
Allah selalu memberikan kejutan tidak terduga. Terkadang kedatangannya tidak disadari dan keberadaannya tidak diketahui. Bagaikan sihir memberikan mantra untuk memberikan kebahagiaan, seperti itulah rencana Allah selepas rasa sakit yang mendera.
Tidak ada yang tahu di belahan bumi mana kebahagiaan itu berada. Namun, yang jelas akan selalu ada pelangi selepas perginya hujan badai. Senyum pun akan terbit setelah hilangnya air mata, kebahagiaan pun ada kala kepedihan menghilang.
Itulah yang tengah dirasakan kedua wanita berstatus sama. Single parent yang mereka lakoni sudah mengantarkan keduanya pada titik kebahagiaan.
Gagal dalam membangun kebahagiaan tidak berarti menghilangkan sebuah harapan. Gagal bukan berarti sudah tidak mampu lagi menggapai mimpi yang harus dicapai. Namun, di balik kegagalan itu masih ada keberhasilan yang tengah menunggu.
Dalam undangan berwarna gold dan silver nama dua pasangan tercetak jelas di sana. Berita pernikahan pengusaha muda bernama Zaidan Zulfan dengan Alina Inayah, serta Zara dan Dimas pun sudah tersebar.
Mereka memutuskan untuk mengadakan pesta pernikahan di hari yang sama. Hal tersebut disambut baik oleh kedua keluarga pria.
Mereka bahagia pada akhirnya sang tuan muda beserta pengawalnya sudah mendapatkan tambatan hati. Meskipun jalinan tersebut tidak terlepas dari gunjingan orang-orang, tetapi kedua pasangan itu tidak mempedulikannya.
Selagi mereka tidak merugikan orang lain, baik Alina, Zaidan, Zara dan Dimas akan terus melangkah untuk kebahagiaannya sendiri.
Undangan dua pasangan itu sampai di tangan Jasmin. Wanita yang sudah bangkit dari kuruangan saudari kembarnya pun memandangi lekat keempat nama tercetak di sana.
Ia lalu berjalan menuju ruangan paling pojok di lantai satu. Ia membuka pintu jati bercat cokelat tua dan masuk ke dalamnya.
Netra kopi susunya mengitari sang penghuni yang masih sama seperti hari-hari kemarin. Kakinya melangkah dan duduk di tepi tempat tidur melihat ke dalam manik sang suami.
"Mas," panggil Jasmin pelan.
Azam hanya menggulirkan bola matanya sekilas dan kembali memandang ke arah luar lewat jendela besar di sampingnya.
"Mas aku ... tadi aku mendapatkan undangan ini. Undangan tersebut ditujukan pada kita." Jasmin pun menjulurkan undangan yang digenggamannya pada Azam.
Sepersekian detiak sang suami tidak menyahut sampai Jasmin pun mengatakan satu nama. "Ini undangan dari Alina."
Atensi Azam sepenuhnya pada sang istri, mata sayu itu perlahan melebar dengan bibir pucatnya terbuka.
"A-Alina?" cicitnya parau.
__ADS_1
Jasmin mengangguk dan menjulurkan undangannya lagi. Azam menunduk melihatnya dan dengan tangan gemetar ia pun menerimanya.
Ia lalu membuka dan seketika terhenyak melihat nama-nama yang tertuang di sana. Seketika sekujur tubuhnya bergetar, pegangan pada undangan itu pun terlepas.
Air mata tidak bisa terkontrol dan mengalir begitu saja. Jasmin yang melihat itu menangkup pipi tirusnya menghapus liquid bening tersebut.
"Alina akan menikah dengan keturunan keluarga Zulfan. Kita harus datang dan memberinya selamat," kata Jasmin membuat Azam berang.
Ia menghempaskan tangan ramping Jasmin dan memandaginya marah. "Apa yang kamu katakan? Alina tidak bisa menikah dengan siapa pun. Aku tidak akan pernah merelakan dia bersanding dengan pria lain. Aku tidak bisa menerimanya."
Azam naik pitam dan seketika memporak-porandakan isi kamar. Jasmin yang berada di sana bergetar ketakutan.
Sejak perceraiannya dengan Alina dan bersamaan dengan perusahaan yang banyak kehilangan penghasilan, kondisi Azam benar-benar tidak karuan. Dokter mengatakan jika ia mengalami depresi pasca perpisahan ditambah penyesalan yang berlarut-larut membuat mentalnya terganggu.
Sudah hampir satu tahun lamanya Azam terus menerus berada dalam keadaan tersebut. Jasmin sebagai istri terus berada di sampingnya. Karena bagaimanapun ia sadar jika dulu Azam selalu mendampingnya di saat titik terendah.
Sekarang keadaan berbalik, Jasmin mengerti seperti apa perasaan Azam dulu kala merawatnya melawan penyakit ganas. Ia hanya bisa pasrah melihat sang suami kambuh dengan depresinya.
