
Haru, senang, lega menjadi satu dalam perasaan penuh suka cita. Senyum dengan linangan air mata menjadi teman setia. Kebahagiaan tiada tara mengikis keresahan dalam dada. Tidak ada yang lebih menakjubkan selain melihat siluet sang buah hati di layar kotak di hadapannya.
Suara detak jantung bayi mungil mengalun indah di ruang pemeriksaan. Wanita berhijab yang kini tengah menangani konsultasinya tersenyum melihat rekasi ibu muda ini. Alina tidak henti-hentinya mengusap air mata kala menyaksikan bagaimana perkembangan malaikat kecilnya.
Lima bulan bukan waktu yang singkat, selama itu pula Alina sudah merasakan asam, manis, pahit menjalani peran sebagai ibu baru. Sudah banyak air mata kepedihan yang keluar dari balik kelopaknya, sekarang giliran senyum kebahagiaan hadir menggantikan. Alina sudah tidak peduli lagi dengan hal apapun selama ada jantung hatinya dalam kehidupan.
"Bayinya sehat, detak jantungnya juga normal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan semua baik-baik saja," ucap sang dokter kala mengetahui riwayat Alina yang sempat mengalami pendarahan.
"Alhamdulillah, masyaAllah terima kasih banyak, dok." Ia pun bangkit dari berbaring.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan, Alina pun keluar dari ruangan. Senyum masih mengembang saat netra kecoklataannya menatap lekat sosok dalam foto hasil USG barusan. Tidak henti-hentinya Alina mengucap rasa syukur atas berkah yang sudah Allah titipkan padanya.
"Baik-baik di dalam sana, yah sayang. Mamah akan selalu menunggumu," gumamnya sembari menunduk mengusap perut buncit itu.
"Kamu sudah selesai?"
Suara berat seseorang membuatnya kembali mendongak. Sepasang mata dengan lengkungan bulan sabit menghiasi wajah tampannya, Alina pun tersenyum lalu mengangguk.
"Mas Angga masih di sini? Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi."
Angga, dokter yang sempat berbicara padanya satu bulan lalu kini waktu kembali mempertemukan. Sosok pria bertubuh tinggi tegap dengan kacamata bulat menghiasi ketampanannya menambah daya tarik. Angga, sahabat dari suaminya kembali melengkungkan kedua sudut bibir seraya memasukan tangan ke dalam saku jas dokter.
"Aku masih punya satu operasi lagi di sini. Ahh, kenapa Azam tidak menemanimu hari ini?"
Pertanyaan itu bagaikan mengandung racun, jika dikecap akan menimbulkan malapetaka. Senyum canggung hadir membuat Alina mengalihkan pandangan.
"Ma-mas Azam sibuk aku tidak bisa memintanya untuk menemani."
__ADS_1
"A-ahh begitu,"
Angga menggaruk belakang kepalanya gusar saat sadar jika keadaan dalam rumah tangga sahabatnya tidak sedang baik-baik saja. Ia lupa mengenai Yasmin yang masih berada di rumah sakit. Dalam diam ia memperhatikan Alina yang tengah mengepalkan kedua tangan. Ia menyadari ada luka yang disembunyikannya ddi balik ketegaran.
"Pasti berat berada di posisi itu, aku sudah salah menilainya selama ini," benak Angga.
Tanpa meraka sadari wanita berambut sebahu sedari tadi terus memperhatikan keduanya. Zara masih berada di posisinya dan terus mengintai Alina dan Angga. Suara gemeretak gigi terdengar ngilu. Tidak lama berselang ia pergi dari sana membawa kepelikan dalam dada.
Suara bentuman pintu mobil bergema dalam pendengaran. Zara sudah kembali duduk di dalam kendaraan roda emapatnya dengan dada naik turun. Napasnya tersengal-sengal seolah sudah berlari keliling lapangan berkali-kali. Manik kelamnya mentap lurus ke depan seraya kedua tangan mencengkram stir dengan erat.
"Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, apa dia pikir dirinya seorang putri? Bisa berkeliaran seenaknya bersama pria berbeda, bos Azam dan sekarang dia menargetkan dokter itu? Sungguh tidak terbayangkan. Wanita murahan itu, menyebalkan sekali."
