Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 92 (Season 2)


__ADS_3

Angin berhembus kencang menerjang pepohonan merontokan dedaunan kering. Memori baru tercipta kala hadirnya sebuah pertemuan. Gelenyar emosi menempati dasar hati paling dalam saat kenangan masa lalu kembali datang dan bersinggungan.


Alina terus diam dan menahan tangis di dalam mobil. Setelah kejadian di persidangan beberapa menit yang lalu ia membungkam mulutnya rapat seraya terus memandang keluar. Tidak ada siapa pun yang berani mengucap sepatah kata dan hanya memberikan waktu sendiri baginya.


Ia duduk di jok tengah tanpa mengindahkan keberadaan orang lain di sana. Kepalanya memutar ingatan yang beberapa hari sudah terlewati.


Diam-diam Zaidan yang tengah duduk di depan seraya memangku Raihan memperhatikan. Ia khawatir sekaligus takut berkat ungkapannya tadi di ruang sidang mempengaruhi wanita berhijab itu.


"Paman, apa yang terjadi pada Mamah? Sedari tadi Mamah terus diam, apa ada sesuatu tertadi?" bisik Raihan sambil mendongak menatap lawan bicaranya.


Zaidan mengulas senyum hangat lalu mengusap puncak kepalanya pelan. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Mamah mungkin hanya lelah."


"Terus kenapa aku tidak diajak masuk tadi? Aku juga ingin tahu apa yang terjadi di dalam sana," celotehnya dan memanyunkan bibir.


"Tidak ada yang menarik di dalam sana, kamu pasti suka bermain dengan Paman Angga, kan?" tanya balik Zaidan.


"Em." Raihan mengangguk pelan tanpa mengatakan apa pun lagi.


Beberapa saat kemudian Alina yang masih memandang ke arah luar mengerutkan dahi lebarnya kala melihat siluet seseorang. Ia menegakan tubuh dan pegerakan itu membuat mereka menatapnya.


"Aku titip Raihan sebentar." Buru-buru Alina membuka pintu mobil tanpa menunggu jawaban yang lain.


Hal tersebut seketika mengundang rasa penasaran semua orang. "Aku akan menyusulnya," lanjut Zaidan dan mendudukan Raihan di joknya.


Sepeninggalan dua orang itu keadaan di dalam kendaraan roda empat tersebut terasa hening. Raihan melihat ke mana sang ibu kembali mendekat ke gedung yang tidak diketahuinya.


"Mamah," cicitnya.


Melihat kedua mata bocah itu berkaca-kaca, Zara yang duduk tepat di belakangnya mencondongkan badan ke depan.


"Sayang, kamu mau bermain dengan Naura? Lihat dia punya mainan yang bagus," ujarnya sambil memperlihatkan mainan sang buah hati.


Raihan menoleh pada Zara dan mengangguk pelan. Ia lalu menggendongnya dan memindahkan anak itu di sebelah Naura.

__ADS_1


"Semoga tidak ada yang terjadi," benak Zara memandangi sosok sang sahabat yang menghilang dalam pandangan.


...***...


Alina terus melangkahkan kaki menelusuri belakang gedung persidangan. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dan membuat ia tertarik untuk mengikuti wanita asing tadi.


"Kenapa dia berjalan ke belakang gedung? Bukankah seharusnya kalau mau pulang itu ke depan? Ini sungguh aneh," lirihnya.


Tidak lama berselang ia mendapati sosok wanita berambut sebahu itu tengah menemui seseorang. Alina langsung bersembunyi di belakang tembok melihat dan mendengar percakapan kedua wanita di sana.


"Kerja bagus, kamu melakukan tugas dengan sangat baik," ucap salah satu dari mereka seraya memberikan amplop berwarna cokelat.


"Tentu, ini sesuai dengan bayaranmu, Yasmin," jelas sang wanita berambut pendek menerimanya.


"Oh jadi ini semua rencanamu? Sungguh tidak terduga." Alina memperlihatkan dirinya seraya memandangi mereka dan melipat tangan di depan dada.


"Alina?" Panggil Yasmin.


Sesampainya di hadapan mereka, Alina mendengus pelan dan membuang muka.


"Aku tidak menyangka kamu mau merusak perceraian kami? Kenapa? Bukankah ini kesempatan bagus, mas Azam akan menjadi satu-satunya milikmu," ujar Alina tegas.


