
Lembayung sendu merekah mengiringi setiap langkah jejak kaki. Kabut kenangan menari indah bersama memori berkasih dalam ingatan. Embun rindu menyeruak dalam gelenyar syahdu kata cinta tak bersua. Cinta terus bergelora pada satu sosok yang seharusnya dilupakan.
Rasa sakit mengalahkan keinginan untuk bertemu. Ego menyadarkan ia jika sang suami sudah berkali-kali menyakiti. Takdir berkata lain, jika kini ada seseorang yang mungkin bisa menggantikan keberadaannya.
Alina, meyakini diri jika peran ganda yang ia jalani sekarang berbeda. Ia harus berperan sebagai seorang ibu dan ayah sekaligus untuk sang buah hati. Keputusannya sudah bulat untuk berpisah dengan sang suami, Azam. Meskipun kata cinta tidak bisa dihapus dengan mudah, tapi ia yakin bisa hidup tanpanya.
“Dulu, aku juga bisa bertahan meskipun cinta ini tak terbalaskan. Aku yakin akan ada kebaikan yang telah Allah atur untuk kami setelah ini,” monolognya.
Setelah pertemuan tak terduga dengan Zara, Alina langsung membuka toko kuenya lagi, berusaha melupakan apa yang terjadi dan hanya menganggapnya angin lalu semata. Ia tidak ingin terkecoh dalam permainan tarik ulur perasaan.
Sedangkan di tempat berbeda, Azam kembali menemani istri pertamanya. Yasmin duduk bersandar di atas tempat tidur rumah sakit seraya memperhatikan sang suami. Sedari kedatangannya, Azam terus diam dengan tatapan kosong melihat ke depan.
Sesuatu yang berbeda dalam diri Azam membuat Yasmin semakin penasaran.
“Apa Alina baik-baik saja? Bagaimana kandungannya? Kalian sering memeriksanya bersama, kan?”
Pertanyaan beruntun membuat Azam terkesiap, kepala bersurai hitam legamnya menoleh pada sang istri yang tengah menunggu jawaban.
“A-alina baik-baik saja. Kandungannya juga baik, bayinya sehat.”
Mengatakan hal tersebut seperti mengoyak perasaannya sendiri. Ibu jari sebelah kanannya menekan jari telunjuk kuat menahan kepedihan dalam dada. Faktanya sampai saat ini ia belum bertemu kembali dengan sang istri kedua.
“Kamu berbohong, Mas.”
“Ehh!!”
Azam tercengang mendengar perkataan Yasmin.
“Mas mengatakan itu tanpa melihat ke dalam mataku. Sekarang lihat aku dan katakan lagi.”
Azam tidak bisa melakukan permintaan tersebut. Rasanya seperti menabur garam di atas luka, perih, tapi tak kasat mata. Luka itu tumbuh tanpa bisa dicegah, semakin besar seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
“Aku tidak bisa, maaf.” Cicitnya pelan seraya menunduk dalam.
Yasmin mengulurkan tangan ringkihnya dan menggenggam hangat jari jemari besar sang suami.
“Apa yang terjadi? Kamu bisa mengatakannya padaku, Mas.”
Azam menggeleng singkat tidak bisa mengatakan hal sebenarnya pada Yasmin. Ia terlalu takut membebani sang istri dan membuat kesehatannya semakin menurun. Ia tidak mau kehilangan Yasmin, tapi juga tidak ingin Alina meninggalkannya.
Egois memang. Namun, ketika cinta telah terbagi, ego masing-masing semakin datang mendahului.
“Alina, pasti ada hubungannya dengan dia, kan? Sudah dua bulan lebih Alina tidak pernah mengunjungiku. Itu bukan seperti dirinya, apa Alina pergi dari rumah?”
Pertanyaan terakhir Yasmin seketika tepat mengenai sasaran. Hunusan pedang tak kasat mata menancap ke dalam hati, mengoyaknya perlahan dan memberikan rasa sakit tak berkesudahan. Azam terdiam tidak beraksi apa pun. Yasmin menyimpulkan jika opininya benar terjadi.
“Sebagi sesama wanita, aku yakin Alina tidak akan pernah pergi terlalu jauh. Cintanya padamu sangatlah besar. Cari, temukan Alina dan bawa ia kembali pulang. Kalian akan mendapatkan keturunan bersama aku yak-“
“Apa benar bayi itu darah dagingku?”
