Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 162 (Season 3)


__ADS_3

Layaknya menabur garam di atas luka menganga, rasa perih itu menebar ke dalam sanubari. Pertemuan untuk pertama kalinya bersama sepupu rahasia terjalin.


Zaidan dan Dimas duduk berdampingan menghadap Calvin Alfero. Pria berwajah sedikit oriental itu menyeringai menatap manik cokelat bening lawan bicaranya.


"Beliau adalah Tuan Muda Zaidan Zulfan." Dimas memulai pembicaraan dengan memperkenalkan sang tuan muda.


"Iya, aku tahu. Beliau adalah anak emas yang begitu dijunjung tinggi oleh tetua Zulfan," balas Calvin dingin.


Zaidan terus memperhatikan sang sepupu yang sedari tadi memberikan tatapan nyalang. Seolah memulai peperangan keduanya saling melempar keseriusan.


"Aku di sini bukan untuk menggali masa lalu, tetapi ... aku di sini ingin meminta bantuanmu," ucap Zaidan to the point.


Calvin tergelak lalu menoleh ke sebelah singkat. "Sungguh menggelikan... kita baru saja bertemu dan kamu sudah meminta bantuanku? Di mana sopan santunmu? Apa keluarga Zulfan tidak mengajarimu tatakrama? Bukankah menyenangkan setiap hari bisa menikmati harta yang tidak pernah habis itu?"


"Sekarang kamu menemuiku untuk meminta bantuan? Apa yang sudah diajarkan keluarga Zulfan?"


"Keluarga Zulfan mengajarkan tentang gemerlapnya dunia. Aku sudah jatuh terlalu jauh ke dalam lubang hitam yang menyesatkan. Sekarang aku sadar pada siapa diri harus berserah ... aku minta maaf. Karena selama ini aku tidak pernah tahu jika mempunyai sepupu laki-laki. Aku-"


"Baiklah, sepertinya kamu memang tidak bersalah. Om Farraz sudah sangat baik pada kami selama ini, meskipun kami tidak pernah dianggap ada oleh keluarga Zulfan," sambar Calvin cepat.


Mendengar penuturan tersebut menarik perhatian Zaidan. Ia jadi ingin mengetahui lebih dalam apa yang sudah terjadi pada Calvin beserta keluarganya.


Selama ini ia tidak pernah tahu bagaimana masa lalu sang kakek. Dawas selalu menjunjung tinggi masa depan dengan bekerja keras untuk tidak menoleh ke belakang lagi.


Baginya masa lalu sudah mati tidak ada yang tersisa. Kemarin hanyalah cerita yang tidak bisa kembali, layaknya delusi tak usah diungkit-ungkit untuk kedua kalinya.


"Jadi, selama ini kamu ada di mana? Kenapa keluarga Zulfan tidak mengetahui keberadaanmu? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zaidan beruntun.

__ADS_1


Calvin mengangguk beberapa kali bersikap pongah seraya melipat tangan di depan dada. Ia mengangkat kepala menatap nyalang lewat ekor matanya.


"Kamu mau tahu bagaimana sengsaranya aku hidup bersama ayah yang tidak dianggap oleh keluarga Zulfan?" tanyanya balik.


Dengan cepat Zaidan mengiyakan sambil menegakan tubuh. Dimas yang berada di sampingnya pun menatap lekat berharap sang tuan tidak terbawa suasana.


Saat pertama kali mendengar cerita tentang seorang Calvin Alfaro, Dimas sekuat tenaga menahan tangis. Ia tidak pernah menyangka jika ada keturunan Zulfan yang hidup serba kekurangan. Setelah itu ia bersyukur atas kehidupannya selama ini.


"Aku adalah anak dari Fawaz Zulfan, tetapi ayah menggantinya menjadi Alfaro. Karena selama ayah hidup, keberadaannya sama sekali tidak pernah dianggap oleh ayah kandungnya sendiri. Tetua Zulfan pernah menikah bersama wanita bernama Calia."


"Itu adalah nenek kandung kita. Nenek Calia menikah dengan tetua Zulfan yang waktu itu statusnya sudah menjadi seorang single parent-"


Mendengar dua kata terakhir Zaidan melebarkan pandangan. Seketika ia mengerti bagaimana Dawas begitu menentang pernikahannya dan Alina.


"A-apa, single parent?" tanyanya gugup.


"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi, tetapi ... aku, ayah, dan ibu hidup di sebuah gubuk di desa terpencil. Kami tidur beralaskan tikar dan makan seadanya, kehidupan kami begitu berat untuk dilalui."


