
Di tengah kesenangan mereka, ponsel di atas nakas pun bergetar kencang. Buru-buru Azam membalikan badan dan mengambil benda pintarnya.
Tertara nama Zaidan di sana, ia pun menggeser ikon berwarna hijau ke atas dan seketika sambungan video call pun terjadi.
Azam mendekatkan layar ke wajah sang putra. "Mamah," pekiknya senang.
"Assalamu'alaikum sayang, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Alina di seberang sana.
"Alhamdulillah, sudah baik. Kata om dokter besok Raihan sudah bisa pulang," ujarnya ceria seraya merentangkan kedua tangan.
"Alhamdulillah, mamah senang mendengarnya. Sayang," panggilnya lagi.
"Em, iya mah?"
"Apa kamu baik-baik saja di sana? Dari yang mamah lihat sepertinya kamu senang sekali. Apa ada sesuatu terjadi?" tanyanya penasaran.
"Raihan hanya senang, malam ini bisa tidur dengan Ayah. Mamah tidak usah khawatir, Raihan dan Ayah baik-baik saja. Semoga mamah dan ayah Zaidan juga baik-baik saja di sana."
Sungguh anak yang baik, Azam tidak kuasa membendung rasa haru. Embun pun merembes dikedua matanya dan seketika langsung mengecup puncak kepala Raihan.
Sang empunya menoleh dan tersenyum lebar. Melihat pemandangan dalam layar ponsel itu membuat perasaan Alina menghangat.
"Syukurlah, mamah senang jika Raihan bisa tidur dengan ayah. Jangan tidur terlalu larut yah, sayang. Kamu masih berada dalam perawatan."
"Baik, mamah. Sudah yah mah, Raihan mau melanjutkan mendengarkan dongeng yang Ayah bacakan."
"Baiklah, mamah sudah kalah dengan ayah sekarang. Selamat malam jagoan, mamah akan datang besok."
"Bye, mah. Raihan sayang mamah, sampai jumpa besok. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Sayang."
Panggilan pun berakhir, Raihan meminta sang ayah untuk kembali melanjutkan membaca dongengnya. Azam mengangguk patuh dan membantu putranya berbaring dan membetulkan letak selimutnya agar Raihan tidak kedinginan.
__ADS_1
"Ya Allah terima kasih Engkau sudah memberikan putra yang sangat luar biasa," benaknya haru. "Aku benar-benar menyesal sudah mengabaikannya, maafkan Ayah, Sayang," lanjut Azam dan kembali memberikan ciuman mendalam di dahi lebar sang putra.
Raihan tersenyum senang dan menutup kedua mata menikmati kasih sayang ayahnya.
Di kediaman Zulfan, Alina tidak bisa membendung perasaan haru. Ia menangis merasa senang menyaksikan sendiri interaksi ayah dan anak di sana.
Zaidan yang berada di sebelahnya merangkul Alina hangat dan mengecup sebelah kepalanya. "Mas senang melihat hubungan kalian menjadi lebih baik."
"Alhamdulillah, aku sangat bahagia melihatnya, Mas. Aku bersyukur Allah sudah membukakan mata hati mas Azam," kata Alina seraya mengusap air mata.
"Em, kita akan menjadi keluarga besar. Aku yakin semua akan baik-baik saja." Alina hanya mengangguk mengiyakan.
...***...
Pagi menjelang, langit sedikit mendung kali ini. Kembali mendapatkan status sebagai istri, Alina pun bergegas menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Selesai melaksanakan salat subuh, Alina turun ke lantai satu dan langsung menuju dapur. Tidak ada siapa pun di sana, ia bergegas menuju lemari es lalu mengeluarkan beberapa bahan makananan.
Jam menunjukan pukul setengah tujuh, sang nyonya besar yang baru keluar kamar menghentikan langkah kala mengendus aroma menggugah selera. Buru-buru Moana pergi ke sumber bau tersebut dan mendapati menantunya di sana.
Alina yang masih berkutat dengan berbagai macam pasakan pun menoleh ke belakang. Senyum manis mengembang di wajah cantiknya.
Ia mengangguk pelan sambil berkata, "Mamah."
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Moana kemudian.
"Aku sedang menyiapkan sarapan. Aku sudah menjadi istri dari mas Zaidan jadi ... aku pikir untuk memasak dan melayani suamiku dengan baik," balas Alina kemudian kembali membumbui daging ayam.
