Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 184 (Season 3)


__ADS_3

Meskipun udara dingin masih terus melanda ibu kota, tdiak menyurutkan kehangatan kian mendera di salah satu ruangan rumah sakit.


Keluarga kecil Zulfan tengah menikmati kebahagiaan melimpah ruah. Bayi yang baru saja lahir itu memberikan kekuatan sihir menimbulkan senyum gembira pada semua orang di ruangan.


Bayi merah dalam balutan bedongan itu pun nampak nyaman berada dalam gendongan sang kakek buyut. Alina dan Zaidan yang duduk berdampingan di atas ranjang tersenyum menyaksikan pemandangan tersebut.


"Kalian mau memberinya nama siapa?" tanya Dawas mengalihkan perhatian pada cicitnya yang baru lahir. Alina dan Zaidan saling pandang lalu melempar senyum.


"Biar Mas saja yang memberinya nama. Apa Mas sudah menyiapkannya?" tanya Alina.


Zaidan yang tengah merangkulnya pun mengangkat kepala ke atas berpikir sejenak. "Em, sudah. Jika kita mendapatkan bayi laki-laki aku ingin memberinya nama Aydin Zulfan, sedangkan bayi perempuan bernama Zenia Husna Zulfan. Bagaimana menurutmu?"


"Bagus, apa artinya, Sayang?" tanya Alina penasaran.


"Zenia Husna Zulfan, artinya bunga yang cantik di taman untuk menebarkan keharuman serta kebahagiaan pada keluarganya," jelas Zaidan kemudian.


"MasyaAllah, aku setuju dengan nama itu," timpal Alina.


"Bagaimana menurut Kakek?" Zaidan pun menoleh pada Dawas yang sedari tadi memandangi keduanya.


Pria tua itu pun mengangguk semangat. "Kakek sangat setuju, nama yang sangat indah."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya," balas Zaidan dan diikuti anggukan oleh Alina.


Tidak lama berselang, Moana, Farraz, Sarah, Angga, Calvin pun datang setelah menikmati makan siang. Mereka meramaikan ruangan ibu dan anak itu dengan menyambut kedatangan malaikat cantik di tengah-tengah keluarga Zaidan.


Mereka senang atas kehadiran putri yang diberi nama Zenia Husna Zulfan. Moana bahagia bisa mendapatkan cucu kandung pertama dengan wajahnya mirip sekali Zaidan.


Ia mengucapkan banyak terima kasih pada Alina yang sudah berjuang menghadirkan kebahagiaan pada mereka. Begitu pula dengan Farraz dilingkupi kegembiraan menyambut keturunan Zulfan.


...***...


Malam menjelang, sekarang hanya ada waktu sendirian bagi keluarga kecil Zaidan. Mereka berempat tengah menikmati kebersamaan menyambut kehadiran sang jabang bayi.

__ADS_1


Zenia begitu anteng dalam gendongan ayahnya. Sesekali ia menguap membuat kedua orang tua maupun kakaknya tersenyum.


"Mamah, adik bayi wangi sekali," ucap Raihan yang baru mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan sang adik setelah kepergian keluarga besar mereka.


"Itu sudah jelas, Sayang. Bayi memang selalu wangi dan menggemaskan," jawab Alina menjawil hidung bangirnya.


Raihan terkekeh senang dan terus memandangi Zenia di samping Zaidan. "Ayah, bisakah aku menggendongnya?" pintanya kemudian.


"Tentu, Sayang. Kamu harus menggendong adik kecil," balas Zaidan yang langsung memposisikan diri hendak meletakan sang putri pada Raihan.


Anak laki-laki yang mendekati usia sembilan tahun itu pun tersenyum lebar merasakan kehangatan saat adik perempuannya dalam pelukan. Ia berseru senang dan mengecup ringan dahi lebar Zenia.


"Wah, Mamah Ayah adik bayinya hangat sekali," ujarnya antusias. "Adik bayi, terima kasih sudah hadir ke dunia. Selamat datang di keluarga besar kami, Kakak akan selalu menjaga dan menyayangimu," lanjut Raihan kembali membubuhkan kecupan hangat di sana.


Alina dan Zaidan saling pandang lalu tersenyum senang pada akhirnya Raihan bisa menjadi seorang kakak yang menerima kehadiran adik bayi.


