Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 243 (Season 3, Zara & Dimas)


__ADS_3

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)." (Q.S. Az-Zariyat: 49)


Lukisan Allah di langit malam memberikan pesona bahari tersendiri. Bintang bertaburan dengan cahaya bulan begitu mendamaikan.


Semilir angin berhembus mengantarkan pada cerita yang lain. Kisah akan terus terajut sebagaimana takdir Allah berbicara.


"Cinta tidak pernah meminta untuk menanti. Karena cinta hanya mengambil kesempatan atau tentang merelakan."­_ Ali bin Abi Thalib.


Cinta itu datang dengan sendirinya, perasaan hadir kala ada kesempatan, balasannya jika Allah ridho maka akan dipersatukan di pelaminan.


Zara merasakan kebahagiaan sejati dalam hidup setelah bertemu dengan Dimas. Ia juga bersyukur Allah masih memberikan hidayah dan menyadarkannya dari kesalahan.


Di kediamannya, Zara tengah memandangi langit malam seorang diri di balkon lantai dua. Kepala berhijab itu mendongak dengan bibir melengkung sempurna.


Kedua tangan meremas besi pembatas merasakan angin membelai wajah putihnya.


Pasang surut kehidupan sudah ditempuh seorang Zara, mulai dari kegagalan cinta, mendapatkan kekerasan rumah tangga, mengagumi suami orang lain, hingga pada akhirnya Allah mempertemukan dengan pria yang benar-benar menerima apa adanya.


"Aku bisa mendengar hanya dengan hembusan napas mu saja, Mas," ucap Zara menghentikan langkah seseorang di belakang.


Dimas menghela napas pelan, bergegas mendekati istrinya dan memeluk Zara dari belakang.


Kehangatan merambat di punggung rampingnya, Zara bersandar nyaman dalam pelukan sang suami sembari menyaksikan gelapnya langit malam.


"Kamu selalu saja bisa membaca pergerakanku," ucap Dimas.


Pria berkacamata yang dikenal dengan wajah flatnya mengerucutkan bibir. Ia meletakkan dagu di puncak kepala sang istri sama seperti kebiasaan sang tuan muda.


Setelah hidup bertahun-tahun bersama Zaidan, Dimas jadi memiliki kebiasaan maupun kesukaan yang hampir mirip dengannya.


Terkadang keduanya sering disebut sebagai anak kembar, di saat masih duduk di sekolah menengah mereka pun sama-sama dikagumi kaum hawa.


Namun, baik Dimas maupun Zaidan tidak begitu menggubris keberadaan mereka. Keseharian keduanya terus menerus disibukkan untuk menjadi pewaris serta pengawal yang lebih baik.


Seiring berjalannya waktu mereka pun dipertemukan dengan pasangan masing-masing. Namun, siapa yang menyangka jika keduanya memiliki selera sama.

__ADS_1


Dimas dan Zaidan sama-sama jatuh cinta pada wanita single parent. Namun, kehidupan sang pengawal yang merangkap beberapa tugas itu pun tidak seekstrem tuan muda.


Ia berhasil membangun hubungan yang baik dengan keluarga Zara maupun keluarganya. Mereka sama-sama menerima kehadiran satu sama lain tanpa mengindahkan status.


Zara berbalik, tersenyum lebar melihat suaminya merajuk. Jika sudah seperti itu hanya ada satu cara untuk mengembalikan semangatnya lagi.


Kedua kaki ramping Zara berjinjit mempertemukan dua buah benda kenyal mereka. Dimas terbelalak lalu mengambil alih permainan.


Kurang lebih tiga menit berselang, pasangan suami istri itu pun saling menjauh. Zara terkekeh senang melihat rona merah di pipi putih suaminya.


"Masih sama seperti dulu, Mas selalu saja merona," ungkapnya kemudian.


Dimas menggaruk pangkal lehernya pelan lalu berdehem pelan.


"I-itu karena kamu selalu bertindak secara tiba-tiba," balasnya membela diri.


Zara tidak bisa menahan tawa hingga suaranya mengenyahkan keheningan malam. Tangannya terulur dan tersemat di leher jenjang sang pasangan halal.


"Hm? Tapi Mas suka kan?" tanyanya senang menggoda pria itu.


"Jangan pernah memalingkan wajahmu dariku, Mas." Zara memandangnya lekat membuat Dimas kembali padanya.


