Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 141 (Season 3)


__ADS_3

Kebahagiaan semakin bertambah kala bayi kecil tumbuh di dalam diri. Embun membasuh kegelisahan mengalirkan was-was yang sempat mendera.


Di bawah langit siang yang begitu cerah, Alina mendapatkan berita begitu menggembirakan. Ia terus menerus mengucap rasa syukur kepada Allah atas rahmat yang diberikan-Nya lagi.


Di tengah kelimpahan kesenangan yang dirasakan, Alina tiba-tiba teringat kejadian beberapa jam lalu. Seharusnya ia bisa tersenyum lega bersama suaminya atas kedatangan sang buah hati. Namun, ia harus menelan pil pahit yang memudarkan senyum di wajah cantiknya.


"Mas, Mbak," panggilnya.


Azam kembali menggendong Raihan yang sudah terlelap lalu berbalik menghadap Alina, begitu pula dengan Jasmin. Mereka menatap sang lawan bicara memandanginya bergantian.


"Bisakah ... bisakah kalian menyimpan rahasia kehamilanku? Dan ... bisakah aku menginap di tempat kalian?" Pinta Alina dengan manik berembun.


Jasmin mengulas senyum simpul dan berjalan mendekat. "Jangan sungkan kepada kami, Alina. Bagaimanapun kita sudah menjadi keluarga. Kamu boleh menginap di tempat kami, iyakan Mas?"


Azam mengangguk mengiyakan. "Itu benar, tapi mengenai kehamilanmu ... bagaimanapun juga Zaidan tetap harus tahu. Karena dia ayah dari bayi yang sedang kamu kandung." Jasmin pun setuju perkataan sang suami.


Kini giliran Alina yang mengangguk pelan. "Aku tahu, tapi bisakah kalian memberiku waktu?"


"Tenang saja, kami akan selalu mendukungmu. Kalau begitu ayo pulang, tidak baik ibu hamil kecapean. Kamu harus banyak istirahat." Jasmin kembali menuntunnya menuju parkiran. Alina hanya mengulas senyum hangat dan mengikuti keduanya.


...***...


Zaidan sudah kehabisan akal saat tidak mendapati istri dan anaknya di manapun. Ia pikir Alina akan membawa Raihan pulang ke rumah, tetapi pada kenyataannya mereka tidak ada di sana.


Ia kembali melajukan kendaraan roda empatnya menyesuri jalanan ibu kota. Sesekali ia akan mampir ke masjid terdekat untuk melaksanakan kewajiban dan setelah itu melanjutkan perjalanan.


Hari sudah beranjak sore, jalan raya yang semulai ramai oleh kendaraan perlahan-lahan menyusut. Perasaan tidak enak seketika melingkupi dada, ia takut masa lalu Alina hadir membuatnya memutuskan untuk benar-benar pergi.


"Ya Allah, sayang kamu ada di mana? Kamu sedang tidak enak badan," gumamnya menepikan mobil di pinggir jalan.

__ADS_1


Zaidan kembali mencoba menghubungi ponsel Alina, tetapi lagi-lagi panggilannya sedang berada di luar jangkauan. Ia mengusap wajah gusar melihat pejalan kaki yang hilir mudik silih berganti.


Di tengah kebingungan itu, benda pintar yang masih berada dalam genggaman bergetar. Zaidan terperangah dan melihat nama lain mengirimnya pesan singkat.


Ia membuka dan membacanya yang berisi: "Bisa kita bertemu?" pinta seseorang di sana.


"Kenapa Azam ingin bertemu denganku?" gumam Zaidan tidak mengerti sembari membalas pesannya.


"Maaf, tapi aku sedang tidak bisa bertemu denganmu saat ini," katanya seraya mengetik di atas layar.


Tidak lama setelah pesan itu dikirim, balasan dari Azam pun datang begitu cepat.


"Ini mengenai Alina, aku harap kamu bisa datang ke kafe telaga di dekat mall."


Mendapatan balasan tersebut Zaidan pun bergegas menyalakan kendaraannya lagi pergi dari sana.


Kurang lebih dua puluh menit berlalu, Zaidan pun tiba di kafe tersebut. Buru-buru ia keluar dari mobil mencari sosok Azam.


"Apa yang ingin kamu katakan? Apa yang kamu tahu tentang Alina?" tanya Zaidan to the point.


