
Hari terus berganti, jam berjalan kembali memenuhi tugas sebagai pengingat waktu. Episode demi episode kehidupan meniti dan berlanjut guna menempuh akhir yang baik.
Tidak terasa masa iddah Alina sudah habis, selama itu pula baik Zaidan maupun kedua orang tuanya tidak pernah absen menghubunginya. Terkadang mereka datang langsung ke kediamannya guna menunjukan kembali keseriusan.
Selama proses tersebut, Raihan semakin akrab dengan mereka. Jauh dari lubuk hatinya paling dalam Alina bahagia, masih ada orang-orang yang begitu menghargai keberadaannya. Terutama pada sang buah hati.
Tidak mudah untuk menyayangi anak orang lain dan menerimanya sebagai keluarga. Itulah yang selalu Alina khawatirkan. Membuka hati untuk yang baru tidak semudah membalikan telapak tangan, ia hanya menginginkan kebaikan untuk Raihan.
Gelak tawa terdengar begitu renyah di saat pria dewasa di depan matanya tengah bersama sang putra. Raihan sangat senang bermain kejar-kejaran dengan Zaidan. Sang pengusaha terus mencoba mendekatkan diri pada anak wanita yang dicintainya.
Ia tulus menyayangi Raihan seperti putranya sendiri. Karena baginya apa yang dimiliki Alina akan ia hargai sepenuh hati, termasuk anak semata wayangnya.
"Baru kali ini Mamah melihat Zaidan senang dengan anak kecil. Aura sebagai orang tua menguar darinya, Mamah senang dia bisa bertemu dengan wanita yang bisa merubahnya," tutur wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusia senjanya.
"Nyonya?" Sapa Alina seraya mengangguk pelan.
Moana duduk di sebelah sambil memandanginya lekat. Senyum di bibir merahnya mengembang sempurna melihat sopan santun yang Alina layangkan.
Tangan hangat itu kembali menggenggam jari jemarinya erat. Alina tersentak dan memandang bola mata berlensa cokelat terang di sampingnya.
"Jangan terlalu formal seperti itu, Sayang. Jangan terlalu kaku, anggap saja Mamah seperti ibumu sendiri. Mulai sekarang panggil Mamah yah, entah itu kamu menerima lamaran Zaidan atau tidak ... Mamah ingin kamu menganggap Mamah layaknya ibu sendiri."
Perkataan tulus nan ikhlas tersebut sampai ke dalam hati Alina menarik embun untuk keluar. Setetes cairan bening mengalir membuatnya menunduk lagi.
Tangan kanan Moana terulur menangkup pipi kemerahan Alina dan menariknya untuk saling bertatapan.
"Jangan alihkan pandanganmu, Sayang. Kenapa kamu menangis?" tanyanya penasaran.
Alina memaksakan menarik sudut bibirnya pelan lalu menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Saya-"
__ADS_1
"Ingat apa kata Mamah tadi? Jangan terlalu formal!" tegas Moana membuat Alina terkikik.
"Maaf, aku hanya terharu. Karena baru sekarang ada seseorang yang mengatakan seperti itu padaku. Selama ini aku tumbuh di panti asuhan dan dibesarkan oleh ibu panti dan ... tidak tahu siapa orang tua kandungku. Waktu itu ibu panti hanya menunjukan fotonya saja, mereka terlihat tampan dan cantik, tetapi-" Suara Alina bergetar menahan tangis yang tiba-tiba saja merebak dalam dada.
"Aku tidak bisa merasakan kasih sayang dari mereka. Aku tidak tahu bagaimana rasanya di dekap, di perhatikan serta dicintai oleh orang yang aku panggil mamah dan ayah. Selama aku berada di panti tidak ada orang yang mau mengadopsiku. Hanya ibu panti yang selama ini aku panggil ibu. Aku-"
Moana langsung menghentikan ucapannya dengan menarik pelan tangan Alina dan memeluknya erat. Belaian di punggungnya membuat sang empunya semakin menangis begitu deras.
