Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 115 (Season 2)


__ADS_3

"Ayah minta maaf, Sayang. Ayah benar-benar bukan orang tua yang baik." Kata-kata tersebut terucap pelan di balik celah bibir pucat Azam.


Semua mata memandangi ke arahnya, mereka yang tengah berhenti tepat di samping lift menarik perhatian orang berlalu lalang. Moana yang menyaksikan keturunan keluarga Zabran itu menangis tepat di depan buah hatinya dibuat tidak menyangka.


Karena selama ini yang nyonya besar itu ketahui, sosok Rusdyan Azam Zabran adalah pria berwibawa dengan karisma yang melimpah. Namun, saat ini semua itu menghilang berganti kelemahan.


"Nak Azam, bisakah kita pindah sebentar ke ruangan itu? Tidak enak dilihat banyak orang," usul Moana.


Azam pun mengangguk pelan dan mengikuti ke mana Moana membawa buah hatinya. Jasmin melewati kembali pintu putar otomatis hotel dan tertegun melihat air mata sang suami. Ia tidak bisa mencegah kepergiannya dan memberikan kesempatan pada mereka.


"Semoga hubunganmu dengan Raihan bisa membaik," gumamnya berharap.


Kamar bernomor seratuh dua menjadi pertemuan ayah dan anak tersebut. Raihan duduk di sofa tunggal dengan Azam berjongkok di depannya.


Tangan tegap itu menggenggam tangan kecilnya hangat. Raihan tidak menyangka jika sang ayah akan kembali dan menemuinya.


Sudah berbulan-bulan mereka tidak bertemu satu sama lain, bahkan berkomunikasi pun tidak pernah dilakukan. Keduanya kembali bertemu pada saat Alina mengalami kecelakaan yang diakibatkan Yasmin.


Namun, pada saat itu Raihan enggan melihat ataupun menemui ayahnya. Sekarang setelah keadaan baik-baik saja untuk pertama kalinya mereka bisa saling bertatapan.


"Apa yang Ayah inginkan?" tanya Raihan pelan.


Moana yang tengah duduk dekat pintu masuk hanya memandangi mereka dalam diam. Kedua tangan melipat di depan dada mengamati hubungan ayah dan anak di sana.


"Sepertinya hubungan mereka tidak baik-baik saja? Kenapa?" benaknya penasaran.


Azam mendongak menatap ke dalam obsidian hitam di depannya. Senyum lemah tercetus mengalirkan ketegangan dalam diri sang buah hati.


"Apa Ayah baik-baik saja?" tanya Raihan lagi menyadari keadaan sang ayah.


Mendengar pertanyaan buah hatinya yang penuh perhatian Azam tersenyum hangat lalu menggeleng pelan, "Ayah sedang tidak baik-baik saja, tetapi ... Ayah berusaha baik untuk melihatmu, Sayang. Ayah ... ingin meminta maaf padamu."

__ADS_1


"Maaf? Emangnya Ayah ada salah apa denganku?" tanya Raihan berpura-pura tidak tahu.


"Ayah ... sudah banyak salah padamu, Sayang. Terutama pada ibumu ... Ayah hanya memberikan luka dan terus membuatnya menangis. Ayah-"


"Jika Ayah sudah tahu kenapa terus mengulanginya lagi dan lagi? Apa Ayah tahu? Setiap malam mamah selalu menangis dan menangis? Raihan tahu Mamah menyimpan semuanya sendirian. Mamah berusaha bertahan untuk membuat keluarga kita baik-baik saja."


"Awalnya Raihan juga tidak ingin mamah dan Ayah berpisah, tetapi saat melihat mamah terus menerus menangis ... Raihan ingin membawa mamah jauh dari Ayah." Raihan menyambar perkataan ayahnya cepat.


Sekuat tenaga ia menahan air mata yang sudah menumpuk di dalam manik bulannya. "Raihan bersyukur mamah pergi malam itu. Raihan lega pada akhirnya mamah memilih untuk meninggalkan sumber sakit itu."


"Raihan tidak peduli jika Ayah tidak menyayangiku seperti pada kak Aqeela. Raihan hanya ingin Ayah memperlakukan mamah dengan baik, tetapi semua itu sudah berakhir."


"Raihan juga pernah melihat Ayah terus diam di kamar yang tidak boleh kami masuki. Karena waktu itu Raihan penasaran ... Raihan membuka pintunya dan melihat Ayah duduk di sofa tunggal sambil mendekap bingkai foto."


