
Ketika memilih untuk pergi, bukan berarti melupakan, melainkan melepaskan guna mendapatkan yang jauh lebih baik.
Cinta merupakan sebuah perasaan suci bila dilakukan dengan benar, tetapi akan menjadi sebuah malapetaka apabila disalahgunakan.
Cinta itu hadir tanpa memandang apa pun, ia datang dengan sendirinya dan menetap hingga membuat diri ingin mendapatkan sosok sang pujaan.
Itulah yang saat ini tengah Zaidan Zulfan rasakan. Selama ia hidup baru sekarang mendapatkan sebuah perasaan yang begitu menggelitik relung hati.
Kata-kata tak bersua, menari indah membentuk sebuah simfoni mengalirkan ketidakberdayaan. Cinta dan kasih bermain indah mengalirkan gelenyar keinginan untuk bisa berada di samping sang pujaan. Namun, ia sadar jika cinta juga tidak bisa dipaksakan.
"Tuhan, jika cinta ini memang benar hamba rasakan untuknya ... maka perkuatlah dan izinkan hamba untuk berubah. Namun, jika perasaan ini memang hanya sesaat tolong ... tolong jangan sampai membuat hamba menyesal. Hamba ... ingin bersamanya," lirih Zaidan menyaksikan Alina yang tengah berjalan di depan.
Fajar menyingsing menyuguhkan pemandangan pagi dengan siluet matahari terbit begitu memanjakan mata. Lukisan Allah di awal hari menjadi semangat baru bagi setiap insan di bumi ini.
Alina yang baru saja selesai menyiapkan sarapan terkejut kala tidak mendapati sang putra di manapun. Ia berlari menuju keluar dan menengok kesegala arah, tetapi tidak ada Raihan dalam pandangannya.
Raut cemas dan khawatir begitu kentara. Ia lalu melanjutkan pencarian sampai ke bibir pantai, di sana ia terpaku dan terdiam bak bongkahan es.
Di tengah sejuknya udara pagi, ia menyaksikan wajah sumeringah buah hatinya serta suara ringan bagaikan lantunan musik terindah yang ia dengar.
"Ayo, Paman kejar aku lagi," teriak Raihan pada pria dewasa di belakangnya.
"Awas kamu yah, Paman akan mengejarmu sampai dapat," balas sang lawan bicara lalu melajukan larinya. "Yap, Paman menangkapmu," lanjutnya sambil mendekap Raihan.
Seketika Raihan tergelak lagi bersama deburan ombak membasahi kedua kaki mereka. "Yeah, Paman berhasil menangkapku. Paman sungguh luar biasa," puji bocah berusia tujuh tahun tersebut, mereka pun tertawa kembali untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Alina yang berdiri tidak jauh dari keduanya hanya bisa terdiam kaku. Ia dibuat tidak percaya lagi mengenai ekspresi jantung hatinya.
Selama ini ia terlalu sibuk mencari dan mencari kebenaran mengenai permasalahan rumah tangganya. Tidak banyak waktu yang ia habiskan bersama Raihan hingga melupakan jika sang buah hati sangat membutuhkan seseorang di sisinya.
"Kebahagiaan seorang anak merupakan kado terindah bagi kita sebagai seorang ibu. Mas Zaidan sepertinya sangat menyayangi Raihan." Perkataan yang tiba-tiba saja mengusik ketenangan membuat Alina terlonjak dan menatap ke sebelah kiri.
"Zara? Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Alina bingung.
"Baru saja, aku mendengar suara tawa Raihan yang bergema sampai ke sana." Zara menunjuk ke belakang yang diikuti oleh Alina.
Di sana ia melihat Dimas tengah memangku Naura, "Tunggu! Sejak kapan anakmu dekat dengan pria asing itu?" tanyanya kembali.
Zara menyunggingkan senyum yang memunculkan kerenyitan di dahi lebar Alina. "Jangan bilang jika kalian sedang menjalin hubungan?"
Seketika itu juga Zara tertawa ringan, "hubungan dari mana? Kami kebetulan bertemu di jalan saja dan entah kenapa Naura minta digendong. Mau tidak mau Mas Dimas menerima permintaannya, aku-"
Zara melengkungkan sudut bibirnya sempurna dan memandangi ke depan di mana Naura serta Dimas mendekati dua sosok di sana.
