
Satu bulan bukan waktu yang sebentar. Banyak kejadian tak terduga selama hari demi hari terus berganti. Masa akan berubah seiring perjalanan kehidupan yang mengandung misteri di dalamnya.
Jalinan kasih yang harus dilepaskan memang tidak mudah untuk dilupakan. Kesakitan itu akan tetap ada dan membentuk sebuah trauma.
Alina sudah merasakan manis, asam, serta pahit begitu menusuk kala menjalani rumah tangga bersama seseorang yang tidak pernah mencintainya.
Bunga pernikahan telah layu dan gugur diterpa angin menerjang. Kilauannya menghilang serta aromanya meredup seiring episode baru datang.
Alina tidak pernah menyalahkan keadaan ataupun menyesali semua kejadian yang menimpanya selama ini. Ia justru bersyukur sebab Allah sangat menyayanginya.
Allah memberikan ujian tersebut untuk membuatnya lebih sabar dan yakin pada Allah jika semua itu akan mendatangkan kebahagiaan yang jauh lebih besar.
Alina percaya dan sangat percaya Allah akan mengganti air mata yang sudah banyak dikeluarkan dengan senyum kebahagiaan.
Tidak ada yang abadi, semua mempunyai masanya sendiri, baik maupun buruk waktu tidak pernah salah memberikan hal yang tepat.
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (Q.S Al-Insyirah:6)
Alina hanya pasrah dan menyerahkan sepenuhnya pada Allah semata. Karena ujian dan cobaan yang menimpanya tidak ada apa-apanya daripada pertolongan Allah.
"Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati." (Q.S. Al-Baqarah: 112)
Alina mampu menghadapinya, karena ia percaya akan kebaikan yang Allah berikan. Senyum maupun air mata menjadi hal lumrah yang mengiringi perjalanan kehidupan.
"Sayang, bisa bantu Mamah mengangkat meja ini, Nak?" teriaknya pada Raihan yang tengah duduk di kursi depan.
"Iya, Mah sebentar." Raihan pun meletakan ponsel sang ibu dan membantu Alina menata meja-meja di ruangan.
Alina dan Raihan kini menetap di sebuah pantai timur yang menyuguhkan pesona bahari. Pemandangan alam begitu menyejukan ditemani deburan ombak menjadi pilihan ibu serta anak itu untuk tinggal di sana.
Alina menyewa sebuah bangunan sederhana dan membuka toko kue. Baru dua minggu ia menjajakan dagangannya dan kenikmatan kue manis buatannya sudah mulai menyebar di kalangan turis yang datang.
"Alhamdulillah, beres juga. Setelah selesai liburan semester ganjil Raihan harus segera kembali ke sekolah yah, Nak," ucap Alina sambil membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya.
__ADS_1
Raihan memeluk Alina erat dan meletakan kepala bulatnya di dada sang ibu. "Em, Raihan harus bertemu orang asing lagi. Mamah, apa sebaiknya Raihan tidak usah sekolah saja dan membantu Mamah menjaga toko?" Ia mendongak dan mendapatkan pukulan pelan dari ibunya.
"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak. Kamu harus tetap sekolah dan menjadi orang hebat. Mamah tidak mau-"
Raihan memotong ucapannya cepat, "baiklah-baiklah, Raihan hanya bercanda. Raihan akan menjadi orang hebat dan menjadi kebanggaan Mamah dan ay-" Bocah tujuh tahun itu pun menghentikan perkataannya saat tidak sengaja ingin menyebutkan ayah.
Ia tahu jika satu bulan ini mereka sudah tidak membahas mengenai sosok sang ayah. Pria itu seolah menghilang dalam kehidupan keduanya.
Alina mengerti dan mengulas senyum simpul kemudian langsung membubuhkan ciuman di puncak kepalanya lagi.
"Baiklah belajar yang giat, bantu Mamah menata kue-kue itu ke etalase," titah Alina mengalihkan topik.
"Okay." Raihan langsung berjalan menuju etalase di mana kue-kue buatan sang ibu sudah ada di sana.