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan perceraian ini. Karena tidak ingin membuat Raihan kehilangan kasih sayang, aku egois. Aku ibu yang sangat egois ... yang hanya mementingkan perasaan sendiri. Aku-"
"Syut, tidak Sayang. Kamu ibu yang luar biasa, Raihan pasti bangga sudah lahir dari wanita hebat sepertimu. Karena kamu sudah menunjukan kebaikan pada Zaidan yang bahkan kami sebagai orang tuanya tidak pernah memberikan itu. Terima kasih, sudah hadir dalam kehidupan kami. Mamah beruntung bisa bertemu denganmu," jelas Moana semakin membuat Alina terisak.
"Sayang," panggilnya.
"Iya?" jawab Alina.
Beberapa detik ia terdiam masih dengan posisi yang sama. Sampai, "Mamah." Panggilan itu tidak hanya membuat Moana terkejut tetapi Alina juga.
Bagaikan aliran listrik mengalir di sekujur tubuh, Alina terpaku atas apa yang diucapkannya. Wanita asing, seseorang yang tidak pernah ia temui sebelumnya, kini memintanya untuk diakui sebagai ibu baginya.
Kebahagiaan itu memuncak membuat sekujur tubuh bergetar. Perasaan yang dulu sempat hilang seketika datang menerjang. Mimpinya untuk bertemu dengan ibu kandung sudah tergantikan berkat kehadiran Moana.
Alina terus menangis dan semakin merapatkan pelukannya. Air mata sudah menganak bagaikan sungai menandakan perasaan terdalam.
"Terima kasih, Mamah," ujarnya lagi.
"Tidak usah berterima kasih, Sayang. Mulai hari ini kamu dan juga Raihan sudah menjadi bagian dalam keluarga Zulfan."
Alina kembali tertegun tidak percaya. Kata-kata itu mengudara tanpa mendapatkan balasan apa pun. Masih ada keraguan dalam dirinya untuk bisa menerima pernyataan tersebut.
__ADS_1
...***...
"Kamu tahu, orang yang paling berarti dalam hidupku adalah ibu dan ayah. Aku terharu melihat kalian tadi berpelukan dan menangis seperti itu. Orang paling aku hargai dan orang yang paling berarti tengah bersama, kamu tahu kan bagaimana rasanya? Aku sangat bahagia," tutur Zaidan yang tengah membantu Alina mencuci piring setelah mereka menikmati makan malam bersama.
Ada jarak yang memisahkan keduanya, Alina terdiam beberapa saat mendengar penuturan Zaidan. Pria di sebelah merupakan seseorang yang begitu tulus dan sangat menyayangi kedua orang tuanya.
"Em, Mas sangat beruntung bisa mempunyai orang tua seperti mereka. Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak. Karena sudah mempertemukan aku dan Raihan kepada orang tua Mas Zaidan. Aku sangat menghargainya," balas Alina.
"Tidak usah berterima kasih, itu memang sudah menjadi tugasku. Karena aku ingin menghalalkanmu, Alina. Sudah satu minggu dari masa iddahmu berakhir, lamaranku waktu itu ... apa jawabanmu? Aku siap dengan semua yang akan kamu katakan," kata Zaidan mengingatkan.
Seketika Alina benar-benar diam, pupilnya melebar dan memandangi busa di telapak tangan. Pikirannya seketika buntu tanpa ada kata yang terucap.
Bayangan kejadian demi kejadian kemarin terus hinggap dan bersinggungan. Sampai Zaidan datang ke dalam hidupnya memberikan warna berbeda.
Ada getaran dalam jiwa membuat jantungnya berdetak tak kendali. Darahnya berdesir ke sekujur tubuh menimbulan rona kemerahan di wajah ayunya.
Zaidan menoleh sekilas dan tersenyum hangat, "jika masih kamu pikirkan tidak usah dijawab dulu. Aku-"
"Bisakah, aku memberikan jawabannya di hadapan orang tuamu, Mas? Aku ingin semua orang mendengarnya," pinta Alina tanpa mengalihkan pandangn.
Denyut jantung Zaidan berpacu tak karuan, ada perasaan tidak enak menyentuh sanubari. Dengan ragu ia mengangguk pelan.
"Em, lakukan apa yang membuatmu nyaman."
Alina pun mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Dalam diam Zaidan terus beristighfar mencoba menenangkan diri dengan apa yang akan terjadi nanti.
Siap tidak siap ia harus menerima apa pun yang sudah menjadi keputusan Alina. Ia akan menghargainya dan memasrahkan semuanya pada Allah semata.
...Bersambung......
__ADS_1