“Aku tahu, Mas tidak sebodoh itu dalam menyikapi setiap permasalahan. Namun, kenapa sekarang Mas sangat bodoh? Aku tidak percaya mendengarnya, tentu saja bayi itu darah dagingmu. Astaghfirullah Ya Allah, apa harus kehilangan dulu baru Mas percaya? Dari mana datangnya pertanyaan itu? Mas terlalu menutup hati pada keburukan, buka mata lagi dan lihat kebenarannya.”
Kata-kata Yasmin terus berdengung dalam pendengaran. Kata “bodoh” yang meluncur terus membuatnya sadar jika selama ini apa yang dilakukannya salah besar. Ia terlalu terbawa emosi dan termakan omongan orang lain.
Terlebih seseorang itu mencintainya.
“Apa aku bisa menemukan Alina kembali?”
“Ikuti instingmu dan aku yakin di mana pun Alina berada kalian bisa bertemu lagi. Bukankah dari awal dia cinta pertamamu? Saat kita pertama kali berkenalan, sudah ada sosok lain menempati hatimu.”
Azam mendongak melihat senyum lemah terbit di wajah cantik nan pucat Yasmin.
“Ba-bagaimana kamu bisa tahu? A- maksudku….. a-aku tidak menyadarinya.”
__ADS_1
“Mas percaya jika insting seorang wanita selalu benar? Itulah istimewanya kami. Sampai tahun berganti Mas benar-benar mencintaiku dan Allah mempertemukan kalian lagi, sampai pernikahan ini terjadi. Bukankah rencana Allah sangat indah? Jadi, pergi cari dia sampai ketemu sebelum kesempatan itu hilang.”
Sorot mata Yasmin berubah serius mencoba meyakinkan sang suami dengan kemungkinan yang terjadi. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Azam sebelum waktunya di dunia habis. Seketika Azam mengangguk yakin dan ketegasan timbul dalam kedua manik kecoklatannya.
“Aku akan mencari Alina dulu. Aku mencintaimu.”
Azam pun beranjak dan membubuhkan kecupan hangat di dahi Yasmin. Sang istri mengulas senyum lembut mengiringi kepergiannya.
...***...
Azam berlari sekuat tenaga di sepanjang lorong rumah sakit. Setibanya di luar netra bulat itu tidak sengaja melihat sang sahabat tengah berjalan menuju kendaraannya. Ponsel yang tengah bertengger di daun telinga seketika menarik perhatian. Entah kenapa hal tersebut membuat insting Azam tertarik untuk mengikuti ke mana dokter muda itu pergi.
Buru-buru ia pun masuk ke dalam mobil dan membuntutinya perlahan.
Jalan yang ia lewati membuat kedua alisnya saling berpautan. Atmosfer di sekitar sudah tidak asing dalam pandangan. Azam berkali-kali mengerutkan dahi kala rute yang dilaluinya saat mengekori Angga sudah ia hapal di luar kepala.
Sampai tidak lama berselang mobil Angga berhenti di depan sebuah toko kue sederhana. Sosoknya keluar seraya menenteng buah tangan. Sebelum memasuki toko tersebut Azam melihat seorang wanita berhijab yang tengah berbadan dua keluar dari sana.
Seketika itu juga irisnya melebar dengan mulut menganga. Degup jantung bertalu kencang dan perlahan pegangan kedua tangan di stir mobil mengerat. Azam tidak percaya dengan fakta yang dilihatnya sekarang.
Tepat di depan kedua matanya istri kedua tengah menebar senyum pada sang sahabat.
“Alina? Ja-jadi selama ini mereka saling mengenal? Bagaimana bisa ini terjadi? Apa yang sudah kulewati selama? A-angga menyembunyikan Alina dariku? Kenapa?”
Berbagai pertanyaan berputar dalam angan tanpa mendapatkan jawaban. Emosi seketika merundung melihat sang sahabat, saat dirinya kalang kabut setelah kepergian Alina, Angga sama sekali tidak memberitahu keberadannya.
Namun, sekarang ia tahu jika Angga yang menyembunyikan Alina. Jalan yang ia lewati tadi merupakan akses untuk ke kampung halaman Angga dan Azam sudah berkali-kali datang ke sana.
“Jadi, dia menyembunyikan Alina di sini? Kenapa?”
Azam masih berdiam diri menyaksikan interaksi kedua insan di hadapannya. Seperti ada tangan meremat kuat hatinya menimbulkan rasa sakit kembali.
__ADS_1