Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 86 (Season 2)


__ADS_3

Raja siang tengah duduk nyaman di singgasananya, cahaya mentari menyinari bumi bersama kehangatan menerpa. Sesekali angin sejuk datang menerbangkan kegerahan yang kian menyeruak. Deburan ombak laut terus menerjang batu karang memberikan alunan alam menemani pertemuan.


Jam sudah menunjukan pukul setengah satu, orang-orang dari berbagai daerah terus berdatangan ke toko kue Alina yang diberi nama Carnation.


Sang pemilik begitu sibuk menjamu pengunjung yang membeli kue buatannya. Zara pun turun tangan untuk membantunya mengelola toko tersebut.


Beberapa saat kemudian kesibukan pun perlahan meredam. Zara yang sedari tadi ikut menanganinya kini diberi jeda oleh Alina. Wanita itu datang seraya membawa tiga minuman dingin dan beberapa cake untuk dua pria yang sedari tadi terus memantau kegiatan mereka.


"Saya tidak menyangka toko Alina sesibuk ini, maaf mengabaikan kalian," ucapnya menyesal, "ini dari Alina sebagai bentuk permintaan maafnya," lanjut Zara meletakan makanan yang dibawanya.


"Tidak apa-apa, aku senang melihatnya sibuk dan jangan terlalu formal, kita bukan berada di tempat kerja. Anggap saja kita sebagai temanmu," ucap Zaidan lalu mengarahkan sedotan ke mulut.


"Baiklah," jawab Zara yang duduk di hadapan mereka.


"Aku tidak mengerti kenapa Tuan ingin membantunya?" Pertanyaan tersebut membuat Zara dan Zaidan menatap lekat ke sang pembicara.


"Kamu pasti mengerti, Dimas. Aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai sejauh ini. Saat pertama kali bertemu dengan Alina, perhatianku langsung tertuju padanya. Tentu saja aku tahu diri, karena dia sudah menikah. Aku juga sampai gila dan berpikir untuk merebutnya dari suami yang tidak pernah menghargainya," jujur Zaidan.


Zara tidak menyangka dan seketika itu juga tersedak minumannya sendiri. Dimas langsung menjulurkan selembar tissue padanya.


"Terima kasih," ucap Zara dan kemudian memandangi sang tuan besar.


"A-apa aku tidak salah dengar? Mas ingin merebut dia dari suaminya? Tunggu, apa firasatku salah? Jadi selama ini Mas Zaidan sudah mencari tahu mengenai Alina? Kapan kalian bertemu?" Zara terus menghujaninya dengan pertanyaan.


Zaidan tertawa senang dan memandangi Alina lagi yang tengah melayani pelanggan di meja kasir. "Firsatmu mungkin benar. Pertama kali aku bertemu dengan Alina saat berada di lobi perusahaan suaminya. Waktu itu aku pikir dia belum menikah, tapi nyatanya dia sudah pernah menjadi istri kedua bahkan dimadu lagi? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya." Ia pun memasukan sepotong cake rasa blueberry ke dalam mulut dan seketika maniknya melebar.


"Pernikahan Alina memang tidak berjalan lancar. Dia selalu disia-siakan oleh suaminya, wanita sebaik itu saja masih disakiti, apalagi aku?" ucap Zara yang juga memakan makanan manis tersebut.


"Kamu juga wanita luar biasa, sudah bertahan menjadi ibu tunggal." Dimas kembali ikut bicara.

__ADS_1


Zara memandanginya sambil melebarkan pandangan. Zaidan hanya tersenyum singkat melihat mereka bergantian.


Tidak lama berselang, pengunjung mulai berkurang dan Alina pun kembali menemui tamunya. Ia duduk di sebelah Zara lalu menenggak minuman yang dibawanya.


"Alhamdulillah, aku tidak percaya hari ini pengunjung membeludak. Alhamdulillah, Ya Allah," ucapnya semakin pelan.


"Oh iya, saya minta maaf sudah mengabaikan kalian berdua. Sebagai permintaan maaf bagaimana jika saya membuatkan kalian makan malam?" lanjutnya sambil memandangi dua pria di hadapannya.


"Tidak usah formal, anggap kita ini temanmu, Alina. Aku setuju ... aku juga ingin merasakan masakanmu," jawab Zaidan cepat seraya mengatakan hal yang sama.


Kedua orang di sana saling pandang dan melempar senyum. Dimas tidak menyangka akan melihat tuan kecilnya berubah drastis.


