
Di balik awan kelabu, senja hadir mengisi kekosongan di sore hari. Semburat jingga, keunguan menyebur di angkasa luas. Azam, temangu dalam diam menyaksikan drama singkat yang baru saja terjadi. Jantungnya seolah berhenti berdetak melihat betapa akrab sang istri dan sahabatnya.
Ia pun keluar dari mobil dengan langkah tegap serta emosi membuncah. Ia ingin meminta penjelasan pada Angga atas kejadian yang dilihatnya.
Suara nyaring bel di pintu seketika menarik perhatian. Angga dan Alina yang tengah bertegur sapa di meja kasir menatap kedatangan satu sosok tidak diharapkan kedatangannya. Bola mata bulannya melebar sempurna dengan darah mendesir hebat, Alina tidak menyangka sang suami kembali tertangkap pandangan.
Atmosfer di sekitar menjadi tegang dan tak karuan. Angga langsung membubarkan beberapa pengunjung dan menutup toko lebih awal.
Kini hanya ada ketiganya di sana. Azam berjalan mendekati sang istri dengan sorot mata menuntut.
Pandangan dua insan tersebut saling beradu tanpa gentar. Alina hanya menginginkan kebebasan tanpa rasa sakit dari suaminya.
"Apa ini? Apa yang kalian lakukan di belakangku? Jadi, kalian saling mengenal? Kenapa kamu menyembunyikan istriku? Apa hakmu?"
Azam beralih pada sang sahabat dan terus menghujaminya dengan pertanyaan. Seriangain hadir di wajah tampan Angga serta membalas tatapan Azam tak kalah serius.
"Aku tidak menyembunyikannya, tapi menyelamatkannya. Menyelamatkan Alina dari suami yang tidak pernah bisa menghargainya."
Azam tercengang dengan manik melebar. Kata-kata yang terlontar mengantarkan getaran rasa sakit dalam dada. Ia sadar dan berusaha meredam emosi untuk Angga, kebodohannya membuat ia kehilangan Alina. Sekarang takdir kembali mempertemukan dalam bentuk penyesalan.
Kepala bersurai hitam lembut itu pun menunduk dalam menyembunyikan air mata yang berusaha keluar. Dalam diam Alina memperhatikan gerak-gerak sang suami seraya mengepal kedua tangan erat.
"Bukankah lebih baik, Mas pergi? Sudah tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi."
Mendengar penuturan Alina, Azam mendongak menoleh ke samping kanan menatap air muka sang istri yang terluka. Hal tersebut menghunuskan pedang mengoyak perasaan secara perlahan.
Dengan langkah lebar Azam menghampiri Alina.
"Tidak, selama ini aku sudah mencarimu. Aku ingin minta maaf, dan......... aku menyesal."
Alina mendengus menahan kekesalan. Ia kembali dibuat tidak percaya dengan ucapan Azam.
__ADS_1
"Menyesal sudah tidak ada gunanya lagi. Aku lelah dan sudah tidak sanggup hidup denganmu, Mas. Satu bulan lagi, dalam satu bulan kita akan resmi berpisah."
Alina lalu pergi menyisakan kekosongan dan kehampaan menghampiri Azam. Sang pengusaha itu pun jatuh terduduk dengan air mata berlinang. Sikap dingin dan ujaran sang istri yang terlontar menorehkan luka tak kasat mata.
Angga yang menyaksikan kisah pilu keduanya tersenyum masam tidak mengerti dengan jalan pikir sahabatnya sendiri.
"Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya memutar balikan waktu. Alina, wanita yang baik. Meskipun pada awalnya aku tidak setuju kamu kembali menikah, tapi istri keduamu sangat tulus dan ikhlas. Jangan meminta sesuatu hal yang mungkin padanya. Dia sudah terluka dan tidak mudah untuk menerimamu kembali."
Azam hanya diam tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Apa yang dikatakan Angga benar adanya. Semua atas kesalahan yang pernah diperbuat dan kini ia harus menanggung akibatnya.
"Kaca yang sudah pecah tidak bisa kembali utuh. Sama seperti hati yang sudah patah tidak bisa kembali seperti semula. Mengertilah."
Azam pun ditinggal sendirian dengan kesakitan terus membayang.
