
Lembayung senja masih bersembunyi di balik awan gelap. Sesekali petir menyambar menemani kisah kelam yang tidak terduga kedatangannya.
Bagaikan rintik air turun dari langit membasahi tanah gersang, aroma khasnya menyadarkan jika musim penghujan telah datang. Kemarau panjang menghilang memberikan sebuah harapan untuk menanam tunas baru.
Namun, semua itu hanyalah tinggal harapan yang tidak tahu bagaimana kejadian sebenarnya. Mungkin seperti itulah yang dirasakan Zanna waktu itu.
Ia berpikir sudah mendapatkan harapan baru untuk mengikat Zaidan terus bersamanya. Tanpa ia duga di baliknya ada fakta mencengangkan jika rencana hanyalah sebuah rencana.
"Malam itu, Zanna mengatakan lelah dengan semua keadaannya, tetapi ... ia tidak bisa melepaskan mimpi yang selama ini diidam-idamkan oleh keluarganya. Karena ia satu-satunya harapan untuk memperkenalkan betapa anggunnya seorang wanita keturunan keluarga Zyva," tutur Calvin setelah video itu selesai ditayangkan.
Keempat orang yang menyaksikan adegan tersebut tercengang dengan sorot mata kosong. Mereka tidak menyangka melihat betapa putus asanya seorang Zanna.
Wanita yang terlihat tegar, tegas, nan elegan begitu rapuh di dalam. Ia rela mengorbankan harga dirinya untuk bisa mendapatkan pria yang dicintai.
Mereka juga mendengar jika Zanna ingin terbebas dari aturan keluarga dan meminta Zaidan bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, sekali lagi itu hanyalah mimpi yang tidak bisa ia raih.
"Aku benar-benar kasihan pada, Zanna," ujar Alina memulai obrolan lagi.
Sarah yang berada di depannya mengangguk setuju. "Aku tidak tahu jika wanita secantik, seberuntung, itu ternyata sangat tersiksa."
"Ia bahkan rela melakukan apa pun untuk bisa bebas," lanjut Angga.
"Jadi, inti dari rencananya kali ini adalah untuk menjebak Zaidan agar bisa menikahinya dengan cepat? Tapi, kenapa dia juga masih egois mempertahankan kariernya?" tanya Calvin masih tidak mengerti, meskipun dirinya menjadi salah satu pelaku di video.
"Mungkin dengan adanya skandal ini dia bisa menggunakannya untuk memojokan serta menyalahkan Tuan Zaidan. Mungkin dia juga akan mengatakan jika dirinya sudah dilecehkan, yang mana pihak dari agensi mengizinkannya untuk menikah. Bukankah agensi sebesar itu menuntut artisnya untuk tidak memiliki hubungan yang terikat seperti pernikahan?" tutur Dimas menjelaskan.
Zaidan menganggukkan kepala seraya masih memandang lurus ke arah ponsel. "Bisa jadi seperti itu. Karena selama ini aku selalu menolak jika Zanna mengajakku untuk berkencan. Jujur saja, aku sama sekali tidak punya hati sedikitpun padanya."
"Aku ... hanya menganggapnya sebagai adik saja tidak lebih. Aku tidak menyangka jika selama ini dia terpaksa melakukan itu semua? Aku melihat dia sangat menikmati perannya sebagai wanita anggun dari keluarga Zyva," ungkap Zaidan.
"Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang," balas Alina menggenggam tangan suaminya erat. Zaidan menoleh sekilas dan kembali mengangguk singkat.
__ADS_1
"Jadi, apa kita akan tetap menjalankan rencana ini?" tanya Angga mengingatkan.
Semua orang memandang pada Zaidan yang bungkam setelah mengetahui kebenaran. Ia mendongak menatap Angga beberapa saat lalu melihat ke bawah lagi.
Hujan sudah berhenti, kesejukan menyapa mengalirkan keresahan dalam dada. Dengan menggenggam tangan istrinya erat, Zaidan memandang lurus ke depan. Sorot matanya memperlihatkan ketegasan serta keyakinan.
"Kita harus tetap menjalankan rencana. Kita harus mendapatkan bukti seperti apa Zanna sebenarnya agar kakek tidak meneruskan perjodohan ini. Meskipun aku ... kasihan juga padanya, tapi tetap saja dia sudah bekerja sama dengan kakek untuk merusak pernikahan kami," ungkap Zaidan memandang mereka bergantian.
"Baiklah, kalau begitu..." Angga kembali menjelaskan rencana awal.
