
Kata cerai yang semalam sang suami lontarkan terus terngiang dalam ingatan. Alina sama sekali tidak bisa tidur dan terus terjaga di kamarnya. Aqeela yang berada di tangan sang ayah membuat ia semakin kesepian. Biasanya keberadaan bayi itu bisa sedikit mengikis kepedihan.
Bagaikan mimpi buruk, Alina tidak menyangka kejadian menyakitkan itu menimpanya begitu cepat. Menjadi istri kedua tidak semudah yang ia pikirkan. Dari awal pernikahan saja, ia sudah menjadi omongan orang-orang. Dan sekarang bertambah parah dengan kebencian yang dilayangkan suaminya.
Bahkan sampai detik ini ia masih belum melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia seperti boneka yang dimainkan seenaknya oleh dalang. Ia layaknya layang-layang yang ditarik ulur tanpa kepastian. Ia sudah mengetahui akhir dari pernikahannya. Perceraian mungkin saja bisa terjadi.
"Astaghfirullah hal adzim, apa yang kamu pikirkan Alina? Meskipun Mas Azam tidak menyukaiku, tapi Allah membenci perceraian. Bismillah, aku pasti bisa melewati ini semua. Aku harus berkata jujur dan meminta maaf."
Setelah berceloteh Alina pun beranjak dari kamarnya.
Keadaan dalam bangunan berlantai dua itu terasa kosong. Alina tidak mendapati suara Aqeela atau Azam di sana. Ia pun melangkahkan kakinya ke belakang rumah, samar-samar terdengar orang tengah berbicara. Ia semakin mempercepat jalannya lalu menangkap sang suami tengah berbicara dengan seseorang di tepi kolam renang dengan kereta bayi berada di tengah-tengah mereka.
"Kamu mengerti? Mulai sekarang kamu bekerja di rumah ini sebagai babysitter Aqeela."
Kata-kata Azam membuat Alina terdiam kaku seraya terus memandangi mereka bergantian. Ia bisa melihat wanita berhijab putih itu mengangguk patuh.
"Ma-mas, apa yang terjadi?" tanya Alina langsung.
Azam dan wanita itu pun mengalihkan perhatiannya pada Alina. "Mulai hari ini Sarah yang akan mengurus Aqeela." Setelah mengatan hal tersebut Azam pergi dari hadapan kedua wanita itu.
Alina mematung di tempat terkejut mendengar penuturan sang suami. Ia lalu berjalan menyusul Azam yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Tunggu, Mas. Apa yang Mas katakan tadi? Ke-kenapa Aqeela harus diurus sama Sarah? Aku ini juga ibunya, Mas," ucap Alina tidak mengerti.
Azam menutup kembali pintu kendaraan roda empat itu sampai suaranya berdengung. Alina mendongak melihat ke dalam manik kecoklatan sang suami. Azam pun menunduk membalas tatapan istri keduanya.
Sorot mata tajam membuat Alina sedikit bergidik. Perkataan semalam pun hinggap kembali dalam ingatan. Sekuat tenaga ia bertahan untuk mendengar penjelasannya.
"Saya tidak mau mempercayakan Aqeela pada orang sepertimu. Istri saya saja terbaring di rumah sakit gara-gara siapa? Kamu!!" Azam menunjuk tepat di depan wajah Alina.
Wanita itu tersentak dan melebarkan pandangannya tidak percaya. "A-aku tidak melakukannya Mas. Ini hanya salah paham. Percayalah, aku tidak mungkin mencelakai Mbak Yasmin." Alina pun mencengkram lengan kiri suaminya.
__ADS_1
Seketika itu juga Azam menghempaskannya membuat Alina kembali terdorong ke belakang. Seperti ada kotoran yang menempel, pria itu mengusap-ngusap jasnya yang tadi dicengkram Alina.
"Jangan pernah menyentuh saya!!" tegas dan jelas ucapan yang dilayangkan Azam membuat Alina diam membeku.
Bersama angin pagi ini sosoknya menghilang dalam pandangan. Azam pergi menyisakan luka batin lagi. Alina tidak menyangka jika perjalanan rumah tangganya akan penuh cedera. Tidak terlihat, tetapi begitu mematikan. Tidak nampak, tapi seperti ada darah yang mengalir.
Lagi dan lagi air mata menganak bagaikan sungai di pipi bulatnya.
"Aku tidak percaya jika hal ini menimpa padaku." Alina mendongak melihat langit kelabu hari ini, "Ya Allah jika memang rumah tangga kami berjalan seumur hidup maka kuatkan hamba untuk mengemban semua ini. Peran ganda yang hamba lakoni semoga bisa berjalan baik-baik saja. Hamba mohon semoga kesalah pahaman yang terjadi pada Mbak Yasmin bisa segera berakhir dan Mas Azam terbuka hatinya untuk menerima hamba."