"Terima kasih, Kakak. Semoga kalian menjadi saudara yang akur, tidak banyak bertengkar, dan saling menyayangi satu sama lain," kata Alina membuat Raihan mendongak.


Sebagai orang tua mereka begitu senang dan bahagia mendapati putra semandiri Raihan. Meskipun sempat dilanda kepelikan akibat kecemburuan, tetapi anak laki-laki mereka memahami keadaan dalam keluarganya.


Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Raihan sudah terlelap di sebelah Alina yang masih menggendong putri keduanya.


Senyum tidak pernah luntur dari wajah cantik itu kala terus memandangi Zenia. Zaidan yang baru saja keluar dari kamar mandi pun ikut mengembangkan celah bibir.


Ia berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang dan langsung merangkul istrinya. Ia mendaratkan kecupan hangat di pelipis sang pujaan mengartikan betapa bahagia dirinya saat ini.


"Aku mencintaimu," ungkapnya lagi.


Alina menoleh membuat pandangan mereka saling bertubrukan. "Aku juga sangat ... sangat mencintaimu, Sayang."


Hanya ada nama Zaidan Zulfan dalam dada Alina saat ini. Masa lalu sudah digeserkan oleh yang lebih baik dan ternyata terbukti, memberanikan diri untuk membuka hati lagi mengantarkan pada muara kebahagiaan.


Alina menyadari pada dasarnya cinta akan datang pada siapa saja yang sudah menjadi takdirnya. Tidak usah menuntut ataupun terburu-buru sebab semua ada waktunya. Allah tidak pernah salah menghadirkan kebahagiaan selepas perginya badai kepedihan.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu masih menyelami keindahan bola mata masing-masing. Wajah keduanya pun saling mendekat mengikuti insting terpendam.


Penyatuan terjadi, mereka melepaskan suka cita dengan berbagi kehangatan bersama. Namun, tidak lama setelah itu rengekan Zenia menyadarkan.


Zaidan dan Alina saling menjauhkan pagutan lalu langsung menunduk memfokuskan diri pada sang jabang bayi.


"Uh Sayang, jangan menangis. Kamu pasti haus, yah?" Alina menimang-nimangnya pelan berharap tangisan Zenia bisa reda.


"Sayang, lebih baik kamu menyusuinya dulu saja," usul Zaidan kemudian.


Alina mengangguk singkat, ia ragu untuk membuka tiga kancing baju pasien. Entah kenapa meskipun sudah lama berhubungan dengan Zaidan, ia masih malu jika harus memperlihatkan titik-titik sensitifnya.


"Tidak apa-apa jangan malu, Sayang. Aku ini suamimu, pasangan halalmu. Aku juga tahu bagaimana lekuk tubuhmu ... aku- aw," ucapan Zaidan berubah menjadi ringisan pelan saat Alina mencubit pahanya kuat.


Ia pun terkekeh dan mengusap wajah putih Alina. "Aku bercanda, Sayang."


Alina mencebikkan bibirnya sesaat dan mulai membuka kancing pakaiannya. Seketika itu juga putri kecilnya langsung melahap makanan di hadapannya.


"Apa airnya sudah keluar, Sayang?" tanya Zaidan yang sedari tadi terus mengawasi mereka.


Alina mengangguk pelan, "Alhamdulillah, dari delapan bulan usia kandungan air susuku sudah keluar."


"Wah, anak kita ini beruntung sekali. Lihat itu dia makannya rakus sekali. Tenang Sayang, tidak akan ada yang mengambilnya darimu," kata Zaidan.


"Mungkin dede bayi tidak mau makanannya diambil oleh Ayah." Suara serak menyapa, Alina dan Zaidan menoleh ke samping di mana Raihan tengah menguap lebar. Sedetik kemudian ia kembali terlelap menyisakan kebingungan pada orang tuanya.


"Sa-Sayang, apa selama ini Raihan?" Alina menatap horor sang suami.


Zaidan melebarkan kedua mata sempurna sembari menggeleng kikuk. Pikiran suami istri itu pun memikirkan hal sama jika kemungkinan Raihan melihat apa yang mereka lakukan.


"Mu-mulai saat ini kita harus lebih berhati-hati." Alina menyembunyikan wajah memerahnya dengan menunduk dalam. Zaidan lagi-lagi hanya mengangguk dengan gerakan gugup, tidak percaya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2