"Waktu itu Ayah mengatakan ... Yasmin aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpa kehadiranmu, apa yang harus aku lakukan pada keluarga ini sekarang? Dari sana Raihan berpikir jika ... Ayah tidak benar-benar menerima Raihan dan mamah dengan baik."


Bagaikan ada tangan tak kasat mata memberikan pukulan telak menampar wajahnya kuat, Azam terdiam kaku mendengar semua perkataan mendalam sang putra.


"Boleh Raihan bertanya? Apa karena Raihan lahir dari mamah, itu sebabnya Ayah tidak terlalu mempedulikanku?"


Bersamaan dengan pertanyaan itu terlontar Raihan menangis sesenggukan. Ia sudah tidak bisa menahan perasaan terdalamnya. Selama ini ia hanya bisa bertahan dan memendam semuanya sendirian.


Ia tidak ingin membebani sang ibu dengan pertanyaan yang terus mengendap di kepala kecilnya. Ia hanya seorang anak yang menginginkan perhatian ayah dan ibunya.


Namun, selama mereka masih bersama di satu atap perlakuan sang ayah padanya begitu berbeda. Perasaan Raihan begitu peka dan menyadari ada sesuatu yang salah dalam keluarganya.


"Tidak, Sayang bukan seperti itu. Ayah ... Ayah benar-benar menyayangimu," ucap Azam menggebu-gebu.


Raihan menatap ke dalam manik kelam sang ayah. "Bisakah Raihan mempercayainya? Raihan ingin percaya kata-kata Ayah itu, tapi ... Raihan tidak bisa."


Bagaikan mengandung empedu, kepahitan menyebar di dalam diri. Azam tidak menyangka mendengar penuturan buah hatinya begitu memberikan kepedihan.

__ADS_1


"Sayang, kamu harus percaya pada Ayah. Ayah benar-benar menyayangimu."


"Kenapa tidak dari dulu Ayah mengatakan itu? Mengatakan hal sama seperti yang selalu Ayah ucapkan pada kak Aqeela?" tutur Raihan mengingatkan.


Waktu itu ia hanya bisa melihat di kejauhan seperti apa perlakuan hangat yang ayahnya berikan pada sang kakak. Ia hanya bisa terdiam dan memandang semuanya menjadikan kenangan yang begitu menyaktikan.


Perlakuan tersebut tertanam dalam diri Raihan membentuk sebuah kesimpulan jika sang ayah tidak menyayanginya.


Perkataan yang terus berdengung dalam ingatan seperti menekankan pada diri sendiri jika sang ayah tidak pernah menyayanginya sepenuh hati.


"Bisakah kamu memaafkan, Ayah?" Pinta Azam kemudian.


"Entahlah, Raihan tidak tahu."


Ia pun beranjak dari duduk dan melangkahkan kaki meninggalkan Azam mematung di tempat. Raihan mendekati Moana yang terdiam kaku.


Nyonya Zulfan tidak menyangka jika apa yang dilontrakan seorang anak berusia delapan tahun begitu terlihat dewasa. Moana memang tidak tahu apa yang sudah terjadi, tetapi dirinya menangkap satu fakta jika Azam membeda-bedakan kedua buah hatinya.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Moana saat Raihan berdiri tepat di depannya.


Seketika itu juga tangisannya pecah dengan isakan memilukan membuat Moana terkejut. Nenek barunya langsung menarik ke dalam pelukan dan mengusap punggung kecilnya hangat.


"Tidak apa-apa, Raihan sudah melakukan hal yang baik. Raihan sayang sama mamah, kan?" Raihan mengangguk sekilas.


"Kalau Raihan sayang mamah jangan menangis lagi. Mamah pasti khawatir jika melihat Raihan seperti ini," ujarnya.


Moana melepaskan pelukan dan menangkup kedua pipi tembab Raihan. Kedua ibu jarinya pun mengusap lembut cairan bening yang terus mengalir di sana.


Raihan sesenggukan mencoba menahan segala perasaan dalam dada. Sekilas Moana melirik ke belakang sang cucu menyaksikan Azam menunduk dalam.


"Raihan, mau pergi sama Ayah?" tanyanya kemudian. Mendengar pertanyaan tersebut membuat Raihan melebarkan mata berairnya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2