Raksi menguar dalam tubuh masing-masing menjadi sebuah candu untuk terus berada dalam dekapan sang pasangan.


Tidak ada yang lebih indah selain bisa menghabiskan waktu bersama pasangan halal.


Dimas termangu, menyaksikan sorot mata hangat nan dalam sang istri. Kedua tangannya terangkat melingkar posesif di pinggang rampingnya.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Karena berpasangan denganmu aku merasa bahagia, berhijrah bersama untuk mengingat serta mentaati Allah adalah yang terbaik. Aku ... tidak akan pernah berpaling darimu, Sayang," ungkap Dimas.


Kini giliran Zara terperangah, terpesona akan kelembutan di balik kata-kata yang diucapkan sang suami.


Ia tidak pernah menyangka di balik kekakuan, sikap dinginnya, ada kehangatan terpancar. Manik bulan Zara berkaca-kaca, bibir ranumnya melengkung membentuk kurva dengan sempurna.


Dimas memberikan ciuman mendalam di dahi tegas sang istri. Ia kembali berbisik lirih, "berpasangan denganmu adalah anugerah terindah yang pernah aku rasakan. Aku sangat mencintaimu, Sayang."

__ADS_1


Degup jantung Zara berdetak kencang. Ia terus menerus diberikan kebahagiaan tiada tara oleh suaminya.


Dengan caranya yang unik Dimas mampu memberikan kasih sayang serta memanjakannya.


Tanpa mengatakan apa pun Zara memeluk tubuh atletis sang suami dan air mata meluncur tidak bisa dicegah.


Dimas pun membalasnya tak kalah erat dan berkali-kali membubuhkan kecupan di puncak kepalanya. Zara semakin terisak kala teringat kehidupan rumah tangga akibat perjodohan di masa lalu.


"Ya Allah terima kasih, Engkau sudah memberikan pengganti suami yang sangat luar biasa. Hamba mohon jangan pernah pisahkan kami dan hamba harap kami bisa bersama hingga jannah-Mu."


"Alina ... wanita itu benar-benar luar biasa. Sosoknya yang tangguh telah membukakan mata hatiku untuk melihat kebenaran di depan. Jika, tidak benar harus mencintai suami orang lain. Terima kasih untukmu, Alina yang sudah menyadarkanku," monolog Zara dalam diam.


Ia menutup kedua mata seraya bersandar di dada sang suami. Suara detak jantung pasangan halalnya begitu merdu membuat ia merasa tenang.


Tidak lama setelah itu Dimas melonggarkan pelukan mereka tanpa melepaskan tangan masing-masing. Wajah sang suami semakin mendekat lagi, Zara yang mengerti pun menghentikannya dengan menutup bibir pemilik hatinya.


Dimas mengerutkan dahi dalam atas tingkah sang istri. Zara kembali tergelak lalu beralih dengan melepaskan kacamata yang bertengger di sana.


"Akan lebih mudah jika Mas melepaskan kacamatamu," ucap Zara yang lagi dan lagi mengalungkan tangan di lehernya.


Ia menerjang sang suami cepat membuat Dimas kembali terperangah. Ia tidak menyianyiakan kesempatan tersebut dengan merapatkan tubuh sang istri padanya.


Keduanya terlena akan penyatuan yang terjadi begitu intens. Bulan dan bintang menjadi saksi bisu bagaimana kisah keduanya terajut begitu indah.


Tidak ada lagi kepelikkan yang mereka rasakan, Dimas dan Zara hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.


Sebagai ayah sambung dari Naura, Dimas benar-benar menyayanginya seperti anak kandung. Sama halnya dengan Zaidan, ia pun bahagia bisa hidup bersama wanita yang pernah gagal dalam membina rumah tangga.


Namun, kegagalan tersebut bukan berarti Alina maupun Zara pertanda sebagai wanita tidak benar. Justru dengan adanya kegagalan itu membuktikan jika mereka bisa mendapatkan kebahagiaan selepas rasa sakit.


Zara maupun Dimas bersyukur dipertemukan dengan Alina. Wanita itu mampu memberikan dorongan untuk berubah menjadi lebih baik.


Keberadaannya selalu memberikan aura positif yang mana orang-orang di sekitar mendapatkan kesadaran.


Alina adalah bukti sebagai wanita tangguh yang tidak menyerah pada keadaan. Ia bisa membuktikan pada diri sendiri jika peran ganda yang di jalaninya bisa mendatangkan kebahagiaan.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2