Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 52 (Season 2)


__ADS_3

Tujuh tahun kemudian ........


Roda waktu terus bergulir menata setiap kehidupan berjalan layaknya air mengalir. Asam, manis, pahit, getir perjalanan hidup sudah dilalui.


Banyak cerita terlewati saat tahun demi tahun berganti berkali-kali. Canda, tawa, derai air mata, menjadi pelengkap kisah yang tertulis.


Allah selalu punya cara dan rencana terbaik bagi setiap hamba-Nya. Tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya, baik itu ujian maupun cobaan pasti di balik itu semua terdapat kebaikan.


Peran ganda yang sudah dilakoni seorang Alina Inayah menjadikan sosoknya sebagai seorang wanita mandiri, kuat, dan sabar.


Ia sudah menjadi seorang ibu dari dua orang anak, putra dan putri. Keduanya tumbuh dengan baik dalam pengawasannya. Meskipun Aqeela tidak lahir dari rahimnya sendiri, Alina tetap menganggapnya seperti anak kandung.


Raihan yang mewarisi sebagaian besar darah sang ayah begitu mirip bak pinang di belah dua. Terkadang Alina sempat merasa iri akan kemiripan mereka, tetapi ia bersyukur dianugrahi seorang putra yang sangat mandiri.


Delapan tahun lamanya ia membina rumah tangga bersama Azam. Sudah banyak kejadian demi kejadian yang terlewati bersama.


Sepeninggalan Yasmin beberapa tahun lalu memberikan luka teramat dalam. Azam sempat depresi dan tidak menerima keadaan. Namun, dengan sabar Alina terus berada di sampingnya hingga sang suami pulih.


Cinta pun terus tumbuh seiring berjalannya waktu, kini keluarga mereka begitu harmonis seperti yang dicita-citakan Alina dari dulu.


Jatuh cinta pada pandangan pertama bukanlah perkara mudah, terlebih pria yang dikaguminya menikah bersama orang lain.


Namun, takdir mengatakan hal berbeda. Allah mempertemukan mereka lagi dan menyatukannya dalam ikatan pernikahan. Walaupun ia berada di posisi kedua, tetapi Alina bersyukur setidaknya bisa bersama orang yang dicintainya.


Senyum terus terukir di wajah cantik itu, hijab hitam lebar menjulur hingga ke dada tertiup angin, ia berbisik lirih jika apa pun yang terjadi sabar dan yakin harus menjadi pondasi utama dalam berumah tangga.


Bak kapal berlayar di lautan lepas, seorang nahkoda harus menjalankannya dengan baik agar penumpang bisa selamat sampai tujuan.


Sebagai seorang istri Alina berusaha keras selaku pendamping terbaik bagi suaminya, Azam.

__ADS_1


Jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore, senja hadir menemani kesendiriannya yang tengah berdiri di balkon belakang rumah.


Di tengah kesepiannya ia merasakan sepasang lengan kekar melingkar di perut ratanya. Aroma mint menguar menyapa indera penciuman.


Bulan sabit terpendar lagi menambah kecantikan, kepala berhijabnya menunduk melihat tangan membelit di sana. Tanpa ragu ia pun menggenggam erat dan bersandar dengan nyaman di dada bidang sang suami.


"Sayang, sedang apa kamu di sini sendirian, hm?" tanya Azam seraya meletakan dagu di bahu sebelah kanan istrinya.


Panggilan sayang yang terlontar dari mulut Azam mengalirkan rona merah di kedua pipi, walaupun sudah delapan tahun mereka menikah, Alina masih belum terbiasa.


"Sayang, kenapa kamu masih malu aku panggil seperti itu? MasyaAllah, imut sekali istriku ini," gemas Azam.


Ia lalu membalikan tubuh Alina kemudian menghujami wajah putihnya dengan kecupan. Sang empunya tergelak dan berusaha melepaskan cengkraman Azam. Namun, sekuat apa pun dirinya berusaha, ia tidak akan bisa menyaingi kekuatan seorang pria.


"Lepaskan Mas, kamu membuatku geli," ucap Alina yang disertai gelak tawa.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu," balas Azam terus menjahilinya.


Layaknya magnet yang saling menarik satu sama lain, perlahan gerakan mereka mendekat dan seketika saling menyatu.