Azam yang tengah memandang luar terkejut dengan kedatangan Zaidan dengan pertanyaan menggebu-gebu. Ia meoleh ke depan melihat sorot mata khawatir bercampur takut terpancar di sana.


Kedua alisnya menuat heran saat mendapati luka dengan darah mengering di pipi Zaidan. Namun, ia menelan kembali pertanyaan yang membuatnya penasaran dan lebih memilih fokus pada tujuan.


"Tenang dulu, aku memang tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kalian berdua. Saat ini Alina sedang berada di ruamhku, dia-"


Zaidan langsung menyambar ucapan Azam cepat. "Apa? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Alina ada di rumahmu? Apa dia datang pada kalian langsung dan bagaimana keadaannya sekarang? Alina-"


"Tenanglah, Alina baik-baik saja. Untuk semantara waktu dia ingin tinggal di sana." Kini giliran Azam memotong perkataan lawan bicaranya.

__ADS_1


Zaidan menghela napas berat lalu menyandarkan punggung beratnya di kepala kursi. Ia menarik kerah kemejanya yang terasa mencekik. Azam memerhatikan dalam diam dan semakin yakin jika ada sesuatu yang sudah terjadi.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian, tapi lebih baik kamu harus segera menyelesaikannya dengan Alina. Aku takut kejadiaan saat bersamaku teringat lagi ... jujur, aku tidak ingin melihatnya menderita kembali."


Mendengar penuturan tersebut Zaidan menatap bola mata Azam lagi. Penyesalan begitu kentara hinggap di sana. Ia mengulas senyum simpul kemudian mengangguk mengiyakan ucapannya.


"Kamu tidak usah khawatir, apa pun yang terjadi aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Aku akan berusaha membahagiakan Alina, karena ... aku sangat mencintainya," aku Zaidan jujur.


Azam melengkungkan bibir singkat dan menyesap kopinya pelan. "Aku percayakan dia padamu. Aku senang pada akhirnya Alina bisa mendapatkan pria yang benar-benar mencintainya."


"Dulu ... saat kami masih bersama, aku hanya bisa memberikan luka dan luka. Sekarang aku sudah mendapatkan balasan atas apa yang sudah diperbuat. Alina ... dia wanita yang sangat baik, bahkan dia satu-satunya orang yang tulus mencintaiku selama ini."


"Namun, aku malah menyianyiakannya sampai dia pergi meninggalkanku, tapi ... sekarang aku lega dia mendapatkan cinta sesungguhnya. Perasaanku dulu hanya menyakitinya saja, jadi ... untuk itu jangan pernah sakiti dia," tutur Azam panjang lebar.


Zaidan menegakan tubuh lalu meletakan kedua tangan di atas meja. "Em, kamu tenang saja aku pasti akan menjaga dan membahagiakannya."


"Aku percaya padamu."


Di tengah pertemuan kedua pria itu, saat ini Alina hanya bisa duduk diam di balkon kamar. Kediaman Azam yang sudah berbeda dan sedikit lebih jauh dari rumah sebelumnya, membuat ia tidak percaya.


Jika kebangkrutan yang dialami mantan suami sudah membuat Azam merelakan rumah megah di tengah ibu kota. Sekarang sang mantan membawa istri dan anaknya menetap di bangunan sederhana berlantai satu yang memiliki halaman sedikit luas.


Alina berdiam diri di sana memandangi tanaman tumbuh subur memberikan aroma menenagkan. Sesekali tangan yang bertengger di perutanya mengelus pelan. Sekarang ia mendapatkan ada kehidupan baru tengah berkembang di dalam dirinya.


Kedatangan sang buah hati bersamaan dengan perseteruan yang terjadi dalam rumah tangga mereka. Rasa sakit atas ucapan tetua keluarga Zulfan itu pun membuat ia tidak percaya diri untuk bertemu dengan suaminya lagi.


"Harusnya dari awal aku sadar jika ... aku siapa dan mas Zaidan siapa. Kasta kami berbeda, dia berada di atas dan aku di bawah. Kalangan atas tidak mungkin bisa bersama kalangan bawah, meskipun di paksakan akan terus ada perdebatan. Ya Allah, rumah tangga kami baru saja menginjak empat bulan, tetapi ... sudah ada cobaan di dalamnya." Alina menghela napas lelah kemudian menunduk melihat perutnya yang masih rata.


"Tapi, di balik itu juga aku mendapatkan kebahagiaan lain. Terima kasih ya Allah, telah memberikan kembali buah hati ini pada hamba," gumamnya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2