
Sesak dalam dada semakin meningkat tajam, keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya. Seketika Alina limbung dan jatuh terduduk tidak sanggup menerima ucapan selamat lagi dari tamu undangan.
Kata-kata yang Azam lontarkan beberapa saat lalu tetap berputar dalam ingatan. Hal tersebut membarikan dampak luar biasa pada dirinya.
Kejadian masa lalu bersinggungan pada kenyataan sekarang. Alina ketakutan kala merasakan semua mata memandanginya rendah.
Tubuh kecilnya mengigil mencoba menghindari kata-kata lirih yang ia dengar. Ia menutup kedua telinga sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi sang istri, Zaidan langsung membopongnya pergi dari pelaminan. Semua tamu undangan menatap heran menyaksikan ratu dan raja sehari itu menghilang.
Moana dan Farras langsung menenangkan serta memberikan hiburan untuk mengalihkan perhatian. Zara dan Dimas yang masih berada di sana pun khawatir dengan keadaan Alina. Keduanya juga berusaha menarik atensi para tamu.
"Mamah," lirih Raihan saat melihat keadaan sang ibu.
Tubuh kecilnya yang terbalut jas berwarna hitam begitu rapih dan tampan. Ia beranjak dari duduk hendak menyusul ibunya. Namun, pegerakan itu terhenti saat Moana mencengram pelan pergelangan tangannya.
"Mamah?" kata Raihan lagi.
Air mukanya berubah khawatir dan takut saat memandangi Moana. Sang nenek barunya pun seketika memeluknya erat.
"Mamah tidak apa-apa, Sayang. Mungkin Mamah kecapean, Raihan di sini dulu saja dengan Nenek, yah," usulnya. Raihan hanya mengangguk paham tanpa mengatakan apa pun lagi.
...***...
Zaidan sudah membawa sang istri ke kamar pribadinya. King size yang sudah bertabur kelopak bunga mawar tidak sedikit pun ia hiraukan.
Alina hanya miliriknya sekilas dan menyembunyikan wajah di dada bidang suami baru. Ia kemudian tersadar dan bergagas turun dari gendongan Zaidan.
Alina duduk di tepi ranjang seraya menurunkan pandangan meniti objek di bawahnya. Zaidan mengulas senyum simpul dan bersimpuh tepat di depannya. Jari jemari itu menggenggam hangat kedua tangan sang pasangan.
Dunianya kini terasa lebih berwarna, hidup berjalan begitu mendebarkan kala memasrahakn semuanya sang penguasa. Allah luar biasa membentuk jalan cerita bagi setiap hamba-Nya.
__ADS_1
Ia mendongak melihat obsidian sendu seolah memikirkan banyak hal. Zaidan menarik jari jemari sang istri pelan dan memberikan ciuman mendalam di punggung tangan Alina.
Sang empunya terpaku dengan sikap manis nan lembut yang diberikan pasangan hidupnya. Rona merah merebak di wajah make upnya.
Perasaan Alina sedikit demi sedikit menjadi lebih tenang. Ia pun memberanikan diri mengangkat kepala membalas tatapan yang begitu mendamba.
"Jangan sedih lagi, sekarang kamu memiliki aku di sampingmu. Alina, aku sangat mencintaimu dan ... aku sangat menyayangimu. Kamu wanita berharga kedua setelah mamah, aku beruntung bisa memilikimu. Jangan pernah menganggap dirimu rendah. Karena bagiku kamu sangat amat berharga. Bak intan berlian, keberadaanmu dihidupku begitu tak ternilai. Aku-" ucapan Zaidan terputus kala Alina menghamburkan diri memeluknya erat.
Alina merengkuh tubuh kekar sang suami kuat seolah tidak ingin melepaskan. Kesepian yang dulu dirasakan menguap dan diisi oleh satu nama, Zaidan Zulfan.
Kata cinta yang terus berdengung untuk Azam sudah digantikan dengan suami barunya. Meniti pada satu titik yang sama berharap keadaan berubah, nyatanya mengantarkan ia pada kondisi berbeda.
Azam dan Zaidan bagaikan kutub utara dan selatan. Sang mantan suami sudah memberikan luka, sedangkan pasangan barunya menawarkan kebahagiaan.
Bunga yang sudah layu perlahan memunculkan bibit baru. Ia tumbuh subur menebarkan aroma harum pada sekitarnya.
