempat aku di besarkan dulu. Kenapa mereka ada di sini? Sembilan tahun yang lalu? Ah ... aku ingat sekarang. Waktu itu aku bertemu dengan seorang wanita yang tidak dikenal. Dia mengatakan jika aku harus pergi ke rumah sakit," jelasnya mengingat kenangan sembilan tahun lalu.


Waktu itu Alina baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Ia terkejut mendapati wanita asing berdiri tepat di depan gerbang panti asuhan. Ia menyunggingkan senyum, menyapanya, dan memberikan pertanyaan.


Wanita itu hanya mengatakan jika ia harus pergi ke rumah sakit yang ada di kota. Ia juga menyebutkan nama Rusdyan Azam Zabran anak tunggal dari pengusaha property. Karena tidak tahu orang asing tersebut, Alina hanya membiarkannya saja. Meskipun pada kenyataannya ia penasaran kenapa wanita itu bisa mengetahui nama tersebut.


Ia pun menyambungkannya dengan pertemuan wanita asing beberapa kali di panti. Hatinya berbisik lirih jika orang itu sebenarnya ingin memberitahu jika Azam membutuhkan bantuan.


Setelah bertemu dengan Azam dan bekerja di perusahaannya, Alina dikenalkan dengan istrinya, Yasmin Zakkiyah.


Hari itu di rumah sakit tersebut untuk pertama kalinya Alina berjumpa dengan Yasmin. Ia lupa jika sebenarnya dirinya pernah bertemu orang yang sangat mirip.


Karena di waktu bersamaan, Yasmin Zakkiyah memintanya untuk menjadi istri kedua Azam. Sejak saat itulah kisahnya di mulai.


Benang kusut itu kini menemukan titik terang. Alina memandangi foto dalam genggamannya di mana gambar tersebut menunjukan wanita asing yang dulu pernah menemuinya di panti.


Mereka yang ia sebut tadi menjelaskan jika tidak hanya wanita itu di foto. Melainkan ada seorang pria yang sekarang menjabat sebagai suaminya. Kemungkinan besar keduanya bertemu pada saat Azam hendak melamarnya kepada ibu panti.

__ADS_1


"Sekarang aku mengerti, dulu mereka pernah bertemu. Entah mas Azam lupa atau tidak, yang jelas aku yakin keduanya sudah bertemu. Atau mungkin jauh sebelum mas Azam berkenalan dengan mbak Yasmin," ucapnya mengakhiri cerita mengenai wanita yang ada dalam foto.


"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?" tanya Angga seraya mengerutkan kening.


"Mas lihat ini." Alina pun memperlihatkan foto tadi kepada Angga dan Sarah dan menunjuk jari jemari sang wanita.


"Ini cincin pernikahan mas Azam dan mbak Yasmin. Waktu itu aku pernah bertanya pada mbak Yasmin kenapa dia tidak memakai cincin yang sama dengan suaminya. Dia mengatakan jika dirinya kehilangan itu, tapi sebenarnya ... wanita inilah yang mengambilnya. Atau ... bisa saja spekulasiku salah. Kemungkinan cincin itu memang dari awal seharusnya milik dia." Alina menduga-duga, sorot matanya tajam yakin mengenai firasatnya sendiri.


"Ah ... aku mengerti. Jadi tujuan dia sebenarnya datang ke sini memang untuk menghancurkan Azam dan kamu. Dia tidak ingin melihat rumah tangga kalian baik-baik saja, kan?" lanjut Angga lagi.


Alina mengangguk sekilas. "Itu yang aku pikirkan juga. Aku juga mengerti kenapa dia menemuiku dan mengatakan harus pergi menemui mas Azam, ternyata dia benar-benar ingin menghancurkan hubungan mereka, tapi kenapa aku?"


"Kemungkinan dia juga sudah tahu jika kamu teman masa kecil Azam, bukankah dia juga mungkin sudah mencari tahu untuk melancarkan aksinya ini?" ucap Angga memandanginya.


"Mas benar juga," balas Alina.


"Tapi bagaimana jika kemungkinan kita itu benar? Apa Teteh masih mau bertahan dengan tuan Azam?" tanya Sarah lagi.


Dengan cepat Alina menggeleng yakin. "Sepertinya aku tidak bisa, karena ... cintanya untuk mbak Yasmin itu sangatlah kuat. Sekarang aku hanya akan membantunya membuka mata dan mengungkap kebenaran ini."


"Meskipun itu berarti merelakan pernikahanmu sendiri?" tutur Angga heran.


"Jika itu memang diperlukan, aku tidak keberatan, sebab ... aku tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintaiku. Delapan tahun ... delapan tahun aku menghabiskan waktu untuk menunggunya membalas perasaan ini. Namun, nyatanya aku tidak pernah mendapatkan itu. Lebih baik mundur dan membiarkan waktu membalasnya, kan?" Senyum menawan terbit membuat Angga dan Sarah mengangguk pelan.


Bola mata cokelat Alina bergulir ke samping menatap ke arah lorong gelap memikirkan sesuatu. "Aku harus membuka topengnya terlebih dahulu. Mas Azam harus tahu siapa dia sebenarnya. Inilah perjuangan terakhirku untuk membuatnya menjadi lebih baik, aku harus menemukan fakta yang dia sembunyikan," monolognya dalam diam.


Alina yakin dengan pendiriannya sekarang dan tidak akan lagi memperjuangkan cintanya. Terbiasa hidup bersama, nyatanya tidak mengundang perasaan itu tumbuh di hati Azam.

__ADS_1


Cinta sang suami sudah terpaut pada Yasmin seorang.


__ADS_2