"Oh iya, Mah aku menyiapkan sarapan untuk Mamah dan papah juga. Aku minta maaf jika nanti rasanya berbeda dengan selera Mamah dan papah," lanjutnya lagi tanpa memandangi sang ibu mertua.
Moana mematung memerhatikan menantunya yang begitu gesit menggunakan alat dapur. Wanita berhijab lebar itu tidak segan melakukan pekerjaannya, meskipun bumbu dapur terciprat ke gamis panjangnya.
Moana terperangah baru kali ini bertemu dengan wanita seperti Alina. Selama ini sang nyonya besar itu selalu berada dalam lingkungan yang begitu megah.
__ADS_1
Moana banyak bertemu dengan wanita sosialita dan berkelas. Istri dari pengusaha tambang, parfum, dan keturunan darah biru itu pun sudah banyak memperkenalkan wanita yang setara dengannya pada sang anak.
Namun, Moana banyak melihat sisi kekanakan, manja, dan selalu ingin dilayangi pada diri mereka. Ia jarang menemukan wanita sederhana, yang mau terjun langsung ke dapur untuk sekedar membuat sarapan. Ia terpaku akan kesederhanaan dan juga kebaikan yang dimiliki Alina.
Moana sangat bersyukur Zaidan menemukan sosok baik hati yang sudah berhasil mengubah kehidupannya ke arah lebih baik.
"Sayang, Mamah minta maaf semalam sudah berkata tidak baik padamu. Mamah-"
"Mamah," potong Alina cepat dan kembali menoleh menatap ke dalam manik berlensa hitam legam di sampingnya. "Mamah tidak usah minta maaf pada Alina. Karena bagaimanapun juga perkataan Mamah benar adanya. Justru, Alina yang minta maaf selama tiga hari ini mengabaikan mas Zaidan."
"Bahkan pernikahan kami baru saja digelar dan ... Alina juga minta maaf sebab sudah membuat keluarga Mamah malu di acara pernikahan kemarin, di mana aku pergi begitu saja tanpa melayani para tamu sampai selesai," keluh Alina.
Moana diam beberapa saat memandangi raut muka menyesal menantunya. "Mamah tidak mempermasalahkan itu, Sayang. Mamah juga khawatir kamu tiba-tiba saja diserang panik seperti itu."
"Semalam Mamah merenung ... jika perasaan seorang ibu melihat buah hatinya terbaring lemah di rumah sakit merupakan pukulan telak. Mamah jadi membayangkan bagaimana sakitnya berada di posisimu. Mamah benar-benar minta maaf dan ... terima kasih sudah hadir di kehidupan Zaidan," balas Moana, embun pun merembes di balik kelopaknya.
Alina mengangguk beberapa kali dan sepenuhnya menghadap Moana. "Mamah ... bisakah aku memeluk Mamah?" pintanya kemudian.
Tanpa mengatakan apa pun, Moana merentangkan kedua tangan dan menyambut menantunya. Alina memeluk sang mertua hangat dan tanpa terasa air mata mengalir begitu saja.
"Mamah menyayangimu, Sayang. Kamu sudah menjadi anak Mamah sekarang," ucap Moana lembut dan membubuhkan kecupan kasih sayang di puncak kepalanya.
Mendapatkan perlakuan yang begitu baik Alina terkejut dan tersenyum lebar. Ia bahagia mendapatkan suami, ibu, dan ayah mertua yang sangat baik.
"Terima kasih, Alina akan berusaha menjadi istri dan menantu yang baik," katanya pelan.
Moana mengangguk dan mengusap punggung rampingnya. Tinggi Alina yang hanya sebatas telinga ibu mertuanya pun membenamkan wajah di pundak Moana.
Parfum lembut nan berkelas seketika menyeruak ke indera penciuman membuatnya tenang. Alina bahagia sudah mendapatkan seseorang yang bisa dipanggilnya dengan benar-benar sebutan Mamah.
Dari arah samping tidak jauh dari keberadaan mereka, sepasang mata elang menatapnya sedari tadi. Senyum manis pun bertengger di wajah tampannya menyaksikan ibu serta istrinya tengah bersama.
"Alhamdulillah, ya Allah. Berkahilan keluarga kami," benak Zaidan dengan sorot mata hangat.
__ADS_1
...Bersambung......