
Kisah kelam tengah tercetus ke permukaan, Alina tidak menyangka dan menduga jika istri pertama sang suami mempunyai saudara kembar identik. Namun, kehidupan keduanya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kasih sayang yang seharusnya bisa di dapatkan oleh mereka, ternyata hanya ke salah satu.
Alina tidak menyalahkan siapa pun dan menyadari jika karakter seseorang bisa terbentuk dari kejadian masa lalu. Yasmin Fauziah menjadi salah satu korban mengenai keegoisan orang tua yang mendatangkan malapetaka.
"Setelah satu tahun menikah dengan mas Azam aku jatuh cinta padanya. Namun, di balik itu penyakit leukemiaku menjadi tambah parah. Aku tidak tahu jika selama itu pula Yasmin mengawasi kami dan kita pun bertemu. Ketika tahu aku berada di rumah sakit dan dalam keadaan koma, ia datang membawaku pergi."
"Tujuh tahun yang lalu aku meninggal ... yah Yasmin Zakkiyah meninggal akibat penyakit merenggut nyawanya," ungkap Jasmin mengulas senyum menceritakan kejadian yang sudah menimpanya.
Alina masih diam membungkam mulut rapat menyaksikan lengkungan bulan sabit di wajah pucat itu. Sudah banyak lika-liku perjalanan kehidupan yang ia hadapai selama ini. Namun, sekarang memberikan kejutan tak terduga.
Tepat di depan mata kepalanya sendiri ia melihat istri pertama dari sang suami masih hidup dan sehat seperti sedia kala.
"Jadi, maksud Mbak ... Yasmin yang sudah membawa dan menyembuhkan Mbak? Sebenarnya aku melihat rekaman CCTV yang ada di rumah sakit tujuh tahun lalu. Salah satu dokter dan perawat di sana membawa pasien pergi, jadi itu Mbak Jasmin?" tanya Alina mendongak mencari manik kelam lawan bicaranya.
Jasmin menoleh membalas tatapan Alina lalu mengangguk singkat. "Jadi, kamu sudah mencari tahu?" Alina mengiyakan tanpa bersuara.
"Tujuh tahun yang lalu aku mengalami koma. Aku tidak sadar dan tidak tahu jika ada seseorang yang sudah memindahanku. Namun, di saat aku mendapatkan kesadaran lagi dan bisa membuka mata hanya ada ruangan asing. Aku terkejut kala melihat Yasmin ada di sana. Hampir dua tahun lamanya kami tidak saling berkabar dan tiba-tiba saja ia muncul di hadapanku. Waktu itu dia mengatakan-"
Jasmin menceritakan saat pertemuan pertamanya dengan Yasmin tujuh tahun lalu. Saudara kembar identik itu kembali berhadapan satu sama lain setelah konflik yang terjadi pada mereka.
Yasmin yang tengah berdiri menghadap kaca besar di ruang inap Jasmin membalikan badan dan menyunggingkan senyum manis kala pandangan mereka saling bertemu.
Ia lalu berjalan mendekat dan tepat berdiri di samping ranjang sang adik kembar.
__ADS_1
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Bertahun-tahun aku mengalah untukmu dan bersabar dengan perlakuan orang tua kita. Namun, aku tidak bisa membiarkanmu mati dengan mudahnya setelah hidup bahagia bersama pria yang aku cintai," tuturnya membuat Jasmin mengerutkan kening.
"A-apa maksudmu, Yasmin?" cicitnya lemah.
"Yasmin Zakkiyah sudah mati. Kamu dengar YASMIN ZAKKIYAH sudah mati. Sangat menyenangkan bukan hidup bersama pria yang kamu cintai menggunakan identitas orang lain? Aku yang harus menanggung semuanya. Aku yang harus merasakan sakit bertahun-tahun dan aku-" ucap Yasmin menggebu-gebu dan menjeda perkataannya lalu mencondongkan tubuh tepat di depan wajah Jasmin.
"Aku yang harus mengubur semua cita-cita yang tidak bisa didapatkan. Aku harus merelakan satu-satunya kebahagiaanku, yaitu Azam pria yang sangat aku cintai untuk bersanding denganmu. Aku tidak bisa membiarkan hidupmu dan dia begitu mudah. Aku akan menghancurkan kebahagiaan kalian dan merasakan sakit seperti yang aku rasakan." Seringaian hadir memungkas ucapannya sarat akan keyakinan.