"Pertanyaan itu aku kembalikan padamu," ujar Zara membuat Alina terperangah.
Ia kembali diam beberapa saat memandangi dua pria dewasa serta dua anak kecil tengah bermain bersama lagi. Keceriaan dan kegembiraan yang mereka pancarkan begitu mendamaikan hingga membuat hatinya menghangat.
"Malam tadi kamu bertanya padaku bagaimana jika, seandainya Mas Zaidan jatuh cinta padaku?" Alina menoleh padanya lagi dan Zara hanya mengangguk pelan. "Maka jawabannya ... aku tidak tahu. Aku takut kejadian kemarin terulang lagi. Aku tahu semua orang tidaklah sama, tetapi trauma itu ada. Aku hanya ingin seseorang yang bisa menyayangi Raihan sepenuhnya. Namun, untuk jatuh cinta lagi? Aku belum memikirkannya," ungkap Alina panjang lebar.
Zara mendengus pelan dan kembali menganggukan kepala. "Iya, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Aku juga seperti itu, kejadian kemarin membuatku terus waspada."
__ADS_1
"Yah bagaimanapun kita harus melupakan kejadian mengerikan itu dan sambut lembaran baru. Ayo, Alina kita main juga." Zara langsung menarik pergelangan Alina tanpa aba-aba membuat sang empunya mau tidak mau mengikutinya.
"Mamah," teriak Raihan kala mendapati sang ibu.
"Sayang, Mamah mencarimu sedari tadi. Ke mana saja kamu, hm?" ujarnya sambil mendekap sang buah hati.
"Aku minta maaf sudah membawa Raihan tanpa sepengetahuanmu," adu Zaidan, Alina melepaskan Raihan dan memandanginya singkat.
"Em, tidak apa-apa, tapi lain kali beritahu aku jika kalian pergi!" tegas Alina memberikan tatapan serius pada Raihan.
"Siap!" jawab Raihan dan Zaidan kompak sambil memberikan hormat padanya.
"Sudah-sudah ayo kita bermain saja!" teriak Zara yang memulai permainannya dengan menyemprotkan air laut pada Alina.
Ia pun tidak mau kalah dan membalasnya hingga membuat semua orang masuk ke dalam permaianan. Tidak peduli jika waktu masih menunjukan pukul setengah tujuh pagi mereka sudah sibuk dengan dunianya sendiri.
Gelak tawa kembali terdengar menemani panorama alam, di mana sang raja siang mulai bangkit menuju singgasananya. Beruntung di sana tidak ada satupun pengunjung lain membuat keenam insan itu bisa leluasa.
Diam-diam Zaidan mengawasi Alina yang terus mengumbar senyum kala berinteraksi dengan buah hatinya. Tanpa sadar degup jantungnya bertalu kencang lagi, ia terdiam dan menyaksikan kebahagiaan keduanya.
"Aku tidak tahu apa ini degup jantung karena lelah atau disebabkan oleh yang lain. Namun, aku ingin melihat dia terus tersenyum. Ah, jadi seperti ini rasanya menginginkan seseorang? Ya Allah, apa hamba salah telah jatuh cinta padanya?" monolog Zaidan dalam diam.
Dimas yang sedari tadi memperhatikannya pun menyunggingkan senyum. Namun, sedetik kemudian wajahnya kembali datar. "Aku tahu ini pertama kali Tuan jatuh cinta, tetapi apa bisa berjalan lancar? Aku takut keluarganya ... Yah, bagaimanapun juga aku hanya bisa mendukung keputusan Tuan. Karena Tuan tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri," benaknya.
Alina terus bergandengan tangan dengan Raihan berbagi tawa bersama bermain air laut. Ini pertama kalinya mereka bisa melakukan itu, karena dulu sang ayah terlalu sibuk dan tidak sering mengajaknya liburan.
__ADS_1
Namun, meskipun begitu kenangan tersebut akan tetap ada di hati Raihan. Bocah itu hanya akan menyimpannya sendirian tanpa mengatakannya pada sang ibu. Karena ia tidak ingin melihat Alina kembali menangis lagi sebab kebodohan ayahnya.
...Bersambung......