
Seperti yang sudah direncanakan kemarin pagi, pasangan suami istri tersebut berkonsultasi dengan Dokter Seruni. Zaidan terkejut kala mendengar apa yang dikatakan sang dokter dan Alina hanya tersenyum menimpalinya.
"Itu benar, Pak. Kehamilan di trimester pertama memang masih sangat rentan dan resiko kegugurannya tinggi. Jadi, untuk aktivitas malam lebih baik di kurangi terlebih dahulu." Itulah perkataan Dokter Seruni yang membuat Zaidan bungkam.
"Apa janinnya baik-baik saja, Dok?" tanya Zaidan setelah sekian lama.
"Alhamduillah, janin baik-baik saja," jelasnya lagi.
Zaidan dan Alina mengucap syukur bersamaan. Mereka senang mendapatkan sang jabang bayi dalam keadaan sehat.
Saat ini mereka sedang berada di perjalanan pulang hendak menjemput Raihan di tempat Azam. Sedari kepergiannya dari rumah sakit, Zaidan terus diam mengundang kelucuan bagi istrinya.
Alina terkekeh pelan mengundang atensi, Zaidan menoleh mendapatinya menahan senyum. Bibir menawan itu mengerucut membuat Alina semakin tertawa.
"Senang kamu yah, Sayang. Kita istirahat dulu dari aktivitas malam," ujarnya.
Alina masih sibuk menertawakan wajah muram sang suami. Ia lalu menggenggam lengan Zaidan seraya mengusap sudut mata yang berair. Zaidan mengulas senyum senang dan mengusap puncak kepala istri tercintanya.
"Tapi kebaikan buah hati kita yang utama sekarang. Aku tidak ingin mengambil resiko apa pun, syukurlah dia baik-baik saja," kata Zaidan, tangannya beralih mengusap pelan perut Alina.
Sang empunya menunduk melihat belaian lembut itu, bibir ranum melengkung sempurna bersama ribuan kupu-kupu beterbangan di hatinya.
"Em, Alhamdulillah bayi kita sehat dan baik-baik saja." Zaidan mengangguk singkat dan terus mengendarai roda berempatnya.
Kurang lebih dua puluh lima menit kemudian, mereka tiba di kediaman Azam. Sedari tadi Raihan sudah menunggu kepulangan mereka.
Ia sangat khawatir dan takut kala mendengar ayah dan ibunya hendak ke rumah sakit. Baik Alina, Zaidan, Azam maupun Jasmin mencegah Raihan ikut, sebab ada hal pribadi yang harus didiskusikan dengan sang dokter.
Mobil megah itu memasuki pekarangan, Raihan, Azam, Jasmin, dan Aqeela yang sedang duduk di luar pun bangkit menyambut kepulangan mereka.
Alina turun dari mobil digandeng oleh Zaidan. Senyum pun mengembang di wajah cantiknya kala pandangan itu langsung tertuju pada sang buah hati.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mamah pulang Sayang," katanya sambil memeluk Raihan erat.
"Wa'alaikumsalam, apa yang dikatakan dokter? Mamah baik-baik saja, kan? Mamah tidak sakit, kan?" tanya Raihan beruntun.
Alina mengangguk pelan lalu mengusap puncak kepalanya sayang. "Mamah baik, adik bayi juga baik-baik saja."
"Adik bayi?" Pertanyaan dari Aqeela yang tengah berdiri di belakang Raihan pun mengundang perhatian.
Alina bangkit menatap putri pertamanya tersebut. "Iya, Sayang. Mamah sedang mengandung adik kalian," jelasnya sambil mengusap perut.
"Wow, benarkah itu Mah?" tanya Aqeela memastikan.
Alina mengangguk yakin mengundang binar kebahagiaan dari gadis kecil itu. Aqeela pun memeluk mantan ibu sambungnya erat seraya mengucapkan selamat.
"Selamat yah Mah. Aku senang mendengar Mamah mendapatkan adik bayi. Aqeela turut bahagia," katanya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu akan menjadi kakak lagi," ungkapnya.
Aqeela melonggarkan pelukan, mendongak menatap ke manik bulan Alina. "Bolehkah? Sedangkan Mamah sudah tidak bersama Ayah lagi. Apa aku masih pantas menjadi anak Mamah dan menjadi Kakak dari adik bayi ini?" ujarnya sambil menatap ke arah perut Alina.
"Tentu saja, Sayang. Selamanya kamu akan tetap menjadi putri kecil, Mamah ... kakaknya Raihan dan juga adik bayi ini," jelas Alina mengundang senyum cerah di wajah cantik Aqeela.
