
Hujan turun menemani hati yang tengah resah gelisah. Guntur saling bersahutan memberikan kilat dengan cahayanya yang mengerikan.
Hati istri mana yang tidak patah kala suami masih dibayang-bayangi masa lalu, terlebih perasaan itu masih melekat. Hancur, layaknya kapal diterjang ombak badai. Semuanya porak-poranda seolah tidak ada yang bisa diselamatkan.
Hanya tetesan air mata tak bersua menjadi saksi bisu betapa remuk nan perih hati seorang Alina. Ia terus menyadari jika waktu yang dihabiskan bersama suaminya, Azam hanyalah sebuah ilusi.
Harapan untuk bisa bersama selamanya dengan penuh kebahagiaan pupus di tengah jalan. Perasaan tidak mudah ditepiskan begitu saja, terutama cinta sejati. Sebanyak apa pun waktu terlewati guna melupakannya, tetap saja perasaan itu tidak mudah dihapuskan.
Kenangan diawal pernikahan kembali hadir menyuguhkan fakta mencengangkan. Jika dari dulu cinta itu tidak pernah ada untuknya. Alina hanya bertahan seorang diri dan berpikir Azam sudah membalas cinta tulusnya.
"Aku tidak bisa menggantikan posisi mbak Yasmin. Meskipun mbak Yasmin pergi untuk selamanya, tetap saja ada ruang istimewa dalam hati mas Azam, sedangkan aku? Aku tidak punya kepercayaan mendapatkan hatinya seutuhnya. Mungkin mas Azam hanya mengaggapku sebagai ibu sambung bagi Aqeela dan seseorang yang ia butuhkan di saat butuh. Ya Allah sakit sekali, apa hamba bisa bertahan?" lirihnya menahan perih.
Kejam, satu kata itu berputar dalam kepala. Ia sendirian dan menangis tanpa seorang pun mengerti serta tahu bagaimana air mata mengalir tak tertahankan. Ia kembali menepi dari dunia yang memberikan kebahagiaan sementara.
Alina hanya bisa pasrah pada keadaan kala mendapati sang suami masih belum bisa menerimanya seutuhnya. Perih nan pedih, terus membayangi sama seperti pernikahan yang ia jalani diawal.
Masa lalu yang coba ia tutup mencuat ke permukaan, kehadirannya tidak bisa dicegah ataupun dibantah. Semua itu bermetamorfosis menjadi bentuk lain dan menambah luka teramat dalam.
Hanya bisa bersabar dan menyerahkan semuanya pada Allah semata. Karena ia percaya di balik ujian terdapat kebaikan di dalamnya. Karena tidak selamanya badai akan terus turun, dan tidak selamanya pelangi muncul. Keduanya butuh waktu untuk menempakan diri di saat yang tepat.
"Aku tidak boleh menyerah, sampai kapan pun aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengusik rumah tangga kami. Jika belum ada kata berpisah dari mas Azam aku akan berada di garda paling depan untuk kebaikan anak-anak kami," tegas Alina pada keheningan.
Di ruangan paling pojok Azam masih mematung di tempat. Kedua manik besarnya memandangi pecahan figura tergeletak tidak jauh darinya.
Ada kesakitan menyapa hati begitu cepat, ia mengepal tangan erat seraya menutup mata rapat.
"Aku sudah salah mempermainkan pernikahan ... aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi yang jelas melihat pecahan itu ... aku merasa sakit," gumamnya sendirian.
...***...
Hari berikutnya, seperti tidak ada kejadian apa pun, keluarga kecil Zabran menikmati sarapan bersama. Seperti hari-hari sebelumnya Aqeela dan Raihan paling aktif membangun kehangatan di sana.
__ADS_1
Sebagai orang tua, Alina dan Azam berusaha tampil sebaik mungkin menyembunyikan fakta yang ada. Mereka tidak ingin Aqeela maupun Raihan mengetahui keadaan orang tuanya.
"Mamah, Ayah, sebentar lagi, kan ulang tahunku yang tepat kedelapan. Aku ingin makan bersama kalian secara sederhana saja," ungkap Aqeela mengingatkan.
Alina termangu dan Azam terkejut menatap putri pertama mereka dalam diam. Alis gadis kecil itu mengerut tidak mengerti atas respon yang diberikan.
"Apa kalian melupakan ulang tahunku?" tanyanya kemudian.
"A-ah, tidak seperti itu Sayang. Mamah dan Ayah-"
"Kita akan mengadakan pesta di rumah, Ayah akan mengundang saudara dan teman-temanmu untuk merayakannya bersama, bagaimana?" potong Azam cepat.