"Setelah aku menginjak usia delapan belas tahun, ayah sering sakit-sakitan dan dokter mendiagnosis gagal ginjal yang mengharuskan beliau cuci darah. Namun, kami yang tidak punya uang sepersen pun bisa apa?"


"Aku mencoba untuk meminta bantuan kepada tetua Zulfan, tetapi pria tua itu tidak mempercayai ucapanku. Aku ditendang, diusir, serta dimaki-maki yang membuat perasaanku benar-benar sakit. Tahukah kamu? Sampai napas terakhir, ayah sama sekali tidak pernah mendapatkan uluran tangan dari ayah kandungnya, Dawas Zulfan."


"Seolah kelahirannya adalah sebuah kesalahan. Sejak ayah meninggal aku sangat membenci keluarga kalian, itu sebabnya ... aku tidak ingin menyandang nama Zulfan. Bagiku mereka adalah monster tidak berperasaan."


"Namun, setelah tiga tahun ayah meninggal tiba-tiba saja ada seorang pria datang dan memperkenalkan diri sebagai Farraz Zulfan, beliau orang pertama berasal dari keluarga itu yang mengulurkan tangan membantu kami. Karena itu ketika orang-orang terdekat om Farraz meminta bantuan aku akan selalu hadir," tutur Calvin panjang lebar.


Zaidan tidak bisa menahan air mata, buliran bening itu jatuh membasahi punggung tangan. Kepala bersurai hitam legamnya menunduk menyembunyikan kesedihan.

__ADS_1


Alina, Saran, dan Angga yang juga duduk di meja sebelah mendengar semuanya. Sebagai seseorang yang berasal dari panti, Alina sangat mengerti bagaimana susahnya mendapatkan uang untuk sesuap nasi.


Ia menangis dalam diam ikut merasakan sakit atas apa yang sudah terjadi pada sepupu sang suami. ia tidak menyangka jika Dawas begitu kejam tidak mengakuinya sebagai cucu. Namun, ia juga tidak tahu duduk permasalahan yang terjadi di keluarga itu.


"Tidak usah menangisiku ... aku tidak ingin dikasihani." Calvin dengan datar meneguk minuman dinginnya.


Zaidan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dirasa sudah sedikit tenang ia mengangkat kepala lagi memandang sepupu di hadapannya.


"Aku benar-benar tidak menyangka ... aku minta maaf. Karena selama ini tidak pernah mengetahui keberadaanmu. Aku ... sudah serakah menikmati kemewahan keluarga itu tanpa memikirkan jika ada sanak saudara yang kesusahan. Aku benar-benar minta maaf," sesal Zaidan.


Tangisannya pecah seketika, punggung tegap itu bergetar kuat membayangkan bagaimana Calvin hidup selama ini. Dadanya terasa sakit seperti belati mengiris-ngirisnya kuat.


Tanpa bersuara Zaidan terus menangis dan menangis mengenyahkan keheningan melanda. Alina yang melihat sang suami seperti itu pun beranjak dari duduk.


Ia berjalan mendekat lalu berdiri tepat di sebelahnya. Seketika ia langsung menarik Zaidan ke dalam pelukan. Mereka saling mendekap begitu erat menguatkan satu sama lain, apa yang suaminya rasakan saat ini, Alina sangat mengerti.


Dalam diam Calvin memandangi kakak sepupunya memperhatikan tangisan yang berderai di sana. Perasaan hangat tiba-tiba saja menyapa membentuk bulan sabit terpendar di wajah tampannya.


Ia sadar jika Zaidan begitu baik sudah menangisi kehidupannya selama ini. Bagaikan menelan empedu, rasa pahit itu menyebar mengingatkannya pada masa lalu.


Bagaimana hinaan serta cacian dilayangkan tetua Zulfan padanya. Tidak ada sedikitpun rasa simpati yang ia dapatkan pada saat dirinya memperkenalkan anak dari Fawaz putra kedua Calia dan Dawas. Namun, tetap saja pria tua itu tidak mempercayainya.


Setelah hari itu Calvin benar-benar membenci tetua Zulfan. Harapan satu-satunya untuk membantu sang ayah nyatanya tidak bisa diharapkan.


"Ayah, sekarang aku bisa bertemu dengan kakak sepupuku, Zaidan Zulfan. Dia sepertinya orang baik ... ayah, semoga ayah tenang di alam sana," benaknya dalam diam.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2