Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 46


__ADS_3

"Jangan pergi aku mohon tetaplah di sini. Yasmin buka matamu, Sayang. Jangan bercanda, ini tidak lucu, Sayang buka matamu. Jangan tidur, Yasmin......Yasmin, bangun Sayang, aku mohon." Azam terus mengguncang tubuh sang istri yang semakin dingin, dengan bermandikan cahaya mentari kebersamaan mereka terputus oleh jeratan takdir.


"Kamu pasti bercanda, kan? Ayo kita temui Angga dan lihat perkembanganmu, bukankah alat-alat itu sudah tidak diperlukan lagi? Kamu pasti sudah sehat kembali." Seraya berceloteh tidak jelas, Azam menggendong Yasmin kembali ke dalam gedung. Angga yang sudah menunggu mereka sedari tadi terkejut melihat kedatangan sang sahabat memanggilnya dengan nada keras.


Azam terus menyuruhnya untuk memeriksa Yasmin, mau tidak mau Angga mengikuti kemauannya. Saat stetoskop di arahkan ke dada kiri, degup jantung Yasmin sudah menghilang. Angga mengangkat kepalanya memandang lekat ke arah Azam. Gelengan kepala pun diberikan membuat pertahanan pria itu runtuh seketika. Ia pun berjalan mendekat dan berjongkok tepat di hadapan sahabatnya.


"Yasmin sudah meninggal dua puluh menit yang lalu, di-"


"BOHONG!!!"


Teriak Azam tidak percaya lalu langsung menyambar dan mencengkram jas putih miliknya. Angga hanya terdiam membiarkan apa yang hendak dilakukannya. Ia mengerti seperti apa rapuhnya menerima kenyataan pahit atas meninggalnya orang terkasih. Ia tahu seberapa besar rasa cinta Azam untuk Yasmin selama ini, fakta yang didapatkannya kali ini pasti menghantamnya kuat.


"Kamu pasti berbohong, kan? Yasmin tidak mungkin meninggal, dia..........dia pasti sembuh. Yasmin tidak bisa meninggalkanku begitu saja, kamu pasti bohong."


Azam terus meracau dengan suara yang semakin pelan. Kepalanya terus menenduk dalam menyembunyikan air mata berlinang. Isak tangis tak tertahan menggema dalam ruang inap yang sudah berbulan-bulan menjadi tempat bernaung sang istri. Kenangan dan bayangan hari-hari lalu berputar dalam ingatan, memori kebersamaan menikmati waktu dengan cinta yang bergelora seperti film ditayangkan kemarin menari indah.


Sudah banyak masa yang memberikan kebahagiaan dan mendatangkan Aqeela ke dunia. Senyum indah yang setiap kali hadir di wajah cantik Yasmin seketika tergambar jelas. Cairan bening terus menentes membasahi lantai rumah sakit. Angga yang menyaksikan hal tersebut merasa terpukul atas kejadian menimpa sahabat terdekatnya.


Ia pun menepuk pelan bahu Azam berkali-kali mencoba menguatkan. Angga tahu tidak ada yang rela menyaksikan istri tercinta pergi untuk selama-lamanya, terlebih orang itu sudah sangat lama berada dalam cerita kehidupan. Kini mereka sudah berada di dunia berbeda, ia berharap sang sahabat bisa menemukan kebahagiaan lagi bersama istri kedua.

__ADS_1


Hanya keheningan yang membersamai, beberapa petugas medis pun ikut berbela sungkawa atas berpulangnya Yasmin. Beberapa saat kemudian jenzahnya pun digiring menuju ambulans untuk dibawa pulang, tangisan Azam kembali pecah kala menyaksikan wajah damai sang istri untuk terakhir kalinya. Bagaikan tersayat-sayat pisau belati kehilangan orang terkasih yang tidak diharapkan kedatangnya kini terjadi juga. Takdir tidak pernah salah memberikan jalan cerita pada setiap kehidupan yang tengah di tapaki.


Angin berhembus kencang menerbangkan kepedihan dalam kekalutan, cakrawala yang semula cerah kini meredup dengan awan gelap berkumpul menjadi satu membentuk hitam pekat. Perlahan air dari langit berjatuhan mengiringi kepergian Yasmin Zakiyyah. Kehilangan pun tidak hanya dirasakan Azam seorang, Angga yang berada di sampingnya pun merasakan hal sama. Karena keberadaan Yasmin sudah seperti keluarga sendiri baginya, kini sosok itu pergi menyisakan air mata.


...***...


Sarah yang tengah menemani Aqeela bermain terkejut kala mendengar suara sirine ambulans. Firasat tidak mengenakan pun seketika berdengung dalam dada. Tidak lama berselang mobil jenazah memasuki pekarangan rumah mengantarkan ketidakberdayaan. Sosok Azam yang keluar meruntuhkan pertahanan, ia meyakini intusinya kali ini benar adanya.


Beberapa saat kemudian peti pun di keluarkan dari dalam mobil, langkah demi langkah terasa berat Azam tapaki. Irisnya pun melihat Sarah yang tengah menggendong Aqeela di ambang pintu, tanpa terasa air mata meluncur dengan deras.


"Tuan, Nyonya-"


Jenzah Yasmin pun diletakan di tengah-tengah rumah, satu persatu para pelayat, sanak keluarga dan orang-orang yang hendak membantu pun berdatangan. Azam yang semalaman tidak tidur nampak kusut dengan wajah pucat menyambut kedatangan mereka. Selang dua puluh menit kemudah kedua orang tuanya mendekat dan memeluknya erat, mereka mencoba menangkannya yang tengah dirundung pilu.


"Mamah ikut berbela sungkawa, inysaAllah Yasmin sudah tenang di sana. Dia sudah tidak kesakitan lagi, ikhlaskan dia pergi, Nak." Kata sang ibu seraya mengusap punggungnya pelan.


Azam hanya mengangguk skeptis dan membalas pelukannya tak kalah erat. Setelah itu kedua mertuanya pun hadir dan melakukan hal yang sama. Orang tua Yasmin berusaha tegar melepaskan kepergian sang putri, meskipun mereka sama terpukulnya. Namun, keberadaan keluarga memberikan kekuatan pada Azam untuk mengikhlaskan kepergian Yasmin. Karena bagaimanapun juga ketentuan Allah itu yang terbaik, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan, tetapi rencana Allah tidak ada yang tahu.


Proses memandikan jenzah tengah dilakukan, setelah itu Yasmin pun dikafani untuk selanjutnya dibawa ke liang lahat. Satu persatu prosedur pun dilakukan sampai tahap sang jenzah diletakan ke dalam keranda dan digiring menuju pemakan.

__ADS_1


Setiap langkah maka liquid bening meluncur deras dikeda pipi masing-masing keluarga, Azam yang tengah memangku Aqeela pun tidak kuasa membendung kepedihan. Ia berusaha kuat agar tidak memberatkan sang istri. Ia berusaha ikhlas dan menerima apa yang sudah Allah takdirkan untuk mereka.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di pemakaman, Azam pun langsung memberikan Aqeela pada sang ibu dan ikut terjun ke liang lahat untuk menguburkan Yasmin. Dengan wajah sembab ia berusaha tegar mengangkat jenazah Yasmin bersama yang lain.


"Ya Allah kenapa kurus sekali, selamat tinggal Sayang, semoga kamu tenang di alam sana. Aku yakin kamu tidak kesakitan lagi, kan? Semoga nanti kita bisa bertemu lagi," benaknya.


Angga yang menyaksikan secara langsung pun terbawa emosional, air mata tak kunjung mereda mengalir di pipi. Melihat kekuatan yang terpancar dalam manik sang sahabat membuatnya iba, beberapa bulan ia dibuat kesal oleh Azam. Karena perbuatannya yang sudah menyianyiakan istri kedua, tetapi setelah mendapati kesungguhan dalam dirinya, ia yakin jika Azam akan menjadi seorang suami dan ayah yang terbaik.


"Ya Allah berikanlah ketabahan dan kekuatan pada diri Azam atas kepergian Yasmin. Serta berikanlah kebahagiaan padanya setelah semua ini berlalu," monolog Angga tatapannya pun tidak pernah lepas dari sosok sang sahabat.


Jam demi jam berlalu dengan begitu cepat, kini Yasmin sudah beristirahat dengan tenang di alam sana. Do'a pun kini tengah dipanjatkan, Azam, sebagai seorang suami merasa benar-benar kehilangan. Kejdaian yang tidak pernah ia harapkan dari dulu kini mendatanginya jua, Yasmin pergi untuk selamanya menyisakan kenangan yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.


Sampai kapan pun akan selalu ada tempat terindah untuk Yasmin di dalam hati Azam. Cakrawala pun ikut menangis dengan air hujan turun membasahi bumi. Gemuruh langit berdentum mengatakan jika meninggalnya seseorang bukan akhir dari segalanya. Justru hal tersebut menjadi awal perjalanan sesungguhnya.


Allah SWT berfirman di dua ayat dalam Al-Qur'an :


"Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Jumu'ah 8)


"Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh." (QS. An-Nisa : 78)

__ADS_1


Sebagai hamba yang beriman dan mempercayai hari akhir sudah sepatutnya kita mempersiapkan diri untuk kembali berpulang. Karena hidayah bukan ditunggu, tetapi dijemput. Allah selalu memberikan kesempatan pada setiap hamba untuk terus memperbaiki diri sampai waktu yang sudah ditentukan.


__ADS_2