
Musim penghujan hadir memberikan udara dingin nan lembab. Aroma tanah yang menguar menjadi ciri khas setelah air dari langit pergi. Masih dengan awan kelabu setia bertengger di cakrawala, sang raja siang enggan untuk keluar dan bersembunyi di baliknya.
Kebersamaan suami istri yang berada dalam situasi tidak baik-baik saja itu pun masih berada dalam satu waktu. Jam terus berdetak memenuhi tugas sebagai penanda jika hari semakin berlalu. Sudah banyak kisah maupun episode menegangkan terjadi, bersama dengan air mata mengambang Alina yakin dengan keputusan terbaiknya.
"Tidak bisakah kamu melepaskanku? Pergilah Mas, mbak Yasmin menunggumu."
Azam melonggarkan pelukan di perut sang istri dan mendongak menatap ke dalam manik kelabu di sana. Kesedihan nampak apik berlabuh membuat Alina menoleh ke samping menghindari tatapannya. Azam semakin menunduk menyesali semua perbuatannya.
"Sebenci itukah kamu padaku, Al? Aku tahu sudah banyak menorehkan luka di hatimu, tapi tidak adakah kesempatan kedua untukku memperbaiki semuanya?"
Suara lirih nan lemah itu pun menelisik indera pendengaran, Alina melihatnya sekilas dan meyakinkan diri untuk tidak goyah.
"Sudah terlambat, bukankah Mas sendiri yang tidak mengakui anak ini darah dagingmu? Lantas buat apa kita kembali bersa-"
"Aku tahu.....aku tahu... aku sudah membuat kesalahan yang sangat fatal. Aku menyesalinya dan ingin memperbaki semuanya. Aku termakan omongan orang lain sampai membuat kita seperti ini. Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf."
Kata maaf terus terlontar bergema dalam toko kue tersebut. Tanpa mereka sadari Angga sedari tadi menyaksikan kebersamaan keduanya. Senyum lemah pun terpendar, seraya menggeleng singkat ia melangkah masuk.
Suara lonceng di pintu mengejutkan, Azam mengangkat kembali kepalanya dan menoleh ke samping. Begitu pula dengan Erina yang menatap kedatangan dokter muda tersebut.
"A...sepertinya aku mengganggu kalian," ucap Angga tersenyum manis kepada keduanya.
"Angga? Mau apa kamu ke sini?" sulut Azam tidak terima kala mendapatkan orang ketiga di tengah-tengah kebersamaannya dengan sang istri.
Angga melipat tangan di depan dada memandang sang sahabat lekat.
"Apa salah aku mengunjungi toko kue dari istri sahabatku sendiri?"
Pertanyaan tersebut seketika menyadarkannya, Azam terlalu overprotektif terhadap istrinya. Ia gelagapan dan melihat ke sembarang arah berusaha bersikap tenang.
"Alina, aku pesan kue seperti biasa, yah," kata Angga lagi.
__ADS_1
Buru-buru Alina beranjak dari sana meninggalkan keduanya. Azam terdiam merasa kosong dan hampa menamparnya keras setelah kepergian sang istri. Lagi dan lagi Angga tersenyum dan mendaratkan diri di kursi kosong masih dengan memperhatikan sang sahabat.
Azam pun kembali menarik diri dan duduk berhadapan dengannya.
"Sepertinya kamu benar-benar menyesal, yah?"
Pertanyaan atau sindirian itu pun mengenai ulu hati paling dalam. Azam menatapnya sekilas dan menunduk. Angga mencondongkan tubuh ke depan seraya menautkan kedua tangan di atas meja. Melihat sang sahabat terpuruk untuk kesekian kalinya sudah tidak asing lagi. Namun, ini pertama kali ia melihatnya seperti itu untuk wanita lain.
"Apa kamu sudah melupakan Yasmin?"
Azam kembali mendongak mendapati pandangan penuh tanya sekaligus penasaran dari sang dokter.
"Bagaimana bisa aku melupakannya?"
Angga menyeringai dan bersandar di kursi kayu tersebut.
"Jika aku boleh bertanya, di antara kedua istrimu. Siapa yang akan kamu pilih, Yasmin atau Alina?"
Alina bagaikan angin di musim panas yang memberikan kesejukan. Setelah hujan datang angin itu tidak dibutuhkan lagi dan menyisakan badai memberikan kepedihan.