Sama seperti layang-layang, permainan tarik ulur sebuah perasaan tengah ditangguhkan. Alina tidak menyangka jika waktu tak diharapkan kedatangannya hadir dalam hitungan hari. Ia duduk di tepi tempat tidur memandangi cincin yang tergeletak di atas nakas.
Sudah tidak ada isak tangis dan senyum pun menghilang. Gelapnya malam menghilangkan petang serta kesakitan datang mengikis perasaan.
Alina mengelus perut buncitnya berkali-kali menghilangkan kegelisahan. Ia terus beristighfar dan percaya jika di balik ini semua Allah tengah mengatur rencana yang terbaik untuknya.
Menangis sudah tiada guna, air mata terlalu berharga untuk disandingkan dengan perlakuan kejam menghantarkan kepedihan.
Alina hanya ingin berusaha bangkit dan hidup mandiri tanpa kehadiran sang suami. Ia percaya Allah akan memberikan takdir yang terbaik.
...***...
Awan kelabu masih setia menggantung di atas cakrawala. Sang raja siang enggan untuk keluar dan lebih memilih bersembunyi di balik peraduan. Udara dingin berhembus perlahan mengantarkan kesunyian. Tanpa angin, tanpa hangatnya sinar mentari kehidupan harus tetap berjalan.
Alina bersiap untuk membuka toko, aroma kue melebuar dalam ruangan. Kehangatan tercipta kala toples demi toples makanan manis terpajang di etalase. Tulisan "open" di pintu kaca depan di balik menyambut rejeki yang datang.
Namun, yang hadir tidak seperti bayangan.
__ADS_1
Alina kembali termangu kala bersitatap dengan sang suami. Sosok itu kembali menyapa harinya yang sudah membuka lembaran baru.
"Assalamu'alaikum," sapa Azam kemudian dengan lengkungan bulan sabit hadir menambah ketampanan.
"Wa'alaikumsalan," balas Alina dan menyibukan diri tidak mengindahkan kehadirannya.
Hening tanpa ada kata-kata yang terdengar, Azam terus memperhatikan sang istri dalam diam. Sudah tiga bulan berlalu dan selama itu ia kehilangan Alina yang mencintainya dengan tulus dan ikhlas. Tidak pernah Alina menuntut apa pun darinya, tapi ia sudah memberikan luka tak terlupakan.
"Aku sudah berbuat kesalahan dan sangat menyesalinya. Sayang, aku benar-benar menyesal."
Alina mendongak memberikan tatapan tajam.
"Berhenti memanggilku seperti itu. Aku tidak ingin mendengarnya."
Azam tersenyum simpul, setidaknya Alina masih mendengarkan.
"Aku benar-benar minta maaf, sudah banyak melakukan salah dan menuduhmu tidak benar. Aku terlalu bodoh untukmu yang sangat baik. Aku terlalu menutup mata dengan kebenaran, jika ternyata aku mencintaimu."
Perlahan kedua manik kecoklataan Alina melebar. Di balik etalase tangannya meremat kuat berusaha meredam keterkejutan. Ia tidak percaya akan ada hari di mana sang suami mengutarkan perasaan. Namun, waktu itu sudah terlambat.
"Jangan mengatakan hal yang tidak perlu. Kembalilah, mbak Yasmin menunggumu."
Alina kembali bekerja mengabaikan Azam yang berkali-kali menggelengkan kepala. Ia melangkahkan kaki mendekat dan berusaha meyakinkan sang istri, jika ada cinta yang tengah berkembang dalam diri untuknya.
"Aku tidak membual. Itulah kenyataannya, aku mencintaimu, Alina."
Alina pun menghentikan sapuannya di gelas kaca dan kembali memandangi sang suami.
"Kita memang masih menjadi suami istri, tapi secepatnya kita akan menjadi orang asing kembali."
Alina pergi ke belakang menyisakan ketidakberdayaan dalam diri Azam. Ia tahu jika memang tidak mudah untuk mengembalikan sebuah kepercayaan.
__ADS_1
"Aku akan berusaha untuk mengembalikannya. Aku tidak akan menyerah."
Azam bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Alina. Ia percaya jika perjuangan akan membuahkan hasil. Ia ingin hidup bersama Alina dan mengubah air mata menjadi senyuman. Ia yakin masih ada harapan, meskipun harus melalui sebuah perjuangan.