Setelah mengucapkan sumpah serapah, Zara pun meninggalkan lokasi. Sepanjang jalan hanya ada kata-kata kekesalan yang terus terucap dari balik bibir ranumnya. Sudah hampir lima tahun lamanya ia menjadi sekertaris Azam.
Sudah banyak kenangan yang ia ciptakan bersama pria itu. Mengetahui jika sang bos sudah menikah ia mengurungkan niat untuk mengenalnya lebih jauh. Zara hanya bisa menjadi sahabat sekaligus rekan kerja yang terbaik untuknya. Ia pun dekat dengan Yasmin, karena sering berkunjung ke rumah atasannya untuk alasan pekerjaan.
Ia yang sudah memendam perasaan bertahun-tahun tidak bisa terima dengan keadaan sekarang. Terlebih setelah mengetahui bagaimana istri keduanya, Alina.
"Seharusnya aku yang menggantikan posisi mbak Yasmin. Bagaimana bisa wanita seperti Alina bisa bersanding dengan mas Azam? Tidak aku tidak bisa membiarkan ini terus menerus. Ahh, apa jangan-jangan-" ucapannya terhenti kala ia sudah tiba ditujuan.
Rumah sakit khusus kanker terlihat sepi dan hening. Banyaknya pepohonan menambah kesejukan, sesekali angin berhemus menerbangkan dahan dan daun kering yang patah. Hanya terlihat satu, dua orang suster dan pengunjung keluar masuk ke sana.
Zara yang sudah menepikan mobilnya di depan gedung masih berkecambuk dengan pikirannya sendiri. Ia tenggelam dalam lamunan dan memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Apa jangan-jangan dia hamil anak pria itu? Aku harus mengatakannya pada mas Azam." Buru-buru ia pun masuk ke dalam gedung.
Azam tengah menyuapi Yasmin dengan semangkuk bubur ayam hangat. Senyum pun melengkung dari keduanya. Azam lega mendapati sang istri sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia berharap Yasmin bisa secepatnya keluar dari rumah sakit dan kembali berkumpul di rumah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
Seseorang datang mengejutkan keduanya, Azam dan Yasmin pun menoleh kompak ke arah pintu. Di sana Zara menampakan diri seraya tersenyum lebar. Ia masuk ke dalam sembari menenteng sekeranjang buah-buahan.
"Wa'alaikumsalam," balas keduanya.
"Bagaimana keadaan Nyonya?" tanyanya kemudian meletakan buah tangan di nakas samping ranjang.
"Alhamdulillah sudah lebih baik," jawab Yasmin dengan suara parau.
"Zara, kenapa kamu datang ke sini? Bagaimana keadaan kantor?" tanya Azam mengalihkan perhatian.
"Oh, saya minta maaf Tuan. Saya lupa jika ada berkas yang harus Anda tanda tangani." Jelas Zara lalu menyodorkan beberapa dokumen dalam amplop coklat.
"Sayang, aku tinggal sebentar tidak apa-apa? Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini dulu." Ucap Azam pada Yasmin sembari mengelus pelan pipinya.
Pemandangan tersebut membuat Zara tidak karuan, ia tidak bisa melupakan perasaan terpendamnya. Hanya bisa tersenyum masam menyaksikan keharmonisan bosnya ini.
Tidak lama berselang mereka pun sudah berada di taman rumah sakit. Duduk berhadapan dengan meja bundar di tengah-tengah keduanya. Dalam diam Zara memperhatikan sosok di depannya yang tengah serius membaca dokumen sebelum membubuhkan tanda tangan.
"Beberapa saat lalu saya tidak sengaja melihat istri kedua Tuan bersama seseorang di rumah sakit."
Perkataan Zara seketika mengalihkan atensi Azam. Pria berkepala tiga itu menautkan kedua alisnya dalam.
"Apa maksudmu?"
"Saya tadi salah mengunjungi rumah sakit dan tidak sengaja melihat nyonya Alina bersama seorang pria. Saya pikir beliau memang dokter di sana, tetapi cara mereka berpandangan begitu berbeda. Em, saya tidak bermaksud ikut campur, tapi apa benar anak yang dikandungnya bayi Tuan?"
__ADS_1
Bak es balok, Azam membeku di tempat. Ia tidak pernah berpikir jika Alina akan bersama pria lain. Ia tidak menyangka mendengar berita mengejutkan ini dari sekertarisnya. Seketika perasaannya tidak kauran, Azam mendapatkan periangatan pertama.