"Kamu tidak bisa memilih?"
Angga mengangguk mengerti, "kenapa?" tanyanya lagi.
"Aku tidak bisa memilih salah satu dari mereka. Bagiku keberadaannya sangatlah berarti, baik Yasmin dan Alina mempunyai hak istimewa di hidupku. Allah menghadirkan keduanya dengan tujuan tertentu. Aku percaya takdir-Nya tidak pernah salah. Dan aku berharap mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki rumah tangga kami."
Alina yang tengah menyiapkan pesanan Angga pun seketika menghentikan gerakannya kala samar-samar mendengar perkataan sang suami. Jantungnya kembali berdegup kencang dengan darah mendesir hebat. Ia tidak percaya kata-kata itu meluncur dari bibir menawan Azam.
Awan gelap menghilang berganti dengan langit biru cerah membentang, suara pesawat yang melintas bergema di atas cakrawala. Seperti halnya film, bayangan beberapa bulan ke belakang berulang tanpa peringatan. Dalam diam Alina terus mendengarkan perkataan mereka.
"Andai saja kamu mengatakannya dari dulu, mungkin tidak hanya kesempatan kedua yang Alina berikan, tapi juga sepenuh hidupnya. Selama empat bulan mengenalnya, aku tidak pernah mendapati ia mengeluh ataupun menyerah. Meskipun aku tahu ia menyembunyikan luka, tapi begitu apik menampilkan senyuman seolah semuanya baik-baik saja. Dia terlalu baik untukmu yang pemarah."
__ADS_1
Kata demi kata yang meluncur mengantarkan ketidakberdayaan. Azam menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan lalu menoleh ke samping melihat jalanan lewat kaca besar. Tanpa adanya angin yang menggerakan pepohonan ketenangan tercipta mengenyahkan kegundahan dalam dada. Ia sadar sudah terlalu dalam memberikan luka tak kasat mata untuk istri keduanya.
Tidak lama berselang iris kecoklatannya melebar seolah melihat ilusi kebersamaannya dengan sang istri dan juga bayi yang berada dalam kandungan Alina. Gelak tawa terdengar renyah menendang indera pendengaran, Azam hanyut dalam imajinasi tak bertepi.
Angga tertawa ringan menyaksikan sang sahabat.
...***...
"Sudah saya bilang atur saja semuanya, kamu sekertaris saya jadi lakukanlah dengan baik."
Azam mematikan ponsel seraya menggerutu tidak jelas. Alina yang tengah membereskan gelas-gelas keramik di belakang etalase mengerutkan dahi dalam. Ia mendongak menangkap punggung tegap sang suami yang telihat tengah menahan emosi.
Sedetik kemudian ia menoleh dan tersenyum manis ke arahnya seolah tidak terjadi apa-apa. Alina gelagapan dan menghindari tatapan itu.
"Tadi sekertarisku menelpon," ucapnya berjalan mendekat.
"Sekertaris? Zara? Ah, apa yang aku pikirkan. Sudah bukan urusanku lagi, lupakan-lupakan," benaknya.
Keheningan menari indah dalam keterdiaman keduanya. Alina menyibukan dir dengan pekerjaan tanpa mengindahkan tatapan sang suami. Jarum jam yang terus berdetak berdengung menjadi musik klasik pengantar perasaan dalam dada.
Azam menyadari jika istri keduanya sangat menawan, jauh dari lubuk hatinya paling dalam cinta hadir bermuara menggetarkan diri. Kesadaran akan rasa itu terlalu lambat hadir hingga kini keadaan tidak lagi sama. Ada sekat pembatas meskipun mereka masih terikat janji suci pernaikahan.
"Aku mencintaimu, Alina."
Degup jantung bertalu kencang, perlahan ia menarik diri dari lamunan dan menatap ke dalam iris suaminya. Di sana ia mendapati kejujuran dan ketulusan terpancar, tanpa ada kata terucap Alina menyaksikannya dengan penuh luka.
Cairan bening mengalir di wajah tampan Azam membuatnya tercengang. Ini pertama kalinya ia melihat air mata penyesalan hadir di sana.
"Bisakah........bisakah kita tidak usah bertemu lagi?"
Pertanyaan tersebut mengenai tepat sasaran, Azam termangu dengan rasa sakit terus menamaparnya kuat.
__ADS_1