Kata-kata yang sarat akan pengharapan begitu mendalam teruntai dan terucap dalam bibir ranum Alina.
Sepeninggalan Azam, Alina pun kembali mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri. Ia tidak peduli jika sang suami masih belum mau menerimanya. Ia hanya melakukan yang terbaik dengan status barunya.
Alina menoleh ke arah ruang tamu di mana babysitter yang baru dipekerjakan oleh Azam hari ini tengah menggendong Aqeela di sana. Rasa rindu akan sosok bayi mungil dalam dekapannya begitu mendera. Naluri sebagai seorang ibu menuntun Alina untuk mendekat.
"Apa saya boleh menggendongnya? Hanya sebentar saja," ucapan Alina membuat Sarah menoleh.
"Tapi saya ini juga ibunya. Saya berhak untuk menggendong Aqeela."
"Maaf saya hanya menjalankan perintah Tuan saja, Mbak. Saya tidak mau menimbulkan masalah di hari pertama kerja."
Alina hanya bisa menghela napas pasrah tidak ingin merepotkan Sarah juga. "Baiklah," hanya itu yang bisa ia katakan lalu pergi begitu saja.
...***...
Azam sudah kembali ke rumah sakit setelah membereskan pekerjaan di perusahaannya. Ia terburu-buru datang ke sana tidak sabar ingin bertemu dengan sang istri saat mendengar kondisinya dari dokter. Senyum mengembang kala wanita yang dicintainya sudah membuka mata.
Yasmin pun sedang duduk seraya bersandar di kepala ranjang. Azam masuk ke dalam dan seketika tatapan mereka bertemu.
"Assalamu'alaikum, Sayang aku datang." Ucapnya sambil membubuhkan kecupan hangat di dahi.
__ADS_1
Yasmin tersenyum lemah menerima perlakuan sang suami.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?"
Azam beralih duduk di sofa tunggal samping tempat tidur dan menggenggam tangan Yasmin erat. Istrinya pun membalas hal yang sama kemudian mengangguk singkat.
"Alhamdulillah, lumayan," balasnya singkat.
"Aku minta maaf. Karena membiarkanmu seperti ini dan membiarkan Alina mencelakaimu."
Mendengar perkataan Azam, Yasmin mengerutkan dahi bingung. "Apa yang Mas katakan? Alina sama sekali tidak mencelakaiku."
Azam mendongak melihat ke dalam iris sayu sang pujaan hati. "Sebelum kamu kritis Alina memberikanmu makanan setengah matang atau mentah, kan? Aku mendengarnya dari dokter tadi malam."
Sekilas kedua mata Yasmin melebar, ia tidak menyangka jika apa yang terjadi bisa menimbulkan masalah besar. Kepala berhijab itu menggeleng seraya mengeratkan genggamannya.
"Alina tidak bersalah, Mas. Aku yang memintanya untuk membuatkan makanan itu. Mas tahu sendirikan jika aku suka sekali dengan telur? Makanaya aku menyuruh Alina. Aku minta maaf, karena sud-"
"Apa yang kamu katakan, Yasmin?! Kamu mau meninggalkanku dengan memakan makanan itu? Dokterkan sudah memperingatkanmu, kenapa bisa dilanggar hah?" Azam terlihat emosi napasnya naik turun tidak karuan.
Yasmin terkejut dan seketika mengeluarkan air mata, melihat itu Azam kelabakan berusaha mengontrol dirinya. Ia lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan lalu memeluk sang istri erat.
"Aku minta maaf sudah membentakmu tadi. Aku hanya tidak ingin melihatmu kesakitan seperti ini dan aku mohon jangan lakukan itu lagi. Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu."
Yasmin merasakan tubuh suaminya bergetar. Ia tahu jika Azam tengah menangis dalam diam dan membalas pelukan itu.
"Aku benar-benar minta maaf. Dan jangan salahkan Alina lagi. Dia wanita yang sangat baik dan bisa menggantikanku kapan saja."
"Jangan berkata seperti itu."
Setelahnya tidak ada lagi percakapan apapun di sana. Azam terdiam memikirkan perlakuannya tadi malam dan juga pagi tadi. Ia begitu kasar terhadap istri keduanya. Tidak seharusnya ia melampiaskan amarah dan ketakutan pada Alina. Wanita itu sama sekali tidak bersalah, Azam terlalu terbawa emosi yang mendera dirinya. Ia sangat takut jika harus kehilangan sang istri. Rasa cintanya untuk Yasmin sangatlah besar.
__ADS_1