Jasmin menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha bangkit dari tidur. Namun, ia tidak bisa kala rasa sakit disekujur tubuh menahannya untuk tetap berbaring.
"Aku minta maaf sudah mengambil kebahagiaanmu. Waktu itu aku sudah menolak permintaan ayah dan mamah untuk menikah dengan mas Azam, tetapi mereka-"
"Karena mereka terlalu menyayangimu dan mengabaikan kebahagiaanku. Itukah yang dinamakan orang tua? Untuk itu aku akan membiarkanmu melihat kebahagiaan dia yang akan lenyap begitu saja," ujarnya lagi serius.
Ia yang dari dulu sudah sakit-sakitan mendapatkan perhatian lebih. Namun, ia juga tidak setuju jika mereka harus mengabaikan kebahagiaan Yasmin. Ia sangat menyayangi kakak kembarnya tersebut dan tidak mau ada konflik seperti sekarang, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Waktu tidak bisa diulang kembali untuk memperbaiki keadaan.
"Ja-jadi apa yang ingin kamu lakukan padaku sekarang? Kenapa aku ada di sini? Bagaimana dengan mas Azam dan istri barunya, Alina?" tuturnya.
"Aku membawamu jauh dari mereka. Sekarang kita ada di luar negeri dan kamu sudah mendapatkan donor sumsum belakang. Aku tidak bisa membiarkanmu mati begitu mudah. Kamu harus melihat kehancuran mereka," ungkapnya membuat Jasmin melebarkan pandangan.
"Tidak ... kamu tidak boleh menghancurkan kebahagiaan mereka. Biarkan mas Azam dan Alina bahagia, aku ingin melihatnya seperti itu. Alina sudah banyak membantuku selama ini ... aku mohon jangan mengganggu kebahagiaannya," ucap Jasmin tersedu menahan tangis yang kian membuncah.
"Jangan bersedih aku yang akan membuka mata hatinya untuk melihat kebenaran. Jika Azam sangat mencintai Yasmin bukan Alina," tegas Yasmin lagi. "Selamat beristirahat, akan ada banyak waktu bagimu untuk membalas semua yang sudah aku berikan."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Yasmin pergi dari ruang inapnya membuat Jasmin menangis sejadi-jadinya. Ia tidak menyangka jika pertemuannya dengan sang kakak membuahkan malapetaka baru. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya.
...***...
"Selama tujuh tahun ini aku dipaksa membantunya," ucap Jasmin lagi.
"Jadi selama ini Mbak menggunakan namanya? Dan nama Mbak sebenarnya adalah Jasmin Zakkiyah? Lalu selama tujuh tahun Yasmin menyembunyikan Mbak di luar negeri dan baru kembali ke sini?" tanya Alina beruntun.
Jasmin mengangguk mengiyakan dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia menengadah menatap langit-langit ruangan yang beberapa bulan ini sudah menanunginya.
"Mbak hidup bersama mas Azam dalam bayang-bayang Yasmin. Selama tujuh tahun Mbak selalu membantunya untuk membuat desain interior. Hingga ia menemukan sekertaris Azam berada di negara yang sama dengan kami. Yasmin sengaja berada di salah satu event yang didatanginya untuk melancarkan rencananya. Tidak Mbak duga semua berjalan lancar, sampai ia bertemu dengan mas Azam. Dia-"
"Yasmin bahkan sudah menikah dengan mas Azam," potong Alina cepat.
"APA?" Jasmin berteriak begitu saja.
Alina mengangguk memastikan kebenaran tersebut. "Sudah setengah tahun Yasmin menjadi maduku. Entah kenapa keadaan kami sekarang berbalik. Aku ... aku juga ingin berterima kasih padanya. Karena berkat Yasmin aku bisa membuka mata jika mas Azam tidak akan pernah bisa mencintaiku," tuturnya kemudian.
Jasmin mengeleng singkat dan langsung menggenggam tangan Alina erat. "Tidak Alina, kamu keliru. Mas Azam dari dulu memang mencintaimu. Sejak pertemuan kalian untuk pertama kali setelah bertahun-tahun mas Azam sering menceritakanmu. Dia-"
"Tidak Mbak, mas Azam tidak mencintaiku. Dia sangat mencintai Mbak Yasmin yang ada dalam diri Mbak," ucapnya lagi.
Senyum manis itu pun semakin menegaskan jika ucapannya benar adanya. Jasmin hanya termangu menatap luka yang tersimpan apik dalam sorot matanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Alina," bisiknya dalam hati.