"Aku tidak tahu jika kamu juga punya riwayat depresi saat ... aku pergi. Bagaimana cara Alina membuatmu kembali bangkit, Mas?" gumam Jasmin menatap sang suami yang msaih mengamuk.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hotel bintang lima di tengah-tengah ibu kota menjadi tempat paling bersejarah sepanjang hidup keempat insan tersebut.
Alina dan Zara yang menginginkan pernikahan sederhana tidak dikabulkan. Bagi Zaidan dan Dimas pernikahan mereka harus diselenggarakan dengan sedikit mewah. Karena bagi kedua pria itu momen tersebut sakral dan akan menjadi pertama dan terakhir serta harus diabadikan dengan sebaik mungkin.
Aula yang berada paling atas hotel tersebut sudah disulap begitu luar biasa. Kata sedikit mewah yang keluarga Zaidan katakan adalah sesuatu hal paling megah.
Nuansa gold dan putih begitu mendominasi. Lampu-lampu besar menggantung di atas langit-langit, dekorasi bunga tersebar di setiap sudut. Aroma cendana begitu kuat mengalirkan kebahagiaan pada setiap tamu undangan yang datang.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an bergema menandakan jika sebentar lagi ijab kabul akan berlangsung. Serangkaian acara pun sudah dilakukan dan sekarang puncaknya.
Zaidan duduk berhadapan dengan penghulu yang siap menikahkan keduanya. Degup jantung bertalu begitu kencang. Ini pengalaman seorang tuan muda menikah diusianya yang sudah sangat matang.
Penghulu pun membacakan beberapa aturan dan setelahnya kedua tangan mereka saling menggenggam. Kata demi kata begitu nyaring di lontarkan oleh sang penghulu, sampai tiba giliran Zaidan.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawainnya Alina Inayah binti Gunawan dengan mas kawin tersebut tunai," ucapnya lantang.
"Bagimana para saksi?" ucap sang penghulu memandangi para saksi.
Kata SAH pun bergema dalam aula. Zaidan menghela napas lega dan mengucap syukur jika sekarang dirinya sudah menyandang status sebagai suami Alina.
Tidak lama setelah itu giliran Dimas mengucapkan ijab kabul. Prosesnya pun begitu lancar seperti keadaan memihak mereka berdua.
Kata sah kembali bergema membuat perasaan Dimas pun lega tidak karuan. Embun merembes di balik kacamata bulatnya. Ia lalu memandang ke arah Zaidan yang tengah duduk di meja sebelah. Mereka melempar senyum, karena mulai sekarang sudah ada tanggung jawab lain di pundak masing-masing.
Di ruangan tidak jauh dari sana, Alina dan Zara saling menggenggam tangan satu sama lain. Degup jantung keduanya bertalu seirama. Kata sah yang terucap membuat lega dan mereka pun saling berpelukan.
"Semoga kamu bahagia dengan pernikahan yang sekarang. Aku yakin mas Zaidan bisa membahagiakanmu dan Raihan," bisik Zara.
"Em, terima kasih. Aku juga yakin mas Dimas bisa membahagiakanmu dan Naura," balas Alina.
Keduanya lalu melepaskan pelukan dan melihat ke arah manik masing-masing. Senyum kebahagiaan pun melebar kala kepedihan masa lalu perlahan menguap.
Tiba saatnya pengantin wanita keluar. Alina dan Zara saling bergandengan melihat ke arah tamu berdatangan.
Keduanya begitu cantik dalam balutan kebaya putih sesuai adat masing-masing. Mereka pernah menikah sekali, tetapi perasaan tersebut begitu berbeda sekarang.
Dulu Alina menikah dengan begitu sederhana, hanya dihadiri para saksi tanpa adanya keluarga ataupun dekorasi mewah seperti saat ini.
Nuansa tersebut membuat ia merasa asing dan seolah mengadakan pernikahan pertama kali. Semua orang menatap padanya dengan pandangan suka cita.
Dulu hanya ada gunjingan yang mengarah padanya, jika Alina merupakan perusak rumah tangga orang dan menjadi orang ketiga. Kata-kata itu sangat melukai hatinya, bukan kebahagiaan yang dulu di rasakan melainkan rasa sakit.
Tidak berbeda jauh dengan Zara, wanita mantan sekertaris itu pernah merasakan pernikahan yang penuh derai air mata. Dulu tidak ada kebahagiaan yang dirasakannya, melainkan kepedihan.
Perjodohan yang dilakukan orang tuanya begitu menyengsarakan. Kini mereka sadar dan tidak menuntut sang anak untuk menikah lagi.
Namun, di saat melihat kesungguhan Dimas ayah dan ibunya bahagia jika pada akhirnya sang putri mendapatkan pria yang benar-benar mencintainya dengan tulus.
__ADS_1
...Bersambung......