Di bawah langit senja adegan harmonis tengah berlangsung. Dekapan hangat suhu tubuh masing-masing menjadi candu mengalirkan darah dan memompa degupan jantung yang bertalu kencang.


Pelukan erat menjelma membentuk kesatuan yang tidak ingin dilepaskan. Raksi membentang menguarkan aroma kesyahduan melukiskan cinta mereka.


Sudah terlalu banyak episode terbuang penuh derai air mata. Ketidakpercayaan mengalirkan sebuah perasaan baru yang kini kian menetap.


"Terima kasih, Mas. Karena sudah mau menerimaku sebagai istrimu, aku ... sangat mencintaimu," ungkap Alina kemudian membubuhkan kecupan ringan di dada suaminya.


Sentuhan itu pun bak sengatan listrik mengalir hingga ke hatinya, Azam tersenyum senang menyaksikan sang istri terus menunjukan perasaannya.

__ADS_1


"Tidak usah berterima kasih, akulah yang seharusnya mengatakan itu. Terima kasih karena mau bertahan sampai sejauh ini. Keberadaanmu bagaikan anugerah yang tak ternilai, Allah menghadirkanmu sebagai pelengkap hidupku. Aku mencintaimu, Alina. Sangat ..." ungkap Azam, lalu memberikan ciuman mendalam di dahi lebar Alina.


Kebersamaan mereka tidak lepas dari hangatnya sang raja siang yang mulai pulang ke peraduannya. Semburat orange, jingga melebur menjadi satu memberikan lukisan Allah yang begitu menakjubkan.


Di bawah senja, di dalam sapuan angin sore, kisah cinta Alina dan Azam terbentuk menjadi lautan harmoni. Cinta datang bermuara hingga berlabuh di lautan lepas bernama kehidupan.


"Ayah, Mamah, sampai kapan kalian mau berduaan terus? Aku dan Raihan juga mau ikut bergabung." Suara halus gadis berusia delapan tahun menyentak kesadaran.


Azam dan Alina melepaskan pelukan lalu menoleh ke satu objek yang sama. Aqeela tengah menggandeng adik kecilnya, Raihan tersenyum hangat menatap kedua orang tuanya.


Alina merona hebat ketahuan tengah mengumbar kemesraan di depan buah hatinya.


"Sa-sayang, sejak kapan kalian ada di sini?" tanyanya gugup.


"Sejak Mamah berterima kasih pada Ayah," balas Raihan, sedetik kemudian menoleh pada sang kakak, "Kakak, aku mau punya pasangan seperti Mamah," lanjutnya polos.


"Adik kecil kamu tidak usah memikirkan itu sekarang, masih terlalu jauh. Kakak dulu sebelum kamu," jawab Aqeela.


Sontak percakapan singkat tersebut membuat Alina dan Azam tergelak. Mereka berjalan mendekat dan berjongkok di hadapan kedua buah hatinya.


Alina pun mengusap kepala mereka hangat seraya melengkungkan bulan sabit sempurna.


"Anak-anak Mamah pintar sekali, sampai kapan pun kami berdua sangat menyayangi kalian," ungkap Alina langsung memeluk mereka dan membubuhkan ciuman di puncak kepalanya masing-masing.


Azam mengulas senyum senang, setelah itu ikut bergabung bersama mereka dan mendekap keluarganya ke pelukan hangat.


Aroma menenangkan bercampur menjadi satu, Alina tidak bisa membendung kebahagiaan. Kini lengkap sudah keinginannya tercapai dengan sangat sempuna.


"Ya Allah tidak ada yang salah dengan semua rencana-Mu. Di balik keganasan ujian yang Kau berikan, nikmat-Mu sungguh luar biasa. Mbak Yasmin, aku minta maaf ... karena aku sangat mencintai Mas Azam dan tidak ingin kehilangannya. Aku minta maaf jika merenggut kebahagiaanmu, mbak. Aku harap mbak sudah berada di tempat terbaik di sisi-Nya. Ya Allah terima kasih atas segala karunia yang sudah Kau berikan. MasyaAllah, aku sangat mencintai keluarga ini," monolog Alina dalam diam.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu seperti apa esok hari, waktu itu menjadi misteri dan mempunyai kejutan tak terduga. Pelangi akan datang selepas datangnya badai, begitu pula dengan senyum kebahagiaan.


__ADS_2