...***...
Dentuman musik keras bergema dalam ruangan, lampu sebesar bola basket menggantung berkelap-kelip dengan cahayanya menyilaukan.
Semua orang yang hadir begitu menikmati kesenangan dunia tanpa memikirkan apa pun. Di dalam kerumunan itu Zanna ikut bergabung seraya membawa minuman. Ia terus menghentakkan tubuh mengikuti alunan lagu.
Tanpa ia sadari sepasang mata mengawasinya sedari tadi, seakan sudah mengerti kondisinya, sosok itu pun berjalan mendekat.
"Ma-Mas Zaidan?" panggilnya gugup.
Tangan sang pria terangkat membelai lembut pipi memerah pianis itu. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
"A-aku .... Aku hanya bermain-main saja," balasnya lirih. "Terus apa yang Mas Zaidan lakukan di sini juga? Bukankah seharusnya Mas ada di rumah bersama Alina? Apa jangan-jangan Mas merindukanku yah dan mengikutiku sampai ke tempat ini?" lanjutnya berbinar mendapatkan harapan.
"Dia benar-benar mabuk, bahkan sekarang aku terlihat seperti Mas Zaidan? Iya, meskipun wajah kami mirip, tapi apa dia tidak bisa membedakannya?" benak Calvin Alfero.
Saat ini ia kembali menjalankan sebuah misi yang sudah dipercayakan. Tidak jauh dari keberadaannya, di lantai dua tiga pasang mata mengawasi gerak-gerik mereka. Ketiga pria itu menggunakan earphone guna mendengarkan percakapan antara Calvin dan Zanna.
Di balik jaket jeans Calvin, mereka memasang kamera kecil guna memantau gerak-gerik keduanya. Di meja kecil di hadapan Zaidan, Angga, dan Dimas pun terdapat tablet untuk melihat apa yang terjadi di bawah.
"Wah, lihat itu dia benar-benar menggoda pria yang belum sah menjadi miliknya," gumam Angga terkesima sekaligus kaget.
__ADS_1
Zaidan mendengus memperhatikan dengan seksama bagaimana Zanna menganggap adik sepupunya sebagai dirinya.
"Aku tidak percaya melihat ini," ungkapnya kemudian.
"Kita akan tahu apa yang terjadi selanjutnya," lanjut Dimas.
Mereka pun fokus kepada pekerjaan yang dilakukannya tanpa mengindahkan musik keras di sekitar. Zaidan harus mendapatkan bukti guna meyakinkan sang kakek jika Zanna bukanlah wanita sebaik yang dipikirkannya.
Di tempat berbeda, tepatnya di kediaman Dokter Angga, Alina dan Sarah pun tengah memantau kegiatan mereka di klub malam.
Sedari tadi keduanya serius melihat tayangan dalam layar laptop. Sesekali Alina menggelengkan kepala melihat kelakuan Zanna.
"Sangat disayangkan, wanita secantik, seanggun Zanna harus terjebak dalam lubang hitam seperti ini," ujarnya menyayangkan.
"Bagaimana lagi, Teh. Lingkungan bisa mempengaruhi kepribadian seseorang. Semoga setelah kejadian ini terungkap dia bisa sadar dan kembali pada jalan yang benar," balas Sarah.
"Em, aku harap begitu."
Kembali kepada dua sejoli itu yang kini tengah berjalan beriringan ke salah satu kamar VIP di klub malam. Calvin terus melepaskan tangan Zanna yang menggandeng lengannya kuat. Namun, wanita itu sama sekali tidak membiarkannya pergi.
Ia terus menarik Calvin ke sebuah ruangan yang sudah dirinya reservasi dari awal. Entah apa yang akan dilakukannya di sana sebelum bertemu dengan Calvin.
"Lepaskan, aku bukan Zaidan," kata Calvin memperingatkan.
Zanna menoleh mengembangkan senyum menawan. "Mas pasti bercanda, bagaimana bisa aku tidak mengenali kekasihku sendiri. Ayo, masuk!"
Zanna membawa Calvin ke dalam seraya mendorong punggungnya kasar. Di sana ia melancarkan aksinya untuk menjelajahi bibir menawan lawan bicaranya.
Di balik penyatuan mereka, Calvin menyeringai menyaksikan wanita itu yang sudah dilingkupi napsu semata. Ia membenarkan letak kameranya hingga adegan pun begitu jelas disaksikan beberapa pasang mata di luar sana.
...Bersambung......
__ADS_1