"Benarkah? Aku senang sekali. Terima kasih Mamah, Aqeela sayang Mamah," ungkapnya antusias.
"Mamah juga menyayangimu, Sayang." Alina membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya.
Raihan yang iri melihat kebersamaan keduanya ikut memeluk sang ibu. Melihat mereka ketiga orang dewasa itu tersenyum hangat.
Mereka lega sudah mendapatkan hubungan kekeluargaan dengan sangat baik. Memang sangat panjang, dan melelahkan sebuah perjuangan, tetapi setelahnya ada kebahagiaan yang manis untuk dikecap.
...***...
__ADS_1
Di tempat berbeda, seluruh keluarga Zulfan mengadakan pertemuan kembali. Sang tetua pun mengundang sahabat sekaligus rekan sejawatnya datang. Ahnaf Zyva beserta anak, menantu, dan cucunya Zanna Zyva duduk berdampingan menghadap keluarga Zulfan.
Mereka tahu apa yang hendak disampaikan tetua di sana. Senyum mengembang di wajah manis Zanna kala mengerti tujuan dan maksud Dawas mengundangnya datang.
"Baiklah, seperti yang sudah disepakati beberapa tahun lalu saya mengadakan pertemuan dua keluarga besar di sini untuk membahas perjanjian tersebut."
"Saya, sebagai tetua di keluarga Zulfan ingin meminta cucu dari rekan, sahabat, saya yaitu Ahnaf ... untuk memberi izin kepada cucunya agar bisa bersanding dengan cucu saya, Zaidan. Zanna, apa kamu bersedia menjadi bagian dalam keluarga Zulfan?" Dawas memandangi wanita berusia tiga puluh dua tersebut seraya mengulum senyum.
Zanna seketika menjadi pusat perhatian, dengan pongah ia menatap mereka satu persatu hingga tatapannya berakhir di mata sayu Dawas. Ia mengangguk lalu memandangi kakeknya sendiri, Ahnaf.
"Karena saya tidak ingin mengecewakan Kakek ... saya akan mengikuti apa yang sudah menjadi perjanjian," katanya lugas.
"Kamu memang cucu Kakek yang sangat baik," kata Ahnaf mengembangkan senyum.
"Tapi, bukankah cucu Anda sudah menikah? Dari yang saya dengar dia menikah dengan wanita biasa, anak yatim piatu, dan single mom pula. Apa yang Anda pikirkan? Kenapa bisa mengizinkan cucu Anda menikah dengan wanita seperti itu?" Daffa Zyva mengungkap status Alina di sana. Ayah dari Zanna itu pun memandangi tetua tersebut lekat.
Seketika suasana berubah menjadi keruh, Dawas berdehem pelan sambil memandangi anak dan menantunya.
"Itu karena saya kecolongan. Kalau saya tahu dia akan menikah dengan wanita seperti itu ... saya tidak akan pernah mengizinkannya," balas Dawas.
"Lalu bagaimana cucuku bisa menikah dengan cucumu?" kata Ahnaf kemudian.
"Tenang saja, itu bisa diatur. Aku tidak ingin wanita itu mempermalukan keluarga kita. Zaidan harus sadar siapa wanita yang benar-benar pantas mendampinginya," tegas Dawas membuat Zanna bersinar.
Dawas merasa malu saat tahu jika keluarga Zyva sudah mendengar asal usul istri dari Zaidan. Pria tua itu seperti tidak punya muka untuk berhadapan dengan sahabat dari masa kecilnya tersebut.
"Aku mana bisa disandingkan dengan wanita rendahan ... bagaimanapun aku harus mendapatkan mas Zaidan. Karena dari dulu dia satu-satunya orang yang bisa aku harapkan. Kekayaan keluarga kami seharusnya tidak jatuh pada wanita asing, kita adalah keluarga terpandang dan terhormat," monolognya dalam diam.
Di tengah keseriusan yang mendera, Moana mengepalkan tangan mendengar penghinaan terus menerus dilayangkan kepada sang menantu. Karena bagaimanapun juga selama ini Alinalah yang sudah membuat putra sematawayangnya berubah.
Berkat keberadaan wanita itu ia juga sadar akan pentingnya keberadaan Tuhan. Selama ini ia terlalu terlena dan tersesat akan gemerlapnya keindahan dunia yang menipu.
__ADS_1
"Aku harus melindungi mereka berdua ... sebagai seorang ibu aku akan melakukan apa pun agar anakku aman," benaknya yakin.
...Bersambung......