
Dengan langkah tergopoh-gopoh Alina berusaha mencapai pintu depan. Perasaannya begitu sesak bagaikan tangan tak kasat mata meremas hatinya kuat.
Perkataan pria tua di belakang sana masih terus berputar dalam ingatan menimbulkan pengap dalam dada. Tanpa sadar air mata mengalir tak tertahankan, bagaikan membuka luka lama hal tadi membangkitkan masa lalu.
Sebelum Alina tiba di luar bangunan bertingkat dua tersebut, seseorang mencekal pergelangannya kuat. Tanpa menoleh ia tahu siapa pelaku yang membuatnya berhenti melangkah.
"Lepaskan," kata Alina pelan.
"Sayang, dengarkan aku dulu," balas sang suami memohon.
Alina tidak merespon seraya tetap memunggunginya. Zaidan yang mengerti pun berjalan ke depan lalu menangkup kedua bahu sang istri.
"Hei, Sayang lihat aku," titahnya sangat.
Alina menunduk dalam enggan memandangi suaminya. Hati itu terasa sakit saat bayangan beberapa menit lalu terus berseliweran.
"Aku tidak akan pernah mengikuti apa kata Kakek. Aku juga minta maaf jika apa yang kakek katakan menyinggung perasaanmu. Aku-"
"Tidak baik membantah perkataan orang tua. Aku memang sedikit tersinggung, tetapi memang itulah kenyataannya. Aku siapa? Aku tidak sebanding dengan kalian yang memiliki harkat martabat begitu luar biasa. Aku hanya wanita asing yang serba kekurangan." Alina mendongak menatap ke dalam manik cokelat suaminya.
"Aku-" Bersamaan dengan itu air mata mengalir tak tertahankan. "Semalam aku melihat Mas juga mempunyai foto yang sama seperti kakek. Bukankah perjodohan kalian sudah diatur? Kembalilah pada mereka biar ... biar aku saja yang mundur." Alina mengusap air mata kasar dan berjalan mundur.
"Tidak Alina ... kamu salah. Semalam aku hanya melihatnya saja dan ingin membatalkan perjanjian konyol itu. Aku tidak mau melakukan apa yang dikatakan kakek. Karena sekarang aku sudah menikah denganmu, Sayang." Zaidan mencoba menjelaskan seraya terus mengekori sang istri.
Alina menghentikan langkah lagi, kepalanya menoleh ke samping kanan melihat Zaidan lewat sisi bola mata.
"Kenapa Mas tidak menjelaskan dan mengatakannya padaku? Apa Mas ragu? Aku yakin Mas memang ragu, jika memang seperti itu lebih baik Mas melakukan apa yang dikatakan kakek. Itu lebih baik agar ... Mas tidak kehilangan apa pun. Aku hanya orang asing yang tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupmu. Aku-"
__ADS_1
"CUKUP ALINA! Sudah aku bilang ... aku hanya mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu, sangat. Tidak ada siapa pun selain kamu, Sayang" ungkap Zaidan menggebu dan semakin pelan.
Alina menarik kembali kepalanya memandang ke bawah melihat kerikil-kerikil kecil berserakan.
"Bisakah ... bisakah aku minta waktu sebentar? Aku butuh waktu untuk sendiri."
Setelah mengatakan itu Alina benar-benar pergi dari sana sambil membawa Raihan. Zaidan mengepal kedua tangan erat lalu menjambak rambutnya kasar.
Ia pun kembali masuk ke dalam melihat semua anggota keluarga memandanginya lekat, termasuk Zanna. Wanita berambut hitam bergelombang itu pun tersenyum lebar memperlihatkan kecantikannya.
Ia berjalan tegap mendekati sang kakek yang tengah duduk di sofa tunggal sambil meletakan kedua tangan di atas tongkat.
"Akhirnya kamu memilih untuk bersama Zanna? Bagus, kamu memang cucu Kakek. Kamu-"
"Kakek salah, aku datang ke sini untuk membatalkan perjanjian konyol yang sudah aku buat dulu. Perjanjian itu hanya dilakukan oleh remaja labil yang hanya menganggap Zanna sebagai adik, tidak lebih. Tidak ada sedikit pun niat dalam benakku untuk menikah dan bersama dia. Jadi, aku harap Kakek mengerti ... jika wanita yang aku cintai hanyalah Alina."
"Aku tidak peduli apa pun yang dikatakan orang-orang. Karena bagiku Alina adalah wanita baik yang tidak pernah aku temui selama ini. Aku sangat menghargainya dan ... aku sangat mencintainya."
