
Jalinan kisah kasih yang terasa manis kini tengah menimpa keduanya. Kepahitan yang pernah menyerang diri masing-masing perlahan berganti dengan kedamaian. Aroma cenda menyebar memberitahu semua orang jika cinta tengah bergelora.
Hal itu juga yang membuat Sarah mematung dalam diam seraya menggendong Aqeela. Ia yang menemani putri dari tuannya di rumah keluarga almarhumah Yasmin pun terpaku kala netranya menyaksikan pemandangan suami istri tersebut. Jam masih menunjukan pukul tujuh pagi, tapi ia sudah merasa kegerahan.
"Assalamu'alaikum, pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan mencolok begini, apa Tuan dan Nyonya tidak kasihan padaku?"
Suara melengking seorang wanita mengejutkan keduanya. Alina dan Azam saling menjauhkan diri masing-masing dan menoleh ke samping yang disambut sambutan hangat dari seseorang. Seketika Alina melebarkan mata terkejut kala mendapatinya di sana.
"Wa-wa'alaikumsalam, Sa-sarah, sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Alina gelisah.
Sarah yang tengah mendekap Aqeela mengembangkan senyum dan menyipitkan kedua mata. Kejahilan pun nampak jelas di wajah cantik itu kala mendapati Alina tengah menahan malu. "Eum, sudah dari tadi aku berdiri di sini, mungkin sejak kalian berciuman?" jawab Sarah seraya meletakan ibu jari dan jari telunjuknya di bawah dagu. "Aku tahu kalian sudah halal dan menjadi sepasang suami istri yang sah, tapi bukankah sangat keterlaluan memperlihatkannya padaku yang masih sendirian?" celoteh Sarah kemudian.
Seketika itu juga wajah ayu itu merah padam dan menunduk dalam. Azam pun menarik sang istri ke dalam pelukan dan menyembunyikan Alina di dada bidangnya. Sorot mata serius memandangi Sarah membuatnya tersenyum tidak bersalah.
"Kamunya saja yang datang kecepetan, seharusnya kamu tahu keadaan kami," jawab Azam membela diri.
Sarah tertawa ringan dan memandangi tuannya lekat, "Tuan bisa saja membela diri. Emm ... bukankah sangat menyenangkan melihat wajah memerah Mbak Alina? Ya Allah imutnya," ucap Sarah kembali. Alina semakin membenamkan mukanya tidak sanggup bersitatap dengan siapa pun.
"Ah ... iya kamu benar juga," balas Azam seraya mengeratkan pelukannya hangat, tidak memberikan akses pada siapa pun untuk melihat sang istri.
Sarah kembali tertawa menyaksikan keharmonisan pasangan suami istri di depannya. Beberapa saat kemudian tercipta keheningan mendera. Dalam diam ia melengkungkan bibirnya dengan ketulusan memancar.
__ADS_1
"Aku senang pada akhirnya Mbak Alina dan Tuan Azam bisa kembali bersama. Semoga pernikahan kalian bahagia selamanya, aku harap setelah ini tidak ada apa pun lagi. Aku turut bahagia untukmu, Mbak."
Setelah mengatakan itu Sarah meninggalkan keduanya, seraya menarik koper berukuran sedang ia menghilang di balik pintu kamar Aqeela. Kata-kata yang baru saja menelisik indera pendengaran membuat Alina terpaku. Ia mendorong dada sang suami pelan dan menoleh ke tempat Sarah menghilang, kedua celah bibirnya terangkat sempurna.
"Terima kasih," ucap benaknya.
"Sayang," panggilnya.
Azam menangkup kedua pipi Alina hangat membuat sang empunya kembali mendongak. Tatapan mereka saling bertemu lagi menyelam dalam keindahan masing-masing. Tanpa mengatakan sepatah kata Azam membubuhkan kecupan mendalam di dahi lebarnya. Alina terpaku dan menutup kedua mata erat menikmati setiap sentuhan yang dilayangan sang suami.
Lega, lapang, plong menghinggapi diri. Berbagai permasalahan yang terjadi menghiasi rumah tangganya kini perlahan menghilang. Hari kemarin dijadikan batu loncatan untuk menjadi lebih baik lagi. Alina berpikir jika sudah tidak ada kesempatan untuknya memperbaiki hubungan mereka, tetapi, nyatanya Allah mempunyai rencana lain untuk kebaikan rumah tangga mereka.
"Aku ingin memberi nama anak kita Raihan Ghaffar Zabran, yang artinya laki-laki lembut yang selalu menebar keharuman serta kuat dalam menghadapi kehidupan. Aku ingin dia menjadi anak yang bisa melindungi keluarganya," ucap Azam kemudian.