"Ya Allah, hamba sangat mencintainya. Hamba tidak ingin berpisah dengannya. Semoga pernikahan kedua hamba bisa berjalan dengan lancar," monolog Alina dalam diam.
Zaidan yang masih terkejut perlahan mendapatkan kesadaran. Kedua tangan tegap itu terulur membalas pelukan sang istri.
Sampai, "Aku mencintaimu, terima kasih. Karena tidak menyerah dan terus meyakinkanku dengan perasaanmu, Mas," ungkap Alina lembut.
Zaidan terhenyak kembali mendengar pernyataan cinta yang diberikan istrinya. Ia menahan keharuan dengan melengkungkan bulan sabit sempurna.
Ia pun menyembunyikan senyum sumeringahnya di bahu Alina. "Terima kasih," balas Zaidan.
...***...
Detikan jam terus berjalan memberikan musik pengiring kebersamaan. Gelenyar kebahagiaan menari indah bersama raksi cinta yang melebur.
Setelah menikmati pelukan masing-masing, Zaidan menangkup kedua bahu Alina dan mendorongnya pelan. Pandangan mereka saling bertemu satu sama lain lagi, keduanya mengagumi keindahan bola mata masing-masing.
__ADS_1
Bak magnet yang menghipnotis, baik Alina dan Zaidan saling mendekatkan wajah satu sama lain. Entah siapa yang memulai penyatuan pun terjadi.
Sentuhan lembut nan hangat menitikan air mata penuh suka cita dalam manik yang tertutup kelopak. Pasangan suami istri baru tersebut terlena dengan keintiman yang mereka lakukan.
Kurang lebih lima menit lamanya aktivitas mereka pun terhenti. Zaidan menangkup wajah memerah sang istri dan mengusap pelan bibirnya yang membengkak.
"Kita salat dulu?" tanyanya dengan suara serak dan dengan malu Alina mengangguk pelan.
Mereka pun beranjak dari sana dan saling bergandengan tangan menuju kamar mandi. Selesai membersihkan make up Alina mengambil air wudhu. Beberapa menit lalu Zaidan sudah keluar dan menunggu di dalam kamar.
Alina memandangi dirinya dalam cermin. Di sana memantulkan keadaannya sekarang dan seketika itu juga perhatiannya mengatarah pada dua belah bibir.
Jari telunjuknya yang gemetar menekan pelan membuat degup jantung bertalu kencang. Ia terus memandang dan mengamatinya sampai suara sang suami membuyarkan.
"Alina, apa masih lama?" tanyanya sedikit kencang.
Alina tersadar dan membalasnya, "i-iya mas sebentar lagi." Buru-buru ia membasuh wajah dan langsung mengambil wudhu.
Tidak lama berselang mereka pun melaksanakan salat isya berjamaah. Sekuat tenaga Alina menahan keharuan dan kebahagiaan datang menerjang.
Ini pertama kali ia di imami seseorang terlebih oleh suaminya sendiri. Sampai di salam terakhir ia pun menitikan air mata. Kepalanya lalu mendongak menyaksikan punggung lebar Zaidan yang membuat dadanya bergetar.
"Ya Allah terima kasih atas segala kenikmatan yang telah Engkau berikan. Terima kasih sudah menghadirkan Mas Zaidan ke dalam hidup hamba. Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan di balik ujian yang Kau hadirkan. Berikanlah keberkahan dalam rumah tangga kami, jauhkanlah pernikahan kami dari hal-hal buruk," benaknya.
Ia terus menangis dalam diam mencoba tidak terisak dan mengganggu suaminya yang tengah berdo'a. Kebahagiaan yang tidak bisa ia deskripsikan membentuk air mata haru.
Cairan bening terus mengalir mengenyahkan kepedihan masa lalu. Masa itu sudah berakhir dan sekarang ia akan mencoba membuka lembaran baru bersama Zaidan.
Ia berharap statusnya yang pernah menikah tidak menyulitkan sang suami kelak. Namun, ia juga menyadari hidup tidak akan selamanya berada di satu titik.
Ujian itu akan tetap datang sebagaimana ada keberkahan di baliknya. Namun, selama bisa bersama pasangan halalnya, Alina yakin bisa menghadapi itu semua.
__ADS_1
Karena pelangi tidak akan muncul tanpa adanya badai, sebab senyum tidak akan terbit tanpa air mata. Semuanya sudah menjadi ketentuan yang di atas.
...Bersambung......