Ia yang sudah bersama Zaidan di usia remaja mengetahui kebiasaan serta keinginannya. Namun, baru kali ini ia menyaksikan sorot mata hangat saat menatap seseorang.


"Baiklah. Em, Mas Dimas aku mohon bantuannya. Semoga aku bisa terbebas dari dia," ucap Alina, acuh tak acuh menikmati minuman dinginnya kembali, sedangkan ketiganya orang itu terdiam memandanginya.


"Em, aku akan melakukan yang terbaik," balas Dimas seraya membetulkan letak kacamatanya.


"Sudah jauh lebih dari yakin."


"Kenapa?"


Satu kata mengundang beribu jawaban membuat ketiganya kembali memandangi Alina. Wanita berhijab hitam itu pun memandang lurus ke depan di mana lautan lagi-lagi ada dalam fokusnya.


Ombak yang saling bergulung-gulung membasahi pasir putih menghapus setiap jejak kaki. Bibir ranum itu pun melengkung indah mengalirkan perasaan tidak nyaman ke dalam hati seorang Zaidan.


"Sama seperti ombak yang datang menerjang batu karang, ditimpa terus menerus pasti akan memberikan perubahan. Sama halnya ketika ombak menyapu bibir pantai menghapus jejak dan mengembalikan keadaannya utuh seperti semula. Meskipun tidak menutup fakta jika pasir itu pernah diinjak, tetapi air laut bisa menghilangkannya."


"Mungkin seperti itulah perumpaannya. Aku ingin menghapus semua jejak masa lalu dan mengembalikannya seperti semua, yah walaupun masa lalu tidak bisa dihapuskan, tetapi menutupinya dapat dilakukan."

__ADS_1


Kata demi kata tercetus dari celah bibir Alina menyadarkan mereka jika seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Wanita yang sudah berkali-kali disakiti akan mendatangkan perbedaan dan menjadikannya kuat.


"Aku ... benar-benar mengagumimu, Alina. Terima kasih sudah bertahan sejuah ini, aku-"


"Tuan." Dimas mencengkram pergelangan tangannya kuat. Sang empunya pun menoleh dengan menautkan kedua alis tajam.


Dimas lalu menggelengkan kepala beberapa kali yang dimengerti oleh Zaidan. "Yah, intinya aku akan membantumu," lanjutnya lagi.


Alina yang sudah tercengang kembali memberikan senyum canggung. Ia terkejut saat mendengar pengakuan Zaidan barusan.


"Kalau begitu aku akan menyiapakan bahan-bahan untuk makan malam nanti." Alina buru-buru pergi dari sana.


"Aku akan membantumu." Zara pun ikut menyusulnya dan meninggalkan kedua pria itu lagi.


Setelah kepergian mereka, Zaidan menghela napas kasar. Ia mengusap wajah gusar dan menautkan tangan di atas meja lalu menyandarkan kening di sana.


"Terima kasih sudah mencegahku. Aku tahu ini terlalu cepat ... aku tahu dia pasti trauma dan tidak mudah menerima yang baru," lirihnya pelan.


"Em Tuan akhirnya mengerti. Tidak mudah bagi seseorang yang sudah disakiti berkali-kali untuk bisa percaya lagi. Butuh waktu dan pembuktian jika yang baru tidak akan sama," balas Dimas dengan wajah datarnya.


"Kamu benar." Zaidan mengangkat kepalanya dan memandang lurus ke depan. "Aku harus berjuang dan meyakinkan dia."


Dimas menoleh pada sang tuan dan melihat keyakianan dalam matanya. "Ini pertama kali aku melihat Tuan menginginkan seseorang."


"Bagaimana lagi, dia orang pertama yang menyadarkanku jika ... kesalahan itu ada untuk diperbaiki. Kata-katanya malam itu menembus ulu hati dan membuatku ingin berubah dari kesalahan," jelas Zaidan yakin.


Dimas hanya mengangguk pelan dan teringat masa-masa yang pernah mereka lewati. Sebagai seseorang yang tumbuh bersamanya, ia memahami sikap dan sifat tuan mudanya tersebut.


"Sudah banyak Tuan melakukan hal seenaknya tanpa peduli apa pun. Jalan itu memang tidak benar, aku yakin Alina bisa mengubahnya menjadi lebih baik," benaknya kemudian. 

__ADS_1


...Bersambung........


__ADS_2