Alina berjalan ke depan hendak membawa benda pintarnya. Ia terdiam beberapa saat melihat indahnya pantai pagi ini.
Udaranya begitu segar dengan cahaya matahari mulai bersinar. Kesejukan menyapu wajah putihnya dan tanpa sadar ia menutup kedua mata menikmati belaian alam yang begitu memanjakan.
"Ah, aku harus segera membuka toko," ucapnya tersadar dan menyambar ponselnya cepat.
"Ka-kalian? MasyaAllah, kalian datang?" tanyanya tidak kuasa membendung kebahagiaan.
"Assalamu'alaikum, kami datang," balas mereka bersamaan.
"Wa'alaikumsalam, ayo masuk pasti lelah setelah berkendara ke sini," ajak Alina membawa tamunya ke dalam toko.
Suara lonceng di atas pintu pun berdentang perlahan menemani kebersamaan mereka yang mulai membuka lembaran baru.
...***...
"Ini kopi hangatnya, maaf hanya bisa memberikan kalian kue sederhana," tutur Alina meletakan tiga gelas dan kue buatannya sendiri di atas meja. Ia lalu duduk di hadapan kedua tamu melihat wajah sumeringah di sana.
"Jangan berkata seperti itu, kue buatanmu ini sangat enak tidak ada yang menandinginya."
__ADS_1
"Mas Angga bisa saja, dari dulu Mas memang pandai memuji kue butanku, karena ini gratis," balas Alina lalu menegak minuamannya singkat.
"Benar apa kata Teteh, Mas Angga memuji kalau ada maunya saja," balas Sarah lalu memasukan sepotong kukis ke dalam mulut. "Eum, ini benar-benar enak. MasyaAllah, semoga toko kuenya cepat terkenal," lanjutnya heboh sendiri menikmati makanan manis.
Angga dan Alina mengulas senyum senang lalu membiarkan Sarah berada di dunianya sendiri. Mereka kembali menikmati minuman seraya mendengarkan suara ombak sebagai peneman.
"Satu bulan sudah berlalu, bagaimana kabarmu dan Raihan?" tutur Angga lagi.
"Alhamdulillah, jauh lebih baik," balas Alina hangat.
"Syukurlah aku senang mendengarnya." Angga menoleh ke samping kanan di mana jendela toko Alina langsung menghadap ke arah pantai.
Pasir putih yang membentang serta nyanyian burung camar begitu mendamaikan. Ia lalu kembali melihat Alina tengah menatap objek yang sama.
"Seperti de javu, keadaan kita sekarang sama seperti saat aku pergi pertama kali," ucap Alina lagi.
Angga mengangguk mengerti. "Iya, itu yang sedang aku pikirkan juga. Aku harap kamu-"
"Aku tidak akan kembali padanya. Aku sudah memberikan surat perceraian ... aku yakin kalian mendengarnya saat kita bertemu mbak Jasmin," potong Alina cepat.
"Jadi, Teteh benar-benar akan berpisah dengan tuan Azam?" sambar Sarah dengan mulut penuh kue bahkan remahannya pun menempel di sana.
Dengan cekatan Angga membersihkannya menggunakan ibu jari. "Kamu makan seperti anak kecil saja."
Melihat pemandangan tepat di depan matanya membuat Alina tersenyum lebar. Ia menopang dagu di atas meja menyaksikan drama harmonis pasangan suami istri tersebut.
"Aku senang melihat kalian romantis seperti ini. Semoga tidak ada orang ketiga, keempat, atau siapa pun yang merusak rumah tangga kalian. Aku-"
"Aku dan Mas Angga ingin Teteh bahagia juga. Aku yakin Allah sudah menyiapkan seseorang yang terbaik untuk Teteh," potong Sarah.
"Aku ingin kamu bisa melupakan masa lalu dan mendapatkan masa depan lebih baik," lanjut Angga seraya masih sibuk mengurusi pasangan hidupnya.
Alina mendengus dan kembali menarik gelas berisi minuman hangat lalu menyesapnya pelan sambil menoleh melihat langit cerah siang ini.
__ADS_1
"Yah, semoga trauma ini bisa disembuhkan," benaknya dalam diam.