Manik jelaga Aqeela melebar, senyum mengembang memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapih. Ia mengangguk antusias tidak sabar waktu ingin cepat berlalu.
"Qeela setuju!" balasnya semangat.
Alina hanya tersenyum tidak mengatakan apa pun. Raihan turut senang untuk menyambut pesta ulang tahun sang kakak.
Beberapa saat kemudian mereka pun selesai sarapan, ayah dan kedua anak itu bersiap untuk pergi melanjutkan aktivitas.
Meskipun jauh dari dasar lubuk hatinya, ia sangat ingin menghilang dan tidak memikirkan apa pun. Namun, ia tidak boleh egois dan menghancurkan kebersamaan kedua anaknya.
"Aku harus kuat untuk Aqeela dan Raihan. Aku tidak bisa melihat mereka tumbuh tanpa orang tua yang utuh ... aku tidak mau mereka sepertiku" monolognya dalam benak.
"Mamah, kami pergi dulu," sambarAqeela mengejutkan.
Alina tersentak lalu mengulurkan tangan dan disambut sang putri hangat, kemudian bergantian dengan Raihan.
Sampai Azam berdiri tepat di hadapannya, tanpa membalas tatapan sang suami Alina langsung menyelaminya begitu saja.
Aqeela yang sudah berada di pekarangan melihat adegan tersebut, "ada sesuatu yang terjadi antara Mamah dan Ayah, tapi apa yah?" benaknya.
__ADS_1
Tidak seperti biasa Alina hanya mengantarakan mereka sampai ruang tamu. Sepeninggalan mobil suaminya ia langsung menutup pintu dan menghela napas panjang mengeluarkan sesak dalam dada.
"Berusaha terlihat baik-baik saja itu sulit, tapi itu lebih baik daripada harus memperlihatkan kesedihan. Aku harus kuat maka semuanya akan baik," gumam Alina.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Aqeela terus memandangi sang ayah yang tengah menyetir dari jok belakang.
Wajah dingin ayahnya menjadi perhatian yang sedari tadi terus mengganggu. Ia tidak ingin sesuatu terjadi di rumahnya, terutama pada sang ibu.
"Ayah, apa Ayah bertengkar dengan mamah?" tanyanya cepat.
Azam diam beberapa saat tidak bisa langsung menjawab pertanyaan putri dari mendiang istrinya tersebut. Dari kaca spion di atas kepalanya ia melihat sorot mata Aqeela penuh tanya. Ia memalingkan perhatian ke arah lain saat bayangan Yasmin hinggap dalam ingatan.
Aqeela begitu mirip dengan sang istri pertama, ia begitu menyayangi putri pertamanya sepenuh hati. Azam pun kembali menggulirkan bola mata ke atas kaca melihat Raihan dan perasaan bersalah hinggap begitu saja.
"Tidak, kami tidak bertengkar," jawabnya singkat.
"Lalu kenapa aku melihat kalian tidak seperti biasanya?" tanya Aqeela lagi.
"Mungkin mamah sedang cape ... kamu dan Raihan harus menjaga mamah dengan baik, yah," ucapnya.
"Raihan akan menjaga dan melindungi mamah. Ayah jangan khawatir, Raihan tidak akan membuat mamah menangis," lanjut Raihan ikut dalam pembicaraan mereka.
Mendengar jawaban sang putra Azam merasakan hatinya tercubit. Bahkan anaknya yang belum beranjak remaja itu pun memiliki pemikiran lugas, sedangkan ia hanya bisa menorehkan luka teramat dalam.
Namun, apalah daya perasaan seseorang tidak bisa ditampik begitu saja. Rasa itu datang sendirinya tanpa dicegah, kehadirannya tidak bisa diduga membuat ia terlena.
"Em, Ayah percayakan pada kalian," balasnya kemudian.
Aqeela hanya diam tanpa menjawab apa pun lagi. Ia menyadari jika perubahan dari orang tuanya begitu signifikan. Sebagai seorang putri yang sudah dibesarkan oleh Alina, ia terikat sepenuhnya pada sang ibu sambung.
Perasaan ibu dan anak itu tidak bisa ditepiskan begitu saja. Aqeela sudah menyayangi Alina seperti ibunya sendiri. Karena sedari bayi Alina yang sudah menggantikan Yasmin.
__ADS_1
Penyakit yang merenggut kesehatan ibu kandungnya telah mengikis waktu kebersamaan mereka. Aqeela tidak mau siapa pun menyakiti Alina, termasuk ayahnya sendiri.
"Aku akan selalu berada di samping mamah, apa pun yang terjadi," benaknya lagi. Perasaan seorang anak kepada ibu sambungnya begitu tulus dan ikhlas.