Seketika goresan pun tercetak jelas di pipi kanan dan mengeluarkan cairan merah pekat menimbulkan perih. Zaidan meringis pelan dengan kepala masih menoleh ke samping.
"Ya Tuhan." Moana terkejut tidak menyangka jika mertuanya bisa bertindak terlalu jauh.
Sebagai seorang ibu, Moana tidak tega menyaksikan putra semata wayangnya diperlakukan seperti itu, walaupun dengan kakeknya sendiri.
Moana mendekat lalu langsung merangkul bahunya dan mengusap punggung sang anak menenangkan.
"Jika kamu tidak mau menuruti apa kata Kakek, jangan harap kamu bisa menerima sepersen pun harta keluarga Zulfan. Karena Kakek tidak sudi kamu menafkahi wanita itu menggunakan harta yang sudah diberikan."
__ADS_1
Zaidan mendengus kasar seraya memalingkan wajah sekilas. "Kakek pikir rezeki itu datangnya dari siapa? Aku tidak akan kehilangan apa pun jika Kakek memang mau menarik aset yang sudah diberikan padaku. Silakan, aku lebih baik kehilangan harta itu daripada istri dan anakku. Aku yakin Allah sudah mengatur rezeki bagi setiap hamba-Nya."
Zaidan pun berbalik hendak angkat kaki dari hadapan keluarga besarnya. Mendengar dan melihat sang cucu sudah banyak berubah, Dawas naik pitam dan menghentakan tongkat ke lantai marmer.
Suara berdentum seketika bergema, tidak ada siapa pun yang berani angkat bicara jika sang tetua sudah seperti itu. Mereka tidak mau terseret dan kehilangan harta yang sudah didapatkannya selama ini.
"Berani kamu meninggalkan rumah ini ... kamu memilih untuk hidup sengsara. Apa gunanya mempertahankan pernikahan yang hanya bisa mempermalukan dirimu? Zaidan, kamu akan menyesal jika tetap dengan pendirianmu itu," kata Dawas lagi mengancam.
"Aku tidak akan pernah menyesali apa yang sudah aku putuskan. Terima kasih atas semua kebaikan yang Kakek berikan padaku."
Dengan tekad yang kuat dan keputusan bulat, Zaidan benar-benar pergi meninggalkan mansion keluarga Zulfan. Semua orang tidak percaya seraya berbisik-bisik pelan melihat perubahan Dawas yang semakin signifikan.
Rahangnya menegas dengan gigi saling bergelematuk. Pegangan di tongkatnya semakin menguat mengantarkan kekhawatiran kepada anggota keluarga lain.
"Dia sudah berani menentang keputusanku? Awas saja akan aku pastika dia tidak akan mendapatkan pekerjaan di manapun." Dawas pun memandangi Moana beserta Farraz yang tengah berdiri kaku tidak jauh dari keberadaannya.
Sang putra pertama pun menunduk dalam saat melihat tatapan nyalang padanya, sedangkan Moana masih mempertahankan pendiriannya. Kedua tangan wanita itu pun mengepal, kesal atas apa yang bari saja terjadi.
"Kalian memang tidak becus membesarkan anak. Bisa-bisanya dia bertingkah seperti itu dan mempermalukan keluarga kita. Aku tidak mau tahu, sebelum Zaidan mengikuti apa yang aku perintahkan ... aset yang kalian miliki sekarang akan diberhentikan sementara. Juga ... Zaidan adalah cucu satu-satunya di keluarga ini, bagaimana bisa dia lebih memilih wanita itu dibandingkan Zanna?" geramnya kesal.
Setelah meracau cukup panjang, Dawas meninggalkan mereka dengan berjuta kebingungan. Kedua adik Farraz beserta keluarganya mendekat, mereka mendesak sang kakak untuk menasehati anaknya.
"Kenapa kalian harus mendesak putra kami? Zaidan berhak menentukan kebahagiaannya." Moana naik pitam tidak terima jika sang anak harus dikambing hitamkan guna kepentingan mereka.
"Aku sebagai ibu kandungnya akan berdiri di barisan paling depan untuk melindungi Zaidan. Aku tidak akan membiaran kalian melakukan seenaknya." Moana pun pergi menyisakan ketidakpercayaan kepada keluarga yang lain.
Farraz memandangi kedua adiknya dan menggeleng samar lalu mengikuti ke mana sang istri pergi. Zanna masih berdiri di sana menyaksikan adegan drama keluarga yang begitu menarik perhatian.
__ADS_1
"Entah kenapa ini menarik sekali, aku semakin ingin mendapatkannya saja," benaknya menyeringai.
...Bersambung......