Yasmin tertawa pelan dan memandanginya lekat. "Aku tidak akan membiarkan rencanamu berjalan lancar."


"Kenapa?" tanya Alina penasaran.


"Karena kamu sudah ikut campur dalam rencanaku. Aku tidak bisa menjalankan rencana awal dengan lancar."


"Apa maksudmu?"


Yasmin menggerakan kakinya beberapa langkah hingga tepat di depan wajah Alina. "Aku tidak bisa membuat Jasmin terpuruk lebih jauh. Maka aku membutuhkanmu sekarang untuk membuatnya merasakan sakit berkali-kali. Karena apa yang kamu lakukan sudah merusak semuanya."


"Kamu gila, Yasmin. Dia itu adik kembarmu, istighfar Yasmin." Alina menggeleng tidak percaya.

__ADS_1


Yasmin mendengus kasar dan terus menatap ke dalam manik jelaga Alina. "Aku memang sudah gila. Karena itulah aku ingin membuatnya terus menderita dan ... aku tidak akan membiarkanmu berpisah dengan mas Azam. Aku tahu selama ini kamu bekerja sama dengan seorang agen yang sudah banyak membantu para pengusaha untuk mencari kelemahan lawannya."


"Jika kamu tidak mengikuti apa yang aku suruh maka siap-siaplah orang itu akan mendapatkan hukumannya. Sarah ... wanita itu sudah kamu anggap seperti keluarga, bukan?"


Kata-kata Yasmin terus berdengung dalam pendengaran, Alina tidak menyangka melihat wanita ini menunjukan taringnya.


Penampilannya pun jauh berbeda dari awal bertemu. Ia memakai celana jeans hitam dan kemeja putih di masukan sebagian, serta hijabnya dililitkan ke belakang leher.


"Ah, jadi seperti ini penampilan aslinya? Kamu ... menunjukan siapa kamu sebenarnya, Yasmin," benak Alina.


"Sayang sekali, aku tidak akan mau mengikuti apa yang kamu suruh. Karena aku bukan bonekamu ... aku memiliki kehidupan sendiri dan ingin terbebas dari rasa sakit yang terus menjerat dari dulu," ungkap Alina tegas.


Kini giliran Yasmin menyeringai dan melipat tangan di depan dada. Ia kembali mundur selangkah ke belakang melihat kilatan mata sang lawan bicara.


"Oh, jadi kamu sudah siap jika Sarah akan mendekam di penjara? Wanita itu melakukan sesuatu yang sangat amat salah." Tantang Yasmin.


"Silakan, adikku sudah menjalankan hukumannya. Lantas untuk apa kamu melaporkannya lagi? Kamu bisa dituntut balik atas tuduhan palsu. Juga ... wanita itu-" Alina menjeda ucapannya dan menggendikan dagu ke wanita yang berada di belakang Yasmin.


"Wanita itu, orang suruhanmu, kan? Aku bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik. Karena kalian sudah memfitnahku berselingkuh." Ancam Alina balik.


Yasmin dan wanita di belakangnya mengerutkan dahi dalam. Melihat tidak ada tanda-tanda lawan bicaranya berkata-kata lagi, Alina pun kembali membuka suara.


"Seminggu yang lalu sebelum persidangan ini berjalan aku melihat wanita itu datang ke toko kueku. Dia mengalungkan kamera di leher jenjangnya dan memotret beberapa pemandangan. Waktu itu aku tidak sadar, tapi sekarang sepertinya spekulasiku benar jika ... wanita itu seorang reporter yang kamu sewa untuk memata-mataiku guna mendapatkan berita tidak benar adanya," ungkap Alina.


Yasmin mengepalkan kedua tangan dan terus memandanginya dengan tajam. "Lalu apa yang kamu inginkan sekarang? Darimana pradugamu ini berasal?"


Alina mendengus kasar lalu mendekat ke arah Yasmin dan menatap lurus ke dalam mata berlensa abunya.


"Karena di manapun aku berada wanita itu selalu ada. Itu sudah membuktikan jika dia adalah seseorang yang mau mengorek informasi dariku dan menyebarkannya di waktu sekarang." Alina menarik sudut bibirnya tajam dan terus memberikan sorot mata tegas.


Yasmin dan juga wanita di belakangnya tidak percaya mendengar perkataan tersebut. Dalam diam Yasmin mengepalkan kedua tangan erat.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2