"Apa kamu setuju?"
"Aku sangat setuju, namanya cantik sekali. Aku suka," balas Alina masih menundukan wajahnya.
Azam pun mengangkatnya pelan membuat Alina mendongak lagi. "Jangan pernah kamu menundukan pandangan, lihat aku. Di sini aku akan mencintaimu sepenuhnya, air mata yang sudah jatuh kemarin atas kesalahan terbodohku, akan kubuat menjadi kebahagiaan. Kamu mau di sini bersamaku menghabiskan sisa hidup hanya untuk keluarga kita?" Kembali tawaran yang Azam layangkan mengandung keharuan membuat liquid bening terus mengalir.
"Dari dulu itulah yang aku harapkan, terima kasih sudah menawariku. Aku sangat bersedia sekali," balas Alina yakin.
__ADS_1
Azam menariknya kembali ke dalam pelukan. Kata-kata terima kasih terus tercetus dalam bibir menawannya. Kini lembaran baru tengah terbuka kesedihan kemarin tertinggal bersama ketulusan yang terpancar. Kali ini Alina merasakan sang suami benar-benar mencintainya, mulut ranumnya pun melengkung ikhlas menerima keadaan.
...***...
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, selesai makan bersama keluarga kecil tersebut tengah menikmati waktu di ruangan pribadi. Alina, Azam, Raihan dan Aqeela berada di atas tempat tidur berkumpul menjalin keharmonisan.
Rumah menjadi istana kebahagiaannya lagi, di dalamnya terdapat harta paling berharga yang tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Canda dan tawa berdengung mengenyahkan kesepian di dalam sanubari. Aqeela yang sudah berumur satu tahun lebih itu pun senang atas kehadiran adik kecil.
Raihan yang berada dalam gendongan Alina pun nampak nyaman melihat kakak dan ayah di hadapannya. Meskipun penglihatannya belum sempurna, tetapi manik beningnya memandangi mereka lekat. Kebahagiaan itu tidak henti-hentinya membuat hati Alina merasa damai, inilah keinginannya dari dulu, membangun keluarga bersama pria yang dicintainya.
Terkadang skenario Allah menyuguhkan epidose-episode mendebarkan serta menyakitan. Namun, di balik itu semua terdapat kebaikan yang tidak pernah disangka-sangka. Alina sebagai peran utama dalam kisah hidupnya merasakan perubahan tersebut.
"Adik ... Han ... tampan," celoteh Aqeela menunjuk Raihan yang mencoba terlelap.
Alina mengulurkan tangan menangkup pipinya dan mengelusnya pelan. "Tampan seperti Ayah, kan?" Seakan mengerti balita tersebut mengangguk seraya tersenyum lebar. "Sekarang kita sudah menjadi keluarga, Mamah akan menyayangimu sama seperti Raihan. Karena Aqeela sudah menjadi anak Mamah juga," lanjut Alina lalu mengecup hangat puncak kepala putri kecilnya.
Aqeela terkikik senang, kehilangan seorang ibu di usia yang sangat muda membuat hati Alina tergugah. Ia yang sudah ditinggalkan ayah dan ibu sejak lima tahun merasakan kepedihan itu kembali. Aqeela masih kecil dan belum mengetahui apa-apa.
Di saat ia masih memberikan ciuman untuk Aqeela, Alina merasakan puncak kepalanya pun diberi kecupan hangat oleh sang suami. Keharuan pun semakin menyeruak, Azam membawa keluarga kecilnya ke dalam dekapan. Kesakitan yang sempat menerjang kini berganti kebahagiaan lain, Allah memang tidak pernah salah menghadirkan seseorang ke dalam kehidupan.
"Mulai sekarang, aku yang akan menjaga kalian. Tidak ada siapa pun yang bisa menganggu keluarga kita. Aku akan berusaha keras untuk membahagiakan kalian, istri dan kedua anakku menjadi harta paling berharga," ucapnya tegas.
__ADS_1
Alina hanya mengangguk singkat dan percaya pada ucapannya. Kehilangan membuat seseorang bisa berubah menjadi lebih kuat ataupun sebaliknya. "Mbak Yasmin ... mungkin sekarang mbak melihat kita di atas sana. Mbak jangan khawatir, sekarang aku yang akan menjaga mereka. Semoga mbak di tempatkan di sisi Allah yang terbaik. Aku sangat mencintai Mas Azam, semoga mbak meridhoi pernikahan kami dengan ikhlas dan terima kasih atas tawaran yang sudah diberikan. Berkat mbak Yasmin aku bisa bersanding dengan pria yang sangat kucintai." Monolog Alina.
..._END Season 1_...