Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 20


__ADS_3

Asam manis kehidupan akan selalu terulang. Hari ini masih ada senyum mengembang, bisa saja besok air mata akan membayang. Luka dan luka akan terus tercipta seiring berjalannya waktu, dan waktu jugalah yang menggiring bagaimana bahagia datang setelahnya. Akan selalu ada air mata sebagai peneman jalan cerita penuh lara.


Terkadang mengandung racun yang sulit diterima nalar mengundang kepiluan. Menari indah di atas kebahagiaan menggiring kesenangan tiada tara. Detik demi detik yang terlewat memberikan kenangan berbeda. Hujan selalu datang meninggalkan mentari. Embun akan menempel di dedaunan memberikan kesejukan.


Layaknya air mengalir di sungai, arusnya membawa ke lautan lepas dan mendapatkan kebebasan.


Hari demi hari berlalu, tidak terasa kandungan Alina sudah memasuki bulan keempat. Hari-hari beratnya sudah berhasil dilalui, morning sickness yang begitu menyiksa telah hilang dengan sendirinya.


Peran ganda akan terus melekat erat dalam diri Alina membuatnya harus ekstra kuat dan sabar dalam menjalani pernikahan sebagai istri kedua.


"Yasmin!!"


Teriakan menggelegar di rumah mewah mengejutkan Alina yang tengah bersiap untuk membuat sarapan. Buru-buru ia keluar dan menangkap sang suami berlarian menuju lantai atas. Seketika degup jantung bertalu kencang, Alina menyadari sesuatu kala melihat ekspresi ketakutan dari Azam.


Jika kini perhatian suaminya akan kembali berpihak pada istri pertama.


Sebelum terdengar teriakan Azam, dari lantai dua terdengar bunyi seperti barang terjatuh. Alina tidak tahu hal itu dan dikejutkan dengan suara suaminya.


Beberapa saat kemudian Azam turun seraya menggendong Yasmin. Alina berjalan perlahan untuk melihat keadaannya. Ia pun langsung menutup mulutnya kala melihat darah keluar dari hidung Yasmin.


"Ma-mas, a-apa yang terjadi? Mba-mbak Yasmin kenapa?" tanyanya takut-takut.


"Aku akan membawa Yasmin ke rumah sakit, kamu hati-hati di rumah."


Setelah mengatakan itu Azam pergi meninggalkan Alina begitu saja. Dalam diam manik bening terus menatap kepergian mereka. Alina menautkan kedua tangannya menekan erat jari-jemari berusaha menetralkan degup jantung.


Entah kenapa sebuah firasat tidak mengenakan datang menerjang. Seolah datang dari dua sisi memberikan ketakutan.

__ADS_1


"Ya Allah, hamba mohon berikanlah kesembuhan untuk mbak Yasmin," gumamnya penuh harap.


...***...


Sesampainya di rumah sakit, dokter menyambut mereka dan membawa Yasmin ke dalam ruangan. Di sana dokter yang selama ini menangani Yasmin langsung memberikan pengobatan. Azam memperhatikan dari luar tidak kuasa membendung air mata, bagaimana alat-alat medis dipasang satu persatu di tubuh istrinya.


Kesakitan kembali merembat dalam dada. Ia mengepal kedua tangan erat menahan isak tangis, tidak bisa melihat keadaan Yasmin seperti sekarang. Terlalu banyak kenangan yang mereka lewati bersama, ia tidak akan sanggup jika harus kehilangannya. Ia tidak akan pernah jika tanpa Yasmin. Itulah yang selalu melekat erat dalam pikiran Azam selama ini. Namun, entah bagaimana takdir berbicara semua pasti akan berbeda setelahnya.


Tidak lama berselang dokter kembali keluar menatap serius ke arah Azam. Pria itu bingung dan takut diwaktu bersamaan. Ia tahu ada sesuatu yang sudah terjadi.


"Apa kamu tahu Yasmin tidak melakukan kemoterapi?" ucap sang dokter bernama Angga seraya menekan kalimatnya.


"Apa? Tidak melakukan kemoterapi? Aku selalu mengingatkannya," balas Azam kemudian.


Dokter Angga menghela napas berat. Pria berusia awal 30 tahunan ini menangkup kedua bahu Azam dan menatapnya dalam.


Setelah menepuk bahu Azam beberapa kali Angga meninggalkannya sendirian. Lorong dingin rumah sakit menyapu keterdiamannya. Kata-kata sahabat masa sekolahnya dulu terus berdengung dalam pendengaran. Azam tidak mengerti kenapa Yasmin tidak melakukan kemoterapi. Rasa sakit kembali merambat dalam dada.


Jam sudah menunjukan pukul 15:35 tepat. Alina yang baru selesai dengan tugasnya menatap langit mendung sore ini. Perlahan awan kelabu berkumpul membentuk gumpalan yang siap meluncurkan hujan kapan saja.


Alina dirundung gelisah, sedari tadi sang suami tidak mengabarinya apapun. Sarah yang berada tidak jauh dari keberadaannya berjalan mendekat.


"Mbak mengkhawatirkan mereka?"


Alina mengangguk singkat. "Apa yang Mbak pikirkan saat ini?" tanya Sarah lagi.


Lama Alina tidak menjawab pertanyaannya dan terus memperhatikan langit seraya memantapkan diri. Sampai, "aku tidak mau melihat kesedihan dalam diri mas Azam. Aku juga sangat menyayangi mbak Yasmin. Aku tidak ingin melihat mereka terluka."

__ADS_1


Sarah mengangguk mengerti, "jadi, apa yang akan Mbak lakukan sekarang?"


Kepala berhijab hitam lebar itu menoleh menatap ke dalam iris cerah wanita yang lebih muda 2 tahun darinya. "Aku akan pergi ke rumah sakit, titip Aqeela yah." Tanpa menunggu jawaban Sarah, Alina pergi begitu saja.


"Akhir apa yang akan terjadi dalam rumah tangga mereka? Aku harap yang terbaik, Ya Allah berikanlah kemudahan bagi ketiganya," gumam Sarah kemudian.


Disepanjang jalan ruat kekhawatiran nampak jelas di wajah Alina. Taksi yang tengah membawanya membelah angin mengantarkan ketidaknyamanan. Berkali-kali Alina meminta pada sang supir untuk bergegas.


Beberapa menit kemudian Alina pun tiba di rumah sakit besar di kotanya. Selesai membayar taksi ia langsung mencari ruangan tempat Yasmin di rawat. Berkali-kali ia bersenggolan dengan orang yang berpapasan dengannya. Tidak sedikit pula dari mereka memberikan kata-kata pedas. Alina sama sekali tidak mengindahkannya dan terus berjalan menuju tujuan.


Di lantai lima tepatnya di ruang VVIP Alina menghentikan langkah. Deru napas memburu hebat dengan dada naik turun, ia diam beberapa saat menetralkan degup jantung. Tangan kanannya lalu terulur hendak membuka pintu, tapi sebelum itu terjadi pergerakannya terhenti. Suara dari dalam mengejutkannya secara perlahan.


"Kenapa kamu tidak melakukan kemoterapi, Sayang? Apa kamu memang berniat untuk meninggalkanku dan Aqeela? Apa kamu tidak menyayangi kami lagi? kamu sudah tidak mencintaiku lagi, kan Yasmin? Sampai-sampai menikahkanku dengan Alina? Apa yang kamu pikirkan, hah?"


Suara sang suami bergema dalam ruangan. Terdengar isak tangis mulai berdengung membuat Alina diam kaku tidak bisa pergi ke mana pun. Kepalanya lalu mendongak melihat keduanya dari sebilah kaca.


"Aku tidak bermaksud seperti itu, Mas. A-aku ha-hanya tidak bisa menahan rasa sakitnya. Setiap kali setelah selesai kemoterapi efek sampingnya membuatku tidak berdaya sebagai seorang istri. Aku tidak bisa melayanimu baik secara fisik maupun batin dan tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Aqeela. Aku sudah tidak berguna baik menjadi istri ataupun ibu. Itulah alasanku kenapa menyuruhmu menikah dengan Alina. Dia wanita sehat yang bisa melayani Mas dengan baik dan juga ibu buat Aqeela," balas Yasmin dengan nada bergetar. Air mata tumpah ruan menatap sang suami menunduk dalam. "Apa Mas mencintainya?"


Secepat kilat Azam langsung membawa sang istri ke dalam pelukan erat. Wajahnya bersembunyi di bahu sempit Yasmin. Tubuh tegap itu begetar menahan tangis. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tidak ada yang bisa menggantikanmu. Kamu istriku dan ibu Aqeela. Fakta itu tidak bisa dirubah. Aku sangat mencintaimu dan tidak sanggup jika harus kehilanganmu. Maka berjuanglah bersama untuk kesembuhanmu."


Kata demi kata yang terlontar dari mulut sang suami menggetarkan perasaan. Kedua tangan Yasmin terangkat dan membalas pelukannya. Mereka menangis bersama menumpahkan pengap dalam dada.


Sedangkan di luar ruangan Alina mematung mencerna perkataan Azam. "Tidak ada yang bisa menggantikanmu" terus terngiang dalam pendengaran. Ia lalu menutup kedua matanya erat dan seketika itu juga air mata meluncur dengan deras.


"Kamu?"


Seseorang berbicara padanya, Alina menoleh dan mendapati seorang pria berjas putih tengah menunjuk tepat